
Lewat satu bulan setelah pernikahan, harusnya Nevan dan Alena terbang ke Jakarta. Mereka mustinya mengadakan acara resepsi besar-besaran di kota kelahiran Nevan tersebut. Namun rencana hanyalah tinggal rencana. Berkat rengekan Alena yang tak kunjung ada habisnya, mau tak mau membuat Nevan cari seribu satu cara. Guna membatalkan niat orang tuanya, mengundang dua ribu orang kenalan datang di acaranya.
"Kamu bilang apa ke mamah?" Alena curiga, kenapa akhirnya Diana dan sang suami melepaskan keinginan mereka memboyong sang menantu idaman ke metropolitan.
"Bukan apa-apa, Sayang. Cuma bilang kamu belum siap jauh-jauh dari keluarga dan temanmu."
Bisa diprediksikan dari cara bicara Nevan, yang terkesan menyembunyikan sesuatu. Alena menebak bukan itu alasannya. Sebab, untuk ukuran jiwa petualang alias mudah bosan di rumah. Alena belum pernah barang sekali pun menggunakan alasan demikian, saat dimutasi kerja.
"Van, bohong itu dosa. Nanti kamu bisa kualat sama istrimu." Alena berceramah.
Entah kenpa belakangan istrinya yang pendiam berubah jadi agak cerewet. Nevan ragu, apa Alena sedang datang bulan atau bagaimana? Gadis itu menjadi super sensitif sekali. Sedikit-sedikit akan timbul pertanyaan dibarengi argumen skeptisnya.
"Len, kamu lagi datang bulan?" tanya Nevan disela kunyahan pancake stroberinya.
Mendengar pertanyaan Nevan, ada sekelebat bayangan menyadarkannya sesaat. Ia meneguk seperempat jus alpukatnya tanpa menjawab. Nevan tak berprasangka apapun. Ia ada temu klien jam delapan pagi, jadi buru-buru bergegas ke kantor.
Anehnya, kebalikan dari sifat Alena yang biasanya gila kerja. Sekarang gadis itu malah agak malas-malasan tak jelas. Berangkat sering kesiangan, kerjaan sering tak beres, lebih parahnya lagi Alena sering mengantuk dan pusing.
"Harusnya sudah tanggalnya tamu bulanan datang, kan?" gumamnya seorang diri.
Ia berjalan menuju kamar, mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja riasnya. Jemarinya mulai menekan lanyar, mencari menu kalender di sana. Ia punya kebiasaan baik, selalu rutin menandai kalender di ponsel saat hari pertama haid juga hari terakhir selesai haid. Setelah memperhitungkan matang, ada sesuatu menghantam batinnya. Alena menerka ada yang tidak beres.
"No no no. Ini nggak mungkin, kan? Pasti hanya telat biasa. Ya, hanya telat biasa!" ulangnya meyakinkan diri sendiri.
"Mana mungkin baru sekali sudah-"
"Sudah apa?"
Suara Nevan mengejutkan Alena sampai ponselnya ambruk ,ke karpet putih berbulu halus. Ia menoleh ke ambang pintu kamar. Suaminya kembali, karena ponselnya ketinggalan.
"Ap-a? Su-dah a-pa?" Alena tergagap bingung.
"Kamu tadi ngomong sendiri, sehat?"
"Kamu mau ngatain istrimu nggak waras?!" kesal Alena, ia berjongkok meraih ponselnya.
Nevan tak menggubris, sibuk menyibak seprai mencari telepon genggam miliknya.
__ADS_1
"Kamu lihat hpku, Sayang?"
"Mana kutahu."
"Bantuin cari dong, aku bisa terlambat nanti."
"Cari sendiri. Aku sibuk."
Nevan mendongak ke arah istrinya. Alena hanya bermain dengan ponselnya. Gadis itu tampak meluruskan kaki di atas karpet. Menyandarkan punggung pada kursi riasnya. Nevan bingung, tak biasanya jam segini Alena masih santai begitu.
"Kamu nggak ke kantor?" selidik Nevan menautkan satu alisnya.
"Nanti, sebentar lagi," balas Alena bergeming dari tempatnya.
"Bukannya seminggu ini kamu udah dua kali ditegur Anita? Nggak takut dikeluarin?" Nevan melanjutkan pertanyaan. Ia merasa istrinya agak berbeda.
"Biarin."
Nevan menemukan ponsel setelah merogoh di bawah bantal. Ia mendekati sang istri dengan heran.
"Are you ok?" Ia mulai cemas.
Hati-hati Nevan membelai rambut istrinya. Ia jadi tak tega meninggalkan Alena di saat begini. Alena menepis kilat sembari mendelik sebal.
"Apa sih! Sana kerja!" cecarnya.
"Nanti biar aku mampir ke kantormu, minta izin buat kamu. Kamu nggak usah kerja hari ini istirahat aja di rumah, ya?"
Alena menguap menahan kantuk yang tiba-tiba kembali menyerangnya. Ia pikir ide Nevan bukan hal buruk juga. Lebih baik izin sakit ketimbang harus menerima omelan dari Anita lagi. Bosnya itu memang bukan main berisiknya kalau sedang marah. Walau Alena punya tuduhan, tentang adanya dugaan Anita naksir pada Rendra.
Badan Alena ingin terkulai rasanya. Nevan membopong tubuh istrinya, membaringkannya di peraduan empuk. Alena menggeliat miring ke samping. Nevan menyelimutinya hingga leher. Kemudian mengecup pipinya.
Saat akan melangkah ke luar, lengan Nevan ditahan oleh pegangan Alena.
"Kenapa, Sayang?"
Telunjuk Alena menunjuk bibirnya sendiri. Nevan tak memahami. Ini bukan Alena yang biasanya.
__ADS_1
"Kenapa? Lapar? Mau makan?"
"Minta cium .... "
Nevan bisa saja terjungkal jatuh, mendengar permintaan istrinya. Hari-hari sebelumnya, ia selalu ditolak mentah-mentah untuk sebuah ciuman bibir. Paling hanya boleh cium kening dan pipi saja.
"Nggak salah? Kamu lagi ngigau?"
Alena menggeleng. Sekali tangkap tangannya menarik Nevan mendekat. Ponsel Alena nyaring membuyarkan semuanya. Dengan malas ia mengangkat tanpa melihat nama yang tertera di layar.
"Iya, Mah!" kagetnya terbangun dan duduk menyandar bantal.
Perasaan Nevan tak enak. Ia kabur secepat kilat, begitu sadar yang menelepon Alena adalah mamanya. Karena Alena memanggil ibu kandungnya sendiri dengan sebutan Ibu. Bukan mama.
"Maksud Mamah? Hah? Siapa yang bilang, Mah?" raut muka Alena tegang seketika.
" .... "
Alena meremas bad cover. Ia berdiri menyusil Nevan berlarian. Suaminya sudah duduk di jok kemudi siap menjalankan mobil. Panggilan ditutup dari seberang, usai Alena mengatakan nanti akan menghubungi mertuanya lagi.
"Nevan! Mau kemana kamu! Kamu bilang apa sama mamah?!" teriaknya melempar sandal di depan pintu. Untung hanya kena bagian luar mobil.
"Maaf, Sayang! Aku berangkat kerja dulu! I love you!" Nevan melayangkan kissbay, lalu tancap gas sebelum ia dihabisi oleh kekesalan istrinya. Mobilnya meliuk kilat keluar dari area teras.
"Dasar menyebalkan! Bisa-bisanya dia bilang ke mamah, aku hamil!" umpat Alena berkacak pinggang.
\=\=\=\=\=\=\=&&&\=\=\=\=\=\=\=
Sekilas sapa_
Jika kamu suka cerita ini, yuk dukung author dengan komen & like. ^^
Supaya daku semangat up. 😁😁
Terimakasih sebelumnya.
Salam hangat,
__ADS_1
Depa (Dee14007)
\=\=\=\=\=\=\=♤♤♤\=\=\=\=\=\=\=