
Nevan berjalan gontai menuju ruang tamu, masih setengah menahan kantuk. Sejak tadi bel rumahnya berbunyi, sampai mengganggu indra pendengarnya. Dengan amat terpaksa bangun, ia bahkan lupa jika masih memakai celana pendek, tanpa kaus yang menutup badan. Dibukanya pintu tanpa sempat menengok tamu dari jendela. Bibirnya berulang kali menguap lebar. Satu tangan sibuk mengucek mata lelahnya.
"Wah! Kak Nevan mau daftar jadi model majalah Playboy ya?! Pagi-pagi udah toples begini," seloroh Nisa, adiknya yang baru tiba dari Semarang.
Nevan memperkuat kucekan mata. Memantulkan pandangan sekuat-kuatnya. Ia terlonjak menyadari siapa yang datang. Kelopak pandanya seketika melebar. Nevan buru-buru kembali masuk kamar, mencari pakaiannya.
"Ada apa? Kayak habis lihat hantu kamu." Alena heran mendapati mimik panik sang suami. Ia sibuk mengeringkan rambut basahnya dengan handuk. Sambil intens memandang Nevan yang terburu-buru mengenakan kaus oblong bergambar Pokemon.
Nevan tak sempat menjawab, karena pintu kamar sudah terbuka lebih dulu. Seorang gadis berbibir mungil, menyembul masuk tanpa permisi. Kebiasan buruk Nisa belum luntur. Suka seenaknya masuk kamar kakaknya tanpa izin. Ia bahkan tidak peduli dengan status Nevan yang sudah beristri.
"Nisa!" pekik Alena menganga.
Meski Nisa tidak bisa hadir di acara pernikahan Alena dan Nevan. Karena terhalang kesibukan kuliah. Alena sudah kenal dengan adik iparnya melalui video call tempo lalu.
"Wah. Sepertinya dugaanku benar. Kalian pasti perang hebat semalaman, kan? Ckck. Kak Lena, Nisa beneran kasihan deh sama adik kecil dalam perut Kakak. Gimana ya, nasib keponakan malangku di dalam sana? Kalau kalian terlalu rajin bisa-bisa anak kalian jadi suka anu-anu nanti," celetuk Nisa seperti biasa, asal-asalan bicara. Ceplas-ceplos dan tidak pikir panjang. Absurd.
Lihat saja tatapan horor kakaknya yang seperti ingin menelan hidup-hidup adiknya. Nevan mendekati Nisa dan langsung menjewer telinganya.
"Bicara yang sopan sama kakak iparmu! Dasar anak bandel!" Nevan mengomel.
__ADS_1
"Aduh! Sakit Kak!" rintih Nisa berusaha meloloskan diri.
"Kamu ini jangan sok tahu dan sok dewasa. Masih kecil udah berani ceramahin orang tua. Ngomong anu-anu segala! Kayak ngerti aja?!" cecar Nevan kehabisan akal, untuk menghadapi adiknya yang super duper resek.
Tidak salah bila orang tua mereka mengirim Nisa ke kampung halaman neneknya. Dititipkan pada om dan tantenya di sana. Agar lebih terdidik dan mandiri. Sebab selain sangat sibuk, orang tua mereka memang sudah kehabisan ide, memberi petuah pada Nisa. Kalau dibiarkan bebas berkeliaran di metropolitan, mereka khawatir Nisa akan makin menjadi-jadi. Makin bebas bersuara dan berbuat.
"Van, udah jangan kayak gitu. Kasihan Nisa." Alena berusaha membela adik iparnya.
"Kamu ngapain ke sini? Kabur lagi dari om dan tante?!" tuduh Nevan. Ia hafal kelakuan adiknya. Bila tersinggung atau ada sesuatu mengganggu, pasti langsung mencarinya. Entah mau numpang iseng, atau numpang rusuh. Buat pelampiasan kekesalan biasanya.
Nisa meringis, menampilkan wajah mencurigakan. Seolah membenarkan tuduhan Nevan barusan.
"Tante berisik banget. Masa Nisa nggak boleh pacaran sama cowok. Apa Nisa kudu pacaran sama cewek?! Kan ogah!"
"Jelas aja tante ngelarang. Kamu itu baru mulai kuliah. Masih anak kemaren sore. Jangan sok-sokan. Ntar dimintain cium sekali ketagihan, terus khilaf! Siapa coba yang repot?!" Nevan melempar omelan lagi.
Nisa berdesis miris. Melirik kakaknya dengan tatapan tak tahu diri. "Kak Nevan lupa ya? Yang kebablasan kan Kakak. Bukan aku. Ish ish ish."
Kalimat Nisa tepat mengenai sasaran. Ia langsung dapat jitakan dari Nevan.
__ADS_1
"Itu insiden tanpa sengaja tahu! Lagian Kakak sama kamu itu beda, Nis! Kamu ceroboh dan suka asal-asalan!"
"Kak, aku juga nggak bego kali. Soal cowok, kriteriaku harus jelas dan paten. Ganteng , kaya, mapan, pinter, nggak cerewet, setia, bertanggung jawab, rajin ibadah juga penting. Ehm, dan .... "
"Dan apa?" Alena penasaran.
"Ehm, dan tentunya harus perkasa. Minimal sebelas dua belas lah sama Beckham. Sekali tendang langsung gol ke gawang!" Nisa menjelaskan dengan lantang. Ia bahkan mengangkat satu tangan ke udara dengan menggebu-gebu.
Lagi-lagi Nevan sudah menjewer telinga adiknya. Menyadari ke mana arah omongan Nisa, yang makin melantur tak jelas. Alena hanya terkekeh sambil geleng-geleng kepala. Sepertinya setelah ini dia dan Nevan tidak akan leluasa lagi.
\=\=\=\=\=\=\=🌹🌹🌹\=\=\=\=\=\=\=
Hai, adakah yg masih nungguin FN?
Karena ODOC ku udah kelar, jadi aku bisa usahain mulai rajin lagi up di sini. Hehe.
Tetep dukung FN ya, biar makin banyak yang baca hehe. Biar diriku makin ber-energi buat lanjutin FN. Terimakasih semuanya. #tebarlope2 ^^
Tambahan : Visual sebagai Nisa (Arin Oh My Girl).
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=