
Selama di desa, Devara sukses menjadi idola baru bagi emak-emak dan kaum hawa di desa yang agak terpencil itu. Siapa juga yang tak kan terpesona dengan ketampanan dan kesempurnaan fisik seorang Devara Alexander. Senyum mahalnya bahkan sanggup membuat para gadis klepek-klepek.
“Mas Dev”sapa para gadis muda dengan suara manjanya setiap Devara melintas menuju sawah maupun ke kebun
“Wah..den Devara punya banyak fans ya?”puji Pak Wal.
Devara hanya mengulas senyum tipis di wajah tampannya.
“Dulu waktu bapak masih muda, juga seperti den Devara”ucap pak Wal membanggakan diri.
“Halah..ga usah sombong. Siapa juga yang mau sama kamu? Kalo bukan si Inem”ucap pak Ramli, rekan pak Wal.
“Jangan menghina kamu..gini-gini waktu muda banyak yang suka sama aku. Dulu banyak yang ngasih surat cinta sama saya lho den”balas pak Wal.
Devara hanya tersenyum mendengar perdebatan antara dua lelaki paruh baya yang selalu membantu dan mengajarinya di sawah dan di kebun. Sepanjang perjalanan, pak Ramli selalu mendebat ucapan pak Wal. Sementara Devara hanya menjadi pendengar bagi keduanya.
Ketiga lelaki yang berbeda usia lumayan jauh itu berjalan beriringan menuju salah satu sawah milik kakek yang sudah mulai menguning.
“Sudah waktunya kita kerja. Ayo den!”ajak pak Wal pada Devara.
Devara menganggukkan kepalanya dan mulai menceburkan dirinya di sawah tersebut. Hari ini adalah waktunya panen padi. Beberapa petani yang bekerja di sawah milik kakek Arya tampak menenteng sabit masing-masing untuk memanen padi-padi tersebut.
“Pak Wal”panggil Devara
“Iya Den”jawab Pak Wal sambil menoleh ke arah Devara.
“Kenapa panennya ga pake alat pemanen modern itu sih?”tanya Devara.
Pak Wal yang selama beberapa hari ini bersama dengan Devara, mulai memahami karakter Devara. Sehingga mendengar pertanyaan Devara, Pak Wal hanya tersenyum lalu menjawabnya dengan santun.
“Begini den, ini bukan masalah tuan besar yang tidak mau menyewa alat pemanen sawah atau tidak mampu membelinya”
“Lalu kenapa? Bukankah jika menggunakan alat canggih itu akan lebih efisien? Menghemat tenaga dan waktu juga?”tanya Devara dengan menggebu-gebu.
“Pertimbangan tuan besar tidak hanya seperti itu den”jawab Pak Wal
“Memangnya apa pak?”tanya Devara penasaran
“Coba den Devara lihat! Ada berapa banyak orang yang membantu proses panen ini? Coba den Devara hitung”pinta pak Wal.
Devara mulai menghitung beberapa orang yang ada di sawah itu, yang membantu memanen padi. Di sana ada beberapa lelaki dan perempuan yang bahu membahu dan kadang sesekali saling bercanda sambil memanen padi yang sudah siap panen itu.
“Sepertinya tiga puluhan orang” ucap Devara setelah menghitung orang-orang yang berada di sawah.
“Tuan besar berpendapat, dengan memanen padi secara manual seperti ini maka akan banyak orang yang bisa membantu. Dengan begitu, ada banyak orang yang mendapat pekerjaan. Jadi mereka bisa menafkahi keluarga mereka melalui kegiatan panen padi ini”jelas Pak Wal bijaksana.
Devara menganggukkan kepalanya pelan mendengar penjelasan pak Wal sambil mencerna tiap kata yang diucapkannya.
“Aku tak pernah berpikir sejauh itu. Rupanya kakek tidak sekejam yang aku pikirkan. Maafkan aku kek, sudah berpikiran buruk tentang kakek selama ini”gumam Devara dalam hati.
“Mari den..kita ikut memanen padinya”ajak pak Wal.
__ADS_1
Akhirnya Devara berbaur dengan penduduk desa, membantu memanen padi. Ada kebahagiaan di sana kala mereka bergotong royong saling membantu memanen padi milik kakek yang sudah siap panen. Mereka memanen dengan diselingi canda tawa riang. Devara pun ikut tertawa bersama mereka.
Setelah berhasil menuai atau memotong semua padi, maka padi-padi itu dikumpulkan di salah satu sudut sawah untuk dirontokkan yaitu memisahkan butir-butir padi dari batangnya. Devara ikut memanggul potongan jerami untuk dirontokkan. Perontokan juga masih manual, dengan cara memukul-mukulkan batang jerami ke suatu alat yang terbuat dari kayu atau papan bersusun. Setelah dirontokkan, butir-butir padi dimasukkan suatu wadah untuk dikeringkan di tempat pengeringan. Pengeringan dilakukan bertujuan untuk mengurangi kadar air yang ada pada gabah atau hasil panen padi.
Semua proses pemanenan dan pasca panen di desa itu masih sangat tradisional. Pengeringan dilakukan dengan menjemur gabah di lantai yang terbuat dari semen dengan memanfaatkan panas dari sinar matahari. Padi-padi yang sudah kering selanjutnya disimpan dan dimasukkan kantong-kantong besar selama beberapa waktu. Dan terakhir adalah penggilingan yaitu proses mengubah gabah menjadi beras. Proses penggilingan gabah meliputi pengupasan sekam, pemisahan gabah, penyosohan, pengemasan dan penyimpanan.
Devara terlihat sangat terampil membantu proses pemanenan dan pasca panen. Semuanya berkat arahan dan bantuan dari pak Wal. Kakek yang berkunjung meninjau proses panen padi di sawahnya terlihat tersenyum bangga menatap lelaki muda yang sebentar lagi menjadi bagian dari keluarganya.
Devara yang melihat kakek berkunjung pun datang menghampirinya. Kakek menatap terus Devara yang datang dengan pakaian lusuh yang biasa dipakai Devara saat di sawah dengan tatapan penuh kebanggaan. Peluh dan keringat tampak mengucur dan membasahi pakaian lusuh Devara.
“Kakek”sapa Devara
“Bagaimana pekerjaanmu beberapa minggu ini?”
Devara duduk di samping kakek yang kini duduk di gubuk yang ada di salah satu sudut sawah tersebut. Sambil mengusap peluh yang mengalir Devara tampak mengatur nafasnya.
“Lumayan kek”jawab Devara
“Apa kau belajar sesuatu selama bekerja disini?”tanya kakek tanpa menoleh pada Devara.
Keduanya menatap lurus ke arah orang-orang yang sibuk memanen padi di sawah.
“Terimakasih kek sudah mengajakku kemari. Aku belajar banyak hal disini”ucap Devara tulus.
“Benarkah?”
“Iya kek. Aku belajar banyak tentang kehidupan. Selama ini aku tak pernah bergaul dengan orang-orang seperti di desa ini. Dari mereka aku belajar artinya bersyukur, ikhlas dan bersabar. Sungguh aku kagum dengan masyarakat di sini”puji Devara
Devara menggelengkan kepalanya pelan karena dia memang tidak tahu.
“Apa kakek ingin tahu jika aku hidup susah seperti orang-orang disini? Apakah aku akan sanggup? Apa itu maksud kakek?”tebak Devara.
“Bukan seperti itu”
Kakek menarik nafasnya dan menghembuskannya perlahan.
“Dalam agama kita, seorang istri itu ibarat ladang atau sawah. Maka itu artinya seorang suami adalah petani yang akan menggarap ladang atau sawah. Karena ladang hanya akan menghasilkan sesuai dengan apa yang ditanam petani. Itulah sebabnya aku mengajakmu kemari. Untuk melihat bagaimana kau akan menjaga dan menggarap ladang atau sawahmu. Sebagimana nantinya aku akan menyerahkan Ayra padamu”ucap kakek
“Kakek”
Ucapan kakek merasuk ke dalam hati Devara. Ternyata selama ini kakek ingin menguji dan mengajarkan pada Devara artinya bertanggungjawab sebagai seorang suami. Devara tak menyangka kakek akan berbuat seperti itu padanya. Devara selalu mengira tantangan yang diberikan kakek adalah bagian dari hukuman yang harus diterimanya selama ini karena sudah membuat Ayra bersedih. Ternyata di balik itu semua, kakek mempunyai “misi rahasia” untuk membuat dirinya menjadi lelaki yang lebih berguna dan bertanggungjawab.
“Terimakasih kek”ucap Devara sambil memeluk tubuh kakek
Kakek yang dipeluk secara mendadak oleh Devara terlihat sangat kaget dan mencoba melepaskan dekapan Devara.
“Apa-apaan kau ini? Cepat lepaskan!”pinta kakek pada Devara namun Devara tak mau melepaskan dekapannya.
“Kakek mengingatkanku pada sosok kakekku yang sudah lama sekali aku rindukan”ucap Devara di sela-sela dekapannya.
Hati Devara terenyuh melihat perhatian kakek padanya. Tiba-tiba Devara jadi teringat kakeknya yang sudah lama meninggal. Lelaki tua yang dulu selalu ada untuk Devara. Yang sangat menyayangi dan menjaga Devara.
__ADS_1
Kakek yang mendengar ucapan Devara menjadi ikut terharu dan membiarkan lelaki muda itu memeluk tubuhnya. Bagaimanapun juga lelaki muda itu kelak akan menjadi cucunya juga. Karena Ayra sangat mencintai Devara. Begitu juga sebaliknya.
Keinginan kakek untuk menghukum lelaki muda itu perlahan berkurang seiring pengakuan Ayra yang sangat mencintai Devara. Dan Ayra ingin menikah dengan Devara begitu mendapat lamaran dadakan Devara.
“Sampai kapan kau akan memelukku? Apa kau tak malu dilihat orang-orang?”tanya kakek
“Oh iya..maaf kek”ucap Devara yang baru sadar sudah memeluk tubuh kakek lumayan lama.
Keduanya lalu duduk menghadap ke arah sawah yang masih dipenuhi beberapa orang yang memanen padi.
“Besok kau sudah bisa pulang”ucap kakek
“Benarkah? Terimakasih kek”ucap Devara sambil merentangkan tangannya ingin memeluk kakek lagi namun lelaki paruh baya itu menahan tubuh Devara yang ingin memeluknya.
“Sudah jangan memelukku lagi”perintah kakek tegas
“Maaf kek”ucap Devara.
“Kau bisa pulang besok, tapi aku masih punya satu tantangan lagi untukmu”tutur kakek
“Hah? Tantangan lagi?”seru Devara
“Kenapa? Kau sudah tak membutuhkan restuku?”
“Bukan begitu kek”sahut Devara
“Aku pikir dia sudah menerimaku. Ternyata masih ada tantangan ketiga rupanya”gumam Devara dalam hati
“Tantanganku kali ini adalah buat acara lamaran kejutan untuk Ayra cucuku”
Devara membelalakkan matanya mendengar tantangan ketiga dari kakek.
“Aku siap kek”jawab Devara dengan cepat
“Acara ini harus kamu sendiri yang mengurusnya. Dan syaratnya adalah jangan sampai Ayra tahu. Kali ini restuku tergantung pada cucuku. Jika di acara lamaran itu, Ayra menolakmu, maka kau harus menjauhi cucuku. Tapi jika Ayra menerima lamaranmu, maka aku juga akan menerimamu menjadi bagian dari keluargaku. Apa kau berani menerima tantanganku ini?”jelas kakek panjang lebar.
“Aku terima tantangan kakek. Karena kali ini aku yakin 100% Ayra pasti akan menerima lamaranku”ucap Devara dengan sombong
“Jangan sombong kau anak muda”
“Tapi aku bicara kenyataan kek”
“Belum tentu Ayra menerimamu”
“Oke..kita lihat saja. Aku pasti akan mengalahkan kakek”
Kakek dan Devara saling berhadapan. Keduanya tersenyum dengan tantangan ketiga yang diberikan kakek. Devara sangat yakin kali ini pasti akan mengalahkan kakek dan menjadikan Ayra calon istrinya. Meskipun dulu saat dilamar di rumahnya di kota S, Ayra tidak langsung memberikan jawabannya, namun Devara sangat yakin Ayra sangat mencintainya seperti juga dirinya yang sangat mencintai Ayra.
Sepulangnya dari desa, Devara segera mempersiapkan acara lamaran kejutannya untuk Ayra. Devara merancang sendiri acara tersebut. Devara berkoordinasi dengan anggota keluarga Ayra lewat Ayah Aldi dan Bunda. Devara memikirkan setiap detailnya dengan teliti. Devara benar-benar ingin membuat acara lamaran kejutan yang paling berkesan untuk Ayra. Bahkan Devara mempersiapkan kata-kata yang sangat puitis untuk wanitanya. Kata-kata yang dikarang Devara sendiri sambil mengenang masa-masa awal perkenalannya dengan gadis tomboy itu. Gadis tomboy cantik yang sudah berhasil mencuri hatinya sejak insiden di gudang sekolah waktu itu. Gadis yang meskipun sangat tak bersahabat dan kadang menyebalkan namun berhasil membuat hidup Devara terombang-ambing. Devara dibuat tak berkutik dengan pesona seorang Ayra.
“Kali ini aku akan membuat kau menjadi milikku”ucap Devara sambil menatap foto Ayra yang ada di hp nya.
__ADS_1
FLASHBACK OFF