
Devara terus membopong Ayra sampai ke kamar mereka. Kamar pengantin yang disiapkan khusus untuk keduanya. Devara membuka pintu kamar tanpa menurunkan sang istri. Ayra terus gelisah karena kini keduanya sudah masuk ke dalam kamar.
Kamar dengan desain minimalis modern itu sudah disulap sedemikian rupa menjadi kamar pengantin baru. Kamar dihias dengan sangat indah dan mewah. Tirai putih besar menjuntai dengan hiasan bunga-bunga dimana-mana. Kamar didominasi dengan warna putih itu juga dilengkapi dengan dua lilin besar di atas meja. Lilin aromaterapi juga berjejer rapi di atas meja yang lain. Aroma dari lilin itu sangat menenangkan dan membuat rileks. Taburan bunga mawar merah yang tersebar rapi di atas ranjang membentuk bentuk hati besar. Ditengahnya terdapat dua handuk yang dibentuk seperti sepasang angsa yang saling berhadapan berada di tengah hiasan hati dari helaian kelopak bunga mawar tersebut. Menambah indah kamar pengantin pemilik resort tersebut.
Selama memasuki kamar, Ayra dibuat terpukau dengan keindahan kamar pengantin. Devara yang melihat sang istri terpesona dengan hasil karyanya, tersenyum penuh kemenangan. Sekali lagi Devara bangga pada dirinya sendiri.
“Bagaimana? Kau suka?”tanya Devara
Ayra mengangguk cepat dan menoleh pada sang suami sambil tersenyum lebar membuat keduanya tenggelam dalam kebahagiaan. Devara terus membopong wanita yang sangat dicintainya sampai ke atas ranjang. Devara menurunkan Ayra dengan sangat lembut. Membuat jantung keduanya semakin berpacu dengan sangat cepat. Seolah mereka baru saja mengikuti perlombaan lari marathon mengelilingi pulau pribadi Devara.
Setelah mendudukkan Ayra, Devara mendekatkan tubuhnya pada sang istri tercinta.
“Kenapa dia semakin mendekat? Dia ga mungkin memintanya sekarang kan?”gumam Ayra dalam hati ketakutan.
Devara mendekati Ayra perlahan-lahan sambil tersenyum nakal. Membuat Ayra refleks memundurkan tubuhnya ke belakang. Sesekali Ayra menoleh ke belakang karena Devara semakin memojokkan dirinya sampai ujung ranjang. Melihat sang istri yang kelabakan dengan kelakuan nakalnya membuat adrenalin Devara semakin terpacu. Dan saat sudah tak sanggup melarikan diri dari Devara, Ayra memilih pasrah. Ayra memejamkan matanya dan merebahkan tubuhnya di ranjang dengan kedua tangan di depan dadanya.
Tiba-tiba sesuatu yang kenyal dan lembut mengecup kening Ayra. Membuat pemilik tubuh membuka matanya perlahan-lahan. Dilihatnya sang suami yang berada di atas tubuhnya sambil tersenyum.
“Kamu mikirin apa?”goda Devara.
“Eng..enggak..aku ga mikirin apa-apa”kelit Ayra bohong
Wajah Ayra memerah menahan malu karena sudah berpikiran aneh-aneh. Dia pikir Devara akan meminta “jatah”nya sekarang. Devara memundurkan tubuhnya lalu melepas sepatu high heels Ayra.
“Kamu mau ngapain Dev?”tanya Ayra penasaran
Devara tetap diam namun tangan-tangannya terus melepaskan sepatu high heels yang sejak tadi dipakai Ayra. Devara memegang telapak kaki Ayra kemudian mengurutnya dengan sedikit tekanan. Devara memijat kaki sang istri dengan penuh perhatian. Membuat Ayra yang duduk menghadap sang suami, menatapnya dengan penuh cinta.
“Kamu belajar mijit dimana?”tanya Ayra pada sang suami.
“Gimana? Aku berbakat kan?”ucap Devara sambil tersenyum bangga sementara jari-jarinya terus memijit kaki sang istri.
Ayra sangat menikmati pijatan Devara. Ayra merasa pegal-pegal di kakinya akibat seharian memakai high heels seolah menghilang karena pijatan Devara benar-benar membuat otot kakinya rileks. Ayra tak menyangka sang troublemaker, yang biasanya segarang raja hutan itu bisa sangat manis memperlakukan dirinya.
“Aku ga tau kalo troublemaker kayak kamu ternyata punya bakat terpendam”goda Ayra
“Aku tau kamu pasti kelelahan setelah memakai sepatu itu sepanjang hari ini. Makanya sekarang biarkan aku memijitmu”pinta Devara lembut.
“Thank you”ucap Ayra tulus.
__ADS_1
“You’re welcome my queen”sahut Devara membuat Ayra tergelak mendengar Devara menyebutnya “my queen”.
Merasa kakinya sudah mendingan, Ayra pun memegang lengan Devara untuk menghentikan aktivitasnya.
“Udah cukup..kakiku udah mendingan”pinta Ayra.
“Harusnya aku yang melayanimu kenapa malah kamu yang melayani aku sih? Kalo orangtua kita tau aku pasti akan dimarahi habis-habisan”ucap Ayra
Devara menghentikan pijatannya lalu menoleh pada sang istri.
“Kau sudah membuat seorang Devara Alexander yang agung merelakan jemarinya memijit kakimu. Aku pasti akan meminta bayaran yang sangat besar, kau ingat itu kan?”goda Devara
Membuat Ayra membelalakkan matanya dengan sempurna.
“Bayaran sangat besar?”gumam Ayra dalam hati.
“Kau harus membayarku dengan..tubuhmu itu”goda Devara sambil menatap tubuh Ayra dari atas ke bawah dengan senyum nakalnya.
Ayra yang mengikuti arah mata Devara, refleks menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Ayra merasakan tubuhnya bergidik ngeri mendengar ucapan Devara.
“Untuk kali ini, aku akan mengambil uang mukanya dulu”ucap Devara
Tiba-tiba,
“Tok..tok..tok”
Suara pintu diketuk dari luar. Suara tersebut sukses membuyarkan suasana romantis antara keduanya yang hampir saja melanjutkan sesi ciuman panas keduanya menuju surga dunia.
Devara tak menghiraukan bunyi ketukan pintu itu dan terus mengulum bibir lembut Ayra.
“Tok..tok..tok..”
Sekali lagi pintu diketuk dari luar.
“Tuan muda”sapa seseorang dari luar pintu.
Ayra yang mendengar ada seseorang yang memanggil suaminya langsung melepaskan ciuman bibir keduanya sambil mendorong pelan tubuh Devara.
“Dev..ada orang diluar”ucap Ayra
__ADS_1
Devara membuka matanya dengan tangannya yang tetap memegang tengkuk Ayra.
“Kurang ajar! Beraninya mereka menggangguku”gerutu Devara dalam hati dengan nafas yang terengah-engah.
“Siapa diluar?”gertak Devara dengan suara tinggi.
Membuat Ayra bahkan kaget mendengar suara Devara yang sedang marah.
“Maaf tuan muda..beauty therapist yang tuan muda minta sudah datang”ucap Nanny dari balik pintu.
“Beauty therapist?”tanya Ayra sambil menatap sang suami
“Oh..rupanya mereka sudah datang. Sebentar ya sayang”ucap Devara pada sang istri.
Ayra mengangguk pelan. Devara kemudian turun dari ranjang dan berjalan ke arah pintu. Begitu Devara membuka pintu, Nanny membungkukkan tubuhnya sejenak memberi hormat.
“Suruh mereka siap-siap. Sebentar lagi aku dan Ayra turun”perintah Devara
“Baik tuan”jawab Nanny.
Nanny kemudian meninggalkan tuan mudanya. Devara menutup pintu kembali dan berjalan ke arah sang istri.
“Kamu mengundang beauty therapist?”tanya Ayra penasaran.
“Iya”jawab Devara
“Tapi untuk apa? Dua hari kemarin aku juga udah perawatan di spa dengan kak Catherine”ucap Devara.
“Itu berbeda. Karena aku ingin kamu benar-benar siap untuk nanti malam”ucap Devara sambil menyunggingkan sudut bibirnya.
“Nanti malam?”tanya Ayra
Namun sedetik kemudian dia menutup mulutnya sendiri setelah menyadari arah pembicaraan Devara. Devara tertawa melihat ekspresi menggemaskan Ayra yang kaget dengan pertanyaannya sendiri. Wajah Ayra semakin memerah.
Devara mengulurkan tangannya pada sang istri.
“Ayo..kita turun sekarang!”ajak Devara
Ayra menerima uluran tangan Devara dengan malu-malu. Devara menggenggam tangan Ayra dan mengajak wanita itu turun ke lantai satu ke spa pribadi miliknya yang ada di resort itu. Devara sengaja mengundang beauty therapist professional untuk dirinya dan Ayra. Supaya tubuh keduanya kembali rileks dan segar setelah kelelahan mengikuti rangkaian demi rangkaian acara akad pernikahan mereka tadi pagi sampai siang tadi. Devara ingin mengistirahatkan tubuhnya yang lelah agar kuat menghadapi tugas besar nanti malam.
__ADS_1