Falling In Love With Trouble Maker

Falling In Love With Trouble Maker
Put Your Head On My Shoulder


__ADS_3

Karena bosan, Ayra memilih membalik badannya ke arah belakang, sambil ikut bernyanyi bersama teman-teman satu bus nya. Karena Ayra duduk di kursi dengan mengangkat kedua kakinya ke kursi, membuat Devara takut Ayra terjatuh.


“Hei..bisa duduk yang bener ga?”keluh Devara


Ayra yang baru asyik menyanyi, menatap Devara dengan tatapan kesal.


“Emang kenapa? Toh kakiku ga mengenai kursimu..nih masih di kursiku”jawab Ayra ketus


“Kalo jatuh gimana?”tanya Devara geram


“Kan yang jatuh aku..kenapa kamu yang sewot?”balas Ayra tak mau kalah.


“Nih cewek keras kepala banget. Dikasih tau malah nyolot”gerutu Devara dalam hati.


Tiba-tiba dari arah depan bus, ada sepeda motor yang tanpa menyalakan lampu sein langsung memotong jalan. Membuat sopir bus kaget dan menginjak rem mendadak.


“Ckitttttt”


Karena kejadian mendadak itu, membuat Ayra yang duduk menghadap ke arah belakang tanpa berpegangan pada kursinya akhirnya terdorong ke belakang.


“Whooo”


Devara yang melihat Ayra hendak terjatuh segera menangkap tubuh mungil Ayra. Membuat Ayra terjatuh dalam pelukan Devara. Kini Ayra dan Devara saling bertatapan dengan sangat dekat.


“Deg..deg..deg..”jantung keduanya berdegup sangat kencang


Ayra segera bangun dari posisinya.


“Kalian baik-baik saja anak-anak?”tanya Pak Anton sambil beranjak dari tempat duduknya memastikan keadaan.


“Pak Sopir..hati-hati pak..kita masih pingin hidup Pak”suara teriakan dari arah kursi belakang


"Iya Pak..kita belum pada nikah Pak"sahut yang lain.


“Jangan ngerem mendadak dong Pak”keluh yang lainnya


“Maaf anak-anak..ada pengendara yang nylonong tadi”teriak Pak Sopir


“Kamu ngapain pegang-pegang”keluh Ayra pada Devara


“Udah ditolongin ga berterimakasih malah marah..kamu masih waras kan?”balas Devara tak kalah sengit


“Udah syukur aku tolongin..kalo ga kamu pasti udah jatuh tadi. Tau ga?”sungut Devara emosi karena melihat Ayra yang tidak berterimakasih padanya malah marah-marah


“Iya..iya..makasih”jawab Ayra ketus


“Makasih tapi ga ikhlas gitu”sahut Devara


“Kamu tuh maunya apa sih? Ngajak berantem aja dari tadi..udah bilang makasih masih ga terima”ucap Ayra geram


Ayra memalingkan wajahnya dan memilih menatap jendela dengan posisi duduk yang sudah diperbaiki. Ayra duduk dengan benar. Dia tak mau terus berdebat dengan Devara yang dari tadi selalu membuatnya emosi.


Perjalanan ke lokasi camping ternyata sangat jauh. Karena penasaran, Ayra pun bertanya pada Pak Anton yang duduk di deret kursi sebelah Ayra.


“Pak..berapa lama perjalanannya sampai ke bumi perkemahan?”tanya Ayra


“Kira-kira dua sampai dua setengah jam”jawab Pak Anton


“Lama banget Pak”


“Memang lokasinya agak jauh dari kota. Makanya perjalanannya agak lama”jawab Pak Anton.


“Pemandangannya di sana bagus ga Pak?”

__ADS_1


“Bagus lah..ada padang rumputnya, juga ada danau buatannya”jawab Pak Anton sambil melirik si empunya bumi perkemahan.


“Oh ya?”


Devara yang duduk di antara Ayra dan Pak Anton terlihat tak senang melihat Ayra yang ngobrol dengan Pak Anton tanpa memperhatikan dirinya.


“Kalian bisa tenang ga sih? Berisik”tegur Devara


“Kamu terganggu ya Dev..Bapak minta maaf”


“Hemm”jawab Devara sambil berdehem


Ayra memukul lengan Devara membuat Devara menoleh pada Ayra.


“Aww..kenapa kamu memukulku?”tanya Devara sambil mengelus lengannya yang dipukul Ayra


“Hei..Pak Anton minta maaf masak kamu cuma bilang “hemm”. Sopan dikit dong sama orang yang lebih tua”seru Ayra tak terima Pak Anton diperlakukan tidak sopan oleh Devara.


Pak Anton yang melihat Ayra memukul Devara terlihat kaget. Karena selama ini tidak ada yang berani memukul Devara seperti yang barusan dilakukan Ayra.


“Iya Pak..saya maafkan”ucap Devara pada Pak Anton


“Puas?”ucap Devara pada Ayra dengan nada kesal.


Karena perjalanan yang sangat lama, akhirnya Ayra memilih mendengarkan lagu dari smartphone nya menggunakan earphone. Sebenarnya Devara ingin mengajak Ayra ngobrol tapi melihat Ayra yang justru asyik dengan gadgetnya membuat Devara memilih diam.


Ayra mulai merasakan kantuk yang tak tertahan karena lamanya perjalanan. Beberapa kali mata Ayra terpejam dan kepalanya miring ke samping. Kejadian itu terjadi berulang-ulang hingga sempat kepala Ayra menabrak bahu Devara yang duduk di sampingnya.


“Gadis ini lucu juga kalo ngantuk”gumam Devara melihat Ayra yang mengantuk tapi masih berusaha terjaga. Tanpa sadar Devara menyunggingkan sudut bibirnya.


Devara yang melihat Ayra terkantuk merasa kasihan. Akhirnya saat Ayra dengan kepalanya yang miring ke kanan bersandar ke jendela bus dengan kedua mata yang terpejam sudah tertidur pulas, Devara dengan perlahan memindahkan kepala Ayra ke bahunya. Devara melakukannya dengan sangat perlahan karena takut mengganggu tidur Ayra.


Pak Anton yang melihat perlakuan Devara pada Ayra hanya bisa tersenyum.


“Bapak ga usah komentar”pinta Devara lirih karena takut membangunkan Ayra.


Devara kemudian melihat Ayra yang sekarang tertidur bersandar di bahunya yang bidang. Sesekali Devara merapikan anak rambut Ayra yang menutupi wajahnya. Devara melakukannya dengan sangat lembut.


“Kalo tidur gini, dia bisa sangat tenang”gumam Devara dalam hati


Karena perjalanan yang sangat jauh, membuat Devara juga mengantuk. Devara kemudian menyandarkan kepalanya di kepala Ayra. Jadilah keduanya tidur berdua.


Seperti yang sudah diperkirakan Pak Anton, mereka sampai setelah menempuh perjalanan selama dua setengah jam. Sampai di lokasi bumi perkemahan, ternyata semua siswa sudah tertidur semua. Akhirnya Pak Anton membangunkan semua siswa menggunakan mic yang ada di bis.


“Yakk..anak-anak kita sudah sampai. Ayo bangun! Minta tolong teman sebelahnya dibangunkan ya”pinta Pak Anton pada semua siswa


Satu per satu siswa terbangun. Beberapa terlihat menggeliat saat terbangun. Akhirnya satu per satu siswa turun dari bis. Semua siswa yang turun dari bis, yang melihat Devara dan Ayra masih tertidur pulas hanya sanggup tersenyum. Karena ini kejadian langka. Seorang Devara tertidur sambil bersandar di kepala Ayra.


“Udah..turun..ga usah ganggu mereka”pinta Pak Anton pada siswa yang asyik memperhatikan pemandangan langka itu.


“Saya foto dulu ya Pak”pinta salah satu siswa


“Ga usah macam-macam..Kalo Devara sampai tahu, kamu ga akan bisa sekolah lagi besok”tegur Pak Anton membuat siswa tadi langsung menciut nyalinya.


Satu per satu siswa pun turun dari bis. Menyisakan Ayra dan Devara. Karena tak mau mengganggu keduanya akhirnya Pak Anton meninggalkan dua anak manusia yang sering bertengkar itu di dalam bis.


Nadine dan Daniel yang sudah lebih dulu sampai, mencari-cari keberadaan Ayra.


“Ayra mana sih?”tanya Nadine sambil clingukan menoleh ke kanan dan kiri.


“Iya..kok belum keliatan”sahut Daniel yang juga terlihat mencari-cari keberadaan Ayra.


“Hei Gas..liat Ayra ga?”tanya Daniel ketika berpapasan dengan Bagas yang satu bis dengan Ayra.

__ADS_1


“Tuh masih molor di bis..bareng Devara, hahaha”jawab Bagas


“Devara?”tanya Nadine dan Daniel bersamaan sambil bertatapan


“Ayra duduk bareng Devara?”tanya Nadine penasaran


“Ayo kita liat”ajak Daniel


Nadine dan Daniel berjalan ke arah bis Ayra.


Ayra yang mulai terbangun merasa suasana bisnya sangat sunyi.


“Kok sepi?”gumam Ayra dalam hati dengan mata yang masih terpejam.


Ayra perlahan-lahan membuka matanya. Ayra terperanjat melihat dirinya tertidur di bahu Devara. Ayra segera memindah tubuhnya menjauh dari Devara.


Devara yang merasakan pergerakan Ayra, akhirnya juga terbangun.


“Hei bangun”tegur Ayra sambil memukul lengan Devara


“Apaan sih?”tanya Devara yang memang belum terbangun 100%. Devara menggeliatkan tubuh besarnya dengan beberapa kali mengerjapkan matanya.


“Kenapa aku bisa tidur disitu? Seingatku tadi aku miring ke jendela” tanya Ayra


“Ya ga tau..kamu yang nemplok ke dadaku kali”jawab Devara asal


“Ga mungkin”


“Buktinya kamu tidur di sini..apa kau pikir aku yang memindahkan kepalamu ke sini?”tanya Devara


Ayra mendengus kesal. Merasa tak terima dengan tuduhan Devara. Karena Ayra ingat betul tadi dirinya tidur dengan memiringkan kepalanya ke jendela.


Nadine dan Daniel yang sudah sampai di bis Ayra segera naik dan mendapati dua manusia yang tertinggal di bis sedang marahan.


“Ay..kamu dah bangun?”tanya Nadine


“Nad..Dan”sahut Ayra melihat dua sahabatnya menyusul dirinya ke bis.


“Kalian beneran duduk sebelahan?”goda Nadine sambil menahan tawanya.


Sementara Daniel menatap Devara dengan tajam. Devara pun membalas tatapan tajam Devara.


“Udah ah..Ga usah dibahas..ayo turun Nad”ajak Ayra pada Nadine setelah membereskan semua barang-barangnya.


“Minggir kamu”bentak Ayra pada Devara karena kaki Devara menghalanginya yang ingin keluar bis.


Devara segera menggeser tubuh besarnya untuk memberi jalan pada Ayra. Setelah Ayra bisa keluar, Devara menyusulnya di belakang. Ayra dan Nadine turun dari bis beriringan. Saat Devara ingin menyusul Ayra, Daniel yang berdiri tak jauh dari Devara, menahan Devara dengan tangannya diletakkan di depan dada Devara.


Devara menatap Daniel dengan jengah.


“Apa maumu?”tanya Daniel


“Jangan ganggu Ayra”pinta Daniel


“Memangnya apa urusannya dengan kamu?”jawab Devara dengan malas.


“Aku peringatkan kau Dev..jangan ganggu Ayra”seru Daniel


Devara memilih meninggalkan sahabat kecilnya itu.


Setelah turun dari bis, Devara segera menyusul ke gerombolan anak buahnya yang sudah menunggunya sejak tadi.


“Hei bos..udah bangun ya”goda Gilang

__ADS_1


“Tidurmu nyenyak kan?”goda Janzsen sambil menepuk pundak Devara


“Tutup mulut kalian! Aku sedang ga mood sekarang”sahut Devara yang memang sedang bad mood setelah melihat Daniel memperingatkan dirinya tentang Ayra.


__ADS_2