Falling In Love With Trouble Maker

Falling In Love With Trouble Maker
Melihat Bintang


__ADS_3

Sampai di rumah, Bunda dan bi Inah sedang memanen beberapa sayuran di kebun sayur untuk dimasak.


“Gimana Ay jalan-jalannya?”tanya Bunda begitu melihat Devara dan Ayra pulang.


“Gimana Dev tadi jalan-jalannya? Kalian suka di sini?”tanya Bunda


“Iya Bunda..di sini pemandangannya bagus. Udaranya juga sejuk”jawab Devara sopan sambil tersenyum.


“Bunda mau masak apa?”tanya Ayra sambil mendekat ke arah Bunda.


“Nyonya mau bikin bar..bar..bar ehmm..apa itu non yang bakar-bakaran?”tanya bi Inah dengan ekpresi wajah seakan sedang berpikir keras.


“Barbeque?”tebak Ayra jitu.


“Iya..itu. bar itu. Susah banget sih ngomongnya. Mbok udah bilang aja daging bakar..susah banget bahasanya ya”gerutu bi Inah


Devara, Ayra dan Bunda cekikikan melihat bi Inah yang sedang ngomel-ngomel ga jelas. Ayra pun membantu Bunda dan bi Inah. Sementara Devara membantu Ayah.


Hari sudah mulai malam, mereka pun mengadakan acara barbeque bersama-sama. Aroma daging barbeque yang sudah dibumbui dengan bumbu racikan Bunda benar-benar lezat. Membuat setiap orang yang mencium aromanya jadi keroncongan. Bunda memang jago masak.


Setelah matang, mereka menyantap daging barbeque itu bersama-sama dengan ditambah beberapa sayur yang mereka ambil dari kebun tadi.


Suasana malam di kampung benar-benar sangat damai dan tenang. Devara sangat menikmati suasana kekeluargaan di keluarga Ayra. Suasana yang sangat jauh dari keluarganya. Melihat Ayra, Bunda dan Ayah yang sangat bahagia, membuat Devara merasa iri. Iri dengan kebahagiaan keluarga kecil ini.


Berbanding terbalik dengan kehidupan keluarganya yang sangat jauh dari kata bahagia. Papa dan mommy nya selalu sibuk bekerja sampai tak pernah ada saat Devara membutuhkan. Kakaknya juga sudah menikah, dan mempunyai keluarga sendiri. Jadi Devara sering merasa kesepian di dalam kehidupannya yang kata orang bergelimang harta.


Orang-orang yang menyebut dirinya teman Devara tak pernah ada yang benar-benar tulus menjadi temannya. Kebanyakan dari mereka hanya memanfaatkan harta dan status sosial Devara. Satu-satunya teman sekaligus sahabat yang tulus pada Devara pun, harus pergi darinya karena Devara masih menaruh dendam padanya.


Namun sejak mengenal Ayra, Devara mulai belajar arti kenyamanan dan kebahagiaan. Ayra yang tak pernah memandang harta dan kekayaan Devara. Yang tak pernah mendekati dia karena status sosial dan segala atribut kemewahan yang melekat pada diri Devara. Gadis yang selalu menganggap remeh Devara karena kekayaan yang dimilikinya adalah milik keluarganya dan bukan atas usaha dan kerja keras Devara sendiri. Gadis yang sejak jadi pacarnya tak pernah menuntut dibelikan barang-barang mewah, sesuatu yang sangat mudah dilakukan oleh Devara.


Hari sudah menunjukkan jam 21.00 malam. Ayah dan Bunda ke kamar mereka. Ayra ijin mau menikmati suasana malam. Mumpung cuaca malam itu sangat cerah. Bunda mengijinkan asal tidak boleh tidur terlalu malam dan tak boleh macam-macam dengan Devara.


“Ay..cepat tidur ya nak! Ayah sama bunda mau istirahat dulu”pinta Bunda


“Aku tidur sebentar lagi ya bund..mau menikmati suasana malam di sini. Boleh ya bund?”ijin Ayra pada sang bunda


“Ya udah..tapi ingat jangan malam-malam tidurnya ya?”jawab bunda


“Iya bunda sayang”ucap Ayra senang karena diijinkan bundanya.


“Dan satu lagi..jaga diri ya nak..jangan macam-macam dengan Devara”pesan bunda


“Iya..iya..bunda.. Aku dan Dev tak akan mengecewakan bunda dan Ayah”sahut Ayra


“Ya sudah, kalo begitu bunda ke dalam dulu”ucap bunda


Bunda sangat percaya pada sang putri. Walaupun Ayra dan Devara sudah pacaran, tapi Ayra sudah berkali-kali mengatakan pada Bundanya kalo dia pasti bisa menjaga diri. Dan bundanya sangat mempercayai putri kesayangannya itu, apalagi Ayra jago beladiri. Bunda sama sekali tak meragukan ucapan putrinya yang pasti akan menjaga dirinya.


Kini Devara dan Ayra duduk di kursi taman berdua. Ayra menaikkan kedua kakinya dan mendekapnya supaya hangat.


“Terimakasih”ucap Devara sambil menatap Ayra lembut


“Untuk apa?”Ayra menoleh ke arah Devara

__ADS_1


“Aku sangat menikmati piknik kali ini. Rasanya seperti aku sedang piknik dengan keluargaku”jawab Devara tanpa melihat Ayra


Ayra yang melihat Devara hanya tersenyum. Cowok ganteng kaya raya yang sekarang jadi pacarnya, si troublemaker yang dulu sangat dibencinya, kini sudah banyak berubah.


Selain sikapnya yang gampang marah, bossy dan kadang nyebelin, Devara ternyata memiliki sisi lain yang sangat berbeda dengan image nya selama ini. Ayra mulai bisa melihat sisi manis dari seorang Devara seperti yang pernah diungkapkan kak Arga dan Nadine. Sisi yang sangat jarang diperlihatkan dalam kehidupannya sehari-hari.


Devara menoleh ke arah Ayra.


“Kapan kamu terakhir piknik dengan keluargamu?”tanya Ayra


“Entahlah..sudah lama sekali kami tidak pernah piknik bersama” jawab Devara.


“Kalau kau merasa kesepian, datang saja ke rumah. Ayah dan Bunda pasti tak kan keberatan” ujar Ayra


Devara tersenyum. Namun mendadak wajahnya berubah pucat pasi. Membuat Ayra khawatir.


“Kamu kenapa?”tanya Ayra kuatir


“Di..di..belakangku..”ucap Devara terbata-bata.


“Hah..dibelakangmu?” Ayra melihat ke arah tubuh belakang Devara


“Oo..hanya belalang”jawab Ayra tenang


“Aaaaaaaa..”Devara geli lalu tanpa sadar memeluk Ayra.


Ayra kaget tiba-tiba dipeluk Devara. Kemudian dia segera mengambil belalang yang menempel di rambut Devara lalu membuangnya jauh-jauh.


Devara segera duduk kembali ke tempat duduknya. Dia sendiri juga kaget kenapa tiba-tiba memeluk Ayra.


“Terimakasih”ucap Devara malu. Pipinya memerah.


“Kau takut sekali dengan serangga ya?” tanya Ayra sambil menahan tawa


“Kau mengejekku?”tanya Devara begitu melihat ekspresi wajah Ayra yang seakan mengejek ketakutannya pada serangga sambil menahan tawa.


“Aku tak mengejekmu. Aku kan cuma tanya”jawab Ayra masih berusaha menahan tawa.


“Tapi tatapan matamu itu..”


“Memang kenapa dengan mataku?”tanya Ayra penasaran


“Kelihatan sekali kalo kau sedang mengejekku”


“Itu hanya perasaanmu saja”jawab Ayra sambil menepuk bahu Devara.


“Aku kan sudah pernah bilang. Aku bukannya takut. Aku hanya jijik”bela Devara


“Iya..iya..aku tahu. Anak kecil juga pasti takut dengan belalang” ucap Ayra membuat Devara semakin kesal dibandingkan dengan anak kecil.


“Sekarang kau mengataiku anak kecil?”protes Devara


“Aku kan tidak bilang kamu anak kecil”bela Ayra

__ADS_1


“Udah ah..dah malam. Aku mau tidur aja” ujar Ayra sambil beranjak dari kursi tempatnya duduk.


Devara menahan tangan Ayra lalu menarik tangan Ayra keras. Membuat Ayra jatuh dan terduduk di pangkuan Devara. Ayra kaget dengan kelakuan Devara yang sesaat kemudian langsung memeluk pinggangnya yang ramping.


“Hei..kau mau apa? Lepasin!”pinta Ayra sambil berusaha melepas pelukan Devara


“Aku tak suka dikatai anak kecil. Apalagi oleh gadis nakal sepertimu”goda Devara


Suasana malam itu sangat syahdu. Suara jangkrik bersahut-sahutan seperti irama paduan suara. Ditemani cahaya temaram dari lampu taman. Membuat dua sejoli itu terbawa suasana.


Devara mendekatkan wajahnya perlahan ke arah wajah Ayra. Devara sedikit memiringkan kepalanya dan mendekat perlahan-lahan. Ayra mulai memejamkan matanya begitu wajah Devara mendekat. Karena Ayra bisa menebak apa yang akan dilakukan Devara padanya.


Tiba-tiba,


“Non Ayra?”suara bi Inah mengagetkan Ayra dan Devara.


Ayra membuka matanya dan segera berdiri dari pangkuan Devara. Ayra segera menoleh kearah sumber suara.


“Bi Inah belum tidur?”tanya Ayra kikuk


Devara mengepalkan tangannya dengan kuat. Wajahnya terlihat sangat kesal.


“Kenapa selalu saja ada pengganggu sih? Menyebalkan!”gerutu Devara dalam hati dengan penuh amarah.


“Non ngapain di luar malam-malam? Nanti kalau ada ular lewat gimana lho?”ujar bi Inah


“Hah..u..u..ular?”tanya Devara ketakutan lalu berdiri dari kursinya dan clingukan


“Lho den Devara juga disini to? Bibi ndak liat..Hayo malam-malam ngapain berduaan? Gelap-gelapan?” tanya bi Inah penasaran


Kebetulan suasana lampu taman memang sedikit redup, bi Inah yang sudah tua, tak terlalu kelihatan sosok Devara. Apalagi dengan baju gelap yang dipakainya.


“Ga ngapa-ngapain kok bi..Cuma liat bintang, hehehe”Ayra bohong


“Ya udah..cepetan masuk rumah non..disini kadang ada ular cari tikus apa kodok gitu buat makan”pinta bi Inah


Devara yang mendengar kata “ular”, “kodok” dan “tikus” jadi geli sendiri. Badannya langsung bergetar pelan, karena takut.


“Iya bi..bibi juga istirahat ya”ujar Ayra sambil tangannya ditarik Devara


Devara menarik tangan Ayra dan mengajaknya masuk rumah. Devara tak mau berlama-lama di luar.


Sampai di depan kamar masing-masing,


“Cepatlah tidur!” ucap Devara


“Kau juga” jawab Ayra


“Selamat Malam” ucap Devara lembut


“Selamat Malam” balas Ayra sambil tersenyum.


Lalu keduanya masuk kamar masing-masing. Baik Ayra maupun Devara sangat senang karena hari ini mereka bisa menikmati piknik bersama-sama. Keduanya pun akhirnya tidur dengan pulas saking capeknya.

__ADS_1


__ADS_2