Falling In Love With Trouble Maker

Falling In Love With Trouble Maker
Kelemahan Ayra


__ADS_3

Rumah kabin itu dibangun dengan gaya modern rustik, dengan kaca besar hampir di sekelilingnya. Rumah mungil ini juga memiliki konsep interior yang benar-benar memanjakan penghuninya. Dengan sebuah perapian dan sofa mid-century di bagian ruang tengah. Devara sampai tersenyum melihat Ayra yang melongo melihat keindahan gubuk miliknya.


“Kenapa? Apa gubuk ini sangat bagus sampai kau melongo seperti itu?” goda Devara


“Kau mau mengerjaiku lagi kan? Ini bukan gubuk tapi ini rumah kabin yang sangat indah”jawab Ayra lalu mulai duduk di kursi sofa sambil mengelap bajunya yang basah dengan tangan.


“Bagiku ini gubuk”ucap Devara santai lalu berjalan menuju kamar tidur untuk mengambil handuk dan baju ganti bagi keduanya.


“Gubuk? Rumah kabin sebagus ini disebut gubuk. Dasar orang kaya sinting!”gerutu Ayra dalam hati


“Pakai ini untuk mengeringkan tubuhmu”ucap Devara sambil melempar handuk ke arah wajah Ayra.


Ayra langsung kesal karena Devara melempar handuk itu tepat mengenai wajahnya. Membuat Ayra memonyongkan bibirnya.


“Kalo ngasih yang sopan dong. Kena muka nih”gerutu Ayra pada Devara yang sekarang sedang mengeringkan rambutnya.


Ayra yang melihat Devara dengan rambut basahnya, tiba-tiba merasakan jantungnya berdegup sangat kencang.


“Kenapa dia kelihatan sangat seksi dengan rambut basahnya seperti itu”gumam Ayra dalam hati sambil mengagumi ketampanan Devara yang walaupun tengil gila sinting dan brutal, namun Ayra tak bisa memungkiri bahwa secara fisik Devara sangatlah sempurna.


Ayra segera menggelengkan kepalanya setelah sadar sudah memuji ketampanan Devara.


“Apa yang aku pikirkan? Bisa-bisanya aku memuji ketampanan cowok sableng itu”gerutu Ayra dalam hati


Devara yang sejak tadi memperhatikan Ayra sampai tertawa kecil melihat ekspresi wajah Ayra yang terlihat sangat menggemaskan.


“Kau kenapa? Apa kau terpesona dengan ketampananku?”goda Devara


“Hahaha..Terpesona? Ngaco kamu..Jadi orang jangan ke-Ge Eran”balas Ayra dengan sinis


Devara yang merasa kesal kemudian menyalakan perapian yang ada di dekatnya. Setelah perapian itu siap, Devara segera membalik tubuhnya menatap ke arah Ayra yang kini sedang melepas ikatan rambutnya membuat rambut indahnya tergerai. Ayra dengan santai memiringkan rambutnya ke samping sambil mengeringkannya dengan handuk.


Devara yang melihat leher putih mulus Ayra sampai menelan ludahnya dengan beberapa kali mengedipkan matanya. Karena gadis tomboy di depannya itu tetaplah seorang gadis yang sangat cantik, dengan rambut hitamnya yang tergerai indah dan kulitnya yang putih bersih.


Deg..deg..deg..


"Kenapa jantungku bergetar cuma gara-gara liat leher cewek itu doang?"gumam Devara dalam hati


Tiba-tiba Ayra menatap ke arah Devara. Karena takut ketahuan sedang mengagumi kecantikan Ayra, Devara segera mengambil piyama yang tadi diambilnya di kamar tidur.


“Pakai ini”ucap Devara sambil menyodorkan satu stel piyama tidur untuk Ayra.


“Apa ini?”tanya Ayra sambil mencium setelan piyama yang disodorkan Devara.

__ADS_1


“Wangi”ucap Ayra


“Tentu saja wangi”balas Devara


“Kok bisa wangi?”tanya Ayra karena tadi Devara bilang dia sudah lama tak ke bumi perkemahan itu.


“Karena sudah menjadi aturan di bumi perkemahan ini untuk mengganti semua yang ada di bumi perkemahan ini setiap seminggu sekali, termasuk piyama dan handuk yang ada di gubuk ini”jawab Devara yang duduk di kursi sofa agak jauh dari Ayra.


“Apa kau tak bisa membedakan mana itu gubuk dan mana itu rumah kabin? Jelas-jelas ini rumah kabin kau masih menyebutnya gubuk”keluh Ayra


“Bagiku ini gubuk”jawab Devara enteng


“Ah..terserahlah”sahut Ayra yang malas mendebat tuan muda pemilik bumi perkemahan itu. Ayra beranjak dari duduknya dan hendak mengganti pakaiannya yang basah.


“Kamar mandinya dimana?”tanya Ayra


“Di dalam kamar”jawab Devara


Ayra kemudian berjalan masuk ke dalam kamar lalu menuju kamar mandi yang ada di salah satu sudut ruangan itu. Kamar mandinya sangat bersih. Ayra segera mengganti pakaiannya yang basah dengan setelan piyama yang diberikan Devara tadi. Untung saja dalaman Ayra tidak ikut basah sehingga Ayra tak perlu melepaskan **********.


Setelah memakai piyama, Ayra segera keluar dari kamar. Ayra terkejut saat melihat Devara yang melepas pakaiannya dengan posisi membelakangi dirinya. Sehingga Ayra dapat melihat dengan jelas punggung kekar Devara.


“Hyaaaa..kenapa kau berganti pakaian disini?”seru Ayra dengan nada keras membuat Devara membalikkan tubuhnya.


“Gilakk! Tubuhnya benar-benar bagus!”gumam Ayra dalam hati


Devara yang melihat Ayra membalik tubuhnya setelah melongo menatap dirinya justru tersenyum bahagia.


“Memangnya kenapa?”tanya Devara enteng sambil berjalan ke arah Ayra dan memakai piyamanya.


“Apa kau tak ingin melihatnya lagi?”goda Devara


“Jangan macam-macam! Cepat pakai bajumu”seru Ayra tanpa membalik tubuhnya dengan jantung yang seakan berlompatan kemana-mana.


Tiba-tiba,


“Duaaarrrrr”


Bunyi petir yang sangat keras menggelegar memecah malam yang masih hujan.


“Aaaaaa..”teriak Ayra yang kaget mendengar bunyi petir yang sangat keras tadi.


Membuat Ayra membalik tubuhnya dengan cepat hingga menabrak dada bidang Devara dengan menutup telinganya dengan kedua tangannya. Ayra tanpa sadar sudah menundukkan kepalanya di dada bidang Devara sambil memejamkan kedua matanya.

__ADS_1


“Duaaarrrr”


Petir sekali lagi menyambar dengan suara yang menggelegar.


“Aaaaaa…”Ayra berteriak lagi.


Tanpa sadar Devara memeluk tubuh mungil Ayra yang kini berada dalam dekapannya sambil menepuk pelan pundak Ayra.


“Jangan takut!”ucap Devara lembut


Setelah agak tenang, Ayra melepaskan dirinya dari pelukan Devara. Rupanya Ayra sangat takut pada petir. Sampai-sampai sekarang tubuhnya gemetaran setelah mendengar petir yang menyambar bumi dengan suara yang memekakkan telinga tadi. Melihat Ayra yang gemetaran membuat Devara merasa tak tega. Devara kemudian menggenggam tangan Ayra kemudian mendudukkan Ayra di ranjang.


“Sekarang sudah malam. Tidurlah”ucap Devara lembut


Ayra yang biasanya selalu mendebat Devara, malam itu terlihat lain dari biasanya. Ayra menurut saja tidur di ranjang panggung atau platform bed yang memang ada di kamar tidur. Ranjang minimalis dengan kasur yang sangat besar itu sangat empuk dan nyaman. Devara membantu Ayra menyelimuti gadis tomboy yang selalu mengajaknya berdebat.


“Tidurlah! Aku ada di luar kalo kau membutuhkan sesuatu” ucap Devara lembut


Ayra mengangguk. Devara hendak melangkahkan kakinya keluar dari kamar, tiba-tiba merasakan sesuatu memegang tangannya. Dan saat membalik tubuhnya, rupanya Ayra yang memegang tangannya.


“Kenapa?”tanya Devara pada Ayra


“Aku..aku..”Ayra terbata-bata


“Duarrrr”


Ayra tanpa sadar memegang tangan Devara dengan sangat kuat saking takutnya sambil memejamkan matanya.


Devara kini duduk di lantai kamar dengan tangan kirinya dipegang Ayra. Malam itu petir silih berganti menyambar bumi dengan suara yang menggelegar sangat keras. Devara terus menatap lembut gadis tomboy di depannya yang ternyata sangat takut pada petir hingga tanpa sadar sudah menggenggam tangannya dengan sangat kuat. Membuat Devara yang sudah mengantuk merelakan tangannya dipegang Ayra.


“Minggirlah! Aku sudah mengantuk”pinta Devara


Karena sudah sangat mengantuk, Devara meminta Ayra bergeser ke tepi ranjang sebelah kanan. Sementara dirinya tidur di tepi ranjang sebelah kiri. Dengan dibatasi oleh sebuah guling.


Ayra sebenarnya ingin protes namun ketakutannya akan petir, membuatnya memilih diam. Akhirnya kedua remaja yang beranjak dewasa itu tidur dalam ranjang yang sama namun dibawah selimut yang berbeda. Dengan tangan kiri Devara menggenggam tangan Ayra. Karena malam itu petir terus menyambar bumi. Dan setiap petir menyambar, Devara selalu menggenggam tangan Ayra untuk menenangkannya hingga akhirnya Ayra dapat tertidur juga.


"Rupanya kau takut petir"gumam Devara dalam hati sambil memperhatikan wajah gadis cantik yang kini tertidur lelap di sampingnya.


Devara mengangkat tangan kanannya secara perlahan-lahan. Diusapnya pipi gadis cantik yang sangat disukainya itu.


"Tenanglah! Aku akan selalu menjaga dan melindungimu"gumam Devara dalam hati sambil merapikan anak rambut Ayra yang jatuh menutupi wajah cantiknya.


Semalaman Devara terus terjaga untuk menenangkan dan menjaga Ayra. Karena semalaman, hujan terus mengguyur dan petir juga silih berganti menyambar bumi dengan suaranya yang menggelegar.

__ADS_1


__ADS_2