
Berada di kamp militer selama satu setengah bulan telah banyak merubah kepribadian Devara. Menjadi prajurit walaupun hanya sementara namun tempaan kedisiplinan, dan kerasnya pendidikan militer yang diterimanya membuat Devara semakin menghargai orang-orang disekitarnya terutama para pelayannya yang kadang sering dilupakannya.
Sikap bossy Devara meskipun masih ada, namun kini dirinya bisa lebih menempatkan diri. Terkadang tanpa sadar, Devara masih menerapkan apa yang diterimanya di kamp militer itu. Pernah satu ketika, selesai makan Devara membawa piring kotor yang baru saja dipakainya lalu membawanya ke dapur untuk dicuci. Kelakuan Devara itu berhasil membuat syok para pelayan di rumahnya.
“Tuan muda, apa yang mau Anda lakukan?”tanya Madam O yang melihat Devara berjalan ke arah dapur sambil membawa piring kotor.
“Aku mau mencuci piring”jawab Devara dengan santai
Madam O sampai membelalakkan matanya mendengar jawaban Devara barusan.
“Apa aku tidak salah dengar?”gumam Madam O
“Apa kau dengar yang diucapkan tuan muda tadi?”tanya Madam O pada pelayan yang berdiri di sampingnya sejak tadi.
Pelayan itu sama terkejutnya dengan Madam O.
“Saya dengar tuan muda mau mencuci piring”jawab pelayan itu dengan tatapan kosong masih tidak percaya yang didengarnya.
“Sebenarnya apa yang Anda lakukan selama satu setengah bulan ini tuan muda?”tanya Madam O yang berjalan menyusul Devara yang terus berjalan ke arah dapur.
“Aku pergi untuk menebus dosaku pada Ayra”jawab Devara
“Apa? Menebus dosa?”tanya Madam O tak mengerti
“Kenapa setelah pulang tuan muda jadi aneh begini?”tanya Madam O
“Memang aku kenapa Madam?”tanya Devara sambil menoleh ke arah Madam O yang menatapnya dengan tatapan penuh tanda tanya.
“Apa tuan muda tidak sadar? Penampilan tuan muda benar-benar berubah. Rambut tuan muda jadi cepak seperti itu. Kulit tuan muda juga seperti habis berjemur di bawah terik matahari. Tuan muda seperti baru saja maju berperang”jawab Madam O mengeluarkan semua unek-uneknya selama ini.
“Dan lihatlah sekarang! Tuan muda bahkan membawa piring kotor itu ke dapur. Tuan muda baik-baik saja kan?”tanya Madam O sambil meletakkan telapak tangannya di kening Devara.
Devara yang merasa baik-baik saja, menepis tangan Madam O.
“Aku baik-baik saja Madam. Tenanglah!”balas Devara mencoba mengusir kegundahan Madam O
“Tapi saya lihat Anda tidak sedang baik-baik saja tuan muda. Semua bekas luka ini, dari mana Anda mendapatkannya?”tanya Madam O kuatir sambil memegang wajah dan tangan Devara yang memiliki bekas luka.
“Sudah tenanglah Madam..aku beneran ga papa. Selama satu setengah bulan ini aku belajar menjadi pria sejati”jawab Devara dengan senyum yang tersungging di bibirnya.
Tiba-tiba hp Devara berbunyi. Devara menatap hp nya. Rupanya kakek Arya yang menghubungi. Madam O meraih piring kotor Devara.
“Terimakasih Madam”ucap Devara sambil berjalan menjauhi Madam O
“Selamat pagi kakek”sapa Devara ramah
“Pagi! Bagaimana kabarmu anak muda?”tanya Kakek Arya
“Aku baik-baik saja kek, terimakasih sudah mengkhawatirkanku”sahut Devara.
__ADS_1
“Siapa bilang aku mengkhawatirkanmu. Aku hanya ingin tahu apa kau siap dengan tantangan keduaku?”tanya kakek Arya
“Baru juga dua hari aku istirahat. Kakek sudah ingin menghukumku lagi?”gumam Devara dalam hati
“Aku siap kapanpun kakek minta”jawab Devara dengan tegas.
“Bagus! Besok pagi datanglah kemari”ajak kakek Arya
“Baik kek”jawab Devara
“Aku tunggu kedatanganmu anak muda”ucap kakek Arya lalu menutup sambungan teleponnya.
“Sekarang apa lagi rencana kakek tua itu untuk menghukumku?”gumam Devara dalam hati
Madam O menghampiri Devara. Beliau tahu akhir-akhir ini Devara sedang sangat sibuk. Namun Madam O menahan dirinya untuk bertanya tentang kesibukan Devara, mengingat lelaki muda itu sangat tidak suka urusannya dicampuri orang lain. Namun karena rasa sayangnya pada Devara yang sudah dianggap sebagai keluarga sendiri oleh Madam O, membuat wanita paruh baya itu memberanikan diri bertanya.
“Tuan muda?”panggil Madam O
“Ada apa Madam?”tanya Devara sambil menoleh kearah Madam O.
Keduanya kemudian duduk berdua di kursi sofa yang ada di ruang keluarga.
“Sebenarnya akhir-akhir ini tuan muda sedang apa? Kenapa saya perhatikan tuan muda sibuk sekali. Dan siapa tadi yang tuan muda panggil dengan sebutan kakek? Saya lihat akhir-akhir ini lelaki yang tuan muda panggil kakek itu selalu menghubungi tuan muda”tanya Madam O pelan-pelan.
“Madam, aku tak bisa mengatakan apa yang aku lakukan akhir-akhir ini”
“Kenapa tuan muda?”tanya Madam O sambil mengernyitkan dahinya
“Kakek nona Ayra?”tanya Madam O
Devara mengangguk pelan.
“Aku mohon doakan aku berhasil Madam. Aku sangat mencintai Ayra. Dan aku harus berhasil mendapatkan restu kakek, supaya aku bisa menikahi Ayra”
Madam O menggenggam tangan Devara.
“Tuan muda, saya akan selalu mendoakan semua yang terbaik untuk Anda dan nona Ayra"
"Ingat Madam, kau harus menjaga rahasia ini. Jangan sampai Ayahku tahu masalah ini. Aku ingin menyelesaikan masalahku sendiri. Aku akan membuktikan pada semuanya bahwa aku sudah berubah dan aku akan berjuang untuk mendapatkan wanitaku”
“Baik tuan muda. Semoga tuan muda berhasil”
“Terima kasih Madam”
Madam O kemudian memeluk tubuh besar Devara. Tuan muda yang sudah dianggap cucu oleh Madam O. Meskipun beliau sangat keras dan tegas namun Madam O sangat menyayangi Devara. Dialah yang sudah mengasuh Devara sejak kecil bersama dengan Agatha dan tuan besar Adolfo, kakek Devara.
****
Keesokan harinya,
__ADS_1
Devara datang sendiri ke kediaman kakek Arya. Seorang pelayan membukakan pintu untuk Devara dan mempersilahkan Devara menunggu di ruang tamu. Devara bersiap menerima tantangan kedua dari kakek Arya.
“Kau sudah datang?”tanya kakek Arya begitu melihat kedatangan Devara
“Iya kek”jawab Devara
“Baiklah! Apa kau siap dengan tantangan keduaku?”tanya kakek
“Saya siap kek”jawab Devara tegas
“Aku suka rasa percaya dirimu itu. Kita lihat apa setelah ini kau masih akan sepercaya diri itu”sindir kakek dengan tatapan tajamnya
Keduanya kemudian berjalan ke arah mobil. Sekali lagi Devara tak tahu akan dibawa kemana oleh kakek Arya. Beliau selalu diam dan tak banyak bicara sepanjang perjalanan.
“Kali ini hukuman seperti apa yang harus aku jalani?”gumam Devara dalam hati
Devara selalu menganggap tantangan yang diberikan padanya adalah bagian dari hukuman kakek Arya padanya karena dulu pernah menyakiti hati Ayra. Karena itu, meskipun tantangan di kamp militer sangat berat, namun Devara berusaha ikhlas menerimanya sebagai bagian dari hukuman yang harus diterimanya karena pernah membuat Ayra bersedih dan sangat terluka oleh perbuatannya hampir dua tahun yang lalu.
Kini keduanya tiba di sebuah desa yang lumayan jauh dari kota. Sebuah desa yang terpencil mirip dengan desa kakek buyut Ayrin, bunda Ayra yang pernah dikunjungi Devara dan keluarga Ayra. Desa yang masih asri dengan pemandangan hijau yang menyejukkan mata. Desa yang masih tradisional, sepanjang mata memandang pepohonan hijau tinggi menjulang berjajar di sekitar perumahan warga. Jarak antar rumah lumayan berjauhan. Rumah di desa itu memiliki pekarangan yang luas.
Mobil melaju menuju sebuah rumah yang dikelilingi pagar tinggi di sekelilingnya. Mobil masuk rumah setelah seorang lelaki paruh baya membukakan pintu gerbang setelah tahu sang pemilik rumahlah yang datang berkunjung.
Sampai di depan rumah, mobil berhenti.
“Turunlah”pinta kakek Arya
Devara menuruti keinginan kakek Arya dan turun dari mobil. Devara mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumah.
“Ini dimana kek?”tanya Devara
“Kau tak perlu tahu”jawab kakek sambil melangkahkan kakinya memasuki rumah bergaya klasik modern itu.
“Apa kau akan di luar terus? Masuklah ke dalam”ajak kakek Arya
Devara memasuki rumah itu dan duduk di ruang tamu. Seorang wanita paruh baya berjalan dari dalam rumah dan menyapa kakek Arya.
“Selamat pagi tuan besar”sapa bi Inem.
“Pagi bi”
“Tuan besar sendirian saja?”tanya bi Inem
“Kenalkan, dia Devara. Dia disini untuk membantu pak Wal”kakek mengenalkan Devara
Bi Inem langsung mengernyitkan dahinya. Wajahnya juga terlihat bingung setelah mendengar penjelasan kakek Arya. Bahkan bi Inem melihat Devara dari atas rambut sampai kaki berkali-kali.
“Lelaki seperti ini akan membantu si Wal? Apa tuan besar bercanda?”gumam bi Inem dalam hati
“Kenapa bi Inem melihatku seperti itu? Sebenarnya apa pekerjaan pak Wal yang barusan disebut kakek? Ini sungguh mencurigakan”gumam Devara dalam hati sambil melirik ke arah kakek.
__ADS_1
Sementara yang dilirik dari tadi, sama sekali tak melihat lirikan Devara yang seolah menuntut penjelasan. Devara dibuat penasaran dengan tantangan kakek Arya kali ini.