FIRST NIGHT (Season 1, 2, Dan 3)

FIRST NIGHT (Season 1, 2, Dan 3)
Bab. 26 - Kelahiran


__ADS_3

Alena terkulai lemas, duduk menyandar tembok rumah sakit. Nevan mengikuti seraya memeluk bahu istrinya. Ada perasaan bersalah mengitari otak Alena saat ini. Ia sudah lancang menuduh suaminya yang bukan-bukan.


"Maafin aku, Van? Aku nggak seharusnya negatif thingking duluan. Padahal, kamu lagi dalam masalah kayak gini," suara Alena serak menahan kecewa pada dirinya sendiri.


Nevan menghela napas dalam. Lalu menggenggam tangan Alena penuh pengertian. "Sudah-sudah, nggak usah dipikirin lagi ya? Nanti malah makin stres, bahaya buat calon bayi kita," kata Nevan.


"Aku sensitif banget, Van. Gampang bete, marah, kesel, curigaan, campur aduk pokoknya."


"Iya wajar, namanya juga lagi hamil kan. Mungkin hormonmu lagi berlebihan." Nevan membelai pucuk kepala Alena, dan mengecup kening istrinya penuh sayang.


"Kamu nggak marah, kan?" Alena cemas.


Nevan menggeleng, telunjuknya beralih menjawil hidung mancung Alena. "Nggak mungkinlah, istriku sayang."


Rendra dan Azizah menggelengkan kepala heran.


"Kayaknya nikah enak juga ya?" Rendra menimbang setengah memberi kode keras.


"Enak gimana? Kamu belum tahu rumitnya berumah tangga, Ren. Jangan langsung kemakan keadaan sekitar. Cuma lihat dari sisi romantisnya doang," sela Azizah mengingatkan.


"Enak kalau kita bener milih pasangan. Kamu cuma belum nemu yang tepat, makanya masih trauma, kan?" Rendra gencar mengintimidasi Azizah.


Perempuan berjas putih itu hanya membuang napas sebal. Ia memang kurang peka urusan perasaan lawan jenis. Atau sengaja tidak peduli dengan hal tersebut. Efek traumatis ditinggalkan mantan suami dulu, dengan fakta perselingkuhan, menjadikan hati Azizah keras bagai batu. Terlebih, ia harus mengasuh anaknya yang masih kecil sorang diri. Karena mantan suaminya lepas dari tanggung jawab.


"Udah deh, kalian nikah aja. Biar cepet kelar urusannya," timpal Nevan mengompori.


"Nikah gimana maksudmu? Rendra dah ada demenan, kita cuma temenan. Lagipula, mana mau sih si idola para cewek ini, sama janda beranak satu kayak aku? Ya kan, Ren?"


Niatnya Azizah hanya ingin bercanda untuk mencairkan suasana. Tak disangka jawaban Rendra justru membungkam argumennya.


"Aku mau!"


Nevan dan Alena tersenyum simpul. Hanya Azizah yang menatap kebingungan. Berusaha membedakan apakan Rendra bergurau atau serius. Nihil, Azizah ragu-ragu.


"Aduh, Bu Bidan ini aneh ya. Barusan ada yang bilang mau lhoh. Kok tampangnya jadi nakutin gitu?" sindir Alena.


"Rendra bercanda suka gitu, Len." Azizah meluruskan.


"Aku nggak bercanda!" pekik Rendra.


"Apaan sih, Ren. Jangan ngawur kamu."


"Serius! Aku tahu baik buruknya kamu, kamu tahu kurang lebihku. Aku ganteng, tanggung jawab, mapan, dan jelas sayang sama kamu dan anakmu. Jadi intinya, ayo kita nikah!" seru Rendra antusias.


Azizah terbengong di atas pijakan.

__ADS_1


***


Sekembali dari makan, Nevan dan Alena melihat seorang pria, baru saja ke luar dari kamar pasien yang ditabrak Nevan. Mereka saling pandang sebentar.


"Permisi. Apa Anda yang menabrak istri saya?"


Nevan mengangguk.


"Kami akan bertanggung jawab. Tapi tolong, jangan laporkan suami saya ke polosi." Alena harap-harap cemas.


Pria itu tersenyum tulus. "Jangan cemas, saya awalnya marah, tapi istri saya sudah menyadari keteledorannya. Malah ingin berterimakasih pada suami Anda."


"Berterimakasih?"


"Iya. Kalau suami Anda tidak menabraknya, mungkin saya sudah meninggalkannya ke luar negeri. Mendapat telepon dari rumah sakit saya langsung datang. Selama ini saya tidak begitu perhatian pada istri saya yang sedang hamil. Malah sibuk dengan pekerjaan. Sepertinya Tuhan menegur saya melalui perantara suami Anda. Bersyukur istri dan calon bayi kami tidak apa-apa."


Pria itu terlihat murung penuh sesal.


Kalimat tersebut rupanya juga memberi sindiran tak langsung terhadap Nevan. Ia melirik istrinya dengan perut sebesar itu. Kemudian beralih pandang ke arah temannya.


"Kakak ipar?" panggilnya.


"Apa? Tumben lo panggil gue kakak ipar. Kek anak bocah lo."


"Buat?"


"Buat jagain bini gue tersayanglah!"


Alena tersipu malu, disenggolnya lengan Nevan pelan.


"Dasar bucin level akut!" cibir Rendra geli.


***


Di dalam sebuah mobil berwarna hitam metalik, Jino kesulitan menyetir dengan satu tangan di borgol bersama tangan lain. Keduanya terlibat cekcok sengit saling beradu ucapan tak jelas.


"Semua salahmu, Pak Supir!"


"Kenapa aku! Kalian naik taksi nggak bayar woi!"


"Bukan nggak bayar cuma kredit!"


"Kredit apa utang?!"


"Utang kesannya kurang keren sih. Kredit aja deh!"

__ADS_1


"Astaga. Hari pertama kerja aku malah dapet penumpang kayak begini rusuhnya! Sial amat nasibku! Apa dosaku di masa lalu, Tuhan? Sampai aku harus ketemu cewek resek kayak dia?" Jino meratapi nasib.


"Apa kamu bilang? Tuan putri secantik dan sebaik ini kamu bilang resek? Helo, Pak Supir yang terhormat, harusnya kamu tuh bersyukur. Mybe, ini hadiah dari Tuhan. Karena di masa lalu kamu dah jadi seorang pahlaman pemberani."


"Musibah ini namanya!"


"Berkah tahu!"


"Sengsara!"


"Bahagia tahu!"


"Ngenes!"


"Bersyukur napa!"


Percekcokan terus berlanjut, membuat mobil berliuk-liuk ke sana ke mari. Hingga akhirnya hampir menabrak sebuah gerobak bakso di pinggir jalan. Jino memutar setir kilat. Mobil oleng, lalu tanpa sadar sudah bertubrukan dengan pembatas jalanan.


"Mobilku!" teriak Jino frustrasi.


"Aku nggak mau mati sekarang! Belum nikah! Belum ngerasain sensasi first night!" jerit Nisa histeris.


***


Ruang bersalin terdengar ricuh gaduh. Di dalam, Alena sedang menjalani proses persalinan. Nevan menemani, menggenggam tangan istrinya sambil terus berdoa dalam hati. Para suster justru tak fokus, akibat mendapati kemeja Nevan sobek-sobek karna ulah gahar Alena.


"Ayo, Sayang! Kamu pasti bisa! Bertahanlah!" semangatnya.


Susah payah Alena mengejen, meninggalkan rasa sakit yang ia rasakan. Bagaimana pun juga, ia akan berusaha sekuat tenaga. Demi hadirnya buah hati mereka.


Sampai terdengar suara tangisan bayi memecah kecemasan yang melanda. Seorang bayi imut nan lucu baru saja terlahir ke dunia.


Alena terengah dengan napas memburu. Rasa sakit yang ia terima tak lagi berarti. Baginya, ia lebih bahagia mendengar suara bayi mungilnya menggema memenuhi isi ruangan. Nevan mengecup kening istrinya.


"Alhamdulillah ... makasih, Sayang. Kita udah resmi jadi orang tua sekarang," lirih Nevan bersyukur.


\=\=🌹END🌹\=\=


**Kaget ya udah END? Tenang, ini END hanya untuk sementara waktu. Masih ada beberapa episode ekstra. Tapi saya belum janji bisa secepatnya up. Ada kesibukan yang harus saya jalani. Terimakasih sudah mampir, like, dan komen.


Salam hangat,


Depa CBS (Dee14007**)


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2