
Semilir angin malam melewati celah jendela sebuah kamar hotel. Gorden marunnya tersibak perlahan, seakan menari dalam lantun melankolis. Seseorang menggeliat dari balik selimut cokelat keemaasan. Ia memijat kening karena terasa sangat pusing sekali. Susah payah Nisa membuka kelopak mata. Mengerjap beberapa kali hingga benar-benar mampu melihat gipsum di langit-langit kamar. Sinar lampu temaram sedikit menghalau penglihatannya.
"Udah bangun?" suara bariton Rasya terdengar agak berbeda dari biasanya yang lembut penuh pengertian. Kini terdengar seperti menyimpan sesuatu dalam dirinya.
Nisa tersentak, menarik selimut makin ke atas. "Apa yang terjadi?!" pekiknya panik.
"Apa ya? Harus dijelasin?"
"Rasya!" bentak Nisa menahan ketakutan dalam dadanya. Seumur hidupnya, belum ada satu pun manusia berhasil menyiutkan nyali gadis enerjik dan periang ini. Tapi kali ini, ia hampir kelu tak berani bersuara banyak.
"Kenapa sih? Udah kejadian, mau diapain lagi?" balas Rasya tak peduli. Cowok baik itu rupanya mirip serigala berbulu domba. Seperti habis manis sepah dibuang begitu saja. Tapi ada yang mencurigakan, ia justru mengulum senyum manis.
Selagi Rasya menarik diri dengan kimono handuknya, Nisa terduduk lesu menyandar kepala tempat tidur. Hatinya ngilu dan pedih. Dadanya sesak sulit mengatur pertukatan oksigen. Wajahnya mengisyaratkan tertekan yang kian menjadi. Ia menelungkup muka memeluk lutut di balik selimut. Air matanya tumpah ruah. Polesan make up di wajahnya pudar perlahan. Rona wajah bersemu merah jambunya telah berubah menggelap. Ia menangis sejadi-jadinya.
"Ini mimpi! Hanya mimpi! Mimpi buruk!" ucapnya disela isakan tangis.
***
Sekembali dari Surabaya, Nisa mengurung diri di dalam kamar. Seharian ia enggan ke luar rumah. Menyentuh makanan pun tidak. Ia hanya terbaring lunglai tanpa daya. Berulang kali Alena membujuknya untuk makan atau minum, tak digubris sama sekali. Ia kebingungan memahami masalah adik iparnya yang bungkam seribu bahasa. Nevan sedang di Jakarta menengok papanya yang sedang sakit. Alena tak berani mengganggu suaminya.
"Kak Lena!" seru Jino tergopoh menggendong Yasmin dari luar.
"Aduh Jino! Kamu kemana aja sih?! Lama banget!" omel Alena makin penat. Ia mengambil alih Yasmin dan mengajak putrinya ke luar. "Itu coba kamu bicara sama Nisa. Kalian ribut atau gimana?" tuding Alena.
Jino menggelengkan kepala. Pasalanya mereka memang sering ribut tapi hanya ribut biasa. Tak mungkin sampai Nisa enggan menyentuh makanan sama sekali. Pasti ada hal lain tengah mengganggu pikiran Nisa. Begitu tebak Jino. Ia mendekati Nisa dan membelai kepalanya penuh pengertian.
"Kamu kenapa? Cerita kalau ada masalah, aku ada salah?"
Nisa menggeser sedikit badannya. Matanya sembab, wajahnya pucat pasi. Ia bangkit dan memeluk Jino sambil menangis.
__ADS_1
"Ada apa, Nis? Cerita ya?"
"Rasya! Aku mau dia tanggung jawab!" Nisa mengusap air mata. Ada kemarahan di dalam bola matanya.
"Tanggung jawab apa?"
"Tanggung jawab karena udah sakitin aku!"
"Sakitin kamu gimana maksudnya, Nis? Bicara yang jelas." Jino mulai cemas.
"Pokoknya aku mau dia tanggung jawab!"
Di dekat pintu kamar, Alena sejak tadi sengaja mendengarkan. Ia ingin tahu ada apa dengan Nisa sebenarnya. Ibu satu anak itu ternganga menyadri sesuatu. Ia langsung teringat insiden bersama Nevan dulu.
"Kak Rendra pasti bisa urus ini!" Alena sigap berlalu mengambil ponsel di kamar. Ia mendudukkan Yasmin di atas peraduan kemudian sibuk menghubungi kakaknya.
"Halo, Kak Rendra di mana?"
"Kak Rendra tahu Rasya kan? Itu manajer barunya Nisa. Kan Kak Rendra kenal Pak Raharja, bos besarnya-"
"Pelan-pelan, Len. Ada apa? Kenapa memangnya?"
"Kak Rendra yang masukin Nisa ke perusahaan itu, Kak Rendra harus tanggung jawab."
Mendengar nada bingung Alena, Rendra makin sulit mengerti maksud ucapan adiknya.
"Bentar, Len. Kakak masih nggak paham maksudmu."
"Kak, kemarin si Nisa ke Surabaya tiga hari nginep di hotel. Tapi pulang dari sana dia nggak mau ngomong dan makan. Harusnya tiga hari tapi jadi dua hari doang."
__ADS_1
"Terus? Apa hubungannya?"
"Aku khawatir, Kak. Jangan-jangan Nisa diapa-apain sama Rasya!"
"Hah?! Nggak mungkin Len. Rasya itu keponakannya Pak Raharja. Kakak beberapa kali sempat ketemu obrolin bisnis juga, kayaknya orangnya baik."
"Kak, Nevan yang baik aja bisa khilaf pas mabuk. Ya, walaupun alhamdulillah nggak betulan. Namanya manusia pasti ada lemahnya!"
"Nanti Kakak cari tahu dulu. Terus Nisa gimana keadaannya sekarang?"
"Masih di kamar nangis. Ada Jino yang berusaha nenangin. Tapi aku denger berulang kali Nisa bahas soal tanggung jawab. Aku khawatir, Kak!"
***
Malam itu juga Rendra langsung tancap gas menghubungi Rasya. Sayangnya Rasya masih di Surabaya.
"Tenang, Ren. Nanti gue jelasin semuanya. Calm down, man."
"Gila! Lo suruh gue calm down, lo apain adeknya Nevan?!"
"Ntar sampai di Bali gue jelasin. Gue tahu Nisa masih ngambek-"
"Gue nggak mau tahu, beneran lo udah apa-apain Nisa, lo tanggung jawab!"
"Gue siap tanggung jawab. Tapi-"
\=\=\=\=\=\=\=🌹🌹\=\=\=\=\=\=\=
Tanggung jawab apa nih? Tapi apa nih?
__ADS_1
Kuy terus dukung FN ya. Btw, cerita ini memang agak gaje, karena kubikin sesimpel mungkin.