
Algo sipda mudgo sipda Eh
Eotteon apeumi urireul magaseol su ineunji
Midgo sipda deudgo sipeun mal
Uri unmyeongi seororeul danggyeo
Beoseonal su eomneun Gravity Yeah
Pagi hari di dapur tampak gaduh. Alena sengaja memutar musik Wanna One keras-keras. Memperdengungkan lagu One Love, sambil sesekali bibir manisnya ikut melantunkan lagu boyband Korea kesukaannya itu.
Sepuluh jarinya lincah bergelut, menghias dan menata cup cake di atas piring ramping. Tubuhnya berjoget seirama ketukan lagu. Berkali-kali ia mengamati, menimang kue-kue mungil yang baru keluar dari oven. Di atas cup cake, ia Alena menambahkan stroberi, ceri, dan anggur. Aroma manis khas nan kuat, menebar ke seluruh dapur. Bahkan sampai ke kamar dan ruang tamu. Siapa pun pasti akan terlena mencium wanginya.
Nevan mengendus kenikmatan hakiki melalui indra penciumnya. Perutnya menggelitik. Seolah memberi isyarat, ingin mencicipi makanan tinggi kalori yang istrinya buat.
"Kemarin membuat brownis seloyang penuh. Lusa lalu membuat bolu gulung dua nampan utuh. Sekarang, membuat cap cake sebanyak ini. Kutengok, besok jadwalmu buat kukis atau nastar. Lama-lama rumah kita bisa jadi toko kue dadakan." Nevan menggerutu.
Ia baru saja keluar dari kamar, masih berusaha mengancingkan beberapa kancing piama yang terbuka. Wajahnya kurang bersemangat. Mungkin karena semalaman harus lembur dengan setumpuk dokumen kantor.
Nevan sebal, banyak kue yang Alena buat. Tak satu pun ia boleh mencicipi. Kecuali hanya hidungnya menerima kelezatan kue tanpa ampun. Alena sengaja melarang Nevan makan kue buatannya. Alasannya mengatakan, kue tersebut dibagikan pada tetangga dan teman terdekatnya.
"Jangan berisik, Van. Cepat mandi, lalu berangkat kerja sana!" perintah Alena mengibaskan tangan. Ia berlalu menuju kamar, untuk mengecek ponsel.
"Sayang! Apa kamu lupa aku suamimu?! Sudah berapa hari kamu nggak siapin sarapan buatku. Air hangat juga nggak! Malah sibuk bikin kue terus!" Nevan komplain.
__ADS_1
Nevan menundukkan kepala lunglai. Ia berbalik, hendak mengikuti langkah istrinya. Tapi begitu sampai di depan pintu kamar, pintu di banting keras oleh Alena. Pria itu harus menerima kecupan pintu pada wajahnya. Nevan mengelus dada, menetralisir lonjakan jantung yang hampir lepas dari kungkungannya.
"Sayang! Buka pintunya!" teriaknya frustrasi.
Tak ada respon apapun dari dalam. Entah sedang apa Alena saat itu. Nevan menarik napas panjang. Berjalan mendekati sofa dan membaringkan tubuh di sana. Ia ingin lelap, tak kuasa menahan kantuk.
"Istriku tabiatnya makin aneh," gumamnya memejam mata.
"Nevaaaaaaaannnnn!"
Nevan kaget, sontak bangun mendatangi sumber suara. Ia mengetuk pintu kamar, cemas.
"Len, buka pintunya! Kamu nggak pa-pa, kan?!" Nevan panik
Pintu kamar terbuka. Alena menampakkan diri dengan raut sedih.
"Kasihan, dia mati-"
"Innalillahi .... "
Nevan memeluk istrinya. Menepuk-nepuk punggung Alena penuh kesabaran. Meski ia tak paham siapa yang dimaksud Alena. Bukannya tenang, Alena menangis tersedu.
"Yelli!" jerit Alena mengusap genangan air matanya.
"Udah jangan sedih, nanti kita datang ke rumah temanmu, ya?" Nevan menenangkan.
__ADS_1
Entah sejak kapan Alena jadi cengeng begitu. Setahunya, dulu gadis itu paling tangguh. Jatuh dari sepeda motor, masih bisa tertawa. Dikerjai teman sekolah, cuek bebek. Diputus pacar juga tak ambil pusing.
"Teman?" Alena menarik diri, melepaskan pelukan suaminya yang khawatir.
"Yelli temanmu, kan?" tebak Nevan sok tahu.
"Bukan!"
"Terus siapa?"
Alena menunjukkan gambar di ponsel. Nevan tepuk jidat. Rupanya, Yelli yang ditangisi Alena, adalah hamster imut piaraan Rendra.
Oh my God. Ada apa dengan Alena?
Jiwa Nevan berdialog seorang diri.
\=\=\=\=\=\=\=&&&\=\=\=\=\=\=\=
Hmm, kira-kira ada apa ya? #mikirsyantik
Btw, thanks like & komennya ya ^^
saya do'akan teman-teman sekalian selalu bahagia, sehat walafiat, lancar rezeki, dan dimudahkan urusan baiknya.
Salam hangat,
__ADS_1
Depa (Dee14007)
\=\=\=\=\=\=\=♤♤♤\=\=\=\=\=\=\=