
Devara mengendarai mobilnya menjauhi kampus. Devara mengajak Ayra jalan-jalan ke Mall terbesar di kota S. Kemudian mereka mampir di salah satu café kekinian yang sedang hits di kota S. Sambil menunggu pesanan mereka datang, mereka pun berbincang-bincang ringan.
“Bagaimana kuliahmu di Cambridge?” tanya Ayra
“Biasa aja”jawab Devara enteng
“Biasa gimana? Kamu di sana kuliah apa main sih?”gerutu Ayra mendengar jawaban Devara.
“Ya kuliah lah. Kamu pikir aku main-main sepertimu”ucap Devara keceplosan
Ayra langsung mengernyitkan dahinya.
“Bagaimana dia tahu aku main-main di sini?”gumam Ayra dalam hati
“Apa maksudmu aku main-main?”selidik Ayra
“Ah..tidak. Bukan apa-apa”kelit Devara
“Bohong! Kamu pasti menyembunyikan sesuatu” ucap Ayra
“Ayolah Ay..kita sudah lama tak bertemu..masak kita harus berantem hanya karena masalah sepele seperti ini? Apa kau tak merindukanku?”tanya Devara
“Tentu saja aku merindukanmu”jawab Ayra dalam hati
“Kenapa kamu diam? Ayo jawab pertanyaanku! Apa kau tak merindukanku?”tanya Devara lagi
“Bagaimana denganmu? Kau tak pernah menghubungiku. Tak sekalipun kau menghubungiku”tanya Ayra balik.
“Aku..hanya takut”jawab Devara membuat Ayra kebingungan.
“Takut? Seorang Devara Alexander takut?” ejek Ayra
“Baru tahu aku kalo kau juga punya rasa takut..selain takut serangga tentunya”ejek Ayra lagi
“Jangan meledekku! Aku hanya takut..kau belum memaafkanku”jawab Devara dengan tatapan sendu.
Seorang pelayan datang membawakan pesanan mereka. Devara menerima pesanan itu dan meletakkan minumam dan makanan di depan Ayra.
“Terimakasih” ucap Devara pada pelayan itu. Ayra tak percaya dengan yang didengarnya.
“Dia sudah banyak berubah” gumam Ayra dalam hati.
Ayra segera menyeruput minuman yang ada di depannya sambil memandangi lelaki muda tampan di depannya. Penampilan Devara kini juga tampak lebih dewasa. Setahun tak bertemu, rupanya membuat Devara lebih dewasa. Lebih manly.
Merasa dipandangi, Devara pun menatap balik pada Ayra. Membuat gadis cantik itu salah tingkah. Devara tersenyum melihat Ayra yang salah tingkah karena tatapannya.
“Aku sudah memaafkanmu”ucap Ayra tiba-tiba, membuat Devara yang sedang menyeruput minumannya sampai tersedak.
“Uhuk..uhuk..”Devara tersedak saking kagetnya
Ayra yang kebingungan dengan reaksi Devara segera mendekati Devara sambil menepuk-nepuk pelan punggung Devara.
“Kau tak apa-apa?”tanya Ayra kuatir.
“Aku tak papa.. uhuk..uhuk”jawab Devara.
Setelah meminum minumannya dengan lebih pelan, Devara merasa lebih baikan.
Ayra memandangi Devara dengan wajah sangat kuatir.
Devara menggenggam tangan Ayra untuk menenangkannya.
“Aku baik-baik saja”ucap Devara
Sadar Devara menggenggam tangannya, Ayra segera menarik tangannya. Membuat Devara sedikit kecewa dengan “penolakan” Ayra.
“Apa sekarang aku juga tak boleh menggenggam tanganmu?” tanya Devara setelah melihat Ayra menarik tangannya.
“Maaf Dev..aku..aku..”ucap Ayra terbata-bata.
__ADS_1
“Kau bilang sudah memaafkanku. Tapi kenapa aku merasa kau baru saja menolakku”ujar Devara kecewa.
“Bukan begitu”ucap Ayra cepat.
“Lalu kenapa?”tanya Devara
“Aku..hanya belum siap. Aku memang sudah memaafkanmu, tapi bukan berarti aku sudah melupakan semua yang telah terjadi”ujar Ayra
Rupanya luka dalam hati Ayra masih ada. Semua kenangan dua tahun yang lalu, masih membekas dalam hatinya.
“Apa tak bisa kita mulai lagi semuanya dari awal?”tanya Devara penuh harap.
Ayra hanya diam. Dilihatnya jam di tangannya. Sudah waktunya Ayra kembali ke kampus.
“Aku harus kembali ke kampus sekarang”ucap Ayra
“Baiklah. Aku antar”jawab Devara dengan lesu.
Keduanya pun kembali ke kampus Ayra. Sepanjang perjalanan mereka hanya terdiam. Larut dalam lamunannya masing-masing.
Sesampainya di kampus, Devara menurunkan Ayra di gedung B, tempat perkuliahan Ayra selanjutnya.
“Nanti aku jemput”ucap Devara lalu pergi meninggalkan Ayra seorang diri.
Ayra hanya mematung sambil menyaksikan mobil Devara yang lama kelamaan menghilang dalam keramaian kendaraan yang lalu lalang.
Hp Ayra berbunyi. Sebuah notif pesan masuk. Rupanya Devara mengiriminya chat.
Ini adalah chat pertama Devara sejak perpisahan mereka setahun lalu.
“Jam berapa kau selesai kuliah?”tanya Devara
“Jam 13.00”jawab Ayra
“Baiklah. Tunggu aku di tempat aku menurunkanmu tadi”pesan Devara
Ayra tak menjawab. Dalam hatinya berkecamuk berbagai perasaan. Antara senang, sedih, takut semuanya bercampur menjadi satu.
Di satu sisi, Ayra bahagia karena rupanya Devara masih merindukannya sama seperti dirinya. Namun di sisi lain, Ayra takut. Bayangan perpisahannya dengan Devara setahun lalu meninggalkan bekas yang sangat dalam dihatinya. Ucapan dan perlakuan Devara yang menyakiti hatinya terus terngiang-ngiang dalam pikirannya. Membuat Ayra tak berani melangkah lebih jauh. Meskipun Ayra juga sadar, kemarahan Devara waktu itu bukan kesalahan Devara semata.
Siang hari, setelah perkuliahan usai,
Ayra tampak menuruni tangga gedung perkuliahan. Seseorang memanggilnya, membuat Ayra menengok ke arah sumber suara.
“Ayra?”panggil Aldo
“Ada apa?”tanya Ayra
Devara yang sudah menunggui Ayra sejak tadi, begitu melihat Aldo mendekati Ayra, tampak tak suka. Sekali lagi Devara muncul di antara mereka berdua.
Devara segera berdiri di samping Ayra dan memasang wajah sangar. Wajahnya tampak sangat mengintimidiasi lawannya. Ayra yang tak menyangka kehadiran Devara, dapat dengan cepat menangkap aura Devara yang sedang sangat tidak bersahabat pada Aldo.
“Nanti aku hubungi lagi ya Al”ucap Ayra.
“Kita pergi sekarang”ajak Devara sambil menarik tangan Ayra ke mobil.
Di dalam mobil, keduanya masih juga diam. Ayra marah karena Devara bersikap sangat tak bersahabat pada Aldo. Sementara Devara yang sedang menyetir, juga memendam kemarahan setelah melihat Aldo mendekati Ayra.
“Kamu ini kenapa? Aldo kan hanya ingin berdiskusi denganku”tanya Ayra tidak senang dengan sikap Devara tadi saat bersama Aldo.
“Bukankah kau sudah menolaknya, kenapa dia mesti mendekatimu? Aku tak suka”jawab Devara ketus.
“Hentikan mobilnya!”seru Ayra
Devara pun menepikan mobilnya.
“Darimana kamu tahu aku menolak Aldo? Apa jangan-jangan kau memata-mataiku? Ayo katakan! Apa kau mengirim anak buahmu untuk memata-mataiku” seru Ayra dengan nada tinggi.
Devara kecewa pada dirinya sendiri yang sudah keceplosan. Akhirnya dia pun mengaku.
__ADS_1
“Benar..aku mengutus orangku untuk mengawasimu”jawab Devara
“Sejak kapan?”tanya Ayra sengit
“Sejak kau masuk kuliah” jawab Devara pelan.
“Apaa? Jadi selama ini kau sudah memata-mataiku”Ayra marah mendengar jawaban Devara.
“Aku lakukan itu hanya untuk melindungimu. Itu saja”bela Devara.
“Kau kan tahu, aku paling tak suka dimata-matai”ujar Ayra sengit
“Aku pikir kau sudah berubah. Rupanya kau masih saja sama seperti dulu. Tak pernah memperhatikan perasaan orang lain. Kau hanya perduli pada dirimu sendiri”ucap Ayra sedih
“Lalu kau ingin aku diam saja, sementara kau dekat dengan lelaki culun seperti itu” Devara mulai meluapkan emosinya.
“Jika aku tak memikirkan perasaanmu, tentu sudah sejak lama aku muncul di hadapanmu. Tentu aku tak kan biarkan lelaki lain mendekatimu. Apalagi sampai berani menyentuhmu. Kau tak tahu bagaimana aku mesti menahan diriku sendiri untuk tidak menemuimu dan menghubungimu selama ini. Bagaimana aku mesti merelakan lelaki tadi memboncengmu dan menggenggam tanganmu” ungkap Devara penuh emosi.
Ayra kaget karena Devara bahkan tahu Aldo pernah menggenggam tangannya.
“Apa saja yang kau tahu selama ini?”tanya Ayra
“Aku tahu semuanya. Aku tahu kau sering main. Motoran dengan teman-temanmu. Nongkrong tak jelas setelah kuliah. Bahkan aku tahu kalian pernah berboncengan sambil bergandengan tangan malam-malam”jawab Devara sambil menatap Ayra.
Ayra menundukkan kepalanya karena menyesali “kenakalan” yang sudah diperbuatnya awal-awal kuliah dulu.
Devara mengelus kepala Ayra pelan.
“Awalnya aku sangat marah, begitu mendengar berita itu. Itu seperti bukan Ayra yang selama ini kukenal. Aku tak percaya kau bisa melakukan semua hal itu. Tapi kemudian aku sadar, setiap kita pasti pernah berbuat kesalahan. Dan kesalahan itulah yang membuat kita belajar menjadi lebih baik lagi. Karena itu aku sengaja membiarkan kamu seperti itu, sampai kamu menyadari sendiri kesalahan yang sudah kau lakukan”ungkap Devara panjang lebar.
Mendengar semua kata-kata Devara, membuat hati Ayra tersentuh dengan kedewasaan Devara kini. Walaupun belum sepenuhnya dewasa, tapi cara pandang Devara menyikapi kenakalannya dulu, benar-benar di luar kebiasaan Devara.
“Maaf sudah membuatmu kecewa” ucap Ayra lirih.
Bulir-bulir airmatanya pun menetes mengalir dari matanya.
“Sudahlah jangan menangis. Yang penting sekarang bagaimana kita memperbaiki kesalahan kita masing-masing. Benarkan?”tanya Devara sambil mengusap airmata Ayra.
Ayra pun mengangguk pelan.
“Apa kau tahu alasanku tiba-tiba muncul sekarang?”tanya Devara
Ayra menggeleng.
“Itu karena aku dengar kau sudah menolak lelaki tadi. Aku senang sekali karena rupanya masih ada tempat untukku di hatimu. Itu sebabnya kemarin aku langsung terbang ke sini. Aku tinggalkan semua pekerjaan kantor dan kuliahku, untuk bisa segera menemuimu”ucap Devara berapi-api.
Devara menatap Ayra dengan sangat lembut lalu mengusap sisa airmata di pipinya. Saat melihat bibir ranum Ayra, membuat jantung Devara berdegup sangat kencang. Betapa dia sangat merindukan bibir itu selama ini. Keduanya saling bertatapan. Sesekali Devara menatap bibir Ayra. Bahkan tanpa sadar, jari tangan Devara menyentuh bibir Ayra dengan lembut. Jantung keduanya langsung berlarian. Berdetak dengan tak beraturan. Devara lalu mendekatkan tubuhnya ke arah Ayra sambil memiringkan sedikit kepalanya. Tangan kiri Devara meraih tengkuk Ayra. Bersiap untuk mencium bibir merah Ayra.
“I miss you”ucap Devara pelan
Jantung Ayra pun berdetak sangat kencang. Matanya berkedip berkali-kali. Karena Ayra paham betul adegan selanjutnya dari momen seperti ini. Kedua tangan Ayra hendak mendorong tubuh Devara. Tapi tangan kanan Devara menggengamnya lalu menurunkannya.
Hingga akhirnya ciuman keduanya pun terjadi. Momen kemesraan mereka pun terjadi. Keduanya larut dalam kerinduan. Ciuman hangat keduanya membuat mereka terbuai dalam cinta. Mereka saling berbalas ciuman hangat. Dengan mata keduanya saling terpejam.
Devara senang karena Ayra membalas ciumannya. Bibir keduanya menyatu melepaskan kerinduan yang selama satu tahun ini mereka rasakan.
Akhirnya keduanya melepaskan ciuman di bibir masing-masing. Keduanya membuka mata bersamaan. Devara tersenyum begitu juga Ayra.
Devara pun kemudian memeluk tubuh mungil Ayra. Devara memeluknya sangat erat.
“Aku sangat merindukanmu”ucap Devara lembut
“Aku juga”balas Ayra
Keduanya pun saling berpelukan. Meluapkan kerinduan yang telah mendera keduanya selama setahun ini.
Devara lalu melepaskan pelukannya dan mengusap pelan pucuk kepala Ayra. Keduanya saling berbalas senyum. Devara mengemudikan mobilnya sambil terus menggenggam tangan Ayra. Seolah dia tak akan melepaskan Ayra kali ini.
Sesekali Ayra melemparkan pandangannya pada lelaki muda tampan di sampingnya itu. Lelaki yang sangat berarti dalam hidupnya. Betapa Ayra sangat mencintai Devara. Betapa dia sangat merindukan lelaki itu.
__ADS_1