FIRST NIGHT (Season 1, 2, Dan 3)

FIRST NIGHT (Season 1, 2, Dan 3)
[SEASON 3] - Bab. 2


__ADS_3

Melihat raut muka gelisah temannya, Alena merasa pasti ada yang tidak beres. Namun, ia menghargai privasi Rasti dengan tidak memperpanjang pertanyaan. Untungnya Nevan peka dengan kode kedipan mata dari istrinya.


"Sayang, balik ke kamar yuk? Udah malem," ujarnya spontan.


"Eh iya, yaudah kalau gitu, Ras. Kita balik dulu ya. Kalau ada apa-apa ketuk aja pintu kamar 307. Aku sama Nevan nginap di sana."


"Iya. Makasih, Len."


Sebelum pergi, Alena sempat memanggil pelayan dan meminta tolong pinjam bulpoin serta kertas. Ia menuliskan nomor ponsel beserta nomor kamarnya di atas kertas. Kemudian meminta pelayan mengantarkannya ke Rasti. Dari kejauhan Alena melambai seakan memberi isyarat agar Rasti menghubunginya. Rasti hanya mengangguk seraya tersenyum. Hingga mereka berlalu pergi. Tinggal Rasti seorang diri. Ia memesan camilan dan minuman kesukaannya, kentang goreng beserta jus jeruk.


Sementara itu di perjalanan menuju kamar, Alena dan Nevan naik lift berbarengan dengan seorang pasangan. Si pria tampak mesra merangkul wanita di sampingnya. Bahkan tanpa sungkan, mereka sempat berciuman ketika di dalam lift. Alena bergidik menyaksikannya.


"Bener-bener vulgar!" celetuknya pelan. Nevan langsung meringsis sambil mencubit lengan istrinya agar tak banyak bicara.


Alena menepis cubitan suaminya. Ia mengamati sosok pasangan tersebut dengan teliti. Dari ujung kaki hingga ujung kepala. Meneliti pakaian si wanita yang super minim di atas lutut dan terlihat punggung mulus terekspose jelas, ia sempat berprasangka buruk kalau wanita itu wanita panggilan. Tapi, tentu saja ia lekas melenyapkan praduga tak baik itu. Dilihat lagi sepertinya pria itu sekelas pria pengusahawan dan terpelajar. Dari cara berpakaian, bulpoin di saku, dan rahang tegas menawan. Alena bukan takjub, malah menyayangkan aset berharga demikian, bila harus dihancurkan oleh perangai tak seimbang.


Berciuman di depan umum mungkin hal biasa di negara barat. Tapi, sekarang mereka di negara timur yang menjunjung tinggi adat ketimuran. Rasanya kurang etis. Lalu Nevan membisikkan sesuatu ke telinga sang istri. "Ini di Bali, Len. Udah biasa," katanya mengingatkan, seolah tahu apa yang dipikirkan istrinya. Barulah Alena ingat.

__ADS_1


Tanpa sengaja matanya menangkap sebuah benda terjatuh dari saku celana si pria, yang baru saja menarik ponsel dari dalam sana. Pria itu tampak tak tahu. Alena langsung mengambil cincin yang terjatuh di lantai. Daya ingatnya lumayan tajam. Ia seperti pernah melihat cincin itu tapi tak tahu di mana. Ia pun mengabaikan, toh semua orang bisa punya cincin model ini.


"Ini milik Anda, Pak." Alena menyodorkan cincin tersebut pada si pria.


"Oh terimakasih, Nona?"


"Maaf, dia sudah jadi Nyonya sekarang." Nevan langsung menarik lengan istrinya. Seolah takut si pria menggoda miliknya yang tersayang.


"Maaf, saya kira masih single," tukas si pria asing sembari melukiskan senyum ramah. Ia kembali mengantungi cincinnya.


"Oh sepertinya kita jadi tetangga kamar," celoteh si wanita seksi berambut seleher. Cara bicaranya terbilang ramah, berbanding terbalik dengan cara berpakaiannya. Mungkin ini sebabnya banyak orang bilang, jangan hanya menilai dari penampilan luar saja.


"Ya, tolong tutup jendela sebelum-" Alena kesal, ia hampir keceplosan. Untung Nevan cepat tanggap. Membekap bibir istrinya kilat. Alena menepis cepat seraya melotot sebal.


"Maaf kalau kami mengganggu, maklum saja kami terlalu bersemangat," balas si wanita tanpa malu. "Oh ya kenalkan, aku Helen. Ini pacarku, Raka."


Nevan dan Alena terbengong sejenak. Keduanya saling pandang. Tapi langsung membalas uluran tangan Helen. "Saya Alena. Ini suami saya, Nevan. Tapi, dia tidak saya izinkan bersalaman dengan perempuan lain di depan saya," tegas Alena to the point. "Jadi saya wakili perkenalannya," lanjutnya.

__ADS_1


Nevan hanya garuk kepala mendengar ucapan istrinya. Ia bersalaman dengan Raka. Dan saling memperkenalkan diri. Mereka pun lantas masuk ke kamar masing-masing usai perkenalan singkat.


Di dalam kamar, Alena mendumel tak karuan. "Gila ya zaman udah makin maju, bukannya moral makin baik, kok makin amburadul!" keluhnya menyayangkan sesuatu.


"Hush, tiap orang kan punya hak buat menjalani hidup sesuai maunya. Kalau mereka mau seperi itu ya bukan urusan kita. Nanti juga ada hukumannya sendiri kan," Nevan menenangkan istrinya.


"Iya sih. EGP aja deh. Asal itu cowok bukan suami yang tukang selingkuhin istrinya sih. Apalagi kalau sampai istrinya saudaraku, keluargaku, atau sahabatku. Kubejek-bejek sampai minta ampun nanti!"


Nevan bergidik ngeri, melihat istrinya meremas dua tangan seolah tengah memeras kelapa.


Di tempat lain, Rasti berusaha menghubungi nomor ponsel suaminya. Tapi tidak aktif. Ia menghela napas khawatir. Ia pun teringat nomor Alena. Segera disimpan dan dicek di aplikasi Whatsapp. Lalu mengiriminya pesan, memberitahu bahwa ini nomor Rasti.


Alena mendapatkan pesan singkat tersebut. Ia langsung menyimpan balik, dan hendak membalas, tapi mata jelinya penasaran dengan foto profil di bagian atas. Setelah dibuka, terlihat foto pernikahan Rasti dengan seorang pria. Matanya membelalak tak percaya.


"Ini kan!" pekiknya.


\=\=\=\=\=🌹Bersambung🌹\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2