
Sejak kejadian di hotel tempo hari, Devara semakin berubah menjadi lelaki yang sangat dingin. Seakan hatinya membeku. Dia sangat terluka dengan pengkhianatan Ayra, gadis yang sangat dicintainya. Kehilangan cinta dalam hidupnya membuat Devara semakin tak perduli dengan sekitarnya. Dia lebih memilih balapan liar dan tawuran dengan murid sekolah lain untuk melampiaskan kemarahan dalam hatinya. Devara kembali pada kebiasaan lamanya dulu, sebelum mengenal Ayra.
Di sekolah, ketika berpapasan dengan Ayra, keduanya memilih saling menghindar. Seolah tak saling mengenal. Ayra yang sangat terluka dengan ucapan dan sikap Devara selama ini juga memilih menyendiri. Setiap istirahat sekolah, Ayra selalu memilih menyendiri di lapangan basket.
Kadang saat tak ada orang, Ayra yang dirundung kesedihan, kadang tanpa sadar menitikkan airmatanya.
“Akhirnya kisah cintaku benar-benar telah berakhir”gumam Ayra dalam hati sambil menertawakan dirinya sendiri yang terlihat sangat mengenaskan.
“Kenapa aku mesti mencintaimu? Jika akhirnya aku harus terluka seperti sekarang?”gumam Ayra dalam hati sambil memperhatikan kursi yang dulu pernah diduduki Devara saat mengganggunya waktu jam pelajaran olahraga.
“Kau di sini lagi Ay?”tanya Daniel yang menemukan Ayra menyendiri di lapangan basket
“Iya”jawab Ayra sambil menatap ke depan ke arah lapangan basket yang kosong.
“Bagaimana lukamu?”tanya Ayra sambil menatap bekas luka pukulan Devara di wajah Daniel
“Aku sudah baikan. Terima kasih. Hanya saja.."Daniel tak meneruskan ucapannya
"Hanya saja apa?" tanya Ayra penasaran
"Yang aku sesalkan kenapa Dev mesti memukul wajah tampanku juga. Apa dia tak tau wajah tampanku ini adalah aset masa depanku yang berharga?”canda Daniel sambil tersenyum
Ayra ikut tersenyum mendengar ucapan Daniel.
“Tenang saja. Kau masih terlihat sangat tampan”puji Ayra
“Benarkah? Syukurlah kalo begitu”jawab Daniel lega.
“Apa kau sudah bicara dengan Nadine?”tanya Ayra
“Dia selalu menghindariku”jawab Daniel dengan tatapan sendu
“Maaf”ucap Ayra tulus
“Kenapa kau mesti minta maaf?”tanya Daniel sambil mengernyitkan dahinya.
“Karena Gina ingin menghancurkanku, malah kamu jadi ikutan menjadi korban”sahut Ayra
“Tenanglah..semua ini bukan salahmu”jawab Daniel mencoba menenangkan Ayra.
“Tapi kamu dan Nadine juga menjadi korban dari semua ini”tambah Ayra
“Percayalah! Semua akan baik-baik saja”balas Daniel
“Thanks Dan”ucap Ayra tulus
Daniel mengusap pucuk kepala Ayra dengan lembut. Tak jauh dari keduanya, sepasang mata menatap Ayra dengan tatapan sendu. Namun dia memilih bersembunyi di balik tembok tanpa berani menampakkan wajahnya.
*
*
*
*
Seminggu kemudian,
__ADS_1
Nadine mengajak Devara bertemu di suatu tempat. Di villa kediaman Revaldo miliknya.
“Dev..aku mohon ikutlah denganku”pinta Nadine
“Kemana?”tanya Devara malas
“Ke villaku”jawab Nadine
“Untuk apa?”tanya Devara ketus
“Ada yang ingin aku bicarakan”jawab Nadine
“Kenapa tidak sekarang saja?”tanya Devara
"Aku mohon Dev" pinta Nadine
“Tuan muda, ikutlah dengan nona Nadine”pinta Madam O lembut
“Benar tuan muda”sahut kak Arga.
Devara yang awalnya enggan, setelah dibujuk oleh Madam O dan kak Arga akhirnya menyetujui ajakan Nadine. Devara berangkat ke villa Nadine. Dia mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sampai di villa itu, Devara segera memarkirkan mobilnya di garasi dan berjalan mengikuti Nadine.
Sesampainya di dalam villa, Devara sangat kaget karena melihat ada Ayra dan Daniel di sana. Ayra dan Daniel juga terlihat kaget bertemu dengan Devara di sana.
“Kenapa kau mengajakku bertemu disini? Dan kenapa mereka ada disini?”tanya Devara pada Nadine.
“Aku yang mengundang mereka. Aku mohon Dev, demi persahabatan kita berempat di masa lalu, aku mohon kalian mau mendengarkanku sebentar saja”pinta Nadine
Akhirnya ketiganya mendengarkan Nadine.
“Aku mohon masuklah ke dalam”tunjuk Nadine ke sebuah ruangan tak jauh dari tempat mereka berkumpul.
Nadine meminta mereka bertiga masuk salah satu ruangan di villa itu. Mereka bertiga masuk ruangan kecil yang dipenuhi kamera CCTV. Dari ruangan itu mereka bertiga dapat melihat dengan jelas Nadine yang duduk menunggu seseorang.
“Tok..tok..tok”
Akhirnya seseorang yang ditunggu-tunggu pun datang. Gina datang setelah diundang Nadine untuk bertemu.
“Terimakasih Gina kau sudah mau datang”ucap Nadine tulus.
Di ruang tamu itu, Nadine sengaja memasang beberapa CCTV dan microphone kecil yang tersambung di ruang kecil tempat Ayra Daniel dan Devara berada.
“Kenapa kau mengundangku kemari? Apa maumu Nad?”tanya Gina dengan ekspresi kesal
“Aku hanya ingin bertemu dengan sahabatku. Teman masa kecilku”ucap Nadine basa basi.
“Sudah hentikan basa basimu itu! Sebenarnya apa maumu Nad? Cepat katakan! Aku tak punya banyak waktu mengurusi gadis manja sepertimu”gerutu Gina
“Kau tak pernah berubah Gin..kau masih saja sama seperti dulu. Menyembunyikan wajah iblismu dibalik wajah malaikatmu”sindir Nadine membuat Gina meradang.
“Tutup mulutmu!”gertak Gina
“Baiklah..aku langsung saja..Apa kau masih ingat kejadian dua tahun lalu saat kau bersama Daniel?"
Gina mengernyitkan dahinya. Dia teringat lagi kejadian dua tahun lalu yang membuatnya harus menjalani pengobatan dan rehabilitasi selama dua tahun di luar negeri.
“Tentu saja aku mengingatnya. Karena kejadian itu aku harus rehabilitasi ke Amerika”
__ADS_1
“Apa kau tak penasaran kenapa Devara yang muncul di kamarmu saat itu dan bukan aku?”tanya Nadine
Gina tampak mengernyitkan dahinya.
“Benar juga..kenapa waktu itu Dev bisa di sana?”tanya Gina penasaran.
“Aku tahu sejak dulu kau sangat menyukai Devara. Bahkan kau takkan rela gadis manapun mendekatinya. Kau pasti akan menyingkirkan siapapun yang berani mendekati Devara. Aku juga tahu bahwa sebenarnya kau juga menyukai Daniel. Tapi karena aku dan Daniel sangat dekat, kau cemburu padaku makanya kau ingin menyingkirkan aku, bukan begitu Gin?”tanya Nadine
“Hahahahaa..rupanya dibalik wajah lugumu itu, kau ternyata sangat pintar”sindir Gina pada Nadine.
“Memang benar, aku dulu menyukai Devara dan Daniel. Sejak dulu aku ingin memiliki mereka berdua hanya untukku seorang”balas Gina
Devara dan Daniel yang berada di ruang rahasia mengepalkan tangannya mendengar pengakuan Gina.
“Hari itu, aku sebenarnya ingin datang memenuhi undanganmu, tetapi aku harus ke bandara menjemput kakakku Nadya. Itu sebabnya aku minta tolong Devara yang menggantikan aku datang ke rumahmu. Aku tak menyangka kau akan mencium Daniel, padahal kau tahu mereka sudah seperti saudara. Teganya kau menghancurkan persahabatan mereka selama bertahun-tahun”ujar Nadine panjang lebar.
“Seharusnya kejutan itu untukmu, gadis manja..Aku menyiapkan semuanya untuk membuatmu patah hati kemudian pergi meninggalkan Daniel. Tapi rencanaku gagal total karena ternyata Devara yang datang”
“Lalu kenapa waktu itu kau bisa kecelakaan di dekat rumahku? Jangan katakan kau ingin membunuhku supaya aku menghilang dari hidupmu”ucap Nadine dengan suara bergetar
“Gadis pintar..rupanya selama ini aku sudah menyepelakanmu. Iya, kau benar sekali. Aku memang ingin menghabisimu. Jika saja tak ada pemuda sialan itu, kau pasti sudah mati sekarang”ungkap Gina dengan entengnya.
“Kau sungguh tega Gin..Apa kau tahu gadis yang kau temui di jalan waktu itu bukanlah aku, melainkan kakakku?”tanya Nadine
“Benarkah? Jadi yang waktu itu bukan kamu tapi kakakmu? Kalian beruntung sekali, hahahaha”tawa Gina dengan bahagianya membuat semua yang mendengarkan pengakuan Gina bergidik ngeri.
“Dan lelaki yang sudah melindungi kakakku, apa kau tahu siapa dia?”tanya Nadine.
Gina mengangkat bahunya tanda tak tahu.
“Dia adalah kakak Ayra”ucap Nadine
“Apa? Kak Aldo?”tanya Ayra tak percaya.
Ayra yang mendengar kakaknya disebut, sangat syok. Karena selama ini yang Ayra tahu kakaknya kecelakaan karena mengendarai motor dengan kecepatan tinggi. Ayra tak tahu jika ternyata selama ini kakaknya ditabrak oleh Gina.
"Kak Aldo" Ayra memanggil nama kakaknya dengan berlinangan air mata.
Ayra yang sedih mendengar kenyataan itu, hanya mampu menangis. Daniel yang melihat Ayra menangis segera memeluk tubuh Ayra untuk menenangkannya. Sementara Devara yang juga melihat kesedihan Ayra hanya mampu melihat gadis pujaan hatinya menangis, tanpa bisa berbuat apa-apa.
Gina yang mendengar pengakuan Nadine sempat mematung beberapa saat karena tak menyangka lelaki yang sudah ditabraknya adalah kakak Ayra, gadis yang sangat dibencinya.
“Aku pikir setelah kecelakaan itu, kau akan bertobat dan akan berubah. Karena kecelakaan yang sengaja kau lakukan, justru membuat seseorang yang tak bersalah menjadi korban. Tapi rupanya aku salah besar. Kau sama sekali tak berubah. Kejadian di hotel antara Ayra dan Daniel, itu semua pasti kau yang sudah merancangnya, iya kan?”selidik Nadine
“Kau semakin banyak omong..Kenapa waktu itu tak kuhabisi saja kau dan kakakmu jadi takkan ada penghalang dalam hubunganku dengan Devara. Kau dan Ayra itu sama saja. Sama-sama pengganggu”jawab Gina dengan seringai licik di wajah cantiknya
“Kau belum menjawab pertanyaanku? Semua yang terjadi pada Ayra, mulai dari foto dan video di website sekolah, cairan kimia di lab, dan kejadian di hotel, semua itu ulahmu kan? Jawab aku Gin!”bentak Nadine yang mulai lepas kendali melihat Gina yang sama sekali tak menyesali perbuatannya.
Gina yang mulai jengah dengan pertanyaan-pertanyaan Nadine akhirnya buka mulut.
“Benar..aku yang merancang semuanya. Aku yang sudah menjebak Ayra. Karena Devara hanya milikku seorang. Dan sepertinya aku harus menyingkirkan kau juga karena kau ternyata banyak tahu tentang semua kejahatanku”ucap Gina sinis sambil berjalan ke arah Nadine.
Nadine yang melihat seringai jahat di wajah Gina, mencoba melarikan diri, tapi Gina dengan sigap bisa meraih rambut panjang Nadine dan menjambaknya, membuat Nadine merasa kesakitan.
“Aaagghhh”teriak Nadine kesakitan merasakan rambutnya dijambak dengan kuat oleh Gina dari belakang.
Niat Nadine untuk membongkar semua kejahatan rubah betina, Gina, pada Ayra, Devara dan Daniel justru membuat Nadine harus mendapat perlakuan kasar Gina. Sementara Gina yang merasa semua kejahatannya sudah diketahui Nadine, ingin segera menyingkirkan Nadine agar tak menganggu rencananya.
__ADS_1
“Gadis manja sepertimu..sebaiknya aku berikan pada Felix supaya dia bahagia, bisa mendapatkan tubuh indahmu, hahahaaha”ucap Gina sambil tertawa keras.