FIRST NIGHT (Season 1, 2, Dan 3)

FIRST NIGHT (Season 1, 2, Dan 3)
[Season 2] Bab.2 - Pertengkaran dan Nyanyian


__ADS_3

Seorang gadis baru saja masuk ke ruang manajernya. Di tangan ia memeluk beberapa lembar map biru berisi dokumen untuk ditandatangani. Rasya selaku manajer divisi bagian Nisa bekerja, menyuruh Nisa duduk lebih dulu.


"Besok ada meeting di luar kota, mungkin tiga hari dua malam. Kamu temani aku ya?"


"Dengan senang hati, Pak," balas Nisa menyibak rambut panjang bergelombangnya. Membuat leher jenjang mulus nan indah itu terekspose bebas.


"Jangan mancing dong," protes Rasya tersenyum nakal.


Nisa hanya mengedipkan sebelah mata saja. "Kok yang diajak aku sih? Bukan si Serlin atau Mona? Nanti mereka marah gimana? Bisa-bisa aku kena jambak duo makhluk titisan kunti itu," seloroh Nisa berdecak sinis. Mengingat dua rival abadi yang selalu membuli dan mengusik hidupnya, selalu membuat Nisa terpancing emosi tak karuan.


"Siapa sih yang berani sama cewekku? Udah bosen kerja di sini?"


"Ih, sejak kapan aku jadi cewekmu? Belum ada peresmian apalagi pernyataan jelas. Itu hoax namanya."


"Lhoh, barusan kan pernyataan namanya?"


"Bukan dong, itu mah pemaksaan terselubung. Hukumnya belum sah."


"Oh, jadi mau yang gimana? Cium?"


"Kok cium sih? Memang ya jiwa bulemu masih dominan, dikit-dikit maunya main fisik. Ckck."


"Naluriah kali." Rasya mencubit gemaw hidung bangir Nisa.


Gadis itu senang main tarik ulur. Entah sejak kapan, hobinya mempermainkan perasaan lawan jenis menjadi momok kebiasaan.


***


Malamnya di rumah Nevan, Jino baru saja datang memarkir mobil dan langsung masuk ke rumah usai mengucapkan salam. Alena muncul dari balik pintu sembari menggendong Yasmin kecil.


"Kak Lena, Nisa udah balik?" tanyanya to the point.


"Udah. Ada di kamar lagi beberes baju. Mau ke Surabaya tiga hari katanya."


"Ngapain, Kak?" Jino memicing curiga. Ekspresinya berubah waspada. Sudah mirip cacing disiram garam sampai menggeliat kepanasan.


"Lhoh, kamu nggak dikasih tempe?"


Jino menggeleng cemas. Pikirannya mengawang ke antah berantah.


"Si Nisa ada meeting bareng manajer barunya itu loh yang setengah bule."

__ADS_1


Benar saja, tanpa ba bi bu Jino langsung melesat masuk menuju kamar pujaan hatinya. Sayup dari luar pintu kamar Nisa, Jino mendengar lagu merdu dinyanyikan oleh gadis itu dengan tempo penuh semangat dan gairah tersembunyi.


"Kamu nggak boleh ke Surabaya!" tekan Jino tepat sesaat usai membuka pintu kamar yang sedikit terbuka.


Nisa terlonjak kaget, langsung menoleh ke belakang. Ia berdesis tak suka.


"Ngapain sih?! Bikin orang spot jantung aja!" omelnya berkacak pinggang.


"Kamu mau berduaan aja sama bule jadi-jadian itu? Terus nanti kalian nginap satu hotel atau malah satu kamar dengan alasan kamar lain penuh? Terus kalian minum terus mabuk terus nggak sadarkan diri dan terjadilah?!" Jino meracau panjang lebar tanpa jeda sedikit pun. Wajahnya tak kalah sengit dengan Nisa.


"Apa hakmu melarangku? Over banget! Aku ke sana buat kerja tahu, bukan buat senang-senang. Lagian imajinasimu halu banget, udah kayak kisah sinetron di tipi aja."


"Nisa, aku cuma nggak nyaman kamu pergi berduaan sama cowok lain. Nanti kalau kamu diapa-apain gimana?"


"Kenapa? Kalau aku udah diapa-apain? Kamu nggak mau lagi sama aku?!"


Jino memijat tengkuk. Sepertinya ia menyadari ucapannya salah kaprah, hingga menimbulkan kesalahpahaman Nisa.


"Aku akan selalu terima kamu kok. Tapi, aku cuma nggak akan terima kalau sampai ada cowok lain nyakitin kamu." Suara Jino melunak.


"Oh .... "


"Cuma oh?"


"Kamu kok berubah banget sih semenjak kerja?"


"Jino, terkadang perubahan itu perlu. Ini namanya penyesuaian diri."


"Terus, gimana sama aku?"


"Gimana apanya? Masih kurang ya, aku mau jadi pacarmu?"


Keduanya terlibat cekcok tanpa ujung. Di luar Alena yang tak sengaja curi dengar pun hanya bisa geleng kepala. Ia menyuapi Yasmin sambil pura-pura tak peduli.


"Haduh, dasar anak muda zaman sekarang. Labil banget. Dikit-dikit ribut. Nanti putus nyambung kayak lagu aja," dumelnya sarkastis.


"Momi, Aunti lagi apa cama Om?" Yasmin bertanya dengan wajah polos dan nada cadelnya.


"Biasa, Nak. Mereka lagi nyani lagu kebangsaan."


"Nyanyi?"

__ADS_1


Alena mengangguk mantap. Padahal ia hanya menjawab ngawur.


"Daddy pulang!" seru Nevan baru saja masuk. Ia langsung menggendong putri kesayangannya dan mengecup kening Alena kilat.


"Masih kulang ya aku mau jadi pacalmu?" seloroh Yasmin menatap Nevan dengan keabsurdan tingkat dewa.


Nevan melirik Alena penuh tanda tanya. Ada apa dengan anak kita? Mungkin begitu isi pertanyaan di kepalanya.


"Yasmin kenapa, Nak?"


"Nyanyi."


"Nyanyi? Siapa yang ajarin?"


Gadis kecil itu menunjuk dua manusia yang baru saja terlibat perang dunia ke sekian. Mereka baru saja ke luar kamar. Tampang Jino dan Nisa kebingungan ditatap oleh Nevan dengan geram.


"Aunti nyanyi yuk?" ucap Yasmin bertepuk tangan.


"Nisa! Jino! Ngapain kalian?!" teriak Nevan membahana.


\=\=\=\=\=\=\=🌹🌹\=\=\=\=\=\=\=


Hai, maaf kalau bab ini agak gaje banget. Diriku memaksakan diri ketika masih terbaring di RS. Habis operasi kemarin. Minta doanya ya man teman, supaya kondisiku membaik. ^^


**Btw, ada kabar baik nih buat kalian.


Aku akan bagi2 pulsa untuk 5orang nantinya di akhir episode FN season 2.


Syaratnya gampang :



Follow akun Mangatoon ku


Like dan komen sesering mungkin di ceritaku


Masuk grup obrolanku dan ketik IKUTAN GIVEAWAY PULSA. (Cantumkan Nama dan nomor hp ya**)



Gampang kan. Nanti akan kucek dan kupilah. Pemenang akan diumumkan setelah season 2 selesai. so, ayo jangan sungkan komen dan like. ^^

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=🌹🌹\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2