
Pagi ini di kantor, Nevan beberapa kali menguap menahan kantuk. Ia memijat tengkuk merasakan lelah di sekujur badan. Sebentar-sebentar senyumnya tersungging, menampilkan deretan gigi putih berkilaunya. Membayangkan pergulatan semalam, rasanya jantung Nevan melonjak-lonjak. Entah dari mana Alena belajar cara membuai suaminya sehebat itu. Biasanya Alena akan pasrah ketika Nevan menjamahnya. Paling banter hanya turut mengulum bibir manis Nevan.
Tapi semalam sangat berbeda, sentuhan Alena dan segala perbuatannnya, sungguh membuat Nevan serasa terbang melayang ke langit ke tujuh.
Rendra masuk tanpa mengetuk pintu, ia keheranan mendapati temannya melamun lagi. Namun dengan ekspresi berbeda. Bila kemarin Nevan berwajah muram durja. Sekarang ia berwajah sumringah bagai pelangi menghias kabut biru.
"Gimana semalem, rasanya tidur di teras?" ledek Rendra.
Rupanya, setelah Alena mengunci pintu, Nevan langsung mengirim pesan pada Rendra. Hobinya mengadu pada kakak ipar tiap kali istrinya mengomeli atau menistainya. Nevan yang malang. Untung masih sempat terkirim, sebab ternyata batrai ponselnya lowbet.
"Yah, minimal terbayarkan," seloroh Nevan semangat.
"Gila. Habis enak-enak ya lo?" tebak Rendra geleng kepala.
Nevan tak menggubris, sebuah panggilan mengganggu obrolan mereka. Rendra meletakkan sebuah map di atas meja Nevan.
"Halo, sayang?" Nevan bahagia menerima telepon dari Alena.
"Nanti makan siang nggak usah jajan di luar. Aku antar makanan buat kamu."
"Ah, terimakasih sayangku? Muuach!"
Astaghfirullah ....
Rendra mengelus dada tak percaya. Sepertinya Nevan telah membucinkan diri terhadap adiknya. Keduanya bercakap-cakap mesra di telepon. Sementara Rendra malah merasa jadi obat nyamuk tak berguna. Ia pun pergi menuju ruangannya di sebelah ruangan Nevan.
"Pak Ren, ini dokumen yang Anda minta," Sahira, si sekertaris Bos besar nan cantik jelita menyodorkan dua buah map berwarna biru muda dan kuning tua.
"Thanks, ya?" Rendra berlalu masuk ke ruangan kerjanya.
__ADS_1
"Tunggu, Pak," panggil Sahira malu-malu.
"Ada apa?"
"Nanti siang makan siang dengan-"
"Oh, maaf saya sudah ada janji! Kamu makan dengan yang lain saja." Rendra menolak kilat sebelum Sahira sempat menyelesaikan kalimatnya.
"Tapi Pak, bukan dengan saya. Pak bos yang menyuruh menyampaikan. Beliau ingin membicarakan sesuatu dengan Anda."
Wajah Rendra memerah. Malu karena telah salah sangka. Ia pikir Sahira sedang mengajaknya makan bersama.
"Oh, oke."
"Bukannya Pak Rendra bilang ada janji?"
"Ah itu, bisa diatur," dalihnya seraya memijat tengkuk. Ia malu ketahuan ke-ge-er-an.
Alena celingak-celinguk di ruang tunggu depan resepsionis. Sudah sepuluh menit ia tiba di kantor Nevan, menenteng bekal makanan dan infus water lemon.
Seseorang mendekap bahu Alena dari belakang. Alena terkaget, ia hampir terjengkang ke lantai saat meronta. Tapi tangan itu makin kuat memeluk. Pasalnya, Nevan baru saja ke luar dari lift bersama Rendra dan bosnya, berjalan ke arahnya. Lalu siapa yang sedang memeluknya?
Mata Nevan membola penuh amarah. Ia berjalan cepat dan langsung menarik badan istrinya ke sisinya. Ditonjoknya pria yang berani menyentuh miliknya sembarangan.
"Ngapain lo peluk-peluk bini gue! Mau mati?!" geram Nevan, bicara dengan nada tinggi pada pria yang tersungkur di lantai.
Petugas keamanan datang untuk melerai mereka, dan menenangkan Nevan. Si pria berdiri kikuk.
"Anu, sorry. Gue salah orang. Dari belakang mirip banget sama pacar gue," seloroh sang pria jujur.
__ADS_1
"Halah! Bilang aja lo mau ambil kesempatan kan! Awas lo, ntar!" ancam Nevan masih tak terima.
Sang petugas keamanan segera membantu si pria dan menjauhkannya dari Nevan. Rendra dan bos mereka hanya menonton sambil geleng kepala. Baru kali ini melihat sosok lain Nevan yang beringas dan menakutkan. Biasanya dia selalu ramah dan murah senyum juga penyabar di kalangan rekan kerjanya, apalagi pada klien.
"Sudah, Van. Aku nggak pa-pa." Alena menarik lengan Nevan, berusaha memberi pemahaman.
"Apanya nggak pa-pa?! Aku nggak suka kamu dipegang-pegang sama orang, tau!" protes Nevan meluap-luap. Agaknya kesensitifan Alena menular pada suaminya.
"Aku nggak mau tahu, nanti kamu pulang langsung mandi kembang tujuh rupa!"
Dukk.
Sebuah tendangan Tsubasa Ozora baru saja mendarat di lutut Nevan. Pria itu merintih ngilu. Istrinya baru saja menganiaya dirinya dengan sepatu hils dua belas senti. Sial sekali dia. Rendra dan si bos langsung berlalu, tak tega menertawakan langsung tingkah absurd Nevan.
"Kok aku ditendang sih?" Nevan mengiba.
"Makanya kalau ngomong jangan asal jeplak! Kamu pikir aku kena apaan, sampe harus mandi kembang tujuh rupa segala!" Alena mencubit perut Nevan. Membuat pria itu mengaduh kesakitan.
"Maaf, sayang. Aku cuma bercanda," sanggah Nevan mencari alasan.
"Nggak lucu!" Alena putar badan dan berjalan meninggalkan Nevan. Nevan mengejar dan bergelayut manja di lengan Alena. Benar-benar mirip anak TK merengek pada ibunya.
Para resepsionis berbisik satu sama lain, "Pak Nevan diem-diem bucin juga ya?" kata mereka seraya terkekeh.
Sepertinya setelah kejadian ini, embel-embel bucin akan melekat kuat pada diri Nevan. Image-nya yang cool dan manis akan segera pudar seiring label baru ia sandang. Sungguh miris sekali.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=&&&\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hai? Gimana kabar kalian? Masih semangat?
__ADS_1
Menurut kalian, mau ditambahin orang ketiga keempat kelima apa biar absurd aja? Cus komeng di bawah ya? See u all, #kedipkedipmanjah