Falling In Love With Trouble Maker

Falling In Love With Trouble Maker
Malam Yang Romantis


__ADS_3

Suara deru baling-baling helicopter perlahan-lahan semakin keras. Hembusan udara yang dihasilkan helicopter pribadi milik keluarga Devara sangat kencang, hingga menerbangkan serpihan-serpihan debu disekitar helipad. Menimbulkan hawa dingin yang membuat Ayra kedinginan karena gaun yang dikenakannya. Devara yang melihat Ayra kedinginan, segera melepaskan jas yang dipakainya. Menyisakan kemeja putih dan rompi yang melekat sangat pas ditubuhnya. Devara memakaikan jasnya pada Ayra.


“Terimakasih”ucap Ayra sambil menatap Devara hangat.


Devara hanya mengangguk. Agatha yang melihat perhatian Devara pada Ayra merasa sangat senang dengan perubahan pada diri cucu kesayangannya itu.


Ayra dan Devara melambaikan tangan pada keluarga Devara, hingga akhirnya helicopter itu pun menghilang dari pandangan mereka. Agatha memilih segera masuk ke dalam resort untuk beristirahat. Sementara Ayra dan Devara masih di luar resort.


“Apa boleh kita ke pantai sekarang?”tanya Ayra pada Devara.


Ayra yang sejak di ruang makan tadi ingin sekali ke pantai, kini memasang wajah memelas di hadapan Devara. Ayra sangat ingin ke pantai. Apalagi tadi saat makan malam, pemandangan sunset yang dilihatnya sangat indah. Langit senja saat matahari menuju peraduannya terlihat sangat indah. Semburat warna jingga menghiasi langit. Walaupun sekarang hari sudah beranjak malam, tapi Ayra ingin merasakan berjalan-jalan di tepi pantai.


“Sekarang sudah malam..aku mau istirahat di dalam..apa kau tak capek seharian ini?”tanya Devara berusaha mematahkan semangat Ayra.


Ayra cemberut karena Devara tak mau ke pantai.


“Ayolah! kita ke pantai sebentarrrrr saja, ya?ya?”rengek Ayra


Devara sebenarnya tak kuat mendengar suara manja Ayra yang saat ini merengek padanya.


“Besok pagi saja..aku temani jalan-jalan di pantai”ujar Devara masih berusaha mematahkan semangat Ayra.


“Kalau kau tak mau, aku pergi sendiri saja”gerutu Ayra lalu dia pergi meninggalkan Devara sambil menjinjing gaunnya yang panjang.


Devara tersenyum melihat kemarahan Ayra lalu berlari mengejar gadis pujaan hatinya itu.


“Kau mau kemana? Kalau kau terseret ombak gimana?” tanya Devara setelah berhasil menyusul Ayra sambil menarik tangan Ayra.


“Baiklah..aku temani”sahut Devara


Ayra yang awalnya cemberut kini tersenyum dengan sangat manis.


Mereka pun berjalan ke arah pantai. Kebetulan resort Devara terletak di atas tebing, sehingga untuk sampai ke pantai mereka harus berjalan lumayan jauh dan menuruni beberapa anak tangga.


Ayra yang mulai merasakan pegal di kakinya menghentikan langkah kakinya. Devara juga berhenti. Ayra lalu melepas heels yang dipakainya.


“Kau benar-benar tak suka memakai high heels ya?”tanya Devara melihat Ayra yang sekarang tanpa alas kaki alias nyeker.


Ayra mengangguk pelan.


“Kenapa aku bisa suka cewek tomboy sepertimu sih?”tanya Devara sambil menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya bahwa gadis yang disukainya sangat tomboy.


“Karena aku cantik”balas Ayra dengan memasang wajah imut dan mengedipkan matanya beberapa kali.

__ADS_1


Devara spontan tertawa mendengar jawaban manja dari Ayra.


“Tapi aku lihat akhir-akhir ini kamu sering pakai dress ya?”tanya Devara


“Itu karena permintaan Bunda..Bunda takut aku terlalu tomboy..makanya sekarang dipaksa memakai dress..supaya jiwa femininku muncul..begitu kata Bunda”jelas Ayra


Devara tergelak mendengar jawaban polos Ayra. Devara tertawa sekali lagi.


“Berarti aku harus berterimakasih sama Bunda nih”sahut Devara


Tiba-tiba Ayra teringat orangtuanya. Dia belum ijin Ayah Bundanya jika dia diajak Devara ke resort ini. Ayra hanya ijin merayakan ulangtahun Devara di hotel tadi siang.


“Gawat!”seru Ayra sambil membelalakkan matanya.


“Kenapa? Apanya yang gawat?”tanya Devara kuatir.


“Aku lupa belum ijin Ayah sama Bunda. Mereka pasti kuatir sekarang”ujar Ayra bingung.


“Oo..tenang saja..aku sudah ijin Ayah sama Bunda”jawab Devara enteng.


Ayra menatap Devara tak percaya sambil mengernyitkan dahinya. Karena sejak tadi siang mereka selalu bersama dan Devara tak pernah terlihat sedang menelpon seseorang.


“Kapan kamu ijin? Aku tak lihat kamu pegang hp sejak tadi siang”tanya Ayra


Ayra mengangguk.


“Benar juga sih”gumam Ayra dalam hati.


“Jadi jalan-jalan ke pantai apa ga nih?”tanya Devara


“Ya jadi lah”jawab Ayra mantap


Akhirnya Devara dan Ayra kembali berjalan ke arah pantai sambil bergandengan tangan berdua.


Sampai di pantai, Ayra melepaskan genggaman tangan Devara lalu berlari-lari kecil merasakan pasir putih yang sangat lembut di kakinya. Meskipun hari sudah malam, namun pancaran lampu dari resort sampai di pantai ini. Di pinggir pantai juga berjejer lampu-lampu yang bersinar temaram, menambah nuansa romantis di pantai pribadi milik Devara ini.


Ombak-ombak kecil sesekali menyapu daratan. Ayra berlari kecil seolah mengejar ombak pantai yang mendekat. Ayra benar-benar seperti anak kecil yang sedang bermain di pantai.


Sempat Devara menahan tubuh Ayra sehingga ombak kecil itu mengenai kaki dan gaun Ayra. Ayra yang tak terima, akhirnya mengejar Devara yang membuat gaun yang dipakainya basah terkena ombak pantai.


Mereka berkejaran di pantai karena Devara berusaha menghindari pukulan Ayra. Mereka berdua sangat menikmati waktu kebersamaan mereka di pantai ini.


“Apa kau mau berlatih dansa? Aku akan mengajarimu”tanya Devara

__ADS_1


“Apa aku bisa?”tanya Ayra tak yakin


“Kau pasti bisa”ucap Devara memberi semangat Ayra.


Akhirnya Devara melepas sepatu pantofelnya. Kini Devara sama dengan Ayra, tanpa memakai alas kaki.


Devara pun mengajari Ayra berdansa. Ayra melangkahkan kakinya sesuai arahan Devara. Beberapa kali Ayra menginjak kaki Devara karena salah langkah. Mereka tertawa bersama setiap kali Ayra salah langkah.


Mereka berdua berdansa di bawah cahaya rembulan yang bersinar terang malam itu. Suasananya sangat romantis. Akhirnya Ayra bisa berdansa meskipun hanya gerakan dasar saja.


Setelah cukup lama di pantai, Devara dan Ayra pun kembali ke resort. Ketika menapaki tangga, Ayra tampak kelelahan. Devara yang kasihan melihat Ayra kelelahan, kemudian membopong Ayra. Ayra kaget karena Devara tiba-tiba membopongnya.


“Hei..turunkan aku..aku bisa jalan sendiri”ucap Ayra minta diturunkan sambil memukul dada Devara pelan.


Devara menatap Ayra lembut.


“Diamlah! Jangan banyak bergerak!  Aku tahu kakimu lelah”ucap Devara


Sebenarnya Ayra memang sudah sangat lelah. Apalagi dari tadi memakai high heels dalam waktu lama. Jelas kakinya sangat lelah.


Akhirnya Ayra menurut saja dan melingkarkan tangannya di leher Devara dengan malu-malu. Devara senang Ayra menurut perintahnya.


Devara membopong Ayra sampai ke dalam resort. Sepanjang perjalanan Ayra terus menyembunyikan wajahnya. Dia malu dilihat pelayan dan bodyguard Devara. Devara yang menyadari kelakuan Ayra hanya diam saja sambil tersenyum.


Sampai di depan pintu kamar, seorang pelayan membantu membukakan pintu kamar untuk Devara. Devara menurunkan tubuh Ayra perlahan ke atas ranjang.


“Terimakasih”ucap Ayra


Devara hanya mengangguk. Lalu duduk di samping ranjang.


“Mandilah dulu..dilemari sudah ada beberapa baju untuk ganti”tunjuk Devara ke arah lemari diruangan itu.


“Emang bajunya nanti muat?”gumam Ayra dalam hati


“Kau istirahatlah..aku ada di kamar sebelah kalau kau mencariku”ucap Devara


Ayra mengangguk. Sebelum beranjak meninggalkan kamar yang digunakan Ayra, Devara sempat mencium kening Ayra.


“Selamat malam” ucap Devara lembut sambil mencium kening Ayra.


“Selamat malam”sahut Ayra lirih dengan tersipu malu.


Devara meninggalkan kamar Ayra lalu berjalan ke kamarnya. Baik Ayra maupun Devara segera mandi dengan air hangat. Membuat tubuh mereka yang kelelahan, segar kembali. Kemudian mereka berdua berbaring di ranjang masing-masing. Mereka pun terlelap dalam tidur.

__ADS_1


__ADS_2