
“Antar tamu kita ke kamarnya”pinta kakek pada bi Inem
“Baik tuan”jawab bi Inem sambil membungkukkan sedikit badannya, lalu meminta Devara mengikutinya.
Devara mengikuti di belakang bi Inem. Bi Inem mengantar Devara ke salah satu kamar tamu yang ada di villa milik kakek Arya itu.
“Bi”
“Iya den”
“Sebenarnya apa pekerjaan pak Wal?”tanya Devara to the point.
“Ehm..saya ga berani jawab den. Maaf. Sebaiknya den tanya langsung pada tuan besar ya?”jawab bi Inem
Beliau tidak berani menjawab karena merasa bukan kapasitasnya menjawab pertanyaan Devara.
“Aku harus tanya kakek, sebenarnya apa tugasku disini?”gumam Devara dalam hati.
Setelah meletakkan barang miliknya di kamar tamu yang diminta kakek tadi, bi Inem menyerahkan satu setel pakaian yang sangat sederhana pada Devara sesuai perintah kakek Arya. Pakaian yang meskipun wangi namun sangat lusuh. Setelah berganti pakaian, Devara kembali ke ruang tamu untuk menuntaskan rasa penasarannya.
“Kau sudah disini? Lihat! Kau cocok juga memakai pakaian itu”sindir kakek Arya yang melihat Devara dengan pakaian lusuhnya.
“Kenapa kakek memintaku kemari? Apa sebenarnya rencana kakek kali ini? Kenapa aku harus memakai pakaian lusuh seperti ini”tanya Devara
“Ikutlah denganku”pinta kakek Arya tanpa menjawab pertanyaan Devara.
Keduanya langsung berjalan beriringan ke suatu tempat. Sempat mereka melewati kerumunan penduduk yang sedang berkumpul di pos kampling. Beberapa orang penduduk desa yang mengenal kakek Arya langsung menyapanya dengan ramah. Kakek juga membalas sapaan mereka bahkan sempat berjabatan tangan dengan beberapa pemuka masyarakat yang ditemuinya di jalan.
Sepanjang perjalanan Devara terus-terusan menggaruk tubuhnya yang terasa gatal setelah mengenakan pakaian lusuh itu. Nampaknya kulit Devara sangat sensitif dengan pakaian seperti itu. Meskipun di kamp militer dulu, pakaiannya juga kadang sangat kotor terkena lumpur, atau saat tercebur ke sungai/rawa namun seragam itu segera dicuci dengan bersih sehingga Devara tak pernah merasakan gatal-gatal disekujur tubuhnya saat memakai seragam tentara.
Kini keduanya telah sampai di lahan persawahan yang sangat luas. Beberapa orang petani tampak sedang membajak sawahnya dengan kerbau. Warga desa disitu masih sangat tradisional. Meskipun sudah ada traktor namun mereka memilih membajak sawahnya dengan kerbau yang mereka miliki.
Seorang lelaki paruh baya yang lebih muda dari kakek, begitu melihat kehadiran kakek segera mendekati sang pemilik sawah.
“Tuan besar kapan datang? Maaf saya tidak tahu kalo tuan akan datang berkunjung kemari”ucap lelaki paruh baya itu dengan ramah.
Dia tampak menyilangkan tangannya dengan penuh santun di depan majikannya dengan sedikit membungkukkan badannya.
“Bagaimana pekerjaanmu? Lancar kan?”tanya kakek
“Alhamdulillah lancar tuan”
“Bagus. Aku kemari membawa bantuan. Kenalkan, dia Devara. Dia akan disini membantumu mengurus sawah dan kebunku”ucap kakek pada pak Wal, lelaki yang diberi amanah oleh kakek untuk mengurus lahan persawahan, lahan perkebunan dan peternakan kakek yang luasnya beberapa hektar.
Pak Wal sedikit terkejut dengan ucapan kakek. Matanya langsung menoleh pada Devara dengan tatapan penuh selidik.
“Lelaki ini akan membantuku? Dia bukan lelaki yang biasa bekerja kasar. Apa mungkin dia bisa melakukannya?”gumam Pak Wal dalam hati sambil mengernyitkan dahinya.
__ADS_1
Devara yang mendengar ucapan kakek langsung menoleh ke arah kakek dengan tatapan penuh tanda tanya.
“Aku disuruh mengurus sawah dan kebunnya? Yang benar saja. Apa kakek tua ini tak punya tantangan yang lebih masuk akal”gumam Devara dalam hati sambil menatap kakek.
“Kenapa Wal? Dev? Kalian terkejut dengan ucapanku barusan?”tanya kakek setelah melihat baik Pak Wal maupun Devara sama-sama memasang wajah yang terkejut dan tak percaya dengan ucapannya barusan.
“Kita lihat sekarang, apa kau bisa mengurus sawah dan kebunku? Inilah tantangan keduaku untukmu”gumam kakek dalam hati
“Apa maksud kakek menyuruhku mengurus sawah dan kebun kakek?”tanya Devara mengeluarkan unek-unek dalam hatinya
“Seperti yang kau dengar, tantangan keduaku untukmu kali ini adalah urus sawah dan kebunku. Mudah bukan? Wal akan mengajarkan padamu caranya”ucap kakek Arya santai.
Devara membelalakkan matanya mendengar ucapan kakek. Saat di kamp militer, begitu memasuki komplek militer, Devara bisa menebak bahwa dirinya akan masuk dan mendapat pendidikan militer di sana. Sementara sekarang, Devara ditantang kakek untuk mengurus sawah dan kebunnya.
“Sawah? Kebun? Apa tidak ada tantangan yang lebih masuk akal kek?”tanya Devara
“Kenapa? Kau takut dengan tantanganku kali ini?”tanya kakek
“Hah? Siapa bilang aku takut?”jawab Devara
“Lalu kenapa kau mesti protes?”ucap kakek Arya
“Kakek..jika bukan karena kau kakek Ayra, pasti takkan kubiarkan kau melakukan ini semua”gerutu Devara dalam hati.
Devara bukannya takut dengan tantangan kakek, namun Devara tak pernah mengurus sawah dan kebun sebelumnya. Meskipun dia juga memiliki lahan persawahan dan perkebunan yang sangat luas, bahkan lebih luas daripada milik kakek, namun Devara samasekali tidak pernah mengurus sawah dan kebunnya sendiri.
Setiap hari, Devara bangun pagi dan membantu Pak Wal di sawah. Devara di sana menanam padi, menyiangi rumput yang tumbuh di sawah itu. Devara juga membajak sawah dengan kerbau. Awalnya Devara kesulitan membajak sawah dengan kerbau. Beberapa kali Devara terjatuh dari alat bajaknya. Membuat sekujur tubuh Devara kotor terkena lumpur bahkan wajah tampan Devara tak luput dari lumpur yang ada di sawah.
“Ya ampun den, kenapa bisa kotor semua?”tanya bi Inem melihat Devara pulang dengan tubuh yang dipenuhi dengan lumpur.
Wajah tampan Devara bahkan tertutup lumpur.
“Den Devara jatuh lagi?”tanya bi Inem
Devara mendengus kesal karena untuk kesekian kalinya dia terjatuh dari alat bajak.
“Kerbau sialan! Kalo aku sudah mendapat restu kakek, akan kusembelih kerbau itu”umpat Devara dalam hati karena sudah terjatuh dari alat bajaknya untuk kesekian kali
“Pak Wal, kenapa membajak sawahnya mesti pake kerbau sih? Apa kakek ga mampu membeli mesin traktor? Kalo kakek ga mau beli mesin traktor, aku belikan saja. Merepotkan sekali mesti membajak dengan kerbau sialan itu”gerutu Devara pada Pak Wal sambil mencuci wajahnya dengan keran yang ada di depan rumah.
“Maaf den, menurut tuan besar, membajak dengan kerbau akan membuat tanah lebih gembur dan lebih terjaga kesuburannya”
“Memang apa bedanya dengan mesin traktor?”seru Devara geram
“Kalo mesin traktor itu, yang digali hanya permukaan tanahnya saja den, sementara kalo bajak kerbau itu yang dibajak lebih dalam. Jadi tanamannya nanti akan lebih merata dan hasil tanam juga lebih baik. Begitu den”jawab Pak Wal.
“Hishh..merepotkan sekali”seru Devara dengan emosi.
__ADS_1
Meskipun geram, namun perlahan Devara mulai menyesuaikan diri dengan rutinitasnya. Devara mulai mahir menanam padi dan membajak sawah dengan kerbau. Bahkan Devara berhasil mengalahkan ketakutan terbesarnya yaitu serangga.
Hewan kecil yang selalu berkeliaran di sawah dan kebun, yang selalu ditakuti Devara. Hewan yang beterbangan dan hinggap dimanapun, yang meskipun ukurannya sangat kecil namun menurut Devara hewan=hewan itu sangat mengganggu dan menjijikkan.
Pendidikan survival di hutan saat mengikuti pelajaran menjadi tentara di kamp militer beberapa waktu lalu sangat membantu Devara mengalahkan ketakutannya. Kini Devara tak merasa takut sama sekali dengan hewan kecil yang menjijikkan itu. Devara bahkan membantu para petani menangkap hama-hama yang sering mengganggu di sawah dan kebun kakek, seperti hama wereng, kepik hijau, walang sangit, burung dan bahkan menangkap tikus.
Untuk hewan pengerat yang satu ini, Devara awalnya sangat jijik dan ketakutan. Selain karena ukurannya yang melebihi ukuran tikus rumahan, tikus yang selalu merusak sawah, sering bersembunyi di lubang-lubang yang ada di sawah. Sehingga menyulitkan bagi para petani untuk menangkapnya. Namun dengan pengetahuan yang dimiliki para petani, mereka akhirnya berhasil menangkap tikus-tikus yang merusak sawah.
“Hiiiii”seru beberapa petani wanita yang melihat Devara membawa beberapa tikus yang sudah mati.
Dari wajah mereka terlihat jelas, mereka jijik dengan hewan pengerat itu.
“Den Devara hebat sekali bisa menangkap tikus itu”puji beberapa petani wanita yang membantu di sawah kakek.
Devara hanya mengulas senyum tipis di wajahnya yang tampan.
“Ya ampun, den Devara. Hebat banget. Ganteng juga. Jadi mantu saya mau ga den? Anak saya cantik lho”pinta seorang petani wanita yang sudah berumur.
“Mana mau den Devara sama anakmu? Masak pangeran setampan den Devara sama anak petani seperti kita"
"Bener banget. Mbok sadar diri to jeng"
"Lha iya. Ngimpi kamu jeng"
"Ga papa ya den?"
Dan akhirnya perbincangan bergulir di antara ibu-ibu rumpi dan Devara membahas betapa sempurnanya Devara.
"Cocoknya den Devara itu sama...”
Teman petani wanita tadi tampak berpikir sejenak.
“Sama siapa?”tanya yang lain
“Sama cucunya tuan Arya itu lho. Yang cantik banget. Siapa namanya?”tanya teman petani wanita tadi pada teman-temannya.
"Oh iya..bener. Sama cucunya tuan Arya yang cuantik banget itu. Aduh..aku lupa namanya"
“Ayra maksud ibu?”tanya Devara
“Lhoh, den Devara kenal non Ayra?”tanya ibu-ibu rumpi yang biasa membantu di sawah kakek.
Devara menyunggingkan senyum di bibirnya.
“Ayra itu calon istri saya bu”jawab Devara dengan penuh percaya diri.
"Beneran den?"tanya ibu-ibu rumpi tak percaya.
__ADS_1
Meskipun belum mendapat restu kakek, tapi Devara dengan penuh percaya diri memproklamirkan bahwa Ayra adalah calon istrinya.