Falling In Love With Trouble Maker

Falling In Love With Trouble Maker
Wajah "Malaikat"


__ADS_3

Teeettttt…ttteeeeeettttt


Bel istirahat berbunyi.


Semua siswa segera berhamburan keluar kelas. Devara ternyata sudah keluar kelasnya lebih awal daripada Ayra. Devara segera masuk ke dalam kelas, sementara Ayra masih merapikan buku dan meja kursinya. Melihat Devara yang sudah menunggunya membuat Ayra penasaran.


“Kamu cepet banget keluar kelasnya? Tadi ga bolos pelajaran kan?”tanya Ayra penasaran.


Nadine yang berdiri di belakang Devara, malah yang menjawab.


“Kau seperti ga tau kelakuan Devara aja sih Ay? Gurunya belum selesai, masih 5 menit, udah diganggu-ganggu sama dia. Akhirnya gurunya ngalah terus keluar kelas 5 menit sebelum bel. Tau deh, ngebet banget pingin ketemu. Padahal kan kalian kemana-mana berdua terus”


“Berisik kamu Nad”protes Devara pada Nadine. Daniel menghampiri Nadine dan meraih tangannya.


“Jangan kasar kamu Dev. Aku tak suka kau bicara kasar pada pacarku”ucap Daniel membuat Nadine bersemu merah karena malu.


“Lihat! Siapa sekarang yang kebelet pingin ketemu”goda Devara pada dua sahabatnya itu.


“Udah ayo ke kantin. Aku lapar”ucap Devara sambil menggandeng tangan Ayra lalu menarik Ayra keluar kelas.


Keempatnya berjalan bersama menuju kantin. Mereka bercanda dan ngobrol bersama. Masing-masing saling menggandeng tangan pasangannya. Mereka terlihat sangat bahagia. Ditengah perjalanan menuju kantin, seorang gadis cantik tampak berlari ke arah Devara.


“Devaraaaaaa”seru gadis itu membuat Devara menoleh ke arah suara.


Gadis itu langsung memeluk tubuh besar Devara.


“Aku merindukanmu”ucap gadis itu dalam pelukan Devara.


Devara pasrah saja tubuhnya dipeluk gadis itu. Sementara tangan Devara masih menggenggam tangan Aira.


“Apa kau merindukanku?”ucap gadis itu sambil mendongakkan kepalanya menatap Devara manja.


“Siapa gadis ini? Kenapa dia langsung memeluk Devara seperti itu?”gumam Ayra dalam hati.


“Apa kabar Gina?”sapa Nadine


Gadis itu menoleh pada Nadine, lalu melepaskan pelukannya dari tubuh Devara.


“Jadi dia yang bernama Georgina?”gumam Ayra dalam hati


“Hai Nad..apa kabar?”sapa Gina


“Kau disini juga Dan?”tanya Gina pada Daniel


Melihat kedua pasangan itu bergandengan tangan, Gina tersenyum.


“Pasangan sahabat aneh ini akhirnya jadian juga”cibir Gina dalam hati


“Kalian jadian juga akhirnya. Selamat ya”


“Terimakasih”balas Nadine.


Nadine menggenggam erat tangan Daniel. Membuat Daniel menoleh. Sepertinya Daniel bisa membaca kekhawatiran Nadine karena kehadiran Georgina di tengah-tengah mereka lagi. Devara mendekatkan tubuhnya pada Ayra lalu melingkarkan tangannya di pinggang ramping Ayra. Membuat Ayra kaget dengan perlakuan Devara.


“Apa kabar Gina? Lama kita tidak bertemu. Kau sudah sembuh?”sapa Devara


Gina melihat Devara yang melingkarkan tangannya pada Ayra, sorot matanya menunjukkan ketidaksukaan.


“Jadi gadis kampungan ini pacar Devara sekarang”cibir Gina dalam hati.


Tapi segera dia memasang wajah “malaikat”nya dan sebuah senyuman manis terbit di wajah cantiknya.


“Aku senaaang sekali, akhirnya sudah diperbolehkan dokter untuk pulang ke Indonesia. Aku bosan di US. Harus bolak-balik menjalani rehabilitasi. Tapi aku masih harus terus kontrol untuk memastikan kesehatanku”jelas Gina panjang lebar


“Siapa ini Dev? Kau tak mau mengenalkan dia padaku?”tanya Gina dengan manja.


“Kenalkan ini Ayra, pacarku”ucap Devara sambil memandang Ayra lembut.


Gina samasekali tak menyukai tatapan penuh cinta yang ditujukan Devara pada Ayra, karena bagi Gina, Devara adalah miliknya. Gina segera meraih tubuh Ayra lalu memeluknya.


“Aku Gina. Senang bertemu denganmu Ayra. Semoga kita bisa berteman ya?”sapa Gina ramah


“Oh..iya..Salam kenal Gina. Semoga kita berteman baik”balas Ayra.


“Kakak”seru Angel yang kemudian menyusul Gina.


“Hah..kakak? Jadi Gina kakak perempuan Angel?”tanya Ayra dalam hati


Angel mendekati Gina.


“Ada apa?”tanya Gina


“Kakak harus menghadap kepala sekolah dulu”ajak Angel


“Hmm..begitu ya. Baiklah. Aku pergi dulu ya Dev”ucap Gina


Devara hanya mengangguk. Angel menggandeng tangan Gina dan mengajaknya menjauh menuju ruang kepala sekolah. Setelah Gina pergi, Ayra segera menyingkirkan tangan Devara yang sejak tadi melingkar di pinggangnya.

__ADS_1


“Jadi dia yang bernama Gina, cantik juga”ucap Ayra sambil menatap penuh kekesalan pada Devara.


Devara mengernyitkan dahinya melihat tatapan Ayra yang penuh kemarahan.


“Kenapa kau melihatku seperti itu?”tanya Devara


“Kenapa kau diam saja tadi Gina memelukmu?”ucap Ayra kesal


“Kita pergi saja dari sini. Biarkan mereka selesaikan masalah mereka”ajak Daniel pada Nadine, diikuti anggukan kepala Nadine tanda setuju.


Ayra kesal, karena Devara pasrah saja tadi dipeluk Gina.


“Aku tadi kaget, karena Gina tiba-tiba memelukku. Kau lihat sendiri kan”


“Kalo aku tiba-tiba dipeluk kak Rio, apa kau akan diam saja?”tanya Ayra dengan tatapan tajam.


“Coba saja kalo dia berani, akan kupatahkan tangan dan kakinya jika dia berani memelukmu”jawab Devara tegas.


Ucapan Devara berhasil membuat Ayra tersenyum melihat kelakuan “gila” pacarnya itu.


“Ayo ke kantin sekarang. Aku sudah lapar sekali. Gara-gara Gina aku terlambat ke kantin”ajak Devara


Ayra diam saja ketika Devara langsung menarik tangannya. Mereka berdua berjalan bersama ke kantin lantai tiga. Devara sudah tak sabar untuk menikmati kebersamaannya dengan Ayra. Karena biasanya saat jam istirahat, Ayra akan menyuapi Devara sementara Devara akan bersantai di pangkuan Ayra.


Sementara itu,


“Jadi gadis itu yang bernama Ayra?”tanya Gina pada adiknya


“Iya kak. Gadis sialan itu yang sudah membuat kak Devara jatuh cinta dan berubah sangat jauh. Dia juga yang sudah membuat aku harus menelan penghinaan di depan kak Devara”ucap Angel dengan penuh kemarahan


“Simpan dulu kemarahanmu. Kita harus membalas gadis itu perlahan. Hingga dia sendiri yang memilih meninggalkan Devara”sahut Gina


“Apa rencana kakak?”tanya Angel penasaran


“Kau cukup ikuti saja perintahku”jawab Gina


“Baiklah kak. Aku percaya pada kakak”ucap Angel


Tibalah keduanya di depan ruang kepala sekolah. Setelah mengetuk pintu, keduanya dipersilahkan masuk.


*


*


*


*


Sampai di lift, Devara yang melihat Ayra melamun, menyentil pelan dahi Ayra hingga Ayra mengaduh.


“Pletakk”


“Aduhh..kenapa disentil sih Dev? Sakitt”gerutu Ayra menatap kesal pada Devara.


Membuat Nadine dan Daniel terkekeh melihat interaksi kedua pasangan gila itu.


“Apa yang kau pikirkan?”tanya Devara


“Enggg..tidak..aku tidak memikirkan apa-apa”kelit Ayra bohong


“Apa kau cemas karena kehadiran Gina?”tebak Devara sambil menggandeng Ayra keluar lift dan berjalan menuju ruang makannya di lantai III itu.


Ayra sampai melongo karena tebakan Devara yang sangat jitu.


“Daebakkk..apa dia punya indera keenam? Atau jangan-jangan dia bisa membaca pikiranku?”gumam Ayra dalam hati.


Begitu melihat masakan dan aneka jajanan yang tersaji di atas meja, entah mengapa malah membuat na*su makan Ayra bertambah. Ayra mengambil beberapa makanan dan membawanya menuju kursi sofa yang biasa dipakainya bersama Devara. Devara yang sedang mencicipi buah-buahan sampai melongo melihat Ayra yang tak seperti biasanya. Karena Ayra bolak-balik mengambil makanan yang disajikan para koki lalu membawanya ke tempat favoritnya. Devara dan Daniel sampai bertatapan menyaksikan kelakuan Ayra yang tak biasanya.


“Dan, tadi pelajaranmu apa? Kenapa Ayra seperti kalap mengambil semua makanan itu, hah?”tanya Devara


“Iya, kenapa hari ini Ayra makannya banyak banget?”tanya Nadine juga keheranan


“Kalian juga berpikir begitu kan?”ucap Devara


“Kalian tidak mau makan? Ini aku sudah ambilkan makanan untuk kita semua..Ayo cepat duduk!”seru Ayra sambil melambaikan tangannya mengajak pacar dan sahabatnya makan bersama.


Devara, Nadine dan Daniel akhirnya menurut. Mereka berjalan menuju kursi sofa yang biasa mereka pakai. Devara menatap deretan makanan yang ada di atas meja dengan penuh keheranan.


“Hei Ay..kau mau makan semua makanan ini?”tanya Devara


“Buka mulutmu..aaaaa…”pinta Ayra sambil tersenyum.


Ayra meminta Devara membuka mulutnya. Begitu Devara membuka mulutnya, Ayra segera menyuapi Devara.


“Enak kan?”tanya Ayra


Devara menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


“Kau pikir aku akan sanggup menghabiskan semua makanan ini? Enggak mungkin lah. Tadi aku lihat makanan itu sangat enak. Makanya aku ambilkan untuk kita semua. Ayo Nad, Dan kalian juga makan”pinta Ayra


Akhirnya mereka berempat menikmati makanan itu sambil ngobrol dan bercanda bersama. Nadine yang dari tadi masih memikirkan Gina, menatap ke arah Devara dan Ayra yang sedang sangat bahagia.


“Semoga saja Gina sudah berubah dan tak akan menganggu hubungan Dev dan Ayra”gumam Nadine dalam hati


Daniel yang mengerti kegundahan Nadine, menggenggam tangannya membuat Nadine menoleh pada Daniel.


“Apa yang kau pikirkan? Apa kau juga mencemaskan kehadiran Gina?”tanya Daniel lirih


“Bagaimana kau bisa tahu?”tanya Nadine


“Kita sudah bersama selama ini, mana mungkin aku tak tahu apa yang kau pikirkan? Terlebih kau seperti ini setelah bertemu dengan Gina”ujar Daniel


“Aku khawatir Gina akan mengganggu hubungan Dev dan Ayra”


“Tenanglah! Dia tak kan berani melakukannya. Jika dia melakukannya, kita akan menghalanginya”ucap Daniel mencoba menenangkan Nadine


“Kalian bicara apa?”tanya Ayra yang keheranan melihat ekspresi serius di wajah kedua pasangan kekasih itu.


“Bukan apa-apa”kelit Nadine sambil tersenyum


Devara merebahkan kepalanya di pangkuan Ayra.


“Jangan ganggu mereka..kita makan saja”ucap Devara


“Kau mau makan apa?”tanya Ayra sambil mengelus lembut rambut Devara yang hitam dan halus.


“Buah saja”pinta Devara


Ayra berusaha mengambil piring berisi potongan buah-buahan yang tadi sudah diambilnya. Tapi karena letaknya agak jauh, membuat Ayra harus membungkukkan badannya. Dan tentu saja hal itu justru membuat Devara kelabakan. Bagaimana tidak, di atas kepalanya Devara disuguhi pemandangan gundukan kembar Ayra yang bergerak mendekati wajahnya.


“Sialan! Kenapa pa****ranya semakin mendekat? Apa-apaan ini?”gumam Devara dalam hati


Devara yang kaget, segera duduk. Dan wajahnya pun memerah karena malu. Ayra yang tak mengetahui kesalahannya menatap Devara penuh kebingungan.


“Kenapa wajahmu merah?”tanya Ayra sambil memegang wajah Devara yang memerah.


“Apa kau sakit?”tanya Ayra kuatir karena tiba-tiba wajah Devara memerah


“Hyaa..kenapa tadi kau membungkukkan badanmu?”sungut Devara


Ayra, Nadine dan Daniel mengernyitkan dahinya mendengar penuturan Devara.


“Apa kau tahu .. “itu”mu hampir mengenai wajahku?”tunjuk Devara pada gundukan kembar Ayra.


Ayra yang mengikuti arah tangan Devara yang menunjuk pada gundukan kembarnya spontan melotot dan menyilangkan tangannya di depan dadanya melindungi “miliknya”.


“Hhahahaha”Daniel yang paham maksud Devara tertawa terbahak-bahak


Nadine pun ikut tertawa mendengar pengakuan Devara. Sementara Ayra yang malu segera memukul lengan Devara berkali-kali sekuat tenaga.


“Devaraaaaaa”teriak Ayra menahan malu.


“Aku membencimu”gerutu Ayra sambil cemberut.


“Hei..harusnya aku yang marah..kenapa malah kau yang marah”sungut Devara tak mau kalah. Karena dia yang sebenarnya “korban” dari situasi ini.


Ayra yang kesal pada Devara memalingkan wajahnya. Devara yang merasa bersalah berusaha meminta maaf.


“Sayang..jangan marah”rayu Devara


“Baiklah..aku minta maaf..okee?!”pinta Devara. Ayra terus saja memalingkan wajahnya dan tak menghiraukan ucapan Devara.


Devara berusaha dengan segala cara untuk meminta maaf pada Ayra tapi Ayra terus saja mengacuhkannya. Karena waktu istirahat hampir habis, Daniel mengajak Nadine kembali ke kelas.


“Sudah..kita kembali saja ke kelas. Tak ada gunanya kita disini. Biarkan mereka menyelesaikan masalahnya” Daniel mengulurkan tangannya dan disambut oleh Nadine.


“Dev..Ay..kami kembali dulu ke kelas.. kalian silahkan selesaikan masalah kalian. Kami pergi dulu”ucap Daniel sambil menggandeng tangan Nadine.


“Aku duluan ya Ay”ucap Nadine


Ayra yang melihat dua sahabatnya pergi hendak menyusul mereka.


“Aku ikut”ucap Ayra sambil beranjak dari kursinya.


“Kau mau pergi kemana?”tanya Devara sambil menarik pergelangan tangan Ayra.


“Aku juga mau kembali ke kelas. Sebentar lagi kelas mau dimulai”ucap Ayra


Devara menahan Ayra, sehingga Ayra tak bisa menyusul Nadine dan Daniel yang sudah lebih dulu pergi ke kelas mereka.


“Lepaskan Dev”pinta Ayra


Devara segera menarik tubuh Ayra ke dalam pelukannya. Devara memeluk Ayra dengan sangat erat.


“Jangan pergi..aku masih sangat merindukanmu”bisik Devara di telinga Ayra.

__ADS_1


Ayra yang mendengar pengakuan Devara tersenyum bahagia, karena lelaki yang sangat dicintainya begitu merindukannya.


“Aku juga merindukanmu”balas Ayra sambil memeluk Devara. Keduanya berpelukan melepaskan kerinduan yang sudah dua hari ini dirasakan.


__ADS_2