Falling In Love With Trouble Maker

Falling In Love With Trouble Maker
Permintaan Sepihak


__ADS_3

Pagi itu kota mulai menggeliat dengan penghuninya yang memulai aktivitas masing-masing. Mobil yang membawa Devara dan Ayra masih terus melaju. Membelah keramaian dan kemacetan jalanan pagi itu. Kendaraan yang lalu lalang berangkat menuju tujuannya masing-masing.


“Kak..tolong ambilkan barang yang saya minta tadi pagi” perintah Devara


“Baik tuan muda”jawab Arga


Kemudian diserahkannya sebuah kotak kecil kepada tuan mudanya itu.


Oleh Devara, kotak kecil itu dibuka. Ternyata sebuah smartphone keluaran terbaru.


“Ini..untukmu”ujar Devara sambil menyerahkan handphone itu pada Ayra.


Ayra mengernyitkan dahinya.


“Untuk apa kau memberiku ini?” tanya Ayra penasaran


“Supaya aku bisa menghubungimu. Di situ hanya ada nomorku”balas Devara


“Tolong jelaskan padaku, aku masih tak mengerti dengan semua ini. Kenapa aku harus menerima smartphone mu dan kenapa kau mau menghubungiku? Aku tak mengerti”Ayra benar-benar tak mengerti dengan jalan pikiran tuan muda Devara yang memberinya handphone dan bilang mau menghubunginya.


“Aku mau..mulai hari ini..kamu jadi pacarku”ucap Devara sambil menatap Ayra.


“Hahahaahaha” Ayra tertawa lepas sampai wajahnya memerah.


Ayra tertawa lepas setelah mendengar permintaan “sepihak” Devara. Devara yang tak terima ditertawakan, menjadi naik pitam.


“Kenapa kamu malah tertawa? Aku serius” ujar Devara dengan wajah serius.


Melihat wajah serius Devara, Ayra pun menghentikan tawanya dan berusaha lebih tenang.


“Maaf tuan muda Devara yang terhormat, saya rasa Anda perlu memeriksakan diri Anda ke dokter”ledek Ayra


“Apa kamu punya kepribadian ganda? Atau kah pukulanku waktu itu melukai otak sehatmu?”tanya Ayra


“Kau pikir, setelah apa yang kamu lakukan padaku, aku mau jadi pacarmu? Kau ini sungguh aneh”ledek Ayra lagi.


“Memangnya aku salah? Kau tahu, Gadis-gadis di luar sana banyak yang mengantri untuk bisa menjadi pacarku. Kenapa kamu malah tak mau? Apa kurangnya aku? Aku tampan, kaya, dari keluarga terpandang. Apa lagi? Ayo katakan apa yang kurang dari diriku ini” kata Devara membanggakan dirinya.


Ayra menghela nafas panjang. Mencoba bersabar. Karena sepertinya otak Devara perlu dicuci sampai bersih agar dapat berpikir dengan jernih.


“Aku katakan padamu, dengarkan ini baik-baik. Tidak semua hal itu dapat dinilai dengan kekayaan dan materi. Ada banyak hal di dunia ini yang tak mampu dibeli dengan uang. Kau pikir dengan memberiku smartphone ini, aku lantas mau jadi pacarmu? Kau pikir bisa membeliku dengan seeeeeemua kekayaan yang kau miliki itu? Maaf ya, tapi aku sama sekali tak tertarik menjadi pacarmu.

__ADS_1


Dalam menjalin suatu hubungan perlu ada kenyamanan, kebahagiaan, pengertian, dan yang paling penting adalah perasaan saling mencintai dan menyayangi satu sama lain. Apa kau tau hal-hal semacam itu? Melihat kelakuan liar mu selama ini, aku yakin 100% kau tak akan mengerti” jelas Ayra panjang lebar.


Walaupun terdengar menusuk, nyatanya Ayra memang benar. Devara memang tidak mengerti hal-hal semacam itu. Karena sejak kecil, dia selalu mendapatkan apapun yang diinginkannya. Dia tak pernah merasakan perjuangan dalam mendapatkan sesuatu.


Kenyamanan? Kebahagiaan? Pengertian? Cinta? Semua itu tak pernah terlintas dalam pikirannya.


Kata-kata Ayra benar-benar menusuk hati Devara. Dia tak menyangka akan ditolak oleh gadis yang disukainya. Dasar Devara memang keras kepala dan semaunya sendiri, dia bertekad mendapatkan Ayra bagaimanapun caranya.


Akhirnya Devara mengeluarkan smartphone dari saku jasnya.


“Jadi, kamu menolakku?” tanya Devara sinis sambil menyunggingkan sudut bibirnya


“Kenapa wajahnya berubah seperti itu?”tanya Ayra dalam hati melihat perubahan wajah Devara yang berubah sedikit mengerikan.


“Kalau begitu, jangan salahkan aku jika rekaman video ini tersebar ke seluruh sekolah” ujar Devara sambil menunjukkan video rekaman CCTV kejadian di gudang pada Ayra. Kejadian Devara yang mencium Ayra.


Ayra syok. Dia tak menyangka ada rekaman video itu.


“Berikan video itu padaku”Ayra berusaha merebut hp Devara.


“Tak kan kuberikan” jawab Devara sementara tangannya yang memegang hp dijauhkan dari Ayra.


"Jangan harap"


Ayra yang terlalu bersemangat merebut hp Devara, berusaha sekuat tenaga meraih hp di tangan Devara. Hp dapat direbut Ayra. Tapi sedetik kemudian Devara berhasil merebutnya kembali. Mereka berdua berebutan. Tanpa sadar Devara memeluk Ayra dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya memegang hp itu. Mereka berpelukan selama beberapa saat. Membuat Ayra dapat mendengar detak jantung Devara.


Ketika sadar Devara memeluk tubuhnya, dengan segera Ayra mendorong tubuh besar Devara. Lalu Ayra menyilangkan kedua tanganya didepan dadanya.


“Kkyyaaa…kamu? Kamu sengaja kan melakukan itu?”tuduh Ayra


“Apa maksudmu? Jangan asal menuduh” bela Devara tak terima dituduh Ayra sengaja memeluknya.


“Bukankah kamu yang duluan memelukku tadi?” tuduh Devara balik mengingat kembali perebutan hp tadi dimana Ayra juga sempat memeluk Devara demi mengambil hp.


“Jangan ngawur kamu”balas Ayra


“Hisshhhh..”Ayra sangat kesal. Dia menghentakkan kakinya lalu segera duduk menjauh dari Devara.


Mereka kembali saling mengalihkan pandangan mereka. Mereka menatap jendela mobil. Sementara Devara tersenyum senang mengingat saat-saat mereka berebutan hp tadi. Sebenarnya Devara tak sengaja memeluk tubuh Ayra. Dia hanya berusaha supaya hp nya tak jatuh ke tangan Ayra.


Ayra masih jengkel dan kesal tiba-tiba dipeluk lelaki yang paling dibencinya itu. Walaupun tadi sebenarnya juga tanpa sengaja, Ayra sempat memeluk tubuh Devara terlebih dahulu saat berebutan hp tadi.

__ADS_1


Pertengkaran dua sejoli ini benar-benar menarik perhatian Arga. Ia tak henti-hentinya tersenyum melihat tuan mudanya bertengkar dengan Ayra.


Tiba-tiba Devara mendengar suara isak tangis yang lirih. Rupanya Ayra menangis. Airmatanya menetes, setelah dicium paksa oleh Devara, hari ini dia harus merasakan dipeluk paksa juga oleh Devara. Hatinya menjadi sedih. Dia merasa sangat sial sekali beberapa hari ini.


“Kau menangis?”tanya Devara kuatir sambil menatap ke arah Ayra.


Ayra mengusap airmatanya. Dia tak mau melihat ke arah Devara.


“Hey..apa kau menangis?”tanya Devara semakin mendekat ke arah Ayra.


Devara menarik tangan Ayra untuk memastikan keadaan Ayra tapi Ayra menolak.


“Pergi sana. Aku tak mau melihatmu”jawab Ayra dengan suara sedikit terisak.


“Jangan menangis. Aku minta maaf sudah memelukmu barusan. Aku tak sengaja, percayalah!” ujar Devara berusaha menenangkan Ayra.


Nada suaranya pun berbeda dari sebelumnya. Terdengar lebih lembut. Rupanya Devara tak tega melihat Ayra menangis. Sekali lagi karena dirinya.


Ayra tetap saja tak menoleh ke arah Devara. Dia masih sangat kesal dan jengkel. Mereka berdua membisu sepanjang perjalanan.


Sesampainya di bandara, mereka segera masuk ke landasan pacu pesawat. Sebuah pesawat jet pribadi telah terparkir di sana.


Devara keluar mobil sendiri, sementara Ayra dibukakan pintu oleh Arga.


Mereka berjalan menuju pesawat jet pribadi itu.


Devara berjalan mendekati Ayra. Sementara Ayra melengos menatap arah yang lain.


“Nanti kak Arga akan mengantarmu ke sekolah”ujar Devara.


Ayra masih tak menoleh.


“Aku janji, akan kuberikan rekaman video di gudang kemarin, setelah aku pulang dari Singapura” ujar Devara membuat Ayra sedikit senang lalu menoleh ke arah Devara.


“Kamu janji?”sahut Ayra dengan mata berbinar-binar


“Aku janji”balas Devara sambil tersenyum lalu mengusap-usap rambut Ayra. Membuat rambutnya menjadi berantakan.


“Hyaa..”seru Ayra tak terima rambutnya dibuat berantakan.


Devara tersenyum senang lalu berjalan menapaki tangga pesawat. Sebelum pintu pesawat tertutup, Devara melihat ke arah Ayra dan tersenyum lalu melambaikan tangannya. Sementara Ayra diam saja tanpa membalas lambaian tangan Devara.

__ADS_1


__ADS_2