
Alena mondar-mandir tak jelas di ruang tamu. Tak biasanya Nevan pulang terlambat, tanpa mengabarinya dulu. Ia panik menelepon berkali-kali ke nomor suaminya, tapi tak diangkat. Bahkan semenit lalu nomornya mendadak tidak aktif. Padahal Alena merencanakan sesuatu malam ini. Lihat saja pakaian seksi yang ia kenakan. Kemeja kebesaran tanpa celana. Sengaja menampilkan paha mulusnya nan mempesona.
Teringat akan sang kakak, Alena pun mengambil inisiatif untuk menghubungi Rendra.
"Halo, ada apa, Len?" sapa suara di seberang panggilan.
"Kak, mau tanya. Apa Nevan lembur? Nomornya nggak aktif ini Alena telepon barusan."
"Oh, si Nevan kayaknya nganterin Inez dulu. Soalnya-"
Tut tut tut.
Terdengar bunyi telepon ditutup kilat oleh Alena. Wajah cemas Alena seketika berubah suram. Mirip harimau siap mencakar mangsa habis-habisan. Belum usai Rendra menjelaskan, ia lebih dulu diliputi mendung amarah.
Sebagai seorang wanita yang tengah hamil. Jiwa-jiwa sensitif Alena memang agak naik. Sedikit-sedikit mudah emosi, gampang sensi, apalagi cemburu.
Hasratnya lenyap berganti kemarahan. Padahal, ia sudah susah payah menyiapkan semuanya sejak siang. Menata kamar dengan taburan kelopak mawar merah. Sesuai instruksi dalam Youtube yang ia tonton. Juga menjejerkan beberapa lilin beraroma terapi di atas meja dan nakas. Sudah berapa kali ia terpaksa memadamkannya dulu. Karena yang dinanti tak kunjung menampakkan diri.
Ia bahkan sudah menyemprotkan parfum khusus. Frédéric Malle Musc Ravageur, salah satu parfum yang disarankan Azizah sebagai pemikat gairah seksual lelaki. Parfum ini memiliki aroma wewangian vanili, yang berpadu hangat dengan bergamot dan lavender. Siapa yang akan tahan dengan aroma semanis dan seseksi ini? Bahkan para pakar ahli, menganjurkan agar parfum ini tidak sembarangan dipakai ke luar rumah. Sebab, bisa menimbulkan letup-letup libido, bagi kaum adam yang menghirupnya.
Walau pada dasarnya, Alena yakin betul. Tanpa gairahnya dibangkitkan pun, suaminya sudah kuwalahan, menahan hasrat hanya dengan melihat Alena berbaring di kasur.
Kini semua usahanya menarik minat, sekaligus memberi kejutan pada Nevan sia-sia belaka.
Dua tanggannya sudah mengepal. Ponselnya baru saja ia lempar ke sofa.
"Awas aja kamu, Van! Kalau sampai berani main kucing-kucingan di belakangku, bakal kupecel-pecel kamu!" kalimat ambigu Alena terdengar menyeramkan. Wajahnya jadi terkesan horor sekarang.
__ADS_1
Suara ketukan pintu terdengar nyaring. Alena melingkis lengan kemeja transparannya. Berjalan menuju pintu dengan ekspresi siap siaga.
Nevan tersenyum begitu pintu terbuka. Namun, tubuh Alena menghadang di ambang pintu. Menyadari pakaian yang dipakai Alena terlalu menerawang, Nevan menelan ludah susah payah. Ia sudah tak tahan, sejak diberi tahu sebuah trik oleh Rendra sore tadi.
"Wah, istriku seksi banget!" puji Nevan berbunga-bunga.
"Bagus ya?!"
Nevan bingung, kenapa Alena terlihat sangat marah? Pikirnya tak mengerti.
Alena menutup kembali pintu. Lalu meraih bantal di sofa dan selimut yang teronggok di sana. Sudah ia siapkan sejak lima menit lalu. Ia ke luar lagi dan menyerahkannya pada Nevan.
"Apa ini?" tanya Nevan linglung.
"Malam ini, tidur di luar!"
Tanpa menjawab, atau memberi kesempatan Nevan bicara, Alena menutup kembali pintu dan menguncinya. Ia berlalu ke kamar dan menarik selimut.
"Dasar cowok brengsek!" umpatnya ingin menangis. Bayangannya sudah melanglang buana ke mana-mana. Membayangkan Nevan bercumbu dengan Inez, teman kantornya yang gemulai.
Hampir dua jam terlelap, ponsel Alena berdering membangungkan si empu. Ia melihat nama Rendra di layar. Ia mengangkat.
"Ya halo, Kak?"
"Aduh, Len. Aku tadi belum selesai ngomong. Main kamu tutup aja. Ini dari tadi ditelepon juga baru kamu angkat."
"Kenapa sih, Kak? Heboh banget!" Alena masih kesal pada suaminya. Tapi Rendra juga kena imbasnya.
__ADS_1
"Inez tadi pingsan di kantor. Pak Bos nyuruh Nevan antar ke rumah sakit," kata Rendra menjelaskan.
Alena memutar bola mata. Ia curiga apakah Rendra disuruh berbohong oleh Nevan? Tapi tidak mungkin. Ia tahu sangat bagaimana tabiat kakaknya. Rendra akan menghajar Nevan habis-habisan kalau sampai berani menyakiti hati adiknya.
"Halo, Len? Halo?!"
Alena tak acuh pada suara Rendra. Ia menutup telepon dan berlari ke luar.
Nevan meringkuk di atas kursi panjang di teras. Sesekali tangannya menepuk badan, akibat ulah nyamuk-nyamuk nakal.
"Van! Bangun!" Alena menggoyangkan bahu Nevan penuh sesal.
Nevan membuka mata kantuknya. Ia terduduk menatap sayu istrinya.
"Aku salah apa, Sayang?" tanyanya sedih.
Tak menjawab, Alena justru langsung memeluk suaminya. "Maaf .... " lirihnya.
"Cuma bilang maaf?" goda Nevan ambil kesempatan dalam kesempitan. Sejak beberapa detik lalu, hidungnya mengendus aroma memikat dari leher sang istri. Gairahnya makin naik tak terkendali.
Alena menjauhkan diri. "Terus mau apa?" katanya pelan.
Nevan bangun dan langsung membopong tubuh istrinya. "Sudah pasti, aku mau kamu," tukasnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=&&&\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hayok, mau ngapain mereka ya????????
__ADS_1