
Satu minggu kemudian...
Nevan membawa sebuah nampan, berisi susu hangat dan nasi goreng spesial buatannya. Ia mendekati Alena pelan-pelan. Keduanya nampak canggung. Meski bukan hari pertama mereka menjadi sepasang suami istri. Namun, rasanya masih bagai mimpi semata. Terkadang Alena masih sering menepuk pipinya sendiri, memastikan bahwa semua adalah kenyataan mutlak. Begitu pula Nevan. Ia tak segan membenturkan kepala ke tembok, hanya untuk meyakinkan diri statusnya sekarang adalah seorang suami dari Alena.
"Kamu belum makan dari pagi. Biasanya orang susah tidur dalam keadaan perut kosong," tukas Nevan selembut mungkin.
Sejujurnya ada kerinduan menelisik hati Nevan. Ia berharap Alena bisa kembali bersikap baik dan perhatiaan padanya. Seperti dulu sebelum insiden malam pertama yang menimpa mereka. Keduanya sering bercerita dan jalan-jalan bersama. Nevan juga sering membantu Alena menyelesaikan tugas-tugas kantornya. Sementara, Alena akan membalasnya dengan membuat kue kesukaan Nevan.
Pria itu sangat rindu ejekan dan candaannya secara akrab dengan Alena. Ia terngiang ledekan Alena, ketika senang mengatainya pria perfeksionis. Sebaliknya, ia pun tak jengah untuk membalas, menyebut Alena jerapah berpipi bakpau. Karena tubuh tinggi semampai Alena, serta pipi gembungnya yang menggemaskan saat marah.
Melihat wajah Nevan yang sangat tak bersemangat dan putus asa. Lambat laun membuat hati Alena sedikit demi sedikit merasa iba dan luluh. Ia menghabiskan makan malam yang susah payah Nevan buat khusus untuknya.
"Len .... " panggil Nevan lirih hampir tak terdengar. Ia tampak sangat gugup.
"Apa?" tukas gadis itu singkat. Nada bicaranya sudah agak melunak.
"Aku kangen kamu, Len .... "
Alena tersentak mendengar kalimat demikian jelas, keluar dari mulut Nevan. Jantungnya sontak terpacu lebih cepat dari biasanya. Darahnya berdesir tak karuan. Waktu seakan berhenti detik ini juga. Ia seperti tengah dihujani ribuah kelopak sakura merah jambu nan menawan. Mungkin karena belakangan sikap manis Nevan semakin intens padanya.
"Len, kayaknya aku mulai betulan suka sama kamu ... "
__ADS_1
Alena membeku. Berusaha menguatkan pendengaran agar tak keliru. Ia pikir ia salah dengar.
"Semenjak sikap kamu berubah dingin, rasanya seperti ada yang kurang. Kamu nggak perlu memaksakan diri menyukaiku juga. Tapi, aku minta sama kamu supaya kamu mau senyum lagi. Aku harap kamu bahagia nikah sama aku, Len .... " lanjut Nevan tulus.
Deg.
Degup jantung Alena makin menjadi-jadi. Ia merasakan ada yang salah dengan dirinya. Seakan masih tak percaya, dengan apa yang Nevan tuturkan barusan. Mulanya ia pikir, Nevan hanya sebatas mengasihaninya saja, makanya mau bertanggung jawab.
"Kamu salah minum? Atau mabuk lagi? Ini masih jam setengah delapan malam, Van. Jangan bicara ngawur," seloroh Alena, kemudian meneguk minuman di gelasnya.
"Aku serius, Len. Aku akan berusaha kasih yang terbaik buat kamu. Jadi suami terhebat buat kamu." Nevan menegaskan sekali lagi. Ada kesungguhan terpancar dari bola mata beningnya.
Alena diam sejenak, lalu berkata, "Udahlah, jangan kebanyakan bikin janji. Belum tentu bisa terbukti. Kita lihat aja nanti, kemana waktu akan bawa perasaan kita."
Apanya yang kangen? Jelas-jelas dia udah jadi suamiku. Jangankan peluk, pegang aja dia nggak berani, kan? Ish, mentalnya cuma beringas waktu mabuk aja! Nyebelin banget!
Suara hati Alena merutuk menahan luapan perasaan. Ia mendekap guling kuat-kuat, berusaha menetralisir hasrat terpendam yang meronta kedinginan. Ya, Alena butuh kehangatan dari suaminya.
Sayangnya, selama seminggu mereka menikah. Nevan justru memilih tidur di kamar sebelah. Bahkan selama orang tuanya di Bali, menginap di rumah Nevan, ia akan tidur di sofa dekat ranjangnya. Bukannya ia tak ingin satu tempat tidur dengan Alena, istrinya. Bukan. Nevan hanya khawatir Alena belum siap menerimanya, belum siap berdekatan lagi dengannya, belum siap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi dalam rumah tangga mereka.
Melihat Alena kembali meringkuk dalam selimut, Nevan gusar. Ia merapikan piring dan gelas ke atas nampan. Lalu beranjak, akan membawanya kembali ke dapur.
__ADS_1
"Nanti jangan tidur di kamar sebelah!" kata Alena menyingkap sedikit selimut, hingga nampak wajahnya saja.
Nevan tertegun mendengar ucapan istrinya. Ada letupan atom meledak-ledak di hati dan pikirannya, yang membuncah bahagia.
"Serius? Aku boleh tidur di sini? Tidur sama kamu?" sahutnya antusias.
"Hem," balas Alena singkat.
Jelas saja Nevan mencetuskan kata 'yes' dengan penuh semangat membara. Tanpa sadar ia mendekati kembali istrinya dan mengecup kilat pipi Alena gemas. Gadis itu melotot kaget.
"Jangan mikir macem-macem, Van!" ancam Alena, jantungnya tiba-tiba berdebar tak karuan.
"Cuma satu macem, Len. Cium aja. Kita pemanasan dulu, sisanya nyusul."
\=\=\=\=\=\=\=&&&\=\=\=\=\=\=\=
Uhuiiy. Gimana nih, masih pada demen couple gaje ini kah? Kalau iya, ayo semangatin terus saya dengan komen dan like yah? Eits, komennya yg baik2 aja, biar gak spaneng #ditimpukinpembaca #peace
Satu lagi, sementara inu saya belum bisa creazy up. Karena mulai tgl 1 Desember harus kelarin project selama 30hari penuh di Wattpad (jangan sungkan main2 ke sana, wp : Dee14007). Jadi mau gak mau nyicil satu part/hari dulu gak apa ya. Hehe. Thanks atas pengertiannya. ^^
Salam hangat,
__ADS_1
Depa (Dee14007)
\=\=\=\=\=\=\=***\=\=\=\=\=\=\=