
Sampai diluar ballroom, kak Arga sudah menunggu Devara.
“Semua sudah siap tuan muda”ucap kak Arga begitu melihat Devara keluar ballroom.
“Terimakasih kak..kakak akan ke Melbourne?”tanya Devara
“Saya selesaikan dulu urusan pekerjaan di sini baru saya ke Melbourne”jawab Arga
“Semoga lancar kak”ucap Devara tulus sambil menepuk bahu Arga
“Terimakasih tuan muda” balas Arga
“Aku pergi dulu”ucap Devara pada Arga.
“Baik tuan muda..semoga perjalanan tuan muda menyenangkan”ucap Arga sambil memberi hormat pada Devara dan Ayra.
Devara hanya mengangguk lalu berjalan ke arah lift dengan Ayra yang terus mendampinginya. Devara dan Ayra masuk ke dalam lift. Kali ini tangan Ayra diturunkan dari lengan Devara, lalu Devara menggenggam tangan Ayra. Ayra penasaran. Karena lift terus naik ke lantai atas.
“Kita mau kemana?”tanya Ayra sambil menatap Devara
Devara hanya tersenyum.
“Rahasia..nanti kau juga tahu” jawab Devara membuat Ayra semakin penasaran.
“Apaan sih main rahasia-rahasiaan segala?”ucap Ayra sambil memonyongkan bibirnya.
Devara geli melihat Ayra yang cemberut lalu mencubit pipi Ayra karena Ayra yang cemberut sangatlah menggemaskan. Membuat Devara tak tahan untuk tidak mencubit pipi Ayra.
“Gadis nakal, kenapa kau selalu menggemaskan begini?”tanya Devara gemas.
“Lepasin..sakit!”pinta Ayra dengan manja.
Devara pun melepaskan cubitannya.
Kini mereka sampai di lantai teratas hotel.
Begitu pintu lift terbuka, Ayra kaget karena dilandasan helipad di atap hotel sudah ada helicopter yang menunggunya. Ayra mematung beberapa saat di depan pintu lift.
Devara pun menarik tangan Ayra. Baru kali ini Ayra melihat helicopter langsung di depan matanya. Ayra yang memang tak suka memakai high heels, tampak kesulitan berjalan dengan gaun panjang yang dipakainya. Beberapa kali heels Ayra menginjak gaunnya. Ayra menarik tangan Devara memintanya berhenti sejenak
“Iiih..nyusahin aja heels nya”gerutu Ayra lalu melepas high heels dan menentengnya di tangan.
Devara geleng-geleng melihat kelakuan pacar cantiknya yang tomboy.
Setelah berada di dekat helicopter, Ayra dituntun Devara menuju helicopter jenis Sikorsky-92. Salah satu helicopter termahal di dunia yang dimiliki keluarga Devara.
Untung saja cuaca sore itu sangat bagus. Langit sangat cerah dan angin yang berhembus di atap gedung juga tidak terlalu kencang.
Beberapa bodyguard tampak berjaga mengitari atap hotel itu. Mereka semua memakai setelan jas dan kacamata hitam.
Seorang bodyguard dan pilot helicopter berdiri di samping helicopter. Bodyguard Devara membukakan pintu helicopter. Devara dan Ayrapun naik ke atas helicopter. Karena gaun Ayra yang menjuntai, Devara membantu menaikkan gaun Ayra. Lalu Devara naik juga ke atas helicopter.
Ayra sangat gugup karena ini adalah pengalaman pertamanya naik helicopter.
Devara mulai memasangkan sabuk pengaman di tubuh Ayra. Pilot helicopter pun naik ke dalam kokpit helicopter.
Ayra memegang tangan Devara, dan berbisik.
“Katakan..kita mau kemana?”tanya Ayra penasaran
“Ini kejutan”jawab Devara singkat sambil memastikan sabuk pengaman Ayra sudah benar-benar terpasang.
“Apa kau takut?”tanya Devara melihat raut wajah Ayra yang sedikit ketakutan.
Ayra mengangguk.
“Pegang tanganku kalau kau takut” ucap Devara sambil tersenyum.
Devara kemudian memasang sabuk pengaman untuk dirinya lalu memasangkan headphone di kepala Ayra.
“Pakai ini”ucap Devara
Ayra menurut saja dipasangkan headphone oleh Devara.
“Kita berangkat sekarang tuan muda?”tanya pilot pada Devara
“Iya”jawab Devara singkat.
Mesin helicopter pun mulai menyala. Baling-baling helicopter mulai berputar perlahan-lahan semakin lama semakin cepat dan helicopter pun bersiap tinggal landas.
Jantung Ayra berdegup kencang begitu helicopter tinggal landas sambil menggenggam erat tangan Devara.
__ADS_1
Devara yang melihat Ayra ketakutan berusaha menenangkannya.
“Lihatlah ke bawah..pemandangan diluar sana sangat indah”ucap Devara meyakinkan Ayra.
“Lihatlah kesana”tunjuk Devara ke arah jendela disamping Ayra.
Benar saja, pemandangan kota siang menjelang sore itu sangatlah indah. Ayra tersenyum senang melihat pemandangan indah yang dilihatnya. Ekspresinya seperti seorang anak kecil yang mendapatkan mainan baru. Sangat gembira.
“Semua kelihatan kecil”kata Ayra melihat semua pemandangan kota dibawahnya begitu kecil.
Ayra terus tersenyum melihat pemandangan indah yang dilihatnya. Membuat Devara ikut tersenyum.
Setelah beberapa saat terbang, Ayra tiba-tiba merasa sangat ngantuk. Menguap beberapa kali.
“Kau ngantuk?”tanya Devara
Ayra mengangguk pelan.
Devara menepuk bahunya. Meminta Ayra menyandarkan kepalanya di bahu Devara.
Karena memang sedang mengantuk, Ayra pun menurut saja. Disandarkan kepalanya dibahu Devara yang lebar.
“Tidurlah..akan kubangunkan jika kita sudah sampai”ucap Devara lembut.
Ayra pun memejamkan matanya dan tak menunggu lama, Ayra pun tertidur dengan sangat pulas.
Perjalanan ke tempat tujuan Devara memakan waktu hampir 1,5 jam lamanya.
Setelah 1,5 jam, sampailah mereka di tempat tujuan.
Mereka mendarat di helipad sebuah resort di pinggir sebuah pantai.
Devara mengelus pipi Ayra pelan untuk membangunkannya.
“Ay..bangun..Ay..kita sudah sampai”ucap Devara pelan.
Ayra mulai mengerjapkan matanya perlahan. Karena dia memang sangat mengantuk.
“Bangunlah..kita sudah sampai” ucap Devara lagi melihat Ayra yang setengah sadar.
Ayra mulai membuka matanya dan mengumpulkan nyawanya dulu.
Ayra kaget melihat pemandangan indah di bawah resort. Sebuah pantai berpasir putih dengan ombaknya yang tidak terlalu besar. Menggoda Ayra untuk bermain disana. Diedarkannya pandangan Ayra kepenjuru resort. Tampak bodyguard Devara berjaga di sekeliling resort itu.
“Kita sekarang dimana?”tanya Ayra penasaran.
“Di resort milik keluargaku”jawab Devara
Lebih tepatnya resort mewah di tengah pulau pribadi milik keluarga Alexander.
Devara mengajak Ayra masuk resort pribadi milik keluarganya. Mereka disambut beberapa pelayan dan bodyguard keluarga Devara.
“Selamat datang tuan muda”sapa salah satu pelayan yang sudah paruh baya
“Apa semua sudah hadir, Nanny?”tanya Devara pada wanita paruh baya itu yang dipanggil Devara dengan sebutan Nanny.
“Sudah tuan muda”jawab Nanny yang kini berjalan di samping Devara.
Ayra yang digandeng Devara membungkukkan badannya beberapa kali memberi hormat pada pelayan-pelayan Devara yang berjajar di sepanjang pintu masuk.
Mata Ayra tak hentinya dibuat takjub dengan keindahan resort pribadi Devara ini. Bangunan megah dengan nuansa perpaduan modern classic yang sangat indah. Dengan kaca-kaca besar sebagai dinding mengelilingi resort itu, sehingga keindahan diluar ruangan dapat terlihat dengan jelas.
“Dimana mereka sekarang?”tanya Devara pada Nanny.
“Semua berkumpul di ruang utama, tuan muda”jawab Nanny
Devara menatap Ayra dan tersenyum. Ayra balas tersenyum juga. Sampai disebuah pintu besar, seperti pintu ballroom hotel yang dikunjungi Ayra tadi siang, dua bodyguard Devara lagi-lagi berseragam serba hitam dan berkacamata, membukakan pintu besar itu.
Begitu pintu dibuka, tampak keluarga inti Devara sudah disana.
“Lihat! Siapa yang baru saja datang?”ucap Brandon menyambut kedatangan putra kesayangannya. Mereka langsung berpelukan. Devara dan papanya sangat bahagia. Senyum merekah di wajah Devara.
“Hello Dev”sapa Caroline, mama Devara sambil memeluk Devara.
“Happy birthday, honey”ucap mama Devara sambil mencium pipi putra kesayangannya.
“Thanks mom”jawab Devara sambil memeluk mamanya.
Ayra baru tahu kalau Devara dan keluarga bercakap-cakap dalam Bahasa inggris. Mungkin karena mereka terbiasa mengurus bisnisnya diluar negeri sehingga Bahasa pengantar keluarga mereka adalah Bahasa Inggris.
“Hey Dev..she’s your girlfriend?”tanya Brandon, papa Devara melihat Ayra yang berdiri mematung.
__ADS_1
Devara menatap Ayra lalu berjalan ke arah Ayra.
“Ayo sini..aku kenalkan pada keluargaku”ucap Devara sambil menggenggam tangan Ayra.
“Yes pa..she’s my girlfriend”jawab Devara sambil memperkenalkan Ayra
“Wow..kamu pintar mencari pacar ya..sama seperti papa..hahahahaha”puji Brandon melihat Ayra yang sangat cantik.
“Hallo sayang” sapa Caroline sambil memeluk Ayra.
“Hallo tante..kenalkan nama saya Ayra”jawab Ayra sopan sambil mencium punggung tangan Caroline.
Caroline sempat kaget karena ia belum pernah dicium tangannya sebelumnya. Kedua anaknya pun tak pernah mencium tangannya.
Devara tampak senang melihat kedua orangtuanya menerima kehadiran Ayra.
Ayra juga menjabat tangan Brandon dan mencium punggung tangannya. Lagi-lagi Brandon juga dibuat kaget dengan perlakuan sopan dari Ayra.
“You’re so sweet, My dear” ujar Caroline sambil menyentuh wajah Ayra
Ayra pun berdiri di samping Devara dan tersenyum pada kedua orangtua Devara.
“Aku seperti mendengar suara Dev”ucap nenek Devara dari dalam ruangan
“Nenek”sapa Devara sambil berjalan menghampiri neneknya dan memapahnya.
“Apa dia gadis yang waktu itu Dev?”tanya nenek begitu melihat Ayra di ruangan ini.
“Selamat sore nek..saya Ayra”sapa Ayra sambil mencium punggung tangan Agatha.
Agatha terkesan dengan kesopanan Ayra. Ia pun berjalan mendekati Ayra lalu memeluk gadis itu.
“Kamu cantik sekali nak”puji Agatha sambil memegang wajah Ayra.
“Mama lihat! she’s so pretty, right?”tanya Caroline pada ibunya, Agatha.
“Yes, you’re right”jawab Agatha.
“Uncle Dev…”teriak seorang anak kecil pada Devara sambil berlari ke arah Devara.
Devara sedikit membungkukkan badannya lalu menangkap anak kecil yang berlari ke arahnya. Anak itu adalah keponakan Devara yang bernama Darren.
“Hey little boy..where’s your mom?”tanya Devara pada Darren.
“Darren, don’t be naughty, okey!”perintah seorang wanita dari lantai dua. Wanita itu menuruni tangga sambil menggendong seorang bayi kecil. Dibelakangnya berjalan empat orang suster, yang bertugas mengasuh Darren dan adiknya, Thania.
Sampai di lantai satu, Catherine menyerahkan bayi kecilnya yang tertidur pulas pada salah satu susternya.
Devara menurunkan Darren dan berjalan ke arah kakak perempuannya.
“Hallo kak”sapa Devara pada Catherine
“Hallo Dev”balas Catherine
Kedua saudara kandung itu berpelukan selama beberapa saat.
Catherine melihat Ayra.
“Wait a minute..she’s your girlfriend?”tanya Catherine pada Devara
“What do you think?”tanya Devara sambil melirik ke arah Ayra sambil tersenyum.
Catherine pun berjalan mendekati Ayra.
“Kamu pacar Dev? Kamu tidak diapa-apakan Dev kan?”goda Catrine
“Hey kak..apa maksud pertanyaan kakak?”protes Devara
“Hai..aku Catherine. Kakak Dev”sapa Catherine pada Ayra.
“Salam kenal kak..saya Ayra”Ayra menjabat tangan Catherine.
“Papa, mommy..congratulation. Your daughter-in-law is so pretty”seru Catherine
Ayra tersipu malu mendengar kata-kata Catherine.
“Aku juga pikir begitu. Dia sangat cantik dan manis. Dev, you better take care of her” pinta Caroline pada putranya.
“Sudah..sudah..ayo kita ke ruang makan sekarang”ajak Agatha pada keluarganya.
Keluarga Devara sangatlah hangat. Ini pertama kalinya Ayra bertemu dengan keluarga Devara. Dengan mommy, papa, nenek dan kakak perempuan Devara. Ayra senang bertemu mereka semua karena tampaknya mereka sangat menerima kehadiran Ayra.
__ADS_1