
Katakanlah ini hari paling mendebarkan bagi seorang Jino. Ia mematut diri di depan kaca lebar yang berhias ukiran kayu berbentuk bunga di dinding. Untuk kali kesekian dia mengamati penampilannya. Kemeja putih polos dipadu celana jeans hitam. Tak ketinggalan jam tangan yang ia beli kemarin di pasar loak. Sepatu kulit lembunya juga hasil pinjaman dari Alfaro. Ya, setidaknya dia harus terlihat rapi dan meyakinkan di hadapan calon mertua bukan?
Semalam ia dan Nisa baru saja tiba di Jakarta untuk bicara dengan papa dan mama Nisa. Berkat kebaikan Nevan, ia dapat tunjangan fasilitas tiket pesawat terbang pulang-pergi beserta reservasi hotel untuk dua hari ke depan.
Suara ketukan pintu kamar sayup terdengar, Jino tahu itu pasti Nisa. Dari suara berisiknya saja sudah bisa ditebak. Gadis itu benar-benar tidak sabaran sekali. Lucunya, ia memilih ikut pesan kamar di sebelah kamar Jino. Katanya, dia malas harus tidur di rumah. Paling hanya akan dapat ceramahan panjang dari mamanya. Atau lebih parahnya, ia akan ditawari puluhan nama laki-laki dari anak-anak kenalan mamanya untuk dijodohkan.
Jino membuka pintu setelah memastikan ia siap dengan segala hal, termasuk mental juga.
"Lama banget! Keburu sore nanti," dengkus Nisa. Ia tampak cantik dengan bandana putih berbulu di atas kepalanya. Jino hanya bisa mencubit gemas pipi calon istrinya.
"Ayok berangkat."
"Pesen Grubcar dulu." Nisa mengingatkan.
"Udah kok. Kita tunggu di lobi aja."
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Dua mata elang betina Diana menatap horor pada sosok putri dan cowok yang duduk di sebelahnya. Seakan ia ingin menelan hidup-hidup anaknya yang sangat menjengkelkan itu. Bisa-bisanya baru mengatakan akan memperkenalkan calon suami lima menit lalu. Diana bahkan tak punya persediaan apa-apa, kecuali sekaleng biskuit KhongGhuan, rengginang dan secangkir teh hangat buatan bibi Sumirah.
"Jadi, siapa namamu?" Diana memulai interogasi.
"Jino, Mah. Kan, tadi Nisa dah bilang."
"Mamah tanya sama dia, bukan kamu! Kamu diam. Masuk ke kamar sana tengok papah. Mamah mau wawancara eksklusif empat mata dulu sama anak ini."
Diana tak mau dibantah. Nisa pun berdiri dan melesat ke lantai dua. Ia sempat menoleh lagi ke arah Jino dan mengepal dua tangan penuh semangat. "Semangat!" katanya tanpa suara.
Jino hanya tersenyum kikuk. Keringat dingin mulai terasa memenuhi rongga epidermisnya.
"Orang tua ada? Kok nggak diajak?" Diana curiga.
"Maaf Tante, orang tua saya sudah lama tiada. Kakak perempuan saya ada di Bali tapi sedang hamil besar," jelasnya gugup.
"Pekerjaan tetap?"
Jino memijat tengkuk. Wajahnya mulai bingung. "Saya driver taxi online, Tante. Kadang sampingan bantu jadi waiters part time di resto teman."
__ADS_1
Mendengar jawaban Jino barusan, jantung Diana mulai terkena tekanan kuat. Ia mengurut kening merasa pusing di kepala. Bagaimana bisa ia akan membiarkan putrinya menikah dengan pria yang belum jelas asal-usul dan pekerjaan tetap pun belum terjamin. Lain hal dengan Nevan dulu, bila Diana langsung setuju. Sebab Nevan sudah mapan dan pasti bisa bertanggung jawab apalahi soal finansial. Sedangkan Nisa kan anak perempuan satu-satunya pula. Meski ia sering dibuat kesal, tetap saja Diana tak ingin anaknya hidup kekurangan di luar sana.
Mungkin sekarang Nisa masih bekerja. Masih bisa membantu suaminya. Tapi saat hamil dan punya anak nanti, akan seperti apa nasibnya? Diana tak tega membayangkannya. Ia membesarkan Nisa dengm segala hal yang berkecukupan. Tak mungkin semudah itu rela menyerahkan putrinya pada pria yang belum mapan.
"Sekarang tinggal di rumah sendiri atau?"
"Masih kos, Tante."
Diana geleng kepala frustrasi.
"Kamu ke sini tiket beli sendiri?" pertanyaan yang mendadak mengelabui pikiran Diana.
"Saya dibantu Kak Nevan, Tante."
"Apa?!" Diana histeris.
"Kamu ini gimana sih?! Kerjaan masih ngambang, tinggal masih ngekos, tiket hasil sumbangan, dateng ke sini sendirian tanpa wali. Kamu pikir anak saya semurah itu?!" keluh Diana terpancing emosi. Ia menyeruput teh herbal di cangkirnya untuk meredakan kekalutan yang menyerang tiba-tiba.
Jino tertunduk lesu. Hatinya nyeri menerima hujatan Diana barusan. Namun, ia pun sadar semua ucapan ibunda Nisa memang benar adanya.
Usai meletakkan cangkir kembali ke atas meja, Diana bersidekap penuh ketidakyakinan. "Nak, hidup inj harus realistis. Cinta belum cukup bisa kasih kalian makan." Diana menarik napas pendek sejenak, kemudia melanjutka kalimatnya. "Kamu tahu tidak, berapa biaya hidup yang kami transfer ke rekening Nisa setiap bulan? Saya yakin, gajimu nggak akan cukup memenuhi kebutuhannya. Kebutuhanmu sendiri saja sepertinya belum terpenuhi kan?!"
Lagi-lagi hati Jino bagai ditikam dan dihujani amunisi secara bertubi. Ia makin hilang percaya diri.
"Maaf sebelumnya, tapi saya dengan tegas menyatakan, saya tidak bisa merestui hubungan kalian. Kamu boleh pulang sekarang. Renungkan baik-baik maksud saya. Jangan diambil mentahnya saja. Mengerti?"
Dengan lesu Jino hanya mampu mengangguk. Kemudian berpamitan tanpa menunggu Nisa turun. Ia benar-benar merasa jatuh terlalu jauh. Harga dirinya secepat kilat dibanting dari menara tertinggi ego ibunda Nisa. Tapi benar apa yang dikatakan Diana. Sudah sewajarnya orang tua melihat bibit bobot bebet seseorang, bila ingin masuk menjadi bagian dari keluarga mereka.
Jiwa Jino telah terguncang hebat. Ia rindu mendiang orang tuanya. Ia rindu keluarganya. Sore itu, Jino pulang ke kamar hotel ditemani oleh tangisan batin yang meradang.
\=\=\=\=\=\=\=
"Jino mana, Mah?" Nisa tak menemukan sosok sang kekasih.
"Udah Mamah suruh pulang. Kamu ini gimana sih, Nis?! Mamah pilihkan banyak calon yang pas buatmu malah ditolak semua. Tapi, sekarang pulang-pulang malah bawa gembel nggak jelas begitu. Kamu ini mau buat Mama sama Papa stres lagi, hah?!" omelan panjang Diana memenuhi ruang tamu.
Nisa tak terima. Lihat saja mata melototnya yang menyala-nyala. "Mamah! Jino bukan gembel! Jino itu cowok baik-baik dan bertanggung jawab! Nisa nggak akan pulang ke rumah lagi sebelum Mamah tarik ucapan Mamah dan merestui hubungan kami. Titik!"
__ADS_1
Gadis itu berjalan pergi meninggalkan ibunya begitu saja.
"Nisa! Tunggu! Mamah belum selesai bicara! Nisa!"
Raungan Diana tak digubris lagi oleh Nisa. Diana langsung menghubungi Nevan.
"Halo, Nevan!"
"Iya, Mah. Kenapa? Ada apa? Pelan-pelan, Mah."
"Kamu ini jadi kakak kok nggak mikirin kebaikan buat adikmu sih, Van! Lama-lama bisa jantungan Mamah kalau gini caranya!"
"Bentar. Nevan nggak ngerti maksud Mamah. Mamah kenapa?"
"Kamu nggak cerita ke Mamah soal pacar Nisa yang nggak jelas itu! Mamah nggak habis pikir sama kalian!"
"Maksudnya Jino? Jino anaknya baik dan tang-"
"Halah! Mamah nggak peduli! Pokoknya Mamah nggak setuju! Kamu harus bantu Mamah bujuk Nisa supaya putus sama gembel itu!"
"Astaghfirullah. Sejak kapan sih Mamah jadi pilih-pilih dan lihat orang dari statusnya seperti itu? Nggak baik Mah, menilai orang hanya dari materi. Kan Mamah sendiri yang sering bilang ke Nevan sama Nisa dulu."
"Tapi ya nggak gitu juga, Van. Aduh! Mamah pusing banget! Memangnya kamu tega apa, habis nikah nanti adikmu terlunta-lunta dan kekurangan?! Mamah nggak mau ya anak-anak Mamah hidupnya sengsara dan kekurangan! Kalian Mamah sekolahkan dan biayai mahal-mahal, terus Mamah diam aja gitu ada cowok mau lamar tapi nggak modal apa-apa?!"
Diana mengeluarkan uneg-unegnya hingga tuntas. Nevan paham perasaan ibunya yang tak mau anaknya menderita. Tapi ia juga tahu bahwa kali ini pilihan Nisa tidak salah. Jino memang bukan orang kaya tapi hatinya sangat kaya untuk Nisa.
"Mah, rezeki udah ada yang atur. Nevan yakin Nisa bakal bahagia sama Jino."
"Kamu bukannya dukung Mamah kok malah ceramahin Mamah mulu sih?! Terserah deh, pokoknya Mamah nggak kasih restu buat mereka berdua ya!"
Panggilan ditutup.
\=\=\=\=\=\=\=🌹🌹\=\=\=\=\=\=\=
Puk puk Jino. Entah apa yang merasuki nyonya Diana. Hmm.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1