FIRST NIGHT (Season 1, 2, Dan 3)

FIRST NIGHT (Season 1, 2, Dan 3)
S2. Bab. 25 - Flashback


__ADS_3

"Lepasin kemejaku, Sayang..."


Rintihan itu terdengar sayup dari dalam kamar kos berukuran 5x3 meter itu. Beberapa botol air mineral berdiri kosong di atas meja dekat tempat tidur.


Jino merengkuh kuat gadis yang menggeliat di pembaringan. Mencoba meloloskan kancing-kancing baju yang berantakan. Gadis itu rupanya juga terbius sesuatu. Keduanya lupa bahwa mereka sebenarnya rival abadi.


Bruk.


Jino terjungkal ke lantai, bersamaan nyanyian alarm di ponsel berbunyi. Ia menepuk kepala berkali-kali. Merutuki diri bagaimana mungkin memimpikan gadis yang paling sering membuatnya kesal bukan main.


"Ini cuma mimpi! Pertama dan terakhir! Nggak boleh mimpiin cewek resek itu lagi! Nggak boleh!" umpatnya meyakinkan diri. Jino menepuk kepalanya beberapa kali. Berharap pikiran kotornya lekas sirna. Entah apa yang merasukinya, sampai mimpi aneh bersama dengan musuh bebuyutan.


Ia bergegas bangkit menuju kamar mandi. Membasuh muka dan menyalakan kran air. Sampai-sampai celana pendek selututnya ikutan basah juga.


"Jino, kamu seksi deh .... "


Kilat mata gelapnya mengerjap spontan. Desahan dalam mimpinya seolah sengaja mengusik jam mandinya. Cepat-cepat dibasuhnya wajah tampan minimalis dan manis itu dengan guyuran air. Menepuk-nepuk pipi untuk tak mengingatnya. Namun naluri tetaplah naluri. Ia cowok normal seperti kebanyakan. Hasratnya membelenggu menimang gundah. Mata legam berpias terang itu meredup perlahan. Ia kembali menyetel ulang rekaan adegan dalam bunga tidurnya.


Gadis itu berguling manja, satu tangan melingkar di pinggang Jino. Satu tangan lagi menjelajahi pipi hangatnya. Membuat napas Jino memburu menuntut kehausan. Bibirnya memagut mesra bibir merah muda berlipglouse rasa peach. Menghisapnya lembut, perlahan dan sangat manis.


Tanpa sadar Jino menyentuh bibirnya sendiri. Merasakan aroma segar yang dihirup rongga hidungnya. Awalnya terasa hangat, lama-lama ia kepanasan.


Jemari lentik berkutek cokelat cream cantik itu beralih. Menelusuri dada bidang Jino yang sudah toples entah sejak kapan. Membuatnya menggelinjang tak tahan. Nevan menarik tubuh sang gadis makin dekat, menenggelamkan diri di antara leher jenjang sang gadis. Menikmati wangi menawan parfume sweet musk yang menerobos indra pencium. Entah mengapa malam ini Jino suka wangi itu. Seksi dan menggairahkan, batinnya dalam hati. Lagi-lagi Jino menggelengkan kepala.


"Gila! Nggak boleh mikirin cewek aneh itu!" rutuknya memprotes diri sendiri.


"Woi, bro! Lo di dalem?! Buruan dong ke luar!"


Teriakan Alfaro menghentikan khayalan fana Jino. Cowok yang sudah tak pakai apa-apa itu menghentakkan kaki sebal, meraih handuk dan melilitkannya di pinggang menutupi bagian ekstreamnya. Ia berjalan ke luar dengan wajah merah tertahan, akibat bendungan hasrat yang melonjak naik harus dipaksa turun tiba-tiba. Tahu kan, bayangkan saja naik roler coster sedang asik-asiknya berjalan pelan mendadak di pontang-pantingkan meliuk-liuk ekstra cepat.


"Kenapa?! Berisik banget," sungutnya.


"Muka lo kenapa? Merah kek kepiting balado gitu," Alfaro menatap heran.


Jino menggaruk tengkuk sebal. "Lo ganggu gue mandi." Jino beralasan.


"Mandi apa mandi nih? Jangan-jangan .... "

__ADS_1


"Lo ngapain sih pagi-pagi ribut banget!" omel Jino.


Alfaro tertawa geli setelah menyadari maksud ucapan temannya. Ia mengekori Jino yang mengarah ke almari pakaian.


"Sorry, bro. Lagian lo sih nggak bilang kalau lagi sibuk mainan sabun di dalem," ledek Alfaro sarkarstis masih disela tawa renyah. Biasanya Jino yang sering mengganggunya saat sedang nonton film hot-hot pop.


"Sorry ya," tukasnya mengulangi.


"Ada apaan sih? Buruan bilang, gue masih agak ngantuk juga ini." Jino makin kesal.


Alfaro menepuk kening sebentar. Ia hampir lupa sesuatu.


"Gue pengen curhat aja sih, bro. Lo inget kan desain yang gue bikin dengan bantuan pendapat dari lo?"


Jino mengangguk saja. Padahap dia cuma jadi juru komen, bagus atau tidak.


"Bos gue nolak rancangan itu mentah-mentah. Masa pagi-pagi buta telinga gue udah sakit dengar omelannya di telepon," curhat Alfaro memelas.


Jino menyipitkan mata mendengar penjelasan temannya. Tak habis pikir, desain baru interior pesanan klien yang berminggu-minggu mereka buat susah payah. Ralat, maksudnya dibuat oleh Alfaro dengan dukungan dan semangat tambahan dari Jino. Yang tiap begadang, ia bertugas jadi suporter dadakan. Berkorban tenaga, waktu, dan otak. Sekarang harus sia-sia belaka. Rahang Alfaro menggertak keras. Tangannya mengepal ingin meninju sesuatu.


"Terus lo harus bikin ulang gitu?" terka Jino.


"Jangan dong! Lo kira cari kerjaan sekarang gampang apa?! Udah enak bisa kerja kantoran. Lo harusnya bersyukur. Coba lihat gue yang pontang-panting kek gini," nasehat Jino menggebu. Ia sudah memakai kaus dan celana pendek, menyingkirkan handuk yang melilit.


"Ngomong-ngomong, gue semalem denger lo ngigau kenceng bener sampe kedengeran luar pintu."


Jino melotot mendengar pertanyaan kawannya. Teringat akan mimpi yang ia bangun semalam. Mimpi aneh yang mengingatkannya pada sosok gadis menjengkelkan sekaligus menarik perhatiannya semalam. Bayangan Nisa dengan senyum menggoda sekelebat hadir membius Jino dalam kurun waktu kurang dari dua puluh empat jam.


"Gue lagi kesel sama cewek. Makanya kebawa mimpi. Nggak tahu juga si kenapa sampai masuk ke mimpi."


"Oh, si Nisa ya?" tebak Alfaro. Hampir tiap malam ia sering dengar Jino curhat mendumel soal gadis absurd itu.


"Itu cewek aneh banget. Masa tiap siang dateng bawain makanan, tapi masakannya nggak ada yanh jelas. Menunya ambigu semua. Mana kalau ngomong ceplas-ceplos banget. Heran gue!"


Alfaro mesem. Entah sudah kesekian kali ia mendengar keluhan yang sama berulang kali.


"Lo harusnya bisa atasin sih, gampang malah. Setahu gue tipikal cewek kayak gitu nggak bisa dikerasin. Lo tolak ya makin gencer doi ngejar," cetus Alafaro sembari ikut duduk lesehan di atas lantai beralaskan tikar.

__ADS_1


"So, maksud lo? Gue harus terima dia gitu? Ogah!" rutuk Jino emosionil.


"Bro, gue ingetin nih ya, hati-hati sama perasaan. Kemaren atau sekarang lo benci dia mati-matian. Besok siapa yang tahu? Bisa jadi lo malah cinta mati sama si doi," tukas Alfaro memperingatkan.


Seharian ini Jino menimbang ucapan Alfaro. Menyetir pun ia susah terkonsentrasi. Sampai jam makan malam tiba, anehnya Nisa tak kunjung menampakkan diri. Jino jadi mengkhawatirkannya. Biasanya Nisa akan muncul tanpa diundang pada jam-jam makan siang. Meski bekal yang dibawa tak pernah ada yang cocok dengan lidah Jino. Terakhir kali kemarin Nisa membuatkan tempong setengah gosong. Rasanya pahit dilidah. Tapi sayur beningnya lumayan walau agak keasinan. Mungkin Nisa ngebet kawin.


Jino duduk di dekat tempat parkir, menunggu orderan berikutnya. Tempat mangkalnya tak jauh-jauh dari pangai Kuta.


"Halo, calon imam?"


Jino hampir terjungkal mendengar bisikan di telinga kanananya. Ia menoleh ke sisi kanan. Wajah Nisa begitu dekat menyembul dari belakang leher Jino. Cowok itu bagai tersihir sesuatu. Senyum Nisa malam itu, mengalahkan indahnya kerlipan bintang di langit.


Nisa duduk di sebelah Jino. Ia menyodorkan sekotak makakanan terbuat dari steroform dan juga air mineral kemasan.


"Maaf, nggak sempat masak hari ini."


"Tumben?" Jino heran sekaligus senang. Setidaknya ia tak keracunan akibat masakan Nisa yang rasanya nano-nano.


"Tadi seharian sibuk ngepak barang. Besok sore kan aku harus balik ke Semarang."


Jino terbelalak. Entah kenapa dia malah agak tidak rela mendengar gadis perusuh ini hendak pergi. Padahal harusnya ia senang.


"Terus?"


"Kamu harus kangen ya? Jangan lupa telepon aku tiap malem. Biar aku nggak lupa sama kamu, kamu inget aku terus."


"Memangnya kamu siapa? Aku siapa?" Jino berdecak pura-pura tak peduli.


"Kamu kan calon imamku."


Jino membuang napas sebal. Ia berdiri dan mengajak Nisa bangkit dari duduk. "Ayo ikut aku!"


"Mau ke mana?"


"Ke masjid. Katanya mau diimamin?"


Nisa manyun. "Maksudnya imam rumah tangga tahu."

__ADS_1


Jino geleng kepala. Ia membuang muka sebentar. Tak mau ketahuan Nisa kalau pipinya jadi merona.


\=\=\=\=\=•🌹🌹•\=\=\=\=\=


__ADS_2