Falling In Love With Trouble Maker

Falling In Love With Trouble Maker
Jangan Menggodaku


__ADS_3

“Apa jangan-jangan..Ayra menyesal menikah denganmu?”tanya Catherine


“Sialan! Ga lucu banget kak”gerutu Devara kesal


“Hahahahaha”


Catherine tertawa terbahak-bahak karena tahu adiknya sedang kesal mendengar candaannya barusan.


“Maaf-maaf..Jangan marah adikku sayang”pinta Catherine meminta maaf


“Makanya cepatlah fitting gaun pengantinnya. Apa perlu pegawai kakak yang ke rumahmu?”tanya Catherine


“Aku tanyakan dulu sama Ayra. Aku tak mau mengganggu jadwal kuliahnya. Apalagi semester ini dia sibuk rencana magang”jelas Devara


“Lhoh bukannya nanti setelah menikah kalian kesini (ke Inggris)?”tanya Catherine


“Apa tidak sebaiknya Ayra segera mengurus berkas kepindahannya kemari? Jadi dia bisa melanjutkan kuliah disini”saran Catherine


Devara tampak berpikir sejenak.


“Benar juga. Kenapa aku tak berpikir seperti itu”gumam Devara dalam hati.


“Hei..kenapa diam Dev?”tanya Catherine


“Maaf kak..Aku sedang memikirkan ucapan kakak. Terimakasih kak sudah mengingatkanku. Aku tak berpikir seperti itu sebelumnya”ucap Devara


“Itulah gunanya seorang kakak. Mengingatkan adiknya yang mendadak bodoh gara-gara mau menikah dengan gadis yang disukainya, hahahaha”seloroh Catherine sambil tertawa.


“Ck..wanita aneh. Bisa-bisanya kak Arga mencintai wanita aneh seperti kakak”sindir Devara.


“Jangan menghinaku ya”gerutu Catherine


“Aku hubungi kakak lagi nanti masalah fitting gaun pengantin Ayra”pinta Devara


“Bener lho ya..segera hubungi kakak”


“Iya..iya..dasar cerewet. Salam untuk kak Arga. Semoga kak Arga bisa bersabar menghadapi musibah yang berat ini”goda Devara


“Musibah?”tanya Catherine penasaran.


“Kakak itu musibahnya, hahahaha”balas Devara sambil tertawa terbahak-bahak setelah berhasil mengerjai kakak perempuannya.


Devara langsung menutup sambungan teleponnya dengan Catherine sebelum amarah Catherine meledak mendengarkan candaan Devara barusan.


“Devaraaaaaaa”teriak Catherine sambil mengepalkan tangannya karena Devara sudah mengatai dirinya.


Devara tampak sangat bahagia karena sudah berhasil membuat marah kakak perempuannya.


“Tok..tok..tok”


Pintu kamar Devara diketuk dari luar.


“Siapa di luar?”


“Ini aku”jawab Ayra.


Mendengar suara wanitanya, Devara segera berlari ke arah pintu dan membukakan pintu kamarnya untuk gadis yang sebentar lagi menjadi istrinya.


“Ada apa sayang?”tanya Devara sambil terengah-engah


Ayra mengernyitkan dahinya melihat Devara yang terengah-engah.


“Kamu kenapa ngos-ngosan gitu?”tanya Ayra penasaran


“Ga kok..aku tadi langsung lari begitu mendengar suaramu”jawab Devara


“Kau mau masuk ke dalam?”goda Devara dengan  seringai nakal di wajahnya sambil membuka pintu kamarnya lebih lebar.


“Apaan sih?”Ayra tersipu malu dengan godaan Devara.

__ADS_1


“Aku cuma mau tanya, kamu mau makan malam ga? Aku dah lapar”ucap Ayra sambil memegang perutnya.


“Oh..aku kirain kamu mau masuk ke dalam”goda Devara lagi


“Ya  udah..ayo kita makan”ajak Devara sambil menutup pintu kamarnya.


Devara memegang tangan Ayra dan menggenggamnya dengan erat. Tak dihiraukannya beberapa pelayan dan bodyguard yang berada di rumahnya yang kebetulan melintas berpapasan dengan mereka berdua.


“Bisa ga sih jalannya ga usah pegangan tangan? Ini kan di dalam rumah Dev?”tanya Ayra sambil mencoba melepaskan genggaman tangan Ayra.


“Ga bisa”jawab Devara tegas.


Keduanya berjalan sampai di ruang makan. Sesampainya di ruang makan, Devara segera menarik sebuah kursi untuk calon istrinya.


“Silahkan nyonya Devara”goda Devara sambil berlagak seperti seorang pelayan yang mempersilahkan majikannya.


Devara bahkan sedikit membungkukkan badannya saat mempersilahkan Ayra duduk.


“Terimakasih”sahut Ayra lembut


Devara kemudian menarik sebuah kursi untuk dirinya sendiri. Keduanya makan malam berdua di rumah besar itu. Satu per satu pelayan membawa masuk hidangan makan malam untuk majikannya.


Ayra dan Devara makan malam bermandikan cahaya lilin. Candle light dinner. Semakin hari Ayra semakin merasakan kelembutan dan keromantisan seorang Devara Alexander. Lelaki muda yang sebentar lagi menjadi suaminya itu.


Mereka makan malam berdua dalam suasana yang sangat hangat dan romantis. Selesai menyantap makan malamnya, keduanya kembali duduk di ruang santai untuk menikmati pemandangan malam yang begitu indah. Apalagi malam itu, bulan bersinar dengan sangat indah. Pantulan cahaya bulan purnama yang memancar dengan sangat indah menyinari malam yang berhias bintang-bintang yang seakan menari-nari di langit.


Dua sejoli yang saling mencintai itu, tampak menikmati pemadangan indah di depan mata mereka. Keduanya duduk dengan kepala Ayra yang bersandar di dada bidang Devara.


Pemandangan indah malam ini mengingatkan Ayra akan kejadian yang mereka berdua alami di rumah kabin hampir tiga tahun yang lalu.


“Dev”sapa Ayra


“Ada apa?”tanya Devara


“Apa kau ingat waktu kita terjebak di rumah kabinmu waktu camping trip dulu?”tanya Ayra.


Devara tampak berpikir sejenak mengingat kenangan antara dirinya dan Ayra beberapa tahun silam. Kenangan indah antara keduanya.


“Memangnya kenapa? Tiba-tiba kau menanyakan kejadian itu?”tanya Devara


“Entahlah..melihat pemandangan indah malam ini justru mengingatkanku pada kejadian malam itu”jawab Ayra.


“Oya Ay..sampai sekarang aku masih penasaran”


“Penasaran tentang apa?”tanya Ayra


“Sejak kapan kau mulai menyukaiku?”tanya Devara


Ayra membelalakkan matanya kala mendengar pertanyaan Devara.


“Kenapa kau tiba-tiba ingin tahu masalah itu?”


“Aku hanya penasaran saja. Cepat jawablah! Sejak kapan?”pinta Devara dengan menggebu-gebu.


“Sejak kapan ya?”


Ayra memasang wajah serius seolah sedang berpikir keras.


“Malah nanya..gimana sih?”gerutu Devara kesal


Ayra terkekeh mendengar Devara yang kesal. Ayra mendongakkan kepalanya untuk melihat ekspresi wajah Devara yang sedang kesal. Devara mengerucutkan bibirnya dengan ekspresi jengkel mendengar Ayra tak segera menjawab pertanyaannya. Ayra yang melihat wajah kesal Devara langsung menyentuh wajah itu dan dihadapkan ke arahnya.


“Kau mau tahu?”


Devara semakin memasang wajah sangarnya.


“Aku menyukaimu sejak kau menyelamatkan nyawaku”jawab Ayra


Devara semakin mengernyitkan dahinya.

__ADS_1


“Aku kan udah menyelamatkanmu beberapa kali. Penyelamatan yang ke berapa hingga kau menyadari kau menyukaiku?”tanya Devara


“Saat kau menyelamatkanku dari preman-preman itu”jawab Ayra sambil tersenyum.


“Tunggu..itu kan awal-awal aku menyelamatkanmu. Tapi kenapa kau begitu menyebalkan saat itu”selidik Devara.


“Kau bilang aku apa? Menyebalkan? Kau itu yang lebih menyebalkan”gerutu Ayra tak terima dikatai Devara.


Ayra bahkan mencubit pinggang Devara karena sudah mengatainya.


“Aouch..sakit sayang”ucap Devara sambil menahan tangan Ayra yang akan mencubitnya lagi.


“Kamu sih”gerutu Ayra sambil memanyunkan bibirnya.


“Itu bibir bisa dikondisikan ga ya?”pinta Devara yang melihat Ayra cemberut sambil memanyunkan bibirnya karena kesal.


“Kenapa? Bibirku emang gini”jawab Ayra semakin memanyunkan bibirnya ke arah Devara.


Devara segera meraih tengkuk Ayra dan mendaratkan bibirnya di bibir Ayra yang lembut. Devara mencium bibir Ayra. Membuat Ayra membelalak melihat Devara yang tiba-tiba menciumnya. Ayra berusaha mendorong tubuh Devara, namun lelaki itu justru semakin melahap bibirnya.


“Dev..lepasin”pinta Ayra sambil mendorong keras tubuh Devara hingga ciuman mereka terlepas.


Devara menyunggingkan sudut bibirnya.


“Makanya jangan menggodaku dengan bibir seksimu itu. Untung saja aku bisa menahan diri kalo tidak..”


“Kalo tidak?”goda Ayra


“Aku akan “memakan”mu saat ini juga”bisik Devara di telinga Ayra


Membuat Ayra bergidik ngeri mendengar bisikan Devara.


“Udah ah..jangan becanda terus”ucap Ayra mencoba mengalihkan pembicaraan.


Ayra kembali menyandarkan kepalanya di dada Devara. Devara juga mengusap perlahan rambut Ayra. Devara teringat permintaan kakaknya untuk fitting gaun pengantin.


“Oya sayang..kapan kamu bisa fitting gaun pengantin?”tanya Devara


“Oh iya..aku sampai lupa belum fitting”jawab Ayra begitu teringat dirinya belum sempat fitting gaun pengantin.


“Cepatlah! Aku bosan ditelpon kak Catherine meminta kita fitting”gerutu Devara.


“Apa kita harus pulang ke kota X baru fitting?”tanya Ayra.


“Butik kak Catherine ada di sana. Tentu saja kita harus pulang dulu”jawab Devara.


“Kalo begitu, dua hari lagi kita pulang untuk fitting. Bagaimana menurutmu?”tanya Ayra


“Aku sih ga masalah. Kapanpun kau mau”ucap Devara.


“Ya udah gitu aja, dua hari lagi kita fitting. Apa perlu aku yang telpon kak Catherine?”tanya Ayra.


“Ga usah..biar aku aja yang menghadapi wanita cerewet itu”jawab Devara


“Hei Dev..jangan bicara seperti itu. Dia kan kakakmu”pinta Ayra


“Maaf sayang..aku biasa bercanda dengan kakakku seperti itu”jawab Devara


“Tapi aku ga suka kamu menyebut kak Catherine wanita cerewet”


“Lalu aku harus menyebutnya apa? Wanita bawel?”


“Ya jangan..itukan sama aja”


“Sayang..tenanglah meskipun cerewet tapi aku sayang kakakku. Dia juga sering mengataiku anak nakal. Kami sudah biasa bercanda seperti itu”jelas Devara


“Tapi setidaknya hormatilah kak Catherine. Apalagi dia kan sudah berkeluarga. Jangan sebut dia dengan panggilan seperti itu, okey?”pinta Ayra


“Baiklah sayang”jawab Devara lembut menuruti keinginan wanitanya

__ADS_1


Keduanya kemudian berbincang ringan sambil menikmati suasana malam romantis yang sangat syahdu.


__ADS_2