
Kini mereka sudah sampai di kompleks kediaman Devara. Kediaman Keluarga Alexander. Arga membukakan pintu untuk Devara begitu mereka sampai di depan pintu rumah. Devara akan membopong Ayra lagi, tapi Ayra menolak.
“Aku bisa jalan sendiri”ujar Ayra
“Baiklah”balas Devara
Devara pun turun dulu lalu mengulurkan tangannya pada Ayra. Ayra menerima uluran tangan Devara. Begitu turun dari mobil, tubuh Ayra terasa sangat lemas. Pandangan matanya mendadak gelap.
Bruuukk..
Ayra pingsan. Saking syoknya, Ayra sampai tak sadarkan diri. Devara yang melihat Ayra jatuh terkulai lemas langsung panik. Segera dibopongnya tubuh mungil Ayra masuk ke dalam rumah setengah berlari.
Di dalam rumah, Madam O segera menghampiri Devara. Ia kaget Devara pulang membawa seorang gadis.
“Madam, panggilkan dokter Jhon sekarang”perintah Devara pada Madam O.
“Tapi siapa gadis ini, tuan muda?”tanya Madam O.
“Nanti aku jelaskan, panggilkan dulu dokter Jhon”bentak Devara sambil terus berjalan ke lantai dua, ke kamarnya.
“Baik tuan muda”jawab Madam O.
Madam O segera menelpon dokter pribadi keluarga Alexander. Devara membaringkan Ayra di ranjangnya. Tubuh Ayra dingin karena bajunya yang basah.
“Kita harus segera mengganti baju gadis ini dulu. Bajunya basah kuyup” ujar Madam O melihat keadaan Ayra yang basah kuyup.
Bahkan kemeja Devara yang tadi dipakai juga basah.
“Iya..ganti dulu bajunya”jawab Devara
Madam O meminta beberapa pelayan wanita membantunya. Pelayan yang lain membawakan piyama untuk Ayra. Madam O melihat ke arah Devara.
“Apa tuan muda akan terus disini? Silahkan tuan muda keluar dulu”perintah Madam O.
“Baiklah..aku keluar” kata Devara.
Matanya selalu tertuju pada Ayra. Seorang pelayan menutup pintu kamar Devara. Devara diluar mematung di depan kamarnya. Dia benar-benar panik karena Ayra pingsan.
Dokter Jhon, dokter keluarga Alexander dijemput menggunakan helicopter pribadi keluarga Devara untuk menghindari kemacetan karena saat ini biasanya jalanan macet dimana-mana.
Setelah perjalanan selama 10 menit, dokter pun sampai di kediaman Alexander yang luar biasa luas. Begitu turun dari helicopter, dokter segera disambut oleh Arga.
Arga segera mengantar dokter Jhon menuju kamar Devara. Sesampainya di kamar Devara,
“Tolong periksa gadis itu dok”pinta Devara
Dokter pun masuk kamar Devara. Devara duduk di kursi sofa di depan kamarnya dengan penuh kecemasan.
“Tuan muda tenang saja, nona Ayra gadis yang kuat” ucap Arga menenangkan Devara.
“Aku tahu” jawab Devara lemah.
Devara mengambil hp nya lalu menghubungi Nadine.
“Bagaimana keadaan Ayra, Dev?”tanya Nadine
“Dokter sedang memeriksanya. Apa kau bawa tas Ayra?”tanya Devara
“Iya..tas nya ada padaku”jawab Nadine
“Kau hubungi orangtua Ayra. Katakan Ayra menginap di rumahmu malam ini supaya orangtua Ayra tidak khawatir”ucap Devara
“Aku mengerti”jawab Nadine
“Dev?”
“Ya..”
“Aku titip Ayra”
“Tenanglah. Dia aman bersamaku”
“Terimakasih Dev”
Devara menutup telponnya.
Sepuluh menit kemudian, dokter Jhon dan Madam O keluar dari kamar Devara. Devara segera menghampiri dokter Jhon.
“Bagaimana keadaan gadis itu, dok?”tanya Devara kuatir
Dokter tersenyum.
__ADS_1
“Gadis itu baik-baik saja, tuan Dev. Dia hanya syok berat makanya dia pingsan. Saya sudah meninggalkan beberapa obat untuk mengobati luka-lukanya. Hubungi saya kalau terjadi apa-apa” kata Dokter Jhon
“Syukurlah” Devara lega.
“Terimakasih dok”ucap Devara.
“Sama-sama tuan Dev. Saya pamit dulu”jawab Dokter Jhon
“Mari dokter, saya antar dokter keluar” kata Madam O pada Dokter Jhon.
“Tuan muda bisa masuk ke dalam” ujar Madam O
Madam O mengajak dokter Jhon turun. Devara masuk ke kamarnya. Dia duduk di samping Ayra yang tertidur pulas. Devara mengamati wajah cantik Ayra dari dekat. Dilihatnya bekas tamparan di pipi Ayra. Devara pun mengelus pipi mulus Ayra yang tampak kemerahan karena tamparan Angel.
Devara menggenggam tangan Ayra. Dilihatnya bekas ikatan tali di pergelangan tangan Ayra. Pergelangannya tampak memerah saking kuatnya ikatan itu.
“Maafkan aku..semua ini kesalahanku”ucap Devara sedih melihat Ayra yang tergelatak lemah di ranjangnya saat ini.
Madam O masuk kamar Devara sambil membawa obat-obatan untuk mengobati luka Ayra.
“Tuan muda”sapa Madam O pelan
Devara menoleh ke arah Madam O.
“Letakkan saja obat itu disitu, nanti aku akan mengobatinya”ujar Devara sambil menunjuk meja sofa di kamarnya.
“Baik tuan muda”jawab Madam O
“Siapa gadis ini, tuan muda?”tanya Madam O
“Dia..gadis yang ingin kulindungi”jawab Devara tegas sambil matanya terus tertuju pada Ayra yang masih belum sadarkan diri.
Madam O bisa melihat Devara sangat perhatian pada Ayra. Melihat Devara yang panik dan cemas tadi, Madam O bisa tahu kalau Devara menyukai Ayra. Apalagi Devara terus menggenggam tangan Ayra.
“Saya akan di luar jika tuan muda membutuhkan sesuatu”ucap Madam O
Devara mengangguk.
Jari tangan Ayra bergerak. Ayra mulai sadar. Matanya perlahan-lahan terbuka. Dilihatnya sosok Devara di depannya.
“Kau sudah sadar?”tanya Devara kuatir
“Kau ada dikamarku”jawab Devara
Ayra mulai mencoba duduk.
“Jangan banyak gerak dulu..kau masih harus banyak istirahat”pinta Devara
Devara membantunya duduk. Ditumpuknya beberapa bantal di belakang Ayra supaya Ayra dapat duduk dengan nyaman.
“Jam berapa sekarang? Aku harus pulang. Ayah Bundaku pasti mencariku” ujar Ayra cemas
“Tenanglah! Aku sudah menelpon Nadine supaya menelpon keluargamu” ujar Devara
“Kau bilang apa sama Nadine?” tanya Ayra lagi
“Aku minta dia bilang, kamu menginap di rumah Nadine. Jadi orangtuamu takkan curiga”ucap Devara
“Kenapa kau begitu ceroboh? Percaya saja pada anak buahku. Bukankah aku memberimu smartphone itu? Kenapa kau tak menelponku langsung?” bentak Devara
“Mana aku tahu kalau itu bukan kamu? Dia kan anak buahmu. Lagian kamu juga pernah mengirimiku kertas sebelumnya. Tentu saja aku pikir itu kamu. Aku hanya ingin mengembalikan smartphonemu”jawab Ayra tak terima disalahkan.
Wajahnya pun langsung cemberut.
“Jadi begitu ya, caramu menghukum musuh-musuhmu? Mengerikan.. Pantas saja semua orang takut padamu” ujar Ayra ngeri
“Kau pasti takut sekali tadi..Sudah lupakan saja kejadian hari ini..Anggap kejadian tadi tak pernah terjadi”pinta Devara
“Kita obati dulu lukamu”
Devara mengambil obat yang ditinggalkan Madam O di sofa. Lalu Devara duduk lagi di ranjang, di samping Ayra.
Devara menarik selimut yang menutupi kaki Ayra.
“Apa yang mau kau lakukan?”tanya Ayra bingung
“Sudah diamlah”seru Devara
Devara menarik perlahan kaki Ayra.
“Kamu mau ngapain?”Ayra bingung
__ADS_1
Devara membuka celana piyama Ayra, melintingnya perlahan. Ayra merasa risih. Berkali-kali tangannya mengganggu.
“Aku bisa mengobati diriku sendiri..berikan saja obatnya”pinta Ayra
“Sudah diamlah..apa kau mau kuikat?”tanya Devara dengan tatapan tajam.
Tatapan tajam Devara membuat Ayra salah tingkah. Akhirnya Ayra memilih diam dan menurut.
Tampak lutut Ayra yang lecet karena tersungkur di lantai tadi. Devara mengambil salep. Dioleskannya di lutut Ayra dengan sangat hati-hati. Ayra meringis, karena lututnya perih. Sesekali Devara meniup lutut itu, supaya tidak terlalu sakit. Lalu Devara menempelkan plester di lutut Ayra.
Ayra mengamati Devara yang mengobatinya dengan hati-hati. Perhatian Devara padanya membuat hati Ayra merasa hangat. Terbayang kembali saat-saat Devara meneriakkan namanya saat di gudang tadi, membuatnya benar-benar terharu hingga meneteskan airmatanya. Ayra juga ingat saat-saat Devara membopongnya, dan memeluknya untuk menenangkannya. Sejenak Ayra bisa merasakan kehangatan seorang Devara. Sisi lain Devara yang lembut.
Devara mengambil beberapa es lalu dimasukkan pada kantung. Devara akan mengompres pipi Ayra yang bengkak karena tamparan Angel tadi.
“Aku saja” pinta Ayra melihat Devara akan mengompres pipinya
Devara menepis tangan Ayra dan mengompres pipinya perlahan. Ayra meringis saat kompres dingin itu mengenai pipinya yang bengkak.
“Maaf” kata Devara pelan
Ayra melirik ke arah Devara. Lelaki aneh yang selalu mengganggunya itu tiba-tiba berubah. Lebih lembut.
“Aku janji..kejadian seperti ini takkan terjadi lagi” ujar Devara lembut sambil meletakkan kompres itu.
Mereka berdua membisu. Tiba-tiba keheningan menyeruak di kamar Devara yang hanya ditinggali dua remaja tanggung yang sama-sama mulai merasakan sesuatu yang berbeda di hati masing-masing.
Devara menatap hangat wajah Ayra. Diusapnya pipi merah Ayra dengan lembut. Keduanya saling bertatapan. Dilihatnya bibir merah muda Ayra. Membuat keduanya salah tingkah. Namun tak menyurutkan keinginan Devara untuk kembali merasakan bibir lembut Ayra.
Mata Devara dan Ayra kini saling bertatapan. Jantung keduanya berdegup sangat cepat. Devara meraih tengkuk Ayra. Melihat Ayra yang tak memberikan perlawanan membuat Devara perlahan-lahan mendekatkan wajahnya ke wajah Ayra. Devara dan Ayra kini sangat dekat. Ayra dapat merasakan hembusan nafas Devara yang mengenai wajahnya. Devara memiringkan sedikit wajahnya.
Bibir Devara hampir menyentuh ujung bibir Ayra. Devara ingin mencium Ayra sekali lagi. Mencium bibir lembut Ayra. Kali ini Ayra pasrah dicium Devara. Ayra pun meremas sprei ranjang Devara sambil memejamkan matanya karena dia mulai gugup.
Tok..tok..tok..
Pintu kamar diketuk dari luar. Devara dan Ayra kaget.
“Haaahhh..mengganggu saja”protes Devara dalam hati
“Siapa?”bentak Devara kesal karena kemesraannya dengan Ayra baru saja terganggu
“Saya tuan muda” suara Arga di luar kamar.
“Awas saja kalau tidak penting..akan kupecat dia” protes Devara dalam hati
“Masuk” perintah Devara
Arga pun masuk ke dalam kamar. Devara sudah bergeser dari posisinya tadi. Ayra mengigit bibir bawahnya sambil tersipu malu. Hampir saja, dirinya dan Devara berciuman.
“Katakan! ada apa?” tanya Devara sedikit kesal
“Maaf tuan, di luar ada nona Angel ingin bertemu”ujar Arga
“Oya..aku belum membuat perhitungan dengan gadis itu”gumam Devara dalam hati
“Suruh dia masuk dan tunggu aku di ruang tamu. Aku akan segera turun” perintah Devara
“Baik tuan muda”Arga pun memberi hormat lalu menutup pintu kamar Devara untuk kemudian melaksanakan perintah majikannya itu.
“Kau istirahatlah! Aku ke bawah sebentar”ucap Devara lembut.
Sebelum Devara beranjak pergi, Ayra memegang lengannya.
“Kau takkan membuat perhitungan dengan Angel kan? Berjanjilah kau tak kan melukai dia” pinta Ayra
Devara melihat genggaman Ayra.
“Baiklah!”ucap Devara lembut sambil tersenyum.
Ayra melepas genggamannya. Devara segera turun ke ruang tamu. Walaupun Devara sudah berjanji pada Ayra, namun janji itu tak cukup membuat Ayra tenang. Ayra nampak gusar di kamar. Dia takut Devara akan melukai Angel seperti saat di gudang tadi.
“Aku harus lihat sendiri dia takkan melukai Angel” gumam Ayra dalam hati.
Ayra turun dari ranjang dan dengan sedikit tertatih berjalan keluar kamar. Begitu keluar dari kamar, Ayra bingung kemana dia harus pergi. Akhirnya Ayra memilih mencari tangga menuju lantai satu.
__ADS_1