
"Kenapa mukamu murung, Len? Pengantin baru masa lesu gitu?"
Alena hanya menghela napas berat ketik Kamila memperhatikan dirinya. Memang dua hari ini Alena selalu cemberut dan sering melamun. Pekerjaannya juga jadi makin menumpuk karena terlalu lama ambil cuti. Untung bosnya sangat pengertian padanya.
Perusahaan mana yang akan rela memberikan izin hampir tiga minggu penuh pada karyawannya? Tentu saja ini berkat pertemanan baik sang atasan dengan Rendra, kakaknya. Lagipula Anita -bos Alena- memberikan izin atas pertimbangan, bahwa Alena menikah dalam keadaan mendadak. Wajar saja ia butuh banyak waktu untuk mengurus ini itu. Terlebih, Kamila siap menghandle semua sisa pekerjaan Alena selama cuti.
"Aku pusing, Mil."
"Pusing kenapa? Kamu hamil? Secepat itu?!" Kamila histeris dengan praduganya sendiri.
"Bukan! Aku stres, mertuaku tiap hari telepon, nyuruh aku cepetan ke Jakarta dan resign dari kerjaan. Aku nggak sanggup jadi pengangguran, Mil. Bisa-bisa bosan nggak karuan aku di rumah. Apalagi kalau harus satu rumah sama mertuaku. Khawatir nggak nyaman," curhat Alena. Wajahnya membiaskan guratan frustrasi yang nyata.
"Kamu sudah bicara baik-baik ke Nevan? Minta pertimbangannya?"
Alena menggeleng lemas. Ia masih belum bisa melupakan malam pertama mereka lima hari lalu. Sejak itu, Alena masih malu menghadapi Nevan berlama-lama. Malah belakangan ia sengaja berangkat kerja lebih pagi sebelum Nevan bangun, dan tidur lebih cepat sebelum Nevan pulang.
"Bicarakan dulu baik-baik sama suami kamu, Len. Baru kalian ambil keputusan bersama. Tinggal sama mertua itu bukan solusi terbaik, menurutku. Sebaik apapun orang tua, tetap akan ada masanya bersitegang misal sering ketemu apalagi satu rumah." Kamila menasehati.
Gadis bermata kecoklatan ini bukan sekadar bicara dan sok tahu. Ia sudah setahun menikah dan pernah dua bulan tinggal bersama mertuanya. Hingga akhirnya Kamila dan suaminya memilih pindah dan menyewa rumah sendiri.
Percakapan mereka terhenti, kala deru mesin mobil menghampiri. Nevan belum sempat turun, Alena lebih dulu membuka pintu dan masuk. Ia melambai pada temannya dan mengucapkan sampai jumpa.
Sebenarnya hari ini Alena belum mau dijemput Nevan. Tapi pria itu memaksa dan mengatakan sudah dekat ke arah kantor Alena. Mau tak mau Alena tak tega, ia pun sudah kehabisan ide menolak jemputan sang suami.
"Ada masalah di kantor?"
Nevan menyetir mobil dengan kecepatan sedang. Berkali-kali ia mencaritahu sesuatu di wajah istrinya yang terlihat tidak bersemangat.
"Kamu masih marah soal malam-"
"Bukan itu!" bantah Alena kilat, bak petir menyambar beringin tanpa permisi.
"Terus kenapa? Kamu nggak nyaman atau masih malu sama aku?" tebak Nevan seadanya.
"Jangan dibahas!" kesal Alena, berusaha menutupi rona berseri-seri di pipinya.
"Jadi kenapa, Sayang?" rayu Nevan.
__ADS_1
Satu tangannya sudah berpindah di pangkuan Alena. Membelai paha istrinya yang tertutup celana kain. Alena berusaha menyingkirkan tangan suaminya, namun Nevan menggenggamnya kuat. Ia menepi dan memberhentikan mobil di pinggiran jalan setapak. Jelas-jelas di sana ada rambu dilarang parkir sembarangan. Agaknya Nevan sedang ingin cari masalah malam ini.
"Kenapa berhenti, Van?" Alena menoleh sekitaran tempat.
Mobil berlalu lalang melintasi mereka. Tapi Alena merasa tegang dan merinding.
"Kamu ada masalah apa? Bilang sama aku," tuntut Nevan setelah mematikan mesin mobilnya.
"Nggak ada apa-apa, Van. Ayo jalan lagi. Aku capek, mau cepat sampai di rumah," gerutu Alena memasang muka masam.
"Oke kalau nggak mau cerita. Tanggung resikonya ya?"
"Resiko apa?"
Nevan tak menjawab. Ia mendekatkan wajahnya pada wajah Alena. Gadis itu terdiam di tempat, joknya ia mundurkan untuk memberi ruang jarak antara keduanya. Sayangnya, posisinya yang agak terbaring menyandar jok, malah makin memberi keleluasaan untuk Nevan. Ia setengah **** Alena tanpa berpindah tempat. Dua tangan Nevan mengunci Alena.
"Cerita atau .... ?"
"Atau apa?!"
"Cerita! Aku akan cerita!"
Nevan tersenyum kecil, merasa menang atas ulah jahilnya menggoda Alena. Gadis itu dilanda kecemasan. Ia tak mau ditangkap aparat dengan kasus mesum di pinggir jalan terlarang. Akan sangat memalukan baginya bila hal itu benar terjadi. Alena menghalau kemungkinan terburuk dalam hidupnya. Sudah cukup ia harus merasakan pernikahan kala hati dan mentalnya belum sepenuhnya siap. Ia tak igin menambah beban batinnya lagi, dengan hal lainnya yang memusingkan.
"Aku nggak mau pindah ke Jakarta. Nggak mau berhenti kerja juga." Ia mengaku.
"Just it?"
Alena mengangguk.
"Oke. Kita tetap di sini."
Alena menatap Nevan dalam. Menyelami siratan yang tergambar di matanya. Sedalam mungkin ia berpikir, kenapa Nevan begitu mudah menyetujui keluhannya. Atau lebih tepatnya permintaannya.
"Tapi mamah minta kita-"
"Itu urusan gampang. Nanti aku tinggal ngomong."
__ADS_1
"Alasannya apa?"
Nevan mengecup bibir Alena. Itu pertanda khusus, ia minta Alena tak banyak bertanya lagi.
"Nanti aku pikirin, Sayang ... yang penting nggak usah cemberut lagi. Aku nggak mau dituduh sebagai suami yang nggak bisa bahagiakan istrinya."
Mendengar ucapan Nevan, Alena mulai agak tenang. Nevan membelai pucuk kepala Alena penuh pengertian.
"Ada polisi, Van!" teriak Alena setelah melihat kaca spion mobil. Nevan kaget, ia memutar kunci dan lekas tancap gas setelah mesin menyala.
Alena terbahak-bahak melihat raut panik Nevan. Ia hanya mengerjai suaminya. Sebagai balasan Nevan telah berani mempermainkannya tadi.
"Kamu bohong?!" tanya Nevan masih kembang kempis karena ngebut.
"Satu sama!" tukas Alena mengangkat dua telunjuknya secara bersamaan.
"Awas kamu ya! Sampai rumah, habis kamu nanti sama aku!"
Ancaman Nevan menghentikan tawa renyah Alena. Bulu romanya bergidik tak berani membayangkan apa yang telah direncanakan suaminya. Pasti tak jauh-jauh dari urusan ranjang. Begitu pikir Alena.
\=\=\=\=\=\=\=&&&\=\=\=\=\=\=\=
Sekilas sapa_
Hai hai, sehat selalu ya buat semuanya.
Jangan lupa semangat dan tetap bahagia.
#senyum
Terimakasih atas like dan komennya. Jangan bosan dengan cerita absurdku ini ya, hehe.
Yuk, dukung terus First Night biar daku makin semangat lanjutin part.nya. #moduskumat 😅😅
Sampai jumpa di episode selanjutnya besok. ^^
\=\=\=\=\=\=\=•••\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1