
Siang itu,
Seperti biasa, Ayra, Devara, Nadine dan Daniel sedang makan siang di kantin lantai tiga. Sekarang hubungan Daniel dan Devara sudah lebih baik. Sepertinya Devara sudah mau berbaikan dengan Daniel. Mereka tak canggung lagi. Dan itu semua berkat Ayra.
Hubungan Ayra dan Devara juga makin mesra. Mereka tak canggung lagi menunjukkan perasaan mereka satu sama lain. Jika dulu Ayra masih malu digandeng oleh Devara. Sekarang dia sudah tak malu lagi. Karena Ayra bisa melihat keseriusan dan kesungguhan perasaan Devara padanya. Mereka mulai bisa bercanda dan tertawa bersama. Walaupun kadang mereka masih juga bertengkar dan berdebat untuk masalah yang sangat sepele. Kadang semua itu dipicu sikap Devara yang posesif dan kekanak-kanakan.
“Oya Dev..sebentar lagi kamu ulangtahun kan? dua hari lagi ya?”tanya Daniel
“Oh ya?”tanya Ayra sambil menoleh ke arah Devara
“Iya”jawab Devara singkat
“Kau tak bilang sebentar lagi ulang tahun?”tanya Ayra
“Memangnya apa bedanya aku ulangtahun atau tidak? Bagiku semua hari sama saja” jawab Devara datar
“Kau mau hadiah apa Dev dari Ayra?”tanya Nadine
Ayra meletakkan tangan kanannya di atas kakinya untuk menopang dagunya sambil menatap Devara.
“Jangan yang mahal-mahal pokoknya”ucap Ayra tegas.
Devara berpikir sambil menatap mata indah Ayra. Devara meletakkan tangan kirinya di atas kakinya untuk menopang dagunya. Persis seperti yang dilakukan Ayra.
“Apa ya?”Devara berpikir keras, kira-kira hadiah apa yang akan dimintanya dari Ayra
Devara berpikir dengan keras selama beberapa menit.
“Hmm..hadiah apa ya?”Devara masih berpikir
Ayra, Daniel dan Nadine yang sejak tadi menunggu jawaban Devara jadi kesal sendiri karena Devara tak juga memberikan jawaban.
“Ah kelamaan mikirnya. Kamu mikir hadiah ulang tahun kayak mikir mau nikah aja.. hahahahaa”ujar Ayra sambil tertawa.
“Hei aku beneran baru mikir nih”protes Devara sambil tersenyum.
“Udah..kita balik ke kelas aja yuk..Biarin Devara mikir sendiri disini” ajak Daniel
“Iya..balik aja. Ayo Ay” balas Nadine
Ayra, Daniel dan Nadine beranjak dari kursi mereka.
“Hei..jangan tinggalin aku dong”protes Devara
Akhirnya Devara menyusul mereka dan menggenggam tangan Ayra.
Mereka kembali ke kelas sama-sama. Lalu berpisah setelah mengantarkan Nadine dan Ayra ke kelasnya.
Di kelas, Devara tampak menyilangkan kedua tangannya di depan dada sambil berpikir.
“Kamu masih belum tahu minta hadiah apa sama Ayra?”tanya Daniel
“Iya”jawab Devara singkat
Devara menoleh ke arah Daniel.
“Kalau kamu jadi aku, kamu minta apa sama pacarmu?”tanya Devara
Daniel tersenyum.
“Kalau aku..aku akan ajak pacarku dinner berdua di tempat yang sangat romantis. Aku ajak dia dansa, lalu kuajak dia … “Daniel menggerakkan dua jari telunjuknya sambil memonyongkan bibirnya seperti orang ciuman.
Devara langsung memukul lengan Daniel.
“Aduh” Daniel mengaduh sambil mengelus lengannya dengan senyum yang tersungging di wajahnya. Dia memang hanya ingin menggoda Devara.
“Sialan kamu Dan! Kasih saran ga mutu”umpat Devara
Daniel hanya tertawa melihat sahabatnya cemberut.
“Maaf..maaf..aku hanya bercanda”ujar Daniel minta maaf
“Tapi beneran, kalau aku punya pacar, aku mau ajak dia dinner romantis. Orang seperti kita, butuh apa lagi sih selain orang yang bener-bener sayang sama kita. Jadi bagiku, pacarku itulah hadiah terindah untukku”ucap Daniel serius.
Kata-kata Daniel ada benarnya juga. Orang sekaya Devara, tak kan membutuhkan hadiah berupa materi lagi karena dia sudah memiliki segalanya. Dia dengan mudah mendapatkan apapun yang dia inginkan. Tapi memiliki Ayra dalam hidupnya kini, adalah hadiah terindah yang diberikan Tuhan padanya. Memiliki gadis yang sangat disayanginya dan dicintainya, yang selalu mengisi hari-hari dan mengisi hatinya, yang bisa menerima semua kelebihan dan kekurangannya. Yang selalu membuat jantungnya tak karuan setiap disampingnya.
Devara tersenyum senang.
“Thanks bro”ucap Devara
“Sama-sama”jawab Daniel
Ketika pulang sekolah, seperti biasa, Devara mengantar Ayra pulang.
__ADS_1
Di dalam mobil,
“Kamu udah dapet belum mau minta hadiah apa? Awas saja kalo minta yang macam-macam” ancam Ayra
Devara tiba-tiba menepikan mobilnya.
“Kenapa berhenti? Ka..kamu kenapa dekat-dekat?” tanya Ayra sambil menatap Devara yang mendekat ke arahnya.
Ayra menjauhkan tubuhnya dari Devara karena tatapan genit Devara membuatnya takut.
“Kau bilang jangan macam-macam? Seperti apa contohnya?”goda Devara sambil tersenyum genit
Ayra salah tingkah mendengar pertanyaan Devara.
“Pikir aja sendiri. Udah jauh-jauh sana” jawab Ayra mendorong tubuh besar Devara.
“Hahahaa”Devara tertawa melihat pacarnya salah tingkah.
Devara segera mengemudikan mobilnya untuk mengantar Ayra pulang. Ayra membuang muka ke arah jendela, dengan senyum yang tersungging di wajahnya.
“Dasar cowok gila” umpat Ayra dalam hati
*
*
*
*
Sampai di rumah,
Ayra rebahan di ranjangnya. Dia masih kepikiran, hadiah apa yang akan diberikannya di hari ulangtahun Devara dua hari lagi.
“Aku ngasih hadiah apa ya? Bingung.. Dia kan orang kaya. Kalau ngasih barang, pasti dia bisa beli yang berkali-kali lipat lebih bagus. Kira-kira hadiah apa yang ga bisa dia beli dimanapun?” Ayra berpikir keras akan memberi Devara hadiah apa. Hadiah yang tak bisa dibeli dimanapun.
Tiba-tiba smartphone Ayra berdering.
“Halo” sapa Ayra
“Kau sedang apa?”tanya Devara
“Baru istirahat, kenapa?” tanya Ayra
Ayra mengernyitkan dahinya karena bingung.
“Mau bicara apa sama Bunda?”tanya Ayra penasaran
“Ehmm..itu..anu..aku mau minta pelayanku masakin masakan seperti yang Bunda buat. Aku mau tanya resepnya. Bisakan?”pinta Devara
“Oo..kirain mau ngapain..oke..bentar ya”jawab Ayra
Ayra turun ke lantai satu mencari Bundanya.
“Bunda, Devara mau bicara”ucap Ayra sambil menyerahkan smartphonenya
“Iya, Dev..ada apa?”tanya Bunda
Bunda menerima telpon dari Devara sambil berjalan kearah dapur. Ayra pun menunggu sambil menonton TV di ruang keluarga sambil sesekali melihat kearah Bunda. Sebenarnya apa yang mereka obrolkan, Ayra jadi penasaran. Karena mereka ngobrol lumayan lama. Setelah beberapa waktu, Bunda menyerahkan smartphone pada Ayra.
“Ini Ay”ucap Bunda sambil menyerahkan smartphone Ayra.
Ayra meletakkan smartphone itu ditelinganya lalu memberi isyarat pada Bundanya kalau dia naik lagi ke lantai dua. Bunda mengangguk.
“Halo..kamu nanya berapa resep sih? Mau buka restoran? Lama banget nelponnya?” gerutu Ayra
Lawan bicaranya hanya bisa tersenyum mendengar pertanyaan Ayra.
“Maaf ya..kamu nunggunya kelamaan ya?”tanya Devara lembut
“Iya..lama banget..sampe ngantuk”jawab Ayra kesal.
“Tanya resep masakan apa sih?”tanya Ayra penasaran
“Ehmm..mana aku paham, tadi pelayanku yang aku minta nanya Bunda langsung. Bumbu dapur emangnya aku tahu”kelit Devara
“Iya juga sih..kamu kan taunya cuma makan”balas Ayra
“Gitu tau”imbuh Devara
“Oya..hadiah ulangtahunku..”Devara menggantung ucapannya sendiri, tak melanjutkan ucapannya.
Ayra mendengarkan Devara sungguh-sungguh, tapi Devara malah diam.
__ADS_1
“Kamu mau bilang apa? Kok diam?”tanya Ayra sambil mengernyitkan dahinya.
“Ehmm..aku belum punya ide. Aku kabari lagi kalau aku dah dapat ide”jawab Devara
Ayra mendengus pelan.
“Kirain dah tau mau minta apa..ya udah, kabari kalo dah tau ya..tapi ingat, ga boleh yang mahal dan ga boleh yang aneh-aneh. Awas aja kalo kamu minta antara dua itu”ancam Ayra
“Hahahaa..”Devara tertawa mendengar ancaman pacarnya itu.
Mendengar Devara tertawa, Ayra jadi ikut tertawa.
Mereka berbincang di telpon membahas acara ulangtahun Devara. Seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun ini ulangtahun Devara akan diadakan di sebuah hotel mewah dengan mengundang semua teman-teman sekolah Devara, yang dekat dengan Devara tentunya.
Ayra baru tahu, bahwa kebiasaan di keluarga Devara dan keluarga orang kaya lainnya adalah mengadakan acara pesta dansa. Padahal Ayra sama sekali tak bisa dansa.
"Pesta dansa?"tanya Ayra
"Iya"jawab Devara singkat
"Waduh..aku kan ga bisa dansa"gumam Ayra dalam hati.
"Ehmm..Dev"
"Ada apa?"tanya Devara karena Ayra tumben memanggil namanya dengan lembut.
"Kalo misal..aku..ga usah datang aja di acara ulang tahunmu gimana?"tanya Ayra pelan-pelan.
"Ga bisa..kamu harus datang"jawab Devara tegas
"Tapi.."
"Ga ada tapi-tapian"jawab Devara
"Hishh.." Ayra mendengus kesal
"Masak kamu ga datang? Kamu kan pacarku"ucap Devara
"Aku..ga mau bikin kamu malu"
"Kenapa harus malu?"
"Aku..ga bisa dansa. Nanti kamu ditertawakan teman-teman"
"Coba saja kalo ada yang berani menertawakan aku"ancam Devara
"Tapi beneran Dev..aku ga bisa dansa"
"Tenang saja, kau tinggal naik di atas kakiku, jadi nanti kau tinggal mengikuti langkah kakiku"ucap Devara mencoba menenangkan Ayra.
"Mana ada yang seperti itu"jawab Ayra kesal
"Lagipula aku paling ga bisa jalan pakai high heels"lanjut Ayra
"What?! Kamu ga bisa jalan pakai high heels? Kamu tuh beneran cewek kan?"goda Devara
"Iishh..ga usah mulai ngajak berantem deh..Aku tuh emang ga suka pakai high heels"sahut Ayra kesal
"Padahal aku pingin banget lihat kamu pakai dress sama high heels..kamu pasti kelihatan seperti cewek beneran"goda Devara
"Emang selama ini aku cewek jadi-jadian?"gerutu Ayra kesal mendengar godaan Devara
"Hahaha"Devara tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Ayra.
"Udah..Ga usah ketawa..Nyebelin!!"ucap Ayra kesal mendengar suara tawa Devara yang terdengar mengejeknya.
Devara tertawa selama beberapa saat. Devara benar-benar tak habis pikir jika pacarnya yang sangat cantik itu sangatlah tomboy. Tak bisa memakai high heels.
"Udah ketawanya!"gerutu Ayra mendengar Devara yang tak berhenti menertawakannya.
"Kalo masih ketawa juga..aku tutup telponnya sekarang"ancam Ayra
"Hahaha..Baiklah!" Devara menghentikan tawanya begitu mendengar ancaman Ayra.
"Pokoknya lusa aku ga mau dengar alasan apapun. Kau harus datang di acara ulangtahunku"perintah Devara.
Ayra tampak berpikir sejenak.
"Kalo aku pakai sneakers aja gimana?"
"Ga bisa..Mana mungkin pacar Devara Alexander yang agung ke pesta dansa pakai sepatu sneakers. Kau mau menjatuhkan harkat dan martabatku? NO WAY! NO Sneakers!"perintah Devara keras
Akhirnya, lagi-lagi mereka bertengkar hanya karena masalah sepatu high heels dan sneakers.
__ADS_1