FIRST NIGHT (Season 1, 2, Dan 3)

FIRST NIGHT (Season 1, 2, Dan 3)
[Season 2] Bab. 18 - Edisi Kenangan Awal Pertemuan


__ADS_3

Awal pertemuan dua insan memang tidak selalu terkesan baik dan berkesan manis. Sebut saja ketika Jino dan Nisa pertama terjebak dengan borgol mereka. Hingga Nisa yang akhirnya ngompol di celana, karena Jino tak mau diajak masuk ke dalam toilet umum rumah sakit.


Semua orang menatap ke dua orang di depan pintu toilet. Untungnya hanya ada beberapa orang melintas dan memandang risih. Sebagian tak ayal menutup hidung, karena bau pesing yang mulai terdendus.


"Aduh, Udah gede kok masih ngompoo, Mbak?" seloroh seorang OB yang tepuk jidat. Ia bergegas ambil peralatan perang untuk membersihkan sisa yang ditimbulkan kekhilafan Nisa.


"Gara-gara kamu! Aku jadi malu banget!" keluhnya dengan wajah merah padam.


"Salah siapa nggak mau bayar? Lagian mana boleh cowok masuk toilet cewek!" balas Jino datar.


"Setelah membersihkan lantai dan mengepelnya dengan telaten sampai kinclong, si petugas tersebut pun memanggi pihak keamanan untuk membantu Nisa dan Jino melepas borgol.


"Makanya jangan suka bikin keributan di tempat umum apalagi rumah sakit. Mengganggu yang lain tahu?" ceramah pak satpam hanya dibalas anggukan oleh keduanya.


Usai borgol dilepas, Jino berlalu brgitu saja. Tapi Nisa tak akan semudah itu melepaskannya. Bagaimanapun juga, Nisa merasa Jino harus bertanggung jawab atas insiden memalukan yang baru beberapa menit lalu ia alami. Nisa tergopoh tak nyaman, mengikuti langkah Jino dan menarik kerah baju Jino dari belakang. Sampai keduanya hampir terjungkal ke lantai. Pak satpam dan Bu OB hanya bisa geleng kepala.


"Anak-anak zaman sekarang ada-ada saja tingkahnya ya, Bu."


"Iya Pak. Ribut-ribut sebulan kemudian jadian. Kayak sinetron di tipi."


"Sebulan selanjutnya putus ya Bu."


"Terus balikan lagi bisa jadi Pak."


"Udah kayak lagu lama aja. Punya siapa itu si Rapi ya?"


Dua petugas malah jadi asik melanjutkan gosip artis.


\=\=\=\=\=\=\=


"Apaan lagi" Jino mulai kesal. Ia berusaha melepaskan diri dari cengkraman Nisa. tapi Nisa tak mau kalah. Tenaganya lumayan juga bisa menandingi cowok tapi kalau sedang marah.


"Ganti rugi!"


"Hah?! Ngapain ganti rugi segala?!"


"Nggak peduli! Beliin aku celana sekarang juga! Titik."

__ADS_1


"Ogah! Beli sendiri!"


Nisa tampak celingukan di sepanjang koridor menuju ke luar. Ia pun menemukan sebuah ide cemerlang. Dengan sigap ia memegangi perut lalu memperlihatkan wajah kesakitan.


"Aduh! Kasiannya calon bayiku! Perutku sakit tapi ayahnya nggak mau tanggung jawab!" pekiknya lantang.


Jelas saja semua perhatian orang langsung mengarah ke mereka berdua. Akting yang sangat sempurna. Mereka iba melihat Nisa yang disinyalir tengah hamil muda tapi si pria enggan mengakui.


"Heh anak muda! Berani berbuat harus berani bertanggung jawab!" omel seorang wanita tua pada Jino.


"Tapi, Bu, saya kan nggak ngapa-ngapain dia."


"Halah alasan kamu. Semua juga bilang begitu. Cepat tolongin dia! Tanggung jawab kamu kalau beneran lelaki tulen!" tambah ibu lainnya di dekat mereka.


Jino merasa mati kutu jadi pusat perhatian banyak orang. Gara-gara kelakuan Nisa yang berpura-pura begitu, ia yang jadi kena getahnya. Alhasil, Jino pun pasrah. Ia mengulurkan tangan dan membantu Nisa berdiri. Kemudian menggandengnya pergi dari kerumunan orang.


"Beliin celana!" tuntut Nisa.


"Ya Allah ... mimpi apa aku semalam? Kok jadi ketiban makhluk menyebalkan kayak gini!" rutuk Jino mengiba.


"Harusnya kamu itu bersyukur, Pak supir. Cogan di luaran sana aja pada ngarep aku datengin walau cuma dalam mimpi. Ini kamu kedatangan bidadari bumi secara langsung loh," celetuk Nisa percaya diri.


Jino hanya melirik sinis. Menatap dari atas hingga bawah tubuh semampai gadis di sampingnya. Memang tidak bisa dipungkiri kalau Nisa ini punya wajah cantik dan imut. Tapi ia merinding, di balik model wajah bak malaikatnya itu, Nisa punya sisi lain yang membuat bulu kuduknya meremang. Polah tingkahnya benar-benar kacau sekali.


"Kenapa kamu nggak minta beliin kakakmu aja sih? Kayaknya kakakmu orang kaya juga," selidik Jino masih enggan keluar uang. Ia butuh untuk bayar kos dan makan.


"Eh iya ya, aku lupa kalau punya kakak." Nisa meringis.


"Yaudah sana minta. Saya masih banyak urusan. Mau cari penumpang lagi!" sungut Jino agak emosi.


Nisa mencolek lengan Jino. "Mintain dong? Masa aku harus masuk ke dalam lagi sih? Ini udah kecium pesingnya tahu!" Nisa menyadari.


"Ih nggak mau, bukan urusanku. Aku sibuk."


"Oke. Aku teriak lagi kayak tadi, mau?" ancam Nisa.


Jino menarik napas panjang. Tapi kemudian sayup dari ujung lorong, ia mendapati wajah-wajah yang sempat ia temui. Nevan berjalan menggandeng Alena dengan perut besarnya. Rendra tampak mengobrol dengan Azizah di belakang Alena dan Nevan.

__ADS_1


"Itu kakakmu." Jino menunjuk dengan dagu yang ia arahkan ke pasukan empat serangkai. Entah kenapa perasaan Jino tidak enak.


"Kalian masih di sini?" Nevan bersuara setelah berada di dekat Jino dan Nisa. "Ehya, lo driver yang tadi kan?" lanjutnya mengamati Jino.


Jino mengangguk.


"Mobil lo gue sewa aja deh buat anterin kita balik. Gue bayar sejuta. Gimana?" tawar Nevan.


Pucuk dicinta ulam pun tiba. Jino terharu dan sangat senang mendengarnya. Ternyata di balik kesulitan yang ia alami, Yang Kuasa memberinya kemudahan pula. "Siap, Kak. Saya antar kemana pun." Semangtnya membara.


"Halah tadi aja-"


Belum usai Nisa bicara, telapak tangan Jino lebih dulu membekapnya. "Diam. Nanti saya belikan celana di pasar loak," katanya berbisik.


"Bau apa ya ini? Kok jadi mual gini?" Alena menutup hidung. Perut besarnya bagai tersengat aroma tak sedap yang menyesakkan dan membuat mual tak karuan.


Nevan melirik celana Nisa yang kelihatan basah. "Heh bocah, lo ngompol!"


"Nggak kok Kak! Itu anu tadi Nisa bantu jagain anak orang, ibunya izin ke toilet. Eh malah aku yang diompolin."


Nevan ragu. "Serius?" ia menautkan satu alis penuh kecurigaan.


"Eh si Mbak yang tadi ya?" sapa si ibu OB baru lewat. "Gimana Mbak, udah gantu celana? Nanti masuk angin loh. Lain kali pakai pempers aja, Mbak. Jadi kalau ngompol nggak sampai basah kena pakaian," saran yang sangan meruntuhkan harga diri Nisa.


"Hah? Kamu ngompol beneran, Nis?" Rendra shock. Azizah langsung menyenggol lengan Rendra supaya diam. Melihat mimik Nisa berubah ingin menangis.


Jino tak tega juga lama-lama. Ia menepuk-nepuk pundak Nisa untuk tenang. "Gak apa, sekali-sekali cewek ngompol juga seksi kok. Kan bukan narkoba," katanya ambigu.


Sejak saat itulah, perasaan Nisa kerap berdebar ketika bersama Jino. Sejak itu pula diam-diam ia ingin bertemu Jino terus. Semua cara ia lakukan, termasuk sering mengganggu Jino melalui pesan Whatsapp. Untung nomor ponsel Jino di aplikasi terhubung dengan Whatsappnya. Jadi tak sulit bagi Nisa melakukan pendekatan mendalam.


"Cowok langka ini harus jadi kekasih halalku. Titik." Begitu pikir Nisa seterusnya.


\=\=\=\=\=\=\=🌹🌹\=\=\=\=\=\=\=


Jadi, itulah awal mula mereka kenalan dan dekat. ^^


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2