
Kehadiran Gina di sekolah membuat perubahan besar dalam hubungan Devara dan Ayra. Karena seperti sudah bisa ditebak, Gina menggunakan siasat liciknya dengan memonopoli Devara untuk selalu berada di dekatnya. Karena Devara yang memang tidak bisa menolak kehadiran Gina. Apalagi Gina selalu menggunakan kesehatannya sebagai senjata. Seperti kejadian hari ini, Gina pura-pura pingsan, hingga membuat Devara panik dan membopong Gina ke UKS dengan terburu-buru. Hingga membuat Devara meninggalkan Ayra. Ayra yang cemburu dengan kedekatan Devara dan Gina hanya bisa memandang keduanya tanpa bisa berbuat apa-apa.
“Kau tak apa-apa kan Ay?”tanya Nadine yang melihat Ayra melamun
“Hah? Ah..iya aku tak apa-apa”jawab Ayra dengan senyum yang dipaksakan di wajah cantiknya.
Devara yang panik, langsung membaringkan Gina di ranjang UKS. Perawat sekolah yang melihat Devara membopong Gina, segera memeriksa Gina.
“Anda tak usah khawatir, dia hanya kelelahan”jawab perawat sekolah
Gina yang mengerjapkan matanya perlahan, lalu membuka matanya.
“Apa kau baik-baik saja?”tanya Devara kuatir
“Aku kenapa?”tanya Gina sambil memegang kepalanya yang sebenarnya tidak pusing.
“Tadi kau pingsan”jawab Devara
Ayra yang berdiri tak jauh dari Devara, melihat interaksi Devara dengan Gina memilih keluar dari ruang UKS. Hatinya seperti dicubit melihat kedekatan Gina dan Devara. Gina yang melihat Ayra keluar, tak menyia-nyiakan kesempatan.
“Dev, jangan pergi ya..temani aku”pinta Gina dengan suara dibuat selemah mungkin.
“Baiklah”jawab Devara
Devara pun duduk di samping ranjang Gina.
Angel yang mendengar kakaknya pingsan segera berlari ke ruang UKS dengan terburu-buru. Angel sampai menabrak Ayra.
“Kakakku dimana?”tanya Angel panic
“Dia di dalam. Sebaiknya kau temui kakakmu”jawab Nadine
Sementara Ayra yang hatinya terluka, hanya mengelus bahunya yang tadi ditabrak Angel.
Angel segera masuk ke dalam ruang UKS.
“Kakak..apa kakak baik-baik saja?”tanya Angel
“Iya..aku baik-baik saja. Kau kembalilah ke kelas”pinta Gina yang kesal melihat kehadiran adiknya di saat yang tidak tepat.
“Aku tak mau. Aku mau disini menemani kakak”jawab Angel kuatir
“Isshh..kenapa bocah ini harus mengganggu rencanaku berdua dengan Devara sih”gumam Gina dalam hati
“Kalau begitu, aku kembali ke kelas”ucap Devara sambil beranjak dari kursinya. Tapi Gina segera menarik lengannya, untuk menahannya.
“Temani aku”pinta Gina dengan wajah memelas.
“Tapi..”belum sampai Devara melanjutkan perkataannya, Angel sudah menyela.
“Aku saja yang menemani kak Gina, kak Dev kembali saja ke kelas”ucap Angel
“Baiklah! Aku pergi dulu. Istirahatlah!”ucap Devara lalu pergi keluar UKS
Gina yang menahan amarahnya segera memukul adiknya setelah memastikan keadaan sudah benar-benar tidak ada orang.
“Plaakkkk”
“Aduhhhh..sakit kak”seru Angel sambil mengelus kepalanya.
“Kenapa kau harus datang kemari? Kau sudah merusak rencanaku”gerutu Gina penuh kemarahan.
“Hah? Rencana? Apa maksud kakak?”tanya Angel penuh pertanyaan
“Kau baru saja mengganggu kebersamaanku dengan Devara. Padahal aku tadi sudah senang karena bisa melihat wajah Ayra yang sedih melihat Devara mengkhawatirkanku. Tapi semuanya rusak, karena aku punya adik yang tak berguna sepertimu”seru Gina kesal.
“Jadi kakak hanya pura-pura sakit? Kenapa kakak tidak mengatakannya padaku? Kalau kakak beritahu, aku pasti akan membantu kakak. Maaf ya kak”pinta Angel
Gina yang masih kesal memukul-mukul bantal yang ada didekatnya.
__ADS_1
"Cepat keluar..panggil Devara. Bilang kalo kamu ga bisa menemaniku"perintah Gina pada Angel.
Melihat adiknya yang tidak segera merespon perintahnya, membuat Gina tersulut emosinya.
"Kenapa bengong? Cepat panggil Devara!"perintah Gina lagi.
"Ah..iya kak..aku akan panggilkan kak Dev"jawab Angel.
Angel kemudian segera berlari ke luar UKS memanggil Devara.
"Kak Dev?"panggil Angel
Devara yang berdiri di depan kelas Ayra segera menoleh begitu namanya dipanggil.
"Ada apa? Kenapa kau lari seperti itu?"tanya Devara melihat Angel yang berlari ke arahnya.
"Maaf kak..aku minta tolong jaga kakakku"
"Tadi kau bilang.."
"Aku lupa kalo setelah ini aku ada tes math. Aku ga mau remidi kak..Kak Dev mau kan menjaga kak Gina sebentar. Tolonglah kak"pinta Angel dengan mengiba.
Devara yang sebenarnya ingin menemui Ayra, karena merasa kasihan pada Angel akhirnya memilih menjaga Gina di UKS. Ayra yang melihat kekhawatiran di mata Devara saat Gina pingsan tadi merasakan sakit di dalam hatinya. Melihat lelaki yang dicintainya mengkhawatirkan gadis lain. Namun Ayra menahan dirinya, karena Devara selalu mengatakan padanya bahwa Gina sudah seperti adiknya. Karena itu Devara tak bisa mengacuhkan Gina begitu saja.
Ayra yang perasaannya sedang tak karuan tak bisa berkonsentrasi dalam pelajaran. Daniel yang sejak tadi memperhatikan Ayra merasa khawatir pada Ayra. Setelah pelajaran berakhir dan waktunya istirahat, Daniel segera menghampiri Ayra.
“Kau kenapa Ay?”tanya Daniel yang duduk di samping Ayra.
“Aku tak apa-apa”jawab Ayra sambil tersenyum.
Mereka pun ngobrol berdua dengan sesekali tertawa bersama. Daniel mampu menghibur Ayra yang sedang sedih karena melihat perlakuan Devara pada Gina. Kebetulan Nadine masih mengerjakan tugasnya di kelas sehingga belum bisa bergabung dengan Ayra dan Daniel.
Devara yang sedang memapah Gina kembali ke kelasnya setelah dari ruang UKS, melihat Daniel dan Ayra duduk bersama menghentikan langkahnya. Gina dengan seringai licik di wajahnya, menatap ke arah Daniel dan Ayra.
“Bagus..aku akan membuat Devara semakin cemburu pada kalian”gumam Gina dalam hati
Devara tak menjawab dan melangkahkan kakinya ke arah Ayra sambil terus memapah Gina. Ayra yang melihat Devara memasuki kelasnya berdiri dari kursinya lalu menghampiri Gina dan Devara.
“Apa kau sudah baikan Gin?”tanya Ayra
Gina hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Devara terus memapah Gina sampai di kursinya.
“Apa kau yakin mau ikut pelajaran?”tanya Devara pada Gina
“Tentu saja. Aku tak mau ketinggalan pelajaran”jawab Gina mantap
“Kalau begitu, istirahatlah disini”ucap Devara lalu menatap Ayra penuh kemarahan dan menarik tangan Ayra dengan kasar keluar kelas. Ayra yang merasakan Devara menarik tangannya terlalu keras, mengibaskan tangannya.
“Lepaskan Dev..kau menyakitiku”pinta Ayra.
Devara yang dipenuhi kecemburuan, terus menarik tangan Ayra hingga memasuki lift menuju kantin lantai tiga. Di dalam lift, Devara melepaskan tangan Ayra.
“Kau ini sebenarnya kenapa?”tanya Ayra sambil mengelus tangannya yang dicengkeram kuat oleh Devara sepanjang perjalanan menuju kantin.
“Apa yang kau lakukan dengan Daniel tadi?”tanya Devara dengan penuh kemarahan
“Hah? Apa maksudmu?”tanya Ayra penuh kebingungan
“Aku dan Daniel? Kami hanya berbicara saja. Kenapa kau mesti marah?”tanya Ayra
“Bukankah kalian sudah berbaikan? Kenapa kau mesti marah aku bicara dengan Daniel. Kau itu aneh”sungut Ayra
“Apa? Kau bilang aku aneh”Devara menatap Ayra tajam
Pintu lift terbuka. Ayra segera keluar lift dan berjalan menuju kantin lantai tiga. Devara yang ditinggalkan Ayra begitu saja, bertambah marah karena sudah diacuhkan Ayra. Devara segera menyusul Ayra, dan menarik tangan Ayra dengan kasar hingga Ayra berbalik ke arah Devara.
“Semuanya yang ada disini..keluar kalian semua”perintah Devara pada semua pelayan dan pengawal pribadinya.
__ADS_1
Pelayan, chef dan pengawal pribadi Devara segera meninggalkan Devara dan Ayra seorang diri di kantin tersebut. Ayra benar-benar dibuat bingung dengan perubahan sikap Devara.
“Kau ini kenapa Dev? Sebenarnya ada apa denganmu?”tanya Ayra penasaran
“Kenapa kau bilang aku aneh? Apanya yang aneh? Aku hanya tak suka kau dekat-dekat dengan lelaki lain, terlebih itu Daniel”seru Devara sengit
“Apa maksudmu? Bukankah kau dan Daniel sudah seperti saudara”tanya Ayra
“Aku takkan lupa jika Daniel pernah punya perasaan padamu”ucap Devara
“Apa? Daniel suka padaku? Itu tidak mungkin”jawab Ayra
Ditengah pertengkaran Devara dan Ayra, Daniel dan Nadine yang masuk ke kantin lantai tiga terkejut melihat keduanya. Apalagi melihat Devara yang mencengkeram pergelangan tangan Ayra dengan sangat kuat.
“Hei Dev..apa yang sedang kau lakukan?”tanya Daniel
Ayra dan Devara yang melihat kehadiran Daniel dan Nadine menoleh bersamaan. Devara dengan penuh kemarahan, menatap sahabatnya itu. Daniel yang melihat tatapan Devara mengernyitkan alisnya.
“Dev..sebenarnya ada apa ini? Kenapa kau seperti itu pada Ayra?”tanya Nadine
“Kebetulan sekali kau disini Dan..sekarang jawab pertanyaanku dengan jujur. Apa benar kau pernah suka pada Ayra? Cepat jawab”bentak Devara
Pertanyaan tak terduga dari Devara membuat Daniel, Ayra dan Nadine benar-benar terkejut.
“Kenapa kau diam? Cepat jawab pertanyaanku”bentak Devara sekali lagi
“Siapa yang sudah meracuni pikiranmu Dev? Mana mungkin Daniel suka Ayra?”tanya Nadine
Daniel yang merasa sahabatnya itu sudah dibutakan api cemburu akhirnya memilih mengakui perasaannya pada Ayra.
“Benar! Aku pernah suka pada Ayra”jawab Daniel tegas
“Apa?”Nadine yang mendengar pengakuan Daniel syok berat.
“Tapi itu dulu. Sekarang aku hanya mencintai Nadine”ucap Daniel jujur
“Cih..yang benar saja. Aku tau kau masih menyukai Ayra. Kenapa kau tak mau mengakuinya. Atau jangan-jangan kalian ada main di belakangku”ejek Devara
Ayra yang sudah sejak tadi menahan amarahnya, benar-benar sudah kehabisan kesabaran, mendengar Devara yang sudah menuduhnya tak setia. Airmatanya pun sudah dipelupuk matanya.
“Plakkkk”Ayra menampar pipi Devara dengan sekuat tenaga
Devara yang ditampar, menyentuh ujung bibirnya yang berdarah. Nadine dan Daniel yang melihat Ayra menampar Devara benar-benar kaget hingga membelalakkan matanya.
“Kau sudah keterlaluan”ucap Ayra sambil mengusap airmatanya lalu berjalan keluar dari lantai tiga menuju lift.
Devara yang melihat kesedihan di mata Ayra merasa menyesal namun kemarahan di dalam dadanya menghalanginya untuk menyusul Ayra.
Nadine yang bingung dengan situasi yang ada di depannya memilih meninggalkan lantai tiga dan menyusul Ayra. Sementara Daniel masih menuntut penjelasan dari Devara.
“Siapa yang sudah membuatmu seperti ini? Kenapa kau mengatakan sesuatu seperti itu pada Ayra. Kau tau Ayra dan aku tak mungkin mengkhianatimu. Kenapa kau bisa menuduh kami seperti itu?”tanya Daniel sambil menepuk bahu sahabatnya itu.
“Apa Gina yang sudah mengatakan semua itu padamu?”tanya Daniel
“Itu bukan urusanmu”jawab Devara ketus
Daniel menghela nafasnya panjang dan menghembuskan secara kasar. Karena lagi-lagi Gina membuat masalah antara Devara dan dirinya.
“Dev..ini bukan pertama kalinya Gina mengadu domba kita. Jangan biarkan Gina melakukannya lagi pada kita. Apa kau tak sadar, semua ini hanya akal-akalan Gina untuk membuat kau salahpaham padaku dan Ayra. Kasihan Ayra, Dev”jelas Daniel panjang lebar
Devara menampik tangan Daniel.
“Mulai sekarang, jangan pernah menginjakkan kakimu di lantai tiga ini lagi. Aku melarangmu masuk kesini lagi”sungut Devara lalu berjalan menjauh meninggalkan Daniel.
Daniel yang tau betul sifat Devara, memilih mengalah daripada harus berdebat dengan Devara. Daniel pun keluar dari kantin lantai tiga dengan penuh kemarahan. Marah pada Gina yang sekali lagi sudah mengadu domba dirinya dan Devara. Sementara itu Devara dengan perasaannya yang berkecamuk hebat, memilih merebahkan tubuhnya di sofanya sambil memejamkan matanya.
“Apa benar ini hanya siasat licik Gina?”gumam Devara sambil merenung.
Terbayang dalam pikirannya wajah Ayra yang sedih karena ucapannya yang sudah menuduh Ayra tak setia.
__ADS_1