Falling In Love With Trouble Maker

Falling In Love With Trouble Maker
KITA PUTUS!


__ADS_3

Sejak kejadian di kantin, hubungan Devara dan Ayra pun merenggang. Begitu juga hubungan Nadine dan Daniel. Semua karena Gina sudah membuat cerita seolah-olah Ayra dan Daniel bermain di belakang Devara. Devara yang tak terima dikhianati sahabat dan gadis yang dicintainya, sama sekali tak mau mendengarkan penjelasan Ayra maupun Daniel. Membuat Ayra sangat sedih dengan perubahan sikap Devara padanya.


Ayra yang bersedih selalu memilih berlari ke arah lapangan basket, dimana tak ada seorangpun disana. Ayra kecewa pada Devara yang sudah menuduhnya tak setia. Ayra yang biasanya kuat dan tegar, kali ini menangis sedih merasakan sesak di dalam hatinya. Daniel yang sejak tadi mengikuti Ayra, berjalan menghampiri Ayra yang sedang bersedih.


“Ay..bagaimana perasaanmu sekarang?”tanya Daniel yang sudah duduk di dekat Ayra.


“Dan, Kenapa Devara seperti itu?”tanya Ayra dengan terisak


“Sepertinya ini semua ulah Gina”jawab Daniel


“Apa maksudmu ini ulah Gina?”tanya Ayra penasaran.


“Aku yakin sekali ini pasti ulah Gina yang ingin mengadu domba aku dan Devara seperti yang sudah dilakukannya dua tahun lalu”tebak Daniel


“Tapi kenapa dia melakukan itu? Untuk apa dia melakukan itu semua”tanya Ayra


“Dia pasti ingin memisahkanmu dari Devara”tebak Daniel jitu


“Sebaiknya kita buat rencana untuk menggagalkan siasat licik Gina. Aku yakin Gina pasti punya banyak cara untuk memisahkan kalian berdua. Untuk itu kita mesti menyusun rencana. Kita buat Gina percaya, bahwa kau dan Devara bertengkar. Bahkan kalau perlu, kau putus dengan Devara. Sambil kita kumpulkan bukti-bukti semua kejahatan Gina”ujar Daniel


“Tapi..apa ini akan berhasil?”tanya Ayra


“Harus..ini harus berhasil”ucap Daniel


Daniel kemudian memeluk tubuh Ayra untuk menenangkan Ayra yang sedang sedih. Tanpa mereka sadari dua pasang mata sedang menatap tajam pada keduanya sambil mengepalkan kedua tangannya.


“Kau lihat..aku tak pernah bohong padamu. Mereka berdua sedang bermain api dibelakangmu”bisik Gina yang berdiri di samping Devara.


Devara yang dikuasai api cemburu, benar-benar tak bisa berpikir dengan jernih. Dan hal itulah yang dimanfaatkan oleh Gina. Dengan mengarang cerita tentang kedekatan antara Ayra dan Daniel. Gina yang melihat Devara sangat marah, menyunggingkan senyum sinis di bibirnya.


Tak jauh dari tempat Gina dan Devara, Nadine bersembunyi, menatap keduanya Gina dan Devara dengan penuh perhatian.


“Jadi semua ini benar ulah Gina. Aku harus menghentikan Gina sebelum banyak lagi yang terluka karena kelakuannya”gumam Nadine yang kemudian meninggalkan lapangan basket.


“Plok..plok..plok”Devara bertepuk tangan dengan sangat keras, membuat Ayra dan Daniel yang sebelumnya memeluk Ayra, kaget dengan kehadiran Devara yang tiba-tiba.


Ayra membelalakkan matanya melihat Devara sudah berada di depannya dengan tatapan penuh kebencian.


“Kalian bilang hanya berteman? apa seperti ini pertemanan lelaki dan wanita?”sindir Devara

__ADS_1


“Dev..jangan salah paham..aku..”belum selesai Daniel menjelaskan kesalahpahaman itu, Devara sudah menyela.


“Diam kau!! aku tak mau mendengar apapun dari mulutmu”bentak Devara dengan tatapan membunuhnya.


“Dev..jaga ucapanmu”hardik Ayra tak kalah sengit.


Ayra yang selama beberapa hari ini terus menahan emosinya yang sudah bergejolak, akhirnya membentak Devara dengan suara yang keras. Ayra berdiri di hadapan Devara sambil menatap mata Devara.


“Katakan padaku! Mana yang kau percaya? Aku atau orang yang ingin mengadu domba kita? Cepat katakan”bentak Ayra


Devara tak segera menjawab karena dihadapannya Ayra dengan kesedihan yang nampak jelas dimatanya menatap ke arahnya menuntut penjelasan.


“Kenapa kau diam?”seru Ayra.


Kali ini pikiran dan hati Devara seakan beradu. Di pikirannya, Devara percaya bahwa semua kebohongan Gina adalah benar, karena dia sudah membuktikan sendiri dengan mata kepalanya sendiri, melihat Ayra dan Daniel yang berpelukan. Namun hatinya masih diliputi rasa cinta yang dalam pada Ayra. Sehingga dalam hatinya, dia ingin percaya pada Ayra.


“Aaaghhhhhh”Devara berteriak dengan kesal karena dia dihadapkan pada pilihan yang sulit.


“Kenapa kau bisa meragukan cintaku?”gumam Ayra dalam hati


“Kenapa Dev? Apa kau sulit mengambil keputusan?”sindir Ayra


“Kalau kau begitu sulit mengambil keputusan, aku saja yang memberimu keputusan. Mulai hari ini..KITA PUTUS!”seru Ayra dengan nada bergetar menahan sakit dalam hatinya melihat ketidakpercayaan Devara padanya.


"Apa ini yang kau mau Dev?"tanya Daniel pada Devara


"Bukankah ini yang kalian inginkan?"tanya Devara balik


"Kau pasti akan menyesali semua ini karena kau sudah melukai Ayra"ucap Daniel


Daniel kemudian pergi meninggalkan Devara yang sedang galau karena hati dan pikirannya seolah sedang diadu.


Sementara itu, Ayra yang terus berjalan, berpapasan dengan Gina.


“Apa kau senang sekarang?”tanya Ayra sambil menatap tajam ke arah Gina.


“Kau kenapa Ay? Kenapa kau menangis?”tanya Gina pura-pura tak mengerti.


Gina bertingkah seolah-olah bersimpati pada Ayra.

__ADS_1


"Jangan seperti itu Ay.. kau membuatku jadi merasa bersalah" ucap Gina bohong sambil menahan tangan Ayra.


"Rasakan! Sekarang Dev akan menjadi milikku seutuhnya!" gumam Gina dalam hati


Ayra menepis tangan Gina lalu pergi meninggalkan Gina yang tersenyum penuh kemenangan. Sementara Ayra terus mengusap airmatanya yang mengalir.


Sampai di kelas, Ayra segera menundukkan kepalanya di meja. Membuat teman-teman sekelasnya keheranan. Heran karena Ayra yang mereka kenal sangatlah garang dan jarang menangis. Teman-teman Ayra saling bertatapan namun tak ada satupun yang berani mendekatinya.


Gina dan Daniel yang sudah kembali ke kelas, menatap Ayra yang masih menundukkan kepalanya.


“Ini baru permulaan. Selanjutnya aku akan buat Devara membencimu”gumam Gina dengan seringai licik di wajah cantiknya.


“Kau harus kuat Ay..jangan sampai Gina melukaimu dan memenangkan “permainan” ini”bunyi chat Daniel pada Ayra.


Ayra yang masih menundukkan kepalanya sebenarnya hanya berpura-pura terluka dengan perlakuan Devara. Sambil membalas chat dari Daniel.


“Aku harap Gina percaya”balas Ayra pada chatnya.


Daniel segera duduk di kursinya dan menatap ke arah Ayra.


"Kau harus kuat Ayra.. aku akan membantumu melawan Gina" gumam Daniel dalam hati.


Gina yang sudah duduk di samping Ayra, menatap Ayra yang masih tertunduk.


"Aku akan buat kau menangis dan akhirnya memilih meninggalkan Devara selamanya" gumam Gina dalam hati


Ayra yang merasakan kehadiran Gina segera memposisikan duduknya sambil mengusap sisa air mata yang masih menempel di pipinya. Matanya terlihat memerah.


"Kau baik-baik saja kan Ayra?" tanya Gina sambil menepuk bahu Ayra pelan.


"Kita lihat apa lagi yang akan kau lakukan padaku?" gumam Ayra dalam hati sambil menatap Gina.


Ayra hanya diam. Tak sepatah katapun terucap dari bibirnya.


"Aku akan bicara pada Devara, supaya kalian bisa baikan" ucap Gina bohong


"Terimakasih Gina.. aku rasa itu tidak perlu" ucap Ayra tegas.


"Ttteeetttt... tttteetttt"

__ADS_1


Bel masuk pun berbunyi, pelajaran segera akan dimulai. Siswa siswi di kelas Ayra segera masuk satu per satu untuk mengikuti pelajaran.


Ayra menatap Daniel begitupun sebaliknya. Seolah keduanya ingin saling menguatkan untuk melawan Gina.


__ADS_2