
Pemotretan dilanjutkan dengan sesi kedua. Dimana pada sesi ini, Ayra berganti kostum menggunakan midi dress putih yang sangat indah. Dengan rambut yang digerai dan sedikit aksen bergelombang, Ayra selalu tampil memukau. Sementara Devara hanya mengenakan setelan jas warna light grey yang dipadu dengan celana panjang warna navy. Penampilan keduanya juga nampak santai.
Sebelum pemotretan, Devara memberi isyarat mata pada pegawai wanita yang sedang hamil tua tadi. Dengan takut-takut, wanita itu berjalan mendekati kakek Arya yang sedang duduk sambil menikmati suasana sambil berbincang ringan dengan Madam O.
Tiba-tiba wanita itu memegangi perutnya dengan raut wajah yang seperti menahan sakit.
“Hebat juga akting wanita itu. Aku akan menambah bonusnya”gumam Devara dalam hati melihat wanita itu menjalankan perintahnya dengan sangat baik.
Kakek dan Madam O yang melihat wanita itu kesakitan langsung mendekatinya.
“Kamu kenapa?”tanya Madam O
“Saya..sepertinya akan melahirkan”ucap wanita itu terbata-bata.
“Apa? Kita harus membawanya ke Rumah Sakit sekarang”perintah kakek Arya.
Semua orang menjadi panik dengan peristiwa itu. Bahkan pemotretan terpaksa ditunda sebentar. Hanya satu orang yang tampak tenang saja melihat kejadian itu.
“Kalian teruskan saja pemotretannya. Aku akan antar wanita ini ke Rumah Sakit”perintah kakek Arya pada Devara dan Ayra.
“Tapi kek..”
“Sudah tak usah kuatir. Kakek antar dulu wanita ini ke Rumah Sakit”ucap kakek pada Ayra.
“Yesss”gumam Devara dalam hati kegirangan
“Saya ikut dengan tuan”ucap Madam O
Akhirnya kakek dan Madam O ikut mengantar wanita yang kesakitan itu. Ayra menatap kepergian wanita itu dengan penuh kekhawatiran. Namun saat Ayra menoleh pada Devara, Ayra heran melihat kekasihnya justru tersenyum.
“Kamu kenapa malah tersenyum gitu?”tanya Ayra heran
Devara yang sadar sudah ketahuan Ayra, langsung berlagak sok cool.
“Tidak ada apa-apa”jawab Devara
“Bohong! Atau jangan-jangan…”
Ayra menjadi curiga pada lelaki yang berdiri di sampingnya itu. Ayra menatap Devara dengan tajam.
“Katakan padaku! Apa yang sudah kamu lakukan?”tanya Ayra penasaran
“Aku tak melakukan apa-apa”bohong Devara
Ayra menarik nafas sambil memejamkan matanya sejenak lalu menghembuskannya dengan kasar. Ayra yang sangat mengenal Devara, merasa lelakinya itu pasti sudah melakukan sesuatu berhubungan dengan kejadian barusan.
“Dev…”
Ayra menatap tajam ke arah Devara. Devara yang ketahuan, tak berkutik diliatin Ayra yang sedang menahan amarahnya.
“Oke..oke..aku mengaku. Aku yang sudah menyuruh wanita itu”ucap Devara jujur
“Tapi kenapa?”tanya Ayra
“Aku merasa tak bebas jika kakek ada di sini. Aku minta wanita tadi pura-pura sakit”jawab Devara
__ADS_1
“Dev..”
Ayra tak habis pikir dengan kelakuan Devara. Devara langsung menggenggam tangan Ayra untuk menenangkan hati kekasih hatinya.
“Tenang saja. Wanita itu tidak apa-apa. Aku hanya ingin menikmati momen ini bersamamu tanpa gangguan dari kakek. Setelah pemotretan nanti, kita jenguk wanita itu bersama, okey?”bujuk Devara
Ayra menatap mata Devara. Sejahil apapun kelakuan Devara, Ayra tahu jika Devara melakukan itu pasti ada maksud dan semua itu demi bersama Ayra. Akhirnya Ayra memilih mengalah dan membiarkan Devara menjalankan keinginannya.
Pada sesi kedua ini, karena kakek sudah tidak di sana, Devara bisa dengan lebih leluasa melakukan pemotretan itu. Fotografer juga mengarahkan mereka untuk bisa sedikit lebih ekspresif. Awalnya mereka berdiri saling berhadapan dengan Ayra yang berjinjit. Tangannya diletakkan dibelakang tubuhnya. Ayra seolah hendak mencium bibir Devara. Ayra tampak mengerucutkan bibirnya. Ayra terlihat sangat menggemaskan dengan pose seperti itu. Devara yang melihat keimutan Ayra tampak tersenyum dengan lebar.
“Oh..great!”ucap fotografer setelah melihat hasil foto keduanya.
“Kalo nanti kakek marah, gimana Dev?”tanya Ayra
“Tenang saja..paling marah-marah bentar, hahahaa”Devara malah tertawa.
Selanjutnya mereka berfoto saling bergandengan tangan dengan menghadapkan wajah mereka ke arah kamera. Tak lupa senyum bahagia terukir di bibir keduanya. Semua orang yang berada di lokasi pemotretan, ikut melting melihat kemesraan keduanya.
“Oh..mereka sweet banget ya?”
“Iya”
Percakapan bergulir antar pegawai yang ikut dalam sesi pemotretan Devara dan Ayra.
“Oke..selanjutnya tuan muda mengangkat tubuh nona, bisa kan tuan muda?”pinta fotografer
“Oke..gampang”jawab Devara dengan bersemangat
“Jangan sampai jatuh ya Dev”pinta Ayra
“Tenang saja sayang..tak mungkin aku biarkan kamu jatuh. Percayalah padaku!”ucap Devara tegas
Membuat Ayra tersipu malu dengan ucapan Devara.
“Tuan muda angkat nona, setelah hitungan ketiga, oke tuan muda?”pinta fotografer
“Siapp”jawab Devara
“Satu..dua..tiga”aba-aba sang fotografer
Setelah hitungan ketiga Devara langsung mengangkat tubuh mungil Ayra ke atas, sehingga Ayra terangkat. Ayra menempelkan wajahnya di depan wajah Devara. Keduanya saling tersenyum dengan bahagia.
“Bravo..bravo..good job tuan Dev”ucap fotografer dengan sangat bahagia melihat hasil foto keduanya yang sangat indah.
Acara pemotretan sesi ketiga pun dimulai. Ayra dan Devara berganti kostum. Kali ini mereka memakai dresscode senada yaitu putih. Ayra mengenakan gaun midi dress selutut sleeveless. Rambut Ayra juga disanggul sederhana di belakang. Sementara Devara tampak gagah mengenakan setelan jas dan celana warna putih. Rambut Devara juga lebih rapi. Menampilkan kesan dewasa pada cowok tengil itu. Penampilan Devara kali ini berbeda dari dua sesi sebelumnya. Tampak lebih manly.
“Ganteng juga kalo kamu rapi gini”puji Ayra pada Devara sambil merapikan kerah baju Devara.
“Aku kan emang ganteng”jawab Devara dengan bangga sambil mengerlingkan matanya.
__ADS_1
Membuat Ayra tersenyum melihat Devara yang menatapnya dengan genit. Mereka berpose di depan kamera dengan lebih santai. Awalnya mereka hanya bergandengan tangan saja. Dengan Devara yang memasang wajah sok coolnya, sementara Ayra tersenyum tipis di depan kamera.
Foto selanjutnya mereka berdiri saling berhadapan. Ayra meletakkan kedua tangannya di dada bidang Devara. Sementara tangan Devara merengkuh tubuh Ayra. Keduanya menoleh ke arah kamera dengan ekspresi wajah yang sama seperti sebelumnya.
“Aduhh..lama-lama disini, jadi aku yang melting”
“Bener banget”
“Mereka berdua serasi banget”
“Aku setuju”
“Tuan Dev sangat tampan, Nona juga sangat cantik”
“Kapan kita bisa seperti mereka?”
Para pegawai kembali berghibah. Melihat keserasian Devara dan Ayra justru membuat mereka semua baper sendiri.
“Udah..kerja-kerja..malah liatin mereka terus”ajak seorang pegawai pada rekan kerjanya yang lain yang sejak tadi asyik menikmati pemotretan Ayra dan Devara.
“Kamu lelah?”tanya Devara pada Ayra.
“Ga kok..aku masih kuat”jawab Devara
Devara bahkan mengusap peluh di wajah Ayra dan merapikan anak rambut Ayra. Membuat Ayra bahagia mendapat perhatian Devara.
“Kalo capek, bilang aja. Kita lanjutkan lagi nanti”pinta Devara
Ayra mengangguk pelan.
“Bagaimana tuan muda? Kita lanjutkan atau istirahat dulu?”tanya Ryan sang fotografer pada Devara.
Devara menatap wajah lelah sang kekasih. Hatinya tak tega melihat Ayra kecapekan setelah melakukan tiga sesi pemotretan.
“Kita istirahat saja dulu”jawab Devara
“Baik tuan muda”jawab Ryan
Akhirnya mereka beristirahat sejenak. Sebenarnya Ayra sedikit kelelahan setelah mengikuti tiga sesi pemotretan itu. Namun karena kurang dua sesi lagi, Ayra ingin menyelesaikannya saja sekalian.
“Aku ga papa Dev”
“Kamu ga bisa membohongi aku. Aku tahu kamu sudah lelah. Sudah, menurut saja. Kita istirahat saja dulu”perintah Devara
“Terimakasih”ucap Ayra
Devara mendekatkan tubuhnya ke arah Ayra. Ayra mengerutkan dahinya melihat kelakuan Devara.
“Kenapa dia mendekat? Apa lagi maunya sekarang?”gumam Ayra dalam hati
“Tenang saja..aku akan minta “bayarannya” nanti”bisik Devara di telinga Ayra
Ayra membelalakkan matanya mendengar ucapan Devara. Devara malah menyunggingkan senyum nakalnya.
__ADS_1
“Kau ingat kan? Tidak ada yang gratis di dunia ini”ucap Devara dengan bersemangat
“Kakek..kenapa kakek lama sekali? Selamatkan aku kek”gumam Ayra dalam hati mencari kakeknya untuk menyelamatkannya dari Devara yang akan menuntut “bayaran” pada dirinya.