Falling In Love With Trouble Maker

Falling In Love With Trouble Maker
Menang Banyak


__ADS_3

Sepanjang perjalanan menuju ruang makan, Devara menatap wanita yang sangat dicintainya dengan tatapan memuja. Betapa Devara sangat mencintai wanita itu. Wanita yang sanggup merubah seorang traoublemaker di sekolah menjadi lelaki yang hanya terpaku pada satu wanita.


“Kenapa menatapku seperti itu?”tanya Ayra melihat tatapan penuh cinta di mata sang suami.


“Nothing”ucap Devara dengan santainya.


“Iisshhh..Bohong”balas Ayra dengan tatapan tajam.


Devara melingkarkan tangannya di bahu Ayra dan mendekap wanitanya.


“Aku hanya tak menyangka bisa bertekuk lutut di hadapanmu dan jatuh cinta sedalam ini pada seorang wanita”ucap Devara


“Itu karena kita memang sudah ditakdirkan bersama”sahut Ayra sambil mendongakkan kepalanya menatap sang suami.


Devara tersenyum dan mengecup lembut kening Ayra. Keduanya benar-benar menikmati kehidupan baru mereka sebagai sepasang suami istri.


Sesampainya di ruang makan, tiba-tiba muncul ide di kepala Devara.


“Sayang”


“Ehm”


“Maukah kau memasakkan sesuatu untukku?”pinta Devara


“Kau mau makan apa?”


“Terserah. Aku bisa makan apapun yang kau buatkan”


“Baiklah”


Ayra menuruti keinginan Devara. Keduanya kini berjalan menuju dapur. Sebelumnya Devara sudah memerintahkan Nanny untuk mengosongkan dapur. Karena Devara hanya ingin berduaan saja dengan Ayra tanpa seorangpun yang mengganggu.


Sesampainya di dapur, Ayra segera berjalan ke arah lemari pendingin dua pintu yang ada di salah satu sudut dapur. Ayra membuka perlahan lemari pendingin yang berisi sayur, buah-buahan serta bahan makanan. Ayra mengedarkan pandangannya dan tampak berpikir sejenak. Diambilnya lima butir telur dan bawang bombay, paprika, daging asap dan beberapa bahan sebagai isian. Ayra ingin membuatkan Devara omelet.


Devara sengaja duduk tak jauh dari Ayra. Ditatapnya sang istri yang sedang sibuk mengolah makanan untuk sarapan keduanya. Tangan Ayra begitu terampil meracik omelet itu. Sesekali Ayra melirik Devara yang terus menatapnya tanpa berpaling sedikitpun.


“Duduklah di ruang makan. Sebentar lagi omeletnya jadi”pinta Ayra


Devara menggelengkan kepalanya pelan. Menolak permintaan Ayra.


“Aku ingin melihatmu memasak untukku”ucap Devara tegas sambil bibirnya mengerucut seolah memberikan ciuman pada Ayra.


Membuat Ayra tersenyum melihat kelakuan Devara yang selalu menggodanya. Ayra melanjutkan acara memasaknya tanpa ingin terganggu keberadaan Devara. Ayra memasak omelet itu dengan konsentrasi tinggi. Karena Ayra ingin mempersembahkan omelet spesial untuk Devara.


Ketika sedang asyik memasak, Devara justru berjalan menghampiri Ayra dan memeluk tubuh mungil Ayra dari belakang.


“Dev..aku baru masak”keluh Ayra karena Devara memeluk tubuhnya dengan erat.

__ADS_1


Devara meletakkan tangan kanannya di wajah Ayra kemudian memaksa wajah Ayra menoleh padanya. Dengan gerakan cepat, Devara mencium bibir lembut Ayra membuat Ayra memejamkan matanya mendapat serangan dari Devara.


“Kau terlihat seksi saat memasak seperti ini”goda Devara


“Cih..gombal”keluh Ayra sambil mengerucutkan bibirnya


“Duduklah sana..nanti omeletku gosong”pinta Ayra


Devara menuruti permintaan Ayra dan duduk di kursi sambil menikmati pemandangan indah wanitanya yang memasak untuknya.


Setelah beberapa saat, omeletpun jadi. Aroma omelet yang sangat menggiurkan membuat Devara ingin segera menyantapnya. Ayra dan Devara sarapan di dapur. Karena jika harus membawanya ke ruang makan, jaraknya terlalu jauh. Lagipula Ayra ingin segera makan, karena perutnya sudah kelaparan. Ayra perlu mengisi kembali tenaganya setelah energinya terkuras akibat pergulatan panas antara dirinya dan Devara semalam.


Dua omelet tersaji di atas piring. Keduanya duduk saling berhadapan.


“Selamat makan”ucap Ayra


Ayra yang kelaparan langsung menyantap omelet buatannya. Tanpa Ayra sadari saat ini Devara sedang menatapnya dengan tajam.


“Kenapa tidak dimakan Dev? Bukannya tadi kau bilang sudah lapar?”tanya Ayra melihat Devara hanya menatapnya tanpa menyentuh omelet buatannya.


Devara menarik kursi miliknya hingga kursinya bersebelahan dengan Ayra. Devara juga menggeser piringnya hingga berada di depannya. Ayra menatap tingkah laku Devara dengan penuh tanda tanya.


“Bukannya tadi dia bilang udah lapar?”gumam Ayra dalam hati.


Devara menarik lengan Ayra lalu memaksa Ayra duduk di pangkuannya.


“Aku ingin makan bersama dengan istriku”ucap Devara dengan lembut.


Ayra tersenyum mendengar permintaan Devara.


“Baiklah..sini aku suapi”sahut Ayra.


Ayra mengiris omelet di piring Devara menjadi beberapa bagian sehingga memudahkan untuk memakannya. Ayra mengambil satu irisan kecil dan mengarahkannya pada Devara.


“Aaa..”pinta Ayra sambil menyendokkan omelet buatannya ke mulut Devara


Devara membuka mulutnya dan menyantap omelet yang disuapkan Ayra.


“Bagaimana?”tanya Ayra.


Devara mengunyah omelet di mulutnya sambil manggut-manggut karena memang omelet Ayra sangat lezat.


“Enak banget”jawab Devara setelah menghabiskan omelet di dalam mulutnya.


Devara ganti mengambil irisan kecil omelet lalu ganti menyuapkan pada Ayra. Ayra membuka mulutnya dan hendak memakan omelet yang disodorkan Devara. Namun Devara malah mengerjai Ayra. Membuat Ayra terpaksa mendekatkan tubuhnya karena Devara menarik ke bawah sendoknya hingga wajah Ayra mendekat pada dirinya. Sedetik kemudian, Devara langsung mencium bibir lembut Ayra.


“Mmuaach”

__ADS_1


Ayra yang sudah kecolongan dengan kelakuan Devara yang malah mencium bibirnya, merasa tidak terima. Ayra memukul pelan dada bidang Devara yang duduk di bawahnya.


“Iihhh..Dev”gerutu Ayra sambil memukul pelan dada sang suami


“Hahaha”


Devara malah tertawa dengan renyahnya melihat Ayra yang marah karena sudah dikerjainya. Ayra mengerucutkan bibirnya saking kesalnya.


“Jangan ngambek gitu! Itu tadi bayaran karena kau sudah memasakkan sarapan yang sangat lezat untukku. Apa masih kurang?”goda Devara


Devara memajukan tubuhnya hendak mencium Ayra lagi. Ayra kelabakan dengan polah tingkah Devara yang terus-terusan menggodanya. Dengan cepat Ayra menahan tubuh Devara dengan meletakkan kedua tangannya di dada bidang Devara.


“Udah jangan maju-maju”pinta Ayra sambil mendorong pelan tubuh Devara.


“Kenapa sayang? Aku sangat siap jika bayaranku masih kurang”goda Devara


“Haisshh..maunya”gerutu Ayra


Devara tertawa lagi melihat Ayra yang kesal dengan godaannya.


“Udah ah..aku mau makan”pinta Ayra


“Oke..kita makan sekarang”ajak Devara


Tapi bukan Devara namanya jika tidak bisa mengerjai Ayra. Di sela-sela mereka sarapan bersama, Devara terus-terusan menggoda Ayra. Devara selalu berhasil mencium bibir Ayra. Membuat Ayra kewalahan dengan kelakuan Devara yang terus mengerjainya.


“Dev”seru Ayra kesal


“Hahahaha”


Keduanya sarapan pagi dengan bahagia. Lebih tepatnya Devara yang bahagia karena pagi itu dia “menang banyak”. Sementara Ayra yang dikerjai lama kelamaan jadi kesal namun tetap tersenyum dengan kelakuan lelaki yang sudah sah menjadi suaminya.


Akhirnya sarapan pagi mereka selesai. Ayra sengaja mengajak Devara untuk mencuci piring berdua. Devara menurut saja dengan permintaan Ayra. Walaupun pada kenyataannya, hanya Ayra yang mencuci piring sementara Devara terus memeluk tubuh Ayra dari belakang. Memperhatikan Ayra yang sedang sibuk mencuci piring.


“Tadi bilangnya mau bantuin cuci piring?”keluh Ayra


“Aku bantuin..bantu doa, hahahaha”


“Hisshh”gerutu Ayra dengan tangan yang masih sibuk mencuci piring.


Devara yang memeluk tubuh Ayra dari belakang, menciumi leher dan bahu Ayra. Membuat Ayra kegelian.


“Udah Dev..hentikan! Geli tau”pinta Ayra.


“Oke..oke..”jawab Devara


Devara akhirnya menuruti permintaan Ayra dan memilih diam selama Ayra mencuci piring.

__ADS_1


__ADS_2