Falling In Love With Trouble Maker

Falling In Love With Trouble Maker
Ajakan Jalan-Jalan


__ADS_3

Sepanjang perjalanan pulang, Devara terus melirik kakek Arya. Dalam hati Devara menyesali perbuatannya. Dia sama sekali tidak bermaksud membuat Mila harus melahirkan lebih awal.


“Kakek”sapa Devara


Kakek melirik pada Devara dengan malas.


“Besok kami akan melakukan pemotretan lagi. Apa kakek mau ikut kami?”ajak Devara


Kali ini Devara sungguh-sungguh mengajak kakek Arya. Ayra terus menatap sang kakek yang saat ini terlihat sangat kecewa pada Devara.


“Kita lihat saja besok”jawab kakek


Sesampainya di rumah, kakek Arya mengajak Ayra dan Devara ke ruang santai. Ruang favorit bagi semua penghuni rumah Devara. Karena pemandangannya yang sangat indah.


“Kakek mengajak kalian di sini karena ada yang ingin kakek berikan pada kalian”ucap kakek Arya


Ayra dan Devara saling bertatapan. Keduanya tampak bingung dengan permintaan kakek Arya. Kakek kemudian mengeluarkan sebuah kotak perhiasan kecil. Kakek membuka kotak tersebut dan mengeluarkan isi di dalamnya. Liontin huruf A milik Ayra kecil.


Kakek menyerahkan liontin kecil itu pada Ayra. Ayra menerimanya dengan wajah penuh kebingungan.


“Ini apa kek?”tanya Ayra


“Itu liontin milikmu”jawab Ayra


Ayra dan Devara yang duduk bersebelahan menatap liontin yang diserahkan kakek. Devara tampak berpikir sambil mengerutkan dahinya.


“Aku seperti pernah melihat liontin ini, tapi dimana ya?”tanya Devara


“Itu liontin yang dulu tuan muda berikan pada saya untuk disimpan”jawab Madam O


“Benarkah?”tanya Devara


Madam O mengangguk pelan. Kakek menatap cucu kesayangannya.


“Apa kau ingat Ayra, dulu sewaktu kamu masih kecil kamu pernah diculik oleh orang-orang yang tidak dikenal?”tanya kakek


“Iya kek”jawab Ayra


“Apa kau ingat anak kecil yang sudah menyelamatkanmu waktu itu?”


Ayra menggeleng pelan, karena memang dirinya sudah lupa wajah dan nama anak kecil yang sudah menyelamatkan nyawanya waktu itu.


“Dia duduk di sampingmu”

__ADS_1


Degh..


Devara dan Ayra langsung menoleh dan saling bertatapan dengan penuh kebingungan.


“Apa maksud kakek?”tanya Ayra


“Anak kecil yang saat itu menyelamatkan nona adalah tuan muda”jawab Madam O


“Benarkah?”tanya Ayra tak percaya


“Aku?”Devara menunjuk wajahnya sendiri


“Iya tuan muda. Tuan muda masih ingat kejadian empat belas tahun lalu saat tuan muda ke kota M mengunjungi bumi perkemahan, tempat tuan besar meninggal? Saat itu tuan muda menyelamatkan seorang anak perempuan yang hampir diculik. Apa tuan muda masih ingat?”tanya Madam O


Devara mencoba mengingat kembali kenangan masa kecilnya beberapa tahun lalu. Devara sedikit mengingat kejadian itu. Namun Devara tak mengingat wajah anak kecil itu dan lupa namanya.


“Aku ingat aku sudah menyelamatkan seorang anak kecil. Tapi apa maksud Madam dengan mengatakan anak itu adalah Ayra? Bukankah kejadiannya di kota M. Sementara Ayra tinggal di kota J sebelum ke kota X? Benar begitu kan sayang?”tanya Devara pada Ayra


“Karena dulu Ayra berlibur ke kota M, tempat aku bertugas selama beberapa tahun. Itu sebabnya dia ada di sana waktu itu”jawab kakek Arya


Baik Ayra dan Devara masih sulit percaya dengan cerita Madam O dan kakek Arya tentang kejadian belasan tahun silam.


“Memang susah dipercaya. Kakek juga kaget saat mengetahui kenyataan ini. Tapi kemudian kakek yakin, bahwa kalian memang digariskan untuk saling bertemu. Bahwa kalian memang sudah berjodoh sejak dulu”ucap kakek Arya.


Ayra dan Devara saling bertatapan dengan lembut. Berbagai perasaan berkecambuk di dalam hati keduanya. Meskipun keduanya tak lagi mengingat dengan jelas kejadian empat belas itu, namun ada sisi dalam hati keduanya yang meyakini kejadian itu memang benar terjadi.


“Dimana kakek menemukan liontin ini? Seingatku liontin ini hilang saat kejadian penculikan itu. Aku bahkan lupa dimana hilangnya”ucap Ayra


“Tuan muda yang sudah menemukannya. Setelah nona pulang, kami langsung mencari keberadaan sindikat penculik itu, dan malah menemukan liontin ini”jelas Madam O


“Devara?”panggil kakek Arya


“Iya kek”sahut Devara


“Maaf jika kakek sudah menyebabkan kesulitan padamu beberapa bulan kemarin. Dengan tantangan-tantangan yang kakek berikan. Seharusnya kakek yang berterimakasih padamu. Karena kau sudah menyelamatkan nyawa Ayra. Maafkan kakek”ucap kakek tulus


Devara langsung memeluk tubuh kakek Arya.


“Terimakasih kek. Karena kakek aku akhirnya tahu bahwa aku dan Ayra memang ditakdirkan untuk bersama. Aku tak tahu jika rupanya anak kecil yang kuselamatkan waktu itu adalah Ayra. Kakek tak perlu meminta maaf padaku karena aku yang bersyukur Ayra memiliki kakek seperti kakek Arya. Yang sangat menyayangi Ayra hingga Ayraku menjadi seperti sekarang. Aku janji akan menjaga dan membahagiakan Ayra kek, percayalah padaku”ucap Devara


“Iya kakek percaya”jawab kakek


Ayra menatap dua lelaki penting dalam hidupnya itu dengan terharu. Di balik sikap kakek yang sangat keras padanya, Ayra selalu meyakini bahwa kakek sangat menyayanginya.

__ADS_1


*****


Saat acara makan malam,


Keempat penghuni rumah Devara makan malam dalam suasana yang lebih hangat. Devara Ayra kakek Arya dan Madam O berbincang ringan. Sesekali mereka bercanda dan tertawa bersama. Tak ada lagi suasana canggung antara kakek Arya dan Devara. Karena kini kakek sudah 100% menerima Devara sebagai bagian dalam keluarganya. Kakek yakin Devara akan menyayangi dan mencintai serta membahagiakan Ayra.


“Oya kek, besok kakek ikut kami kan?”tanya Devara pada kakek Arya


“Sepertinya kakek tidak bisa”jawab kakek


“Kenapa kek? Kakek mau pulang?”tanya Ayra


“Tidak! Kakek masih akan disini selama beberapa hari”


“Lalu kenapa kakek tidak mau ikut kami?”tanya Ayra


“Kakek ada acara”jawab kakek


“Acara? Acara apa kek?”tanya Ayra bingung


“Kakek akan mengajak Madam O jalan-jalan”jawab kakek Arya sambil melirik ke arah Madam O


Madam O langsung menoleh menatap balik ke arah kakek Arya yang tersenyum ke arahnya.


“Apa maksud tuan?”tanya Madam O bingung.


Ayra dan Devara tersenyum melihat interaksi kedua orang yang sudah tak lagi muda itu. Meskipun sudah berumur, namun kakek masih nampak gagah. Madam O juga masih terlihat cantik meskipun usianya tak bisa dibilang muda lagi.


“Temani aku jalan-jalan di kota ini, Madam mau kan?”ajak kakek


Madam O salah tingkah mendengar ajakan kakek Arya. Entah kenapa jantungnya berdetak tak karuan dengan ajakan kakek.


“Saya..”


Madam O tampak kebingungan menjawab ajakan kakek Arya.


“Sudah Madam..ikut saja dengan kakek. Madam temani kakek jalan-jalan ya?”pinta Devara


“Tapi tuan muda…”


“Ini perintah dariku. Madam bisa istirahat besok dan menemani kakek jalan-jalan”perintah Devara


Madam O menatap Devara Ayra bergantian. Madam O terlihat berpikir sejenak. Madam O juga menatap kakek Arya. Sambil menghela nafasnya pelan, Madam O pun memberikan jawabannya.

__ADS_1


“Baik tuan..saya akan temani tuan jalan-jalan”jawab Madam O


Semua orang yang ada di ruang makan ikut bahagia setelah mendengar jawaban Madam O. Ayra menatap kakeknya dan Madam O bergantian lalu tersenyum pada keduanya. Devara juga menggenggam tangan Ayra. Devara ikut merasakan kebahagiaan Ayra. Sudah lama sejak kematian neneknya, Ayra melihat kakeknya bisa dekat dengan wanita lain. Apalagi Madam O sudah seperti nenek bagi Ayra selama Ayra tinggal di rumah Devara.


__ADS_2