Falling In Love With Trouble Maker

Falling In Love With Trouble Maker
Aku Menyukaimu!


__ADS_3

Keesokan harinya,


Ayra diantar ayahnya ke sekolah. Sampai di lorong sekolah, semua anak menatap Ayra. Tapi kali ini tatapan mereka lebih baik ketimbang sebelumnya. Ayra bingung karena dilihatin teman-teman satu sekolahnya. Semakin mendekati kelas, semakin banyak anak yang bergerombol.


Di depan kelas Ayra, banyak sekali anak yang bergerombol. Ketika Ayra mau masuk kelas, mereka segera membuka jalan untuk Ayra.


“Ada apa ini? Tumben banyak anak di kelas” gumam Ayra dalam hati.


Ketika Ayra sudah masuk ke kelas, dia kaget. Devara sudah duduk di kursinya dan dikerubuti teman-teman sekelasnya. Dia tampak ngobrol santai dengan mereka bahkan sesekali tertawa bersama mereka. Ayra berjalan ke arah kursinya.


Melihat Ayra sudah datang, Devara segera beranjak dari kursinya dan mendekati Ayra. Sampai di depan kelas, Devara semakin mendekati Ayra. Ayra terus saja melihat sekelilingnya. Banyak pasang mata yang menatapnya. Dia risih. Devara tersenyum pada Ayra.


“Kenapa kamu disini? Dan kenapa banyak orang disini?” tanya Ayra


“Aku menunggumu”jawab Devara tegas


Teman-teman sekelas Ayra langsung heboh mendengar jawaban Devara.


"Cieeee"


"Suitt..suittt"


“Tenang..tenang” Devara menenangkan suasana


Devara membungkukkan badannya sejajar dengan Ayra. Kini wajah mereka saling berhadapan.


“K-kamu mau apa?” tanya Ayra bingung


“Istirahat nanti, aku tunggu di kantin” ucap Devara lirih


Lalu Devara memegang kepala Ayra dan tersenyum. Wajah Devara kali ini lebih hangat. Pipi Ayra memerah seperti kepiting rebus. Dia tersipu malu dengan perlakuan Devara padanya pagi-pagi. Di hadapan banyak orang.


Devara lalu segera keluar dari kelas Ayra. Ayra menengok kearah Devara, lalu Devara melambaikan tangannya pada Ayra sambil tersenyum. Ayra segera berjalan ke arah mejanya.


“Dev bilang apa Ay?”tanya Nadine


“Ga penting” jawab Ayra enteng


Nadine hanya tersenyum. Teman-teman sekelas Ayra segera mendekati Ayra dan memberondongnya dengan banyak pertanyaan. Belum sampai Ayra menjawab, bel masuk sudah berbunyi.Pelajaran pertama kedua berjalan lancar.


Tttteeeetttt..ttteeeettttt


Akhirnya bel istirahat berbunyi.


“Aku ke kantin apa ga ya?” gumam Ayra dalam hati bimbang


“Ayo Ay, kita ke kantin” ajak Nadine membuyarkan lamunan Ayra


“Eh..iya. Ayo” jawab Ayra


“Kira-kira dia mau ngapain ya? Kenapa dia mau menungguku di kantin?”tanya Ayra dalam hati


“Kamu kenapa Ay?”tanya Nadine melihat Ayra yang melamun


“Tadi cowok itu bilang menungguku di kantin. Kira-kira dia mau ngapain ya Nad?”tanya Ayra


“Mana aku tahu. Dev kan sulit ditebak. Mood nya itu gampang banget berubah-ubah” jawab Nadine


“Tenang aja. Aku yakin Dev ga akan macam-macam” ujar Nadine menenangkan Ayra


“Semoga saja” balas Ayra


“Daniel mana?”tanya Ayra


“Dia udah duluan. Nyariin tempat buat kita. Tadi dia chat aku” jawab Nadine


Akhirnya Nadine dan Ayra ke kantin. Sampai di kantin mereka melihat Devara sedang ngobrol dengan teman-temannya. Melihat Ayra sudah datang, Devara segera menghampiri Ayra.


“Kamu datang juga?”tanya Devara


“Aku kan emang biasanya kesini”jawab Ayra ketus.


Devara tersenyum. Daniel mendekati mereka.


“Ada apa ini?”tanya Daniel


“Bukan urusanmu” jawab Devara ketus.


Devara lalu menggandeng tangan Ayra. Ayra kaget dan berusaha melepaskan tangan Devara.

__ADS_1


“Hei..lepasin! Kamu mau ngapain?”tanya Ayra


“Diamlah” perintah Devara


Mereka pun menuju tengah ruangan. Lalu salah satu anak buah Devara membawa mic yang memang ada di kantin. Devara melepaskan tangan Ayra.


“Perhatian semua!” teriak Devara.


Semua anak di kantin berhenti dari aktivitas mereka dan mendengarkan pengumuman Devara


“Aku akan membuat pengumuman penting” seru Devara


Devara lalu meletakkan tangannya di atas kepala Ayra.


“Apa-apaan sih? Lepasin!” ronta Ayra


Dia risih dipegang Devara didepan umum. Devara lalu membisikkan sesuatu ke telinga Ayra.


“Apa kamu mau kucium disini?” bisik Devara.


Ayra melotot. Matanya terbelalak sempurna, menatap ke arah Devara.


“Awas saja kalau kamu berani”jawab Ayra lirih


“Makanya diamlah” bisik Devara lagi sambil tersenyum.


Ayrapun mengalah. Dengan mulutnya mendengus kesal.


“Kalian semua dengarkan baik-baik…Aku umumkan, mulai hari ini, Ayra dari kelas XI-C adalah pacarku” seru Devara sambil tersenyum menatap Ayra.


“Yyyeeeyyyyy”


“Ssuuiittt..ssuuuittt”


Suasana kantin langsung riuh mendengar pengumuman yang disampaikan Devara barusan. Semua anak bersorak dan bertepuk tangan. Nadine juga ikut bertepuk tangan.


“Sejak kapan mereka pacaran?”tanya Daniel


“Entahlah..Ayra juga ga cerita”jawab Nadine


Daniel yang menatap mereka, tampak sedih. Sedih karena rupanya Devara juga menyukai gadis yang disukainya. Devara senang sekali dengan sorak sorai anak-anak di sekolahnya. Sementara Ayra merasa risih dengan semua itu.


Dia lalu menggandeng Ayra menuju lift kantin lantai tiga miliknya. Tak jauh dari mereka, Angel melihat Ayra dengan tatapan penuh kebencian.


“Kau sekarang bisa bahagia, tapi nanti kau akan menangis. Tunggu saja pembalasanku” gerutu Angel dalam hati.


*


*


*


*


Di dalam lift, Ayra mengibaskan tangannya dengan keras sehingga tangan Devara terlepas.


“Hei..apa-apaan kamu itu? Kenapa membuat pengumuman seperti itu sih? Haishhh..”Ayra kesal lalu memalingkan wajahnya dari Devara


Devara tersenyum saja melihat Ayra yang tampak kesal.


“Tenang saja. Mulai sekarang tidak akan ada yang berani berurusan denganmu. Jika mereka sampai berani mengganggumu, mereka akan berhadapan denganku” ucap Devara tegas


Pintu lift terbuka. Devara mempersilahkan Ayra ikut dengannya. Ayra pun menurut dengan cemberut.


“Wahhhh…jadi seperti ini kantin lantai tiga itu” Ayra kagum melihat kemewahan di lantai tiga.


Ruangan besar khusus Devara dan orang-orangnya itu sangatlah mewah. Mirip restoran bintang lima. Desain ruangannya berbeda jauh dengan kantin lantai satu. Sangat mewah dan berkelas.


Beberapa meja panjang dengan aneka makanan berjejer di sana. Beberapa koki juga tampak berdiri di belakang meja. Memastikan makanan dengan penuh kehati-hatian. Sementara beberapa pelayan tampak hilir mudik menyiapkan makanan untuk disajikan kepada majikan mereka.


Meja dan kursi dengan ukir-ukiran yang sangat indah ada di sana. Di sebelahnya ada kursi sofa besar dan sebuah TV layar datar super besar. Ada juga sebuah mini bar di salah satu sudut ruangan.


“Jadi ini ruanganmu itu?” tanya Ayra


Devara tersenyum melihat Ayra yang terkagum-kagum dengan ruangan VVIP-nya.


“Mulai sekarang ini juga ruanganmu” ucap Devara


“Ambil saja makanan yang ingin kamu makan. Jika tidak mau, kamu bisa pesan, nanti koki yang akan mengantarkan kesini”ucap Devara

__ADS_1


Ayra lalu menuju meja besar penuh makanan itu.


“Wah..sepertinya makanannya enak-enak” gumam Ayra dalam hati


Ayra sampai menelan ludahnya sendiri melihat makanan yang tertata rapi di meja.


“Udah jangan diliatin aja. Cepat ambil dan makan” perintah Devara


Ayra mengambil piring berisi pasta dan topping beberapa sayuran dan saus. Tampilan makanan itu benar-benar mengundang selera. Devara juga mengambil makanan yang sama dengan Ayra.


“Kamu mau makan di mana?”tanya Devara


“Di situ” Ayra menunjuk kursi sofa


Mereka berdua berjalan menuju kursi sofa yang ditunjuk Ayra tadi lalu duduk bersebelahan. Ayra segera menyantap makanannya.


“Humm..enaknyaaa”ucap Ayra begitu menyantap pasta itu.


Saking enaknya Ayra sampai memejamkan matanya. Melihat ekspresi Ayra yang sangat menggemaskan, membuat Devara tak tahan untuk tidak mencubit pipi Ayra.


“Imutnya”ucap Devara sambil mencubit pipi Ayra


“Hyaaa..lepaskan”pinta Ayra melihat Devara mencubit pipinya


Devara pun menurut. Mereka makan makanan mereka sambil bercakap-cakap dengan ringan. Kali ini mereka tidak berdebat dan bertengkar.


“Mulai sekarang, makanlah disini. Temani aku” pinta Devara


“Ga mau”jawab Ayra spontan


“Kenapa?”protes Devara


“Aku tak suka diperlakukan seperti ini. Aku lebih nyaman bersama teman-teman” jelas Ayra


“Aku tak mau tahu. Kalau kamu menolak, akan kusebarkan video CCTV itu”ancam Devara


“Kenapa sih kamu selalu jadikan itu untuk mengancamku? Kalau aku ga mau, jangan maksa dong” protes Ayra


“Terserah! Pokoknya kamu harus makan disini”seru Devara


“Semua anak di sekolah sekarang sudah tahu kamu pacarku. Jadi kamu harus makan di sini denganku”perintah Devara


“Bisa ga sih kamu berhenti merintah orang! Aku tuh risih banget dengernya. Dikit-dikit main perintah” protes Ayra lagi


“Aku tak biasa makan di lantai satu. Aku lebih nyaman di sini”urai Devara


“Ya sudah..makan aja di sini sendiri.. Aku di lantai satu” ucap Ayra


Sekali lagi mereka berdebat. Mereka sama-sama keras kepala. Ayra melihat jam di dinding. Sebentar lagi jam istirahat selesai. Dia segera menghabiskan makanannya. Setelah makanannya habis, seorang pelayan menghampiri Ayra dan mengambil piring kotornya. Ayra akan beranjak dari tempatnya.


“Terimakasih untuk makanannya. Aku turun dulu”ucap Ayra


Devara diam saja. Dia sedang marah karena Ayra tak mau menemaninya makan di ruang VVIP itu.


“Kamu marah?” tanya Ayra sambil memperhatikan wajah Devara yang tampak kesal.


“Terserahlah..Aku masih ada pelajaran. Aku turun” ucap Ayra lalu dia pergi dari ruangan itu.


Ayra memencet tombol lift untuk turun. Menunggu beberapa saat, pintu lift pun terbuka. Ayra pun masuk ke dalam lift dan memencet tombol satu untuk turun ke lantai satu.


Saat pintu lift hampir tertutup, tiba-tiba sebuah tangan menghalangi pintu lift. Devara masuk ke dalam lift dengan wajah sangat marah. Begitu pintu lift tertutup, Devara segera mendekati Ayra. Ayra takut diapa-apakan Devara.


“Ke..kenapa mendekat? Kamu mau apa? Kalau macam-macam aku pukul kau”ujar Ayra sambil kedua tangannya memasang posisi siap untuk memukul.


Devara menepis tangan Ayra, lalu mendorong Ayra ke tembok. Tangan kanan Devara di samping kepala Ayra.


“Kenapa kau selalu membuatku bergairah setiap kali didekatmu? Apa kau sengaja membuatku seperti ini?”goda Devara lembut sambil menyeringai nakal.


“Aa..apa maksudmu?” tanya Ayra terbata-bata


“Apa kau sengaja membuatku selalu terpaku padamu? Dasar gadis nakal. Aku akan memberimu pelajaran”ucap Devara sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Ayra.


Devara mendekatkan wajahnya perlahan-lahan. Jantung Ayra dan Devara sama-sama berdegup kencang. Begitu Devara sangat dekat, Ayra memejamkan matanya. Kali ini Devara akan benar-benar menciumnya.


“Aku menyukaimu”ucap Devara lirih.


Lalu bibirnya menyentuh ujung bibir merah Ayra


“Ting..tung..”pintu lift terbuka

__ADS_1


“Tuan muda” sapa salah satu bodyguard Devara


__ADS_2