
Malam berlalu begitu saja, dan pada akhirnya Jino, Nisa, serta Yasmin terlelap di kamar yang sama. Yasmin kecil meringkuk di dalam pelukan Nisa, sementara Jino terpaksa membalik punggung sambil mendekap bantal guling, yang akhirnya direbut Nisa juga. Padahal sudah membangun situasi, tapi Yasmin malah menginterupsi. Untung anak kecil, untung lucu, untung imut, untung sayang, untung eh, nggak untung deh. Soalnya gagal MP, alias malam pertama.
Alena mengintip dari celah pintu yang sedikit terbuka dan mendapati putrinya terlelap bersama pasangan pengantin baru super fenomenal itu. Dia terkikik geli sebelum mengangkat Yasmin dari ranjang Nisa dan Jino. Matahari semakin tinggi, dan dua pasutri yang baru halal kemarin itu sama-sama bangun kesiangan.
“Nis, bangun!” Jino mengguncang-guncang tubuh istrinya yang masih menelungkup di kasur. “Udah jam berapa ini? Nggak enak sama Kak Nevan dan Kak Alena, Yank.”
“Hmm….”
“Nisa, bangun!” Jino masih tak menyerah, walau dia tahu cewek ini kalau sudah tidur seperti orang mati.
“Hmmm!”
“Nisa, nggak enak, lho, Yank sama Kak Nevan. Masa kita numpang bangunnya siang?” Jino masih mengguncang-guncang tubuh Nisa.
“Yaudah kalau nggak enak kasih kucing.” Nisa bergumam tak jelas. “Aku tuh masih ngantuk, Bebeb.”
Jino gemas, dia menjawil hidung Nisa. “Bangun dulu, pokoknya!”
“Yank, aku nggak bisa napas!” Nisa langsung melotot, Jino melepaskan pencetan tangannya di hidung Nisa. “Kamu tega, deh!”
Jino tertawa, dia kira Nisa sudah sadar dan bangun sepenuhnya. Namun, ternyata perempuan itu menancapkan kembali kepalanya ke tumpukan selimut yang menggulung. Jino cuma menggeleng-gelengkan kepala, tapi dia kemudian mengambil air dan memercikkannya ke wajah nisa.
Jino memanggil iseng. “Nis, bangun, cipratin air mata kuda nil nih?!"
“Ih! apaan sih ini?!” Nisa hampir mengamuk tapi tidak jadi begitu melihat cengiran polos cowok itu. Tangannya kelihatan basah seperti habis cuci tangan, jadi sudah pasti dia sedang dikerjai. “Jahat kamu, ngerjain aku!”
“Kan biar kamu bangun, Sayang!” Jino memeluk Nisa erat-erat, sengaja lebih erat, lalu lebih erat lagi. Lama-lama Jino gregetan.
“Yank, Yank!” Nisa merasa pelukan Jino semakin erat, lalu lebih erat, dan sekarang terlalu erat. “Yank! Jino, aku nggak bisa napas!”
Jino tertawa, lalu melepaskan pelukannya pada Nisa yang juga tertawa. Disaat itu tiba-tiba Alena dan Nevan masuk ke kamar.
“Aduh, cie lah yang lagi berduaan.” Nevan nyengir gaje, sementara Alena mengulum senyum.
“Ya iya lah kami berduaan. Emang ada siapa lagi?” Nisa membalas Nevan sewot.
“Ah, bilang aja kalian batal ‘uhuk’ gara-gara semalam Yasmin nyelonong masuk.” Nevan sengaja meledek dengan suara yang menyebalkan. “Cie lah, yang gagal belah duren. HAHAHAHA.”
__ADS_1
“Ih, Kak Len, tega banget masa si cecunguk ini ngomong begitu! Kepedean!” Nisa mengerutkan kening sambil bersungut-sungut. “Ih, siapa juga yang mau belah duren di rumah ini, Kak! Nnati malah saingan sama kalian!”
Alena tertawa. “Udah, udah, jangan ribut terus. Bersisik.”
“Ikan maksudnya kak?” Jino bertanya polos.
“BERISIK!” Nisa dan Nevan kompak membetulkan kepolosan Jino.
Alena masih tertawa, tapi dia segera meredam suaranya. “Oke, jadi begini. Karena kalian akhirnya married setelah sekian lama …. ”
“Dan sebagai ganti rugi karena semalam kalian nggak jadi mantap-mantap yahud, gara-gara Yasmin.” Nevan melanjutkan. “Jadi kami akan kasih kalian hadiah untuk bulan madu selama seminggu di salah satu resort mewah pantai kuta.”
Jino dan Nisa melotot, lalu mereka saling berpandangan. Hening sejemang.
“Kok diam?” Alena mengerjap beberapa kali. “ Kalian nggak senang atau nggak suka hadiahnya?”
Mereka kompak menggeleng.
“Aduh, mentang-mentang pengantin baru, bahlul aja kompakan amat dah!” Nevan keburu nyerocos lagi. “Intinya kalian mau honeymoon apa nggak nih?”
“MAU!” Mereka kompak menjawab.
“Nih anak bener-bener minta diruqiyah apa?!” Nevan sewot. “Sini kalau nggak mau balikin, biar aku sama Alena yang honeymoon lagi!" katanya cuek.
"Eh, memangnya kita udah pernah bulan madu?" Alena mengingat-ingat. Sepertinya belum. Nevan hanya garuk kepala.
"Huuuu! Payah!" ledek Alena memanyunkan bibir.
“Makasih ya, Kak Lena, Kak Nevan.” Jino berucap tulus. “Thanks to always being our supporter.”
Nevan memeluk Jino erat, “It’s ok, bro. Tugas terpenting lo sekarang adalah menanam benih di dalam ladang adek gue secepatnya. Lo belum lupa kan alasan kalian menikah apa?” cerocos Nevan mengingatkan tentang kebohongan yang telah mereka buat.
“Karena aku hamil?” Nisa melirik Nevan. “Iya juga, ya, berarti harus beneran hamil dong.”
Gadis itu kemudian bergegas membereskan barang-barang mereka dan memasukkannya ke dalam koper. “Yank, Beb! Cepetan mandi!” Nisa langsung heboh. “Kita harus ke hotel buat bikin dedek bayi, sekarang juga!”
Nevan dan Alena cuma menggeleng pelan sebelum akhirnya mereka meninggalkan pasangan absurd itu, untuk mempersiapkan bulan madu kecil mereka.
__ADS_1
Sekitar tiga puluh menit kemudian mereka hampir selesai membereskan barang bawaan, Jino sudah rapi, sementara Nisa baru keluar dari kamar mandi. Mereka pun melakukan pengecekan ulang list-list barang yang harus dibawa.
“Baju? Celana? Pakaian Dalam? Dompet? HP?” Nisa melakukan pemeriksaaan sambil menyamakan bentuk dan tulisannya. “Kira-kira udah semua belum, Yank?”
Jino cuma memperhatikan sambil tersenyum geli, lalu belum sempat ia menjawab pertanyaan Nisa, ponselnya bergetar. Jino melirik sekilas sebelum mengangkatnya. Tertulis nama Jaka di sana dan itu semakin membuat Jino ingin cepat-cepat menjawab telepon tersebut. Pasalnya dua hari yang lalu Kakaknya memang tengah dalam proses melahirkan. Jino penasaran dengan keponakan barunya.
“Ya halo, Kak. Gimana keadaan Kak Hesti?” Suara Jino terdengar ringan dan sumringah bercampur antusias, membuat Nisa melirik sambil mengulum senyum.
Nisa kemudian melanjutkan aktivitas memeriksa barang bawaan mereka, sampai tiba-tiba Jino bergeming dan ponsel yang ada dalam genggamannya terjatuh.
“Yank, kenapa?” Nisa langsung duduk di samping Jino, mengusap punggungnya. Mereka berdua sudah tiba-tiba merasakan hawa tak enak menyelimuti atmosfer kamar.
Jino masih membeku di tempat, napasnya naik turun dan dia benar-benar terlihat kaget dan tak percaya. Nisa tidak mengulang pertanyaannya, dia paham kalau ada sesuatu yang tidak beres.
“Nis, maaf, kayaknya bulan madu kita harus ditunda.” Jino menatap Nisa dengan tatapan yang tak dapat diartikan.
Ada sedikit kekecewaan di hati Nisa, akan tetapi dia cepat-cepat menangkisnya. “Nggak papa, kok. Memangnya ada apa? Ada masalahs serius ya?”
“Kakak koma setelah melahirkan.” Kalimat Jino terdengar putus asa, sedih, dan bimbang.
“Kalau gitu sekarang kita harus ke rumah sakit!” Nisa buru-buru bangkit, mengambil tas dan dompet lalu menggandeng Jino keluar.
Jino masih terhenyak di tempatnya berpijak. Lelaki itu menarik napas, kemudian menarik Nisa ke dalam dekapannya. “Maaf, Nis. Mungkin Mamah benar, aku belum sanggup membahagiakanmu.”
“Sekarang bukan itu yang terpenting.” Nisa menelan semua kekecewaannya, dia tahu apa yang paling penting untuk suaminya sekarang. “Ayo ke rumah sakit! Kakak ipar lebih butuh dukungan kita sekarang! Bulan madu urusan gampang, nanti kita pikirkan lagi.”
Kedua sejoli itu keluar buru-buru sampai Nevan dan Alena tidak sempat bertanya. Mereka harus segera pergi ke rumah sakit untuk melihat kondisi Kakak Jino. Lalu mungkin, hanya mungkin, setelah itu mereka akan pulang dan melanjutkan bulan madu. Setidaknya harapan itu yang Nisa punya. Semoga Kakak Jino tidak apa-apa, semoga ibu dan bayinya sehat. Cuma sebaris doa seperti itu yang bisa menenangkan Jino dalam perjalanan.
Tapi, entah mengapa. Realita masih gemar membanting ekspektasi. Nisa dan Jino menghadapi kenyataan pahit. Terlebih untuk Jino, ini adalah pukulan keras. Ketika dua orang pasangan baru itu tiba di depan sebuah ruangan. Jaka terduduk lemas di kursi tunggu. Matanya merah mengalirkan tetesan tangis.
"Kak! Apa yang terjadi?!" Jino menghampiri.
“No, Hesti udah nggak ada ... dia udah nyusul ibu bapak ke surga .... ” lirih Jaka, kemudian membekap mukanya dengan dua telapak tangan.
Detik itu juga Jino merasa pikirannya kosong. Seperti ada reruntuhan berjatuhan di hatinya. Seperti ada goresan silet di kulitnya. Seperti ada air cuka menetes di atas luka yang belum kering. Satu-satunya saudara sekaligus tumpuan hidupnya telah dipanggil Yang Kuasa. Hati Jino bagai diremas lalu dilepas begitu saja. Ia ingin menangis namun air mata bahkan tak mampu berbicara lagi tentang kesedihan batinnya.
Hidup ini keras. Selalu ada kesedihan datang tanpa terduga. Bisa jadi di saat kebahagiaan baru saja datang...
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=🌹🌹\=\=\=\=\=\=\=
By : Depa & Blueberry