Falling In Love With Trouble Maker

Falling In Love With Trouble Maker
Serangan Mendadak


__ADS_3

Hari itu, saat pulang sekolah, seperti biasa Devara selalu jadi yang pertama menghampiri Ayra ke kelasnya untuk mengajaknya pulang. Ayra selalu tak suka Devara yang menggenggam tangannya mengajaknya ke arah tempat parkir sekolah. Karena Ayra risih dengan tatapan mata semua orang yang melihat kemesraan mereka berdua. Ayra tak pernah sekalipun ingin menunjukkan bahwa dirinya adalah kekasih Devara.


Ayra sudah berkali-kali mengatakan kepada Devara untuk bersikap biasa saja saat bersama, namun Devara nampak tak peduli dengan permintaan Ayra. Karena dia memang super cuek. Devara sama sekali tak peduli pandangan orang terhadap dirinya. Baginya terserah orang mau berpikir apa tentang dirinya. Dia hanya memikirkan apa yang membuatnya bahagia. Dan itu adalah saat dia bersama Ayra, seperti sekarang ini.


 


Flashback on


Waktu itu, saat Devara akan pulang bersama Ayra naik mobilnya,


“Aduh..kenapa kebelet pipis sekarang sih?”gumam Ayra dalam hati begitu merasakan dirinya harus pipis.


“Devara masih lama ga ya? Aduhhh..aku ga betah. Aku ke toilet dulu aja”


Ayra langsung berlari ke toilet yang terdekat dengan posisinya sekarang.


Sampai di tempat biasa Ayra menunggu, Devara tak menemukan pacarnya itu.


“Kemana Ayra?”gumam Devara dalam hati.


Devara keluar dari mobilnya lalu menoleh ke kanan dan kiri mencari keberadaan Ayra. Devara panik setengah mati. Ayra tiba-tiba saja menghilang.


“Sialan! Kenapa hp nya tidak aktif”gerutu Devara begitu menelpon hp Ayra tapi nomor Ayra tidak aktif.


Devara menghampiri beberapa orang yang ada di sana.


“Kalian tahu kemana pacarku?”bentak Devara pada beberapa orang yang berdiri tak jauh dari tempat Ayra menunggunya.


“Ma..maaf Dev..kami tidak tahu”ucap seorang anak yang sudah ditarik kerahnya oleh Devara.


Ayra yang baru keluar dari toilet berjalan santai kembali ke tempatnya biasa menunggu Devara. Ayra mengerutkan dahinya melihat banyak orang berkerumun.


“Hei..ada apa di sana?”tanya Ayra pada seorang siswa yang berjalan melintas di depannya.


“Itu..Devara memukul seorang anak. Sepertinya dia mencarimu”jawab anak itu


“APAA?”Ayra kaget


Ayra segera berlari menuju kerumunan dan membelah kerumunan orang-orang.


“DEV..apa yang kau lakukan?”seru Ayra panik


Saat ini Devara sudah menindih seorang anak yang tadi berdiri tak jauh dari tempat Ayra berdiri. Anak itu sedikit memar.


Ayra segera berlari ke arah Devara dan menjauhkan tubuh Devara dari anak tadi. Devara yang melihat Ayra segera mencengkeram pergelangan tangan Ayra.


“Kemana saja kau?”gerutu Devara


“Bubar kalian semua..sudah tidak ada yang bisa kalian tonton disini”pinta Ayra pada semua orang.


“Ayo bubar..pergi dari sini”perintah Ayra sambil tangannya terus berusaha melepaskan cengkeraman Devara yang marah padanya.


“Kalian dengar tidak! Cepat bubar”bentak Devara dengan wajah sangarnya hingga semua anak kocar kacir meninggalkan “area pertarungan” tadi.


Setelah semua orang pergi, Devara menatap Ayra dengan tajam.


“Kemana saja kamu barusan? Kenapa tak bilang dulu padaku”seru Devara marah


“Lepaskan dulu tanganku”pinta Ayra.

__ADS_1


Tapi Devara yang marah tak juga melepaskan tangan Ayra. Ditariknya Ayra menuju mobilnya. Devara membukakan pintu mobilnya sambil melindungi kepala Ayra agar tidak terbentur. Sebelum menutup pintu mobil, Devara menarik sabuk pengaman Ayra dan mengencangkannya. Baru kemudian Devara menutup pintu mobil dan berjalan ke arah pintu kemudi sopir.


Devara yang marah karena Ayra pergi tanpa ijin terus membisu sepanjang perjalanan. Ayra hanya sanggup menatap Devara yang sedang marah padanya.


“Apa dia panik karena aku tiba-tiba hilang?”gumam Ayra dalam hati


Devara yang sedang sangat emosi kemudian menepikan mobilnya di pinggir jalan.


“Kenapa kita berhenti disini?”tanya Ayra sambil menoleh ke arah Devara.


Devara melepaskan sabuk pengamannya lalu tanpa diduga langsung memeluk tubuh Ayra. Ayra yang mendapat “serangan dadakan” Devara hanya bisa mematung.


“Ka..kamu kenapa?”tanya Ayra terbata-bata


“Biarkan aku begini sebentar saja”ucap Devara lirih sambil terus mendekap Ayra untuk menenangkan hatinya yang sejak tadi bergemuruh karena takut kehilangan Ayra. Ayra memilih diam saja didekap oleh Devara yang mendekap tubuhnya dengan erat.


“Maaf..aku sudah membuatmu khawatir ya? Aku tadi hanya ke toilet sebentar”


“Seharusnya kau bilang dulu padaku”sahut Devara


Devara kemudian melepaskan dekapannya dan menatap wajah Ayra lekat-lekat.


“Aku tadi sudah tidak kuat menahannya..makanya aku langsung pergi”


Devara meraih tangan Ayra kemudian menggenggamnya dengan sangat erat.


“Jangan pernah jauh dari pandanganku” ucap Devara lembut membuat Ayra luluh melihat pacarnya yang kadang masih sedikit gila.


Flashback off


 


 


Sejak saat itu, sikap posesif Devara semakin menjadi-jadi. Membuat Ayra risih. Tapi jauh dilubuk hatinya terdalam, Ayra bahagia dengan keposesifan Devara ini. Karena itu menandakan Devara benar-benar menyukainya.


“Tunggu disini”perintah Devara


“Iya..iya..”jawab Ayra ketus.


“Awas saja kalo kau menghilang lagi seperti tempo hari”ancam Devara


“Ya ampun..diungkit lagi. Iya..iya”jawab Ayra malas berdebat.


Devara menuju mobilnya yang terparkir di tempat parkir khusus untuk dirinya. Sementara Ayra menunggu di tempat biasa. Tiba-tiba,


“Ayra?”seseorang memanggil namanya.


Ayra pun menoleh.


“Iya”sahut Ayra dengan senyum tersungging di wajah cantiknya.


Ayra kaget begitu melihat seseorang yang baru saja memanggil namanya. Senyum manisnya pun perlahan memudar begitu menyadari orang yang sudah memanggilnya.


“Kak Rio?”


Ayra tak menyangka akan bertemu dengan mantan pacarnya sewaktu kelas X.


“Aku hampir tak mengenalimu. Kamu tambah cantik Ay”puji kak Rio

__ADS_1


“Terimakasih”jawab Ayra lemas


“Kenapa kak Rio bisa ada di sini?”


“Aku kebetulan ada perlu di kota ini. Lalu aku ingat kalo kamu pindah ke kota ini makanya aku kesini mencarimu. Bisa kita bicara Ay?”tanya kak Rio


Devara yang berada di mobilnya menuju Ayra, melihat ada lelaki lain mendekati Ayra, tampak tak senang. Begitu tak jauh dari Ayra. Devara segera turun dari mobilnya dengan tatapan tajamnya yang sangat dingin dan menghampiri Ayra. Ayra yang melihat Devara, merasa ke-gap pacarnya itu.


“Gawat..Devara pasti marah besar”gumam Ayra melihat Devara datang kearahnya dengan wajah penuh kemarahan.


“Ayo lah Ay..aku ingin kita bicara sebentar” ujar kak Rio sambil memegang tangan Ayra.


Ayra kaget kak Rio memegang tangannya. Devara segera datang dan melepaskan pegangan tangan kak Rio. Ayra menatap Devara yang tampak kesal. Kak Rio juga menatap Devara.


“Ayo pulang” ucap Devara sambil menggenggam tangan Ayra.


“Jangan pergi dulu Ay”pinta kak Rio sambil memegang tangan Ayra yang lain.


Devara yang melihat ada lelaki lain yang menyentuh wanitanya, rasanya darahnya langsung mendidih.


“Lepaskan kak. Aku rasa tak ada yang perlu kita bicarakan lagi” ujar Ayra sambil menatap dingin lelaki yang pernah mengisi hatinya itu.


Kak Rio yang melihat tatapan dingin Ayra akhirnya melepaskan genggamannya dan membiarkan Ayra berlalu darinya.


Devara segera memasukkan Ayra ke dalam mobil. Devara lalu mengemudikan mobilnya meninggalkan sekolah.


Sepanjang perjalanan Ayra hanya diam. Tak seperti biasanya yang selalu saja berisik. Devara mengemudikan mobilnya sambil sesekali melirik ke arah Ayra. Devara ingin menginterogasinya, tapi dia merasa pacarnya itu sedang dalam mood yang tidak bagus. Apalagi saat meminta lelaki tadi melepaskan tangannya, nada bicara Ayra sangat dingin.


“Bisa turunkan aku disini?”tanya Ayra pelan


“Aku ingin sendiri sekarang” lanjut Ayra sambil menatap Devara.


Devara menepikan mobilnya.


“Terimakasih” ucap Ayra lalu dia melepas sabuk pengamannya. Ayra turun sendiri dari mobil Devara.


Setelah menutup pintu, Ayra melambai pada Devara sambil tersenyum. Lalu Ayra berjalan sendiri di trotoar. Devara hanya menatap kepergian Ayra tanpa sepatah kata. Lalu Devara keluar dari mobilnya dan menguncinya.


Kini Devara ikut berjalan dengan Ayra. Ayra masih tak menyadari diikuti Devara di belakangnya.  Ayra berjalan sambil melamun. Seperti ada yang mengganggu pikirannya. Wajahnya juga tampak tak secerah biasanya.


Karena Devara lebih tinggi dan kakinya lebih panjang, kini jarak mereka berdua sangat dekat.


Ayra bermaksud menyeberang jalan tapi dia tak memperhatikan ada mobil yang akan melintas. Devara yang melihat kejadian itu, segera menarik tangan Ayra. Devara menarik tangan Ayra sangat keras hingga Ayra jatuh dalam pelukannya.


“Devara?”gumam Ayra dalam hati begitu menyadari dirinya sudah berada dalam dekapan Devara.


Mobil yang melintas itu melewati genangan air di pinggir jalan. Devara segera membalikkan badannya melindungi Ayra dari cipratan air yang dihasilkan dari mobil yang melintas tadi.


Plasssss….


Cipratan genangan air itu membasahi tubuh Devara dan sedikit mengenai Ayra. Ayra masih kaget. Dia tak menyangka Devara akan menyelamatkannya lagi. Ayra segera melepaskan diri dari pelukan Devara.


“Kau tak papa?”tanya Devara kuatir


“Bajumu basah”ucap Ayra sambil sesekali mengelap air yang mengenai wajah tampan Devara.


“Apa yang kau pikirkan? Kenapa menyeberang tanpa memperhatikan jalan? Kalau ketabrak bagaimana?” seru Devara kuatir


“Maaf” jawab Ayra pelan sambil menundukkan kepala.

__ADS_1


“Bajumu juga basah, kita harus ganti baju. Ayo kita ke distro itu!” ajak Devara sambil menggandeng tangan Ayra.


Mereka berjalan ke sebuah distro tak jauh dari tempat mereka. Devara membelikan baju dan celana jeans untuk Ayra. Dia juga membeli kaos dan celana jeans untuk dirinya sendiri.


__ADS_2