Falling In Love With Trouble Maker

Falling In Love With Trouble Maker
Drama Fitting Gaun Pengantin


__ADS_3

Dua hari kemudian,


Devara dan Ayra pulang kampung ke kota mereka, ke kota X. Sesuai rencana mereka akan melakukan fitting gaun pengantin. Ayra merasa nervous dan sekaligus sangat excited sebelum mencoba gaun pengantin yang akan dikenakannya di hari besarnya nanti.


Devara yang menemani Ayra, sesekali melirik gadis pujaan hatinya itu.


“Kenapa? Dari tadi senyum-senyum sendiri?”tanya Devara sambil menyetir mobil.


Ayra meraih lengan Devara dan menggelayut manja di lengan calon suaminya itu.


“Ga kenapa-kenapa..aku cuma gugup tapi juga senang karena sebentar lagi bisa nyobain gaun pengantin kita nanti”


Devara tersenyum mendengar ucapan Ayra.


“Segitu senengnya ya mau nikah sama aku?”goda Devara


Ayra langsung melepaskan pegangannya di lengan Devara dan wajahnya langsung berubah.


“Bukannya situ yang ngebet mau nikah sama aku?”tanya Ayra balik


“Emang”jawab Devara tegas


Ayra tersipu malu mendengar jawaban spontan dari Devara.


Sesampainya di butik milik kak Catherine, manajer butik segera menyambut keduanya. Dua sejoli yang sebentar lagi mengikat janji suci berdua itu terlihat sangat bahagia. Terpancar dari sorot mata keduanya yang berbinar-binar dan senyum yang terus terukir di bibir keduanya.


Di butik, Ayra mencoba beberapa gaun pengantin yang sangat indah. Karena sifat posesif Devara yang sudah akut membuat Ayra terpaksa mesti bolak balik ke ruang ganti. Semua karena Devara yang tak suka model gaun pengantin yang di coba Ayra.


Gaun pertama yang dicoba Ayra, model ballgown off shoulder berlengan panjang dengan bagian belakang backless transparan yang lumayan besar hingga memamerkan punggung mulus Ayra.


Awalnya begitu tirai penutup dibuka, Devara sempat terhipnotis melihat kecantikan Ayra. Membuat Ayra tersipu malu hingga menundukkan kepalanya.


“Bagaimana tuan muda? Nona kelihatan cantik bukan?”tanya manajer butik bernama Tamara.


“Tentu saja, dia yang tercantik”puji Devara sambil tersenyum.


Ayra balas tersenyum mendengar pujian Devara.


“Coba kau berputar sayang?”pinta Devara.


Begitu Ayra memutar tubuhnya dan memperlihatkan punggungnya yang mulus, Devara langsung membelalakkan matanya.


“Apa-apaan itu? Aku tak suka gaun ini. Cepat ganti gaun yang lain!”perintah Devara dengan suara keras


Semua pegawai dan manajer butik yang mendengar suara tinggi Devara langung ketakutan dibuatnya. Ayra yang melihat Devara marah, segera mendekati calon suaminya untuk “menjinakkannya”.


“Dev..jangan marah seperti itu. Lihatlah! Semua orang jadi ketakutan. Memang apa yang salah dengan gaun ini?”tanya Ayra


“Kau lihat itu? Punggungmu terlihat jelas. Aku tak rela ada orang yang melihatnya”ucap Devara sambil membalik tubuh Ayra.


Ayra menoleh ke belakang ke arah cermin besar yang ada di ruang ganti.

__ADS_1


“Ya ampun cuma kelihatan dikit aja, udah kebakaran jenggot gitu”gerutu Ayra dalam hati menanggapi sikap posesif Devara.


“Baiklah! Aku ganti gaunnya. Kau tunggu di sana ya?”pinta Ayra sambil menunjuk kursi sofa yang ada di butik itu.


“Oke”jawab Devara menurut.


Ayra akhirnya masuk lagi ke dalam ruang ganti.


Gaun kedua yang dicoba Ayra bahkan terlihat lebih menantang dari gaun pertama tadi. Gaun lace sweetheart neckline off shoulder lengan panjang meskipun tidak bermodel backless, namun memperlihatkan belahan dada Ayra karena modelnya yang rendah hingga memamerkan leher jenjang dan dada Ayra.


Devara yang melihat Ayra keluar dari ruang ganti langsung membelalakkan matanya.


“Gaun macam apa lagi itu? Apa kalian tak bisa memilihkan gaun yang bagus?”protes Devara dengan emosi pada pelayan dan manajer butik.


“Maaf tuan muda, gaun itu nona Catherine yang memilihkannya. Kami hanya menjalankan perintah beliau. Tolong jangan marah tuan muda”jelas manajer butik ketakutan.


“Kakak”gerutu Devara emosi sambil mengepalkan tangannya.


“Sudahlah Dev..mereka hanya menjalankan perintah kak Catherine. Kau jangan marah-marah seperti itu”ucap Ayra mencoba menenangkan Devara sambil mengelus pelan lengan Devara.


“Apa kau tak lihat? Bagian ini jelas sekali terlihat”tunjuk Devara pada bagian dada Ayra


“Semua ide buruk ini hanya akal-akalan kakakku untuk mengerjaiku”gerutu Devara


Devara langsung menghubungi Catherine yang kini berada di Inggris.


“Kakak, gaun macam apa yang kau pilihkan? Kau mau mengerjaiku ya?”gerutu Devara dengan penuh kemarahan.


“Tenang dulu Dev..ini ada apa? Kenapa kau marah-marah begitu?”tanya Catherine mencoba menenangkan Devara.


“Gaun macam apa itu yang kakak pilihkan? Lihat!”seru Devara sambil mengarahkan hp nya ke arah Ayra.


“Woww..calon istrimu kelihatan cantik sekali dengan gaun itu. Apanya yang salah Dev? Ayra terlihat cantik sekali dengan gaun itu”puji Catherine


“Apa kakak tidak lihat? Bagian ini jelas sekali terlihat”tunjuk Devara


“Aku tak sudi Ayra memakai gaun yang kekurangan kain seperti itu. Apalagi sampai memperlihatkan bagian tubuh Ayra pada tamu undangan besok. Aku tak mau”protes Devara dengan menggebu-gebu.


“Oh My God, jadi hanya karena masalah itu. Ya ampun Dev..kau itu posesif sekali pada calon istrimu”ledek Catherine


“Terserah kakak mau bicara apa”jawab Devara


“Ya sudah..kau pilihkan sendiri gaun yang cocok untuk Ayra. Kalo nanti tidak ada yang cocok, kau bisa minta manajer menunjukkan beberapa rancangan gaun dari desainer kakak. It’s that okey? ”saran Catherine


Mendengar solusi dari sang kakak, membuat emosi Devara sedikit mereda.


“Baiklah”jawab Devara


Devara mengakhiri panggilan teleponnya dengan Catherine. Kini Devara berkeliling melihat-lihat desain gaun pengantin yang terpajang di mannequin. Gaun-gaun indah dengan desain yang elegan yang pasti akan membuat siapapun yang memakainya serasa menjadi ratu sehari. Namun bukan itu saja prioritas seorang Devara Alexander. Devara tak rela jika gaun pengantin yang dipakai Ayra nantinya sampai memperlihatkan terlalu banyak bagian tubuhnya. Untuk itu Devara benar-benar memikirkan dengan matang gaun yang boleh dipakai calon istrinya itu.


Selama menunggu Devara memilih gaun, Ayra memilih duduk di kursi sofa. Ayra paham benar jika Devara sudah mengambil keputusan, maka dirinya pasti akan sulit mengubah keputusan itu. Ayra memilih mengalah dan menuruti saja keinginan lelaki labil yang sangat posesif terhadap dirinya itu. Lelaki yang sebentar lagi akan menjadi suaminya.

__ADS_1


Ayra terlihat membaca majalah tentang pernikahan yang ada di butik itu seperti majalah Wedding, Brides dan Bazaar. Sesekali Ayra melirik ke arah Devara yang terlihat sibuk memeriksa beberapa gaun sambil berdiskusi dengan manajer butik.


“Biarin deh! Aku ngikut aja kemauan Devara. Daripada dia marah-marah melulu”gumam Ayra sambil membaca majalah.


Setelah memilah dan memilih, akhirnya Devara memilih dua gaun untuk dicoba Ayra.


“Coba dua gaun itu”pinta Devara sambil menunjuk dua gaun yang dibawa pelayan butik.


Ayra mengangguk pelan. Ditemani dua pelayan tadi, Ayra kembali ke dalam ruang ganti untuk mencoba gaun pengantin yang sudah dipilih Devara.


“Tuan muda, silahkan mencoba tuxedo yang disiapkan nona Catherine”pinta manajer butik


“Baiklah”jawab Devara


Akhirnya Devara juga mencoba tuxedo yang akan dikenakannya di acara paling penting dan bersejarah dalam hidupnya. Tuxedo berwarna hitam dilengkapi dengan rompi berwarna senada, dengan kemeja lengan panjang warna putih, celana panjang warna hitam dan dasi kupu-kupu itu terlihat sangat pas di tubuh Devara.


Ayra sudah keluar dari ruang ganti. Saat tirai dibuka, semua pelayan dan manajer butik tampak tersenyum bangga melihat betapa cantiknya Ayra dalam balutan gaun pengantin yang sudah dipilihkan Devara. Devara yang masih merapikan tuxedo yang dikenakannya tak memperhatikan jika kini Ayra sudah berada di belakangnya.


“Tuan muda, nona sudah keluar”ucap manajer butik


Devara segera membalik tubuhnya. Devara begitu terpukau melihat betapa cantiknya Ayra. Bahkan Devara tak berkedip sedikitpun. Tatapan matanya begitu memuja wanita cantik itu. Membuat Ayra salah tingkah dengan tatapan penuh cinta dari Devara.


Devara melangkahkan kakinya mendekati Ayra dengan senyum yang terus terukir di wajahnya yang tampan.


Devara benar-benar pandai memilihkan gaun untuk Ayra. Gaun bermodel sleeveless v-neck lace itu membalut tubuh Ayra dengan sempurna. Apalagi dengan model A-line di bagian bawahnya semakin memancarkan kesan elegan dan feminim.


Devara melingkarkan tangannya di pinggang ramping Ayra. Membuat Ayra berusaha mendorong tubuh Devara.


“Kau mau apa?”tanya Ayra panik


Ayra takut Devara akan menciumnya di butik itu. Devara tersenyum penuh arti melihat Ayra yang salah tingkah.


“Kau cantik sekali. Tak salah aku pilihkan gaun itu”puji Devara


“Terimakasih”sahut Ayra dengan malu-malu.


“Apa tuan muda mau saya fotokan dengan nona?”tanya manajer butik.


“Iya boleh”balas Devara


Devara kemudian menyerahkan hp nya pada manajer butik. Mereka berfoto dengan mesra. Devara melingkarkan salah satu tangannya di pinggang ramping Ayra. Sedangkan tangan yang lain dimasukkan saku celana. Keduanya tersenyum penuh kebahagiaan. Keduanya terlihat sangat serasi.


“Wahh..mereka berdua serasi sekali ya”bisik pelayan butik pada temannya.


“Benar sekali. Tuan muda sangat tampan, nona juga sangat cantik. Benar-benar pasangan yang sangat serasi”puji pelayan lainnya.


Setelah berfoto, Ayra kembali mencoba gaun kedua yang dipilihkan Devara. Sekali lagi, pilihan Devara sangat tepat. Gaun pengantin ballgown v-neckline sleeveless dengan korset ilusi manik-manik dan rok tulle fulle. Gaun ini juga dilengkapi dengan train panjang manik-manik. Gaun yang terlihat lebih mewah dari gaun sebelumnya.


Begitu keluar dari ruang ganti, semua orang yang melihat Ayra terkagum-kagum dibuatnya. Ayra seakan menjelma menjadi seorang putri kerajaan. Devara seakan terbius dengan pesona dan kecantikan Ayra.


“Aku ambil dua gaun yang kupilih tadi”ucap Devara pada manajer butik.

__ADS_1


“Baik tuan muda”sahut manajer butik


Setelah melewati beberapa kali drama fitting gaun pengantin, akhirnya Devara dan Ayra pulang dengan perasaan bahagia karena sudah mendapatkan gaun pengantin sesuai dengan harapan mereka. Harapan Devara lebih tepatnya.


__ADS_2