
"Sial! Kenapa gue bisa teledor banget ginu sih!! Kalau sampai Alena kenapa-kenapa, gue pantes disalahin! Argh!" Nevan memukul kepalanya berkali-kali.
Rendra menepuk-nepuk bahunya. Berusaha menenangkan temannya. Ia langsung meninggalkan semua kerjaan kantor, setelah dapat telepon dari Nevan. Sekarang keduanya masih menunggu Alena sadar.
"Udahlah, nggak usah disesali. Anggep aja lo lagi ditegur sama Yang Kuasa. Supaya lebih perhatian sama bini lo," nasehat Rendra.
"Lo lagi nyemangatin gue, apa lagi nyindir gue, Ren?!" gerutu Nevan menghela napas berat.
"Alena nggak ngasih tahu gue! Gimana gue bisa tahu kalau dia lagi hamil?! Gue kan, bukan malaikat serba tahu!" Nevan frustrasi.
"Apanya yang belom kasih tahu?!"
Suara Camila membuat dua wajah pria itu mendongak, mencari sumber suara sang gadis. Camila mendekap tas di lengannya. Kemudian berkacak pinggang ala bos besar nan arogan. Matanya menyala-nyala seperti kobaran api melahap kayu hutan. Siap menghabisi seluruh isinya. Nevan dan Rendra agak merinding melihat tatapan itu.
"Siapa yang kasih tahu dia?" Nevan bingung.
Rendra menunjuk dirinya sendiri. Tadi Camila menghubungi Rendra, meminta referensi restoran terbaik di Bali. Karena ia dan suaminya akan merayakan ulang tahun pernikahan mereka pekan depan. Sekalian saja Rendra beritahu ke Camila, bahwa sahabatnya tengah dirawat di rumah sakit. Lalu Camila cepat-cepat menyusul.
"Kamu tuh ya, Van! Bener-bener kebangetan banget jadi suami! Alena cerita ke aku, dia udah bilang ke kamu kalau dia hamil. Tapi katanya kamu malah nggak peduli." Camila membombardir Nevan dengan sebuah pernyataan meyakinkan.
"Kapan?! Gue nggak ngerasa-"
Ucapan Nevan berhenti. Ia nampak berpikir sejenak. Mengingat kapan istrinya mengatakan tentang kehamilannya. Nihil. Ia benar-benar tak mengingat apapun.
***
Alena terduduk menyandar di atas tempat tidur rumah sakit. Ia mengalihkan wajahnya ke sudut lain, saat melihat suaminya masuk. Perasaan kesal bercampur kecewa masih merasuki batinnya.
__ADS_1
Nevan duduk di sebelah Alena. Membelai rambutnya lembut. Menggenggam telapak tangannya penuh penyesalan.
"Maaf, sayang ... seharusnya kamu kasih tahu aku sebelumnya .... " lirih Nevan mengecup punggung tangan sang istri.
Alena mendengkus. Ia menyingkirkan genggaman Nevan kasar. Membuat pria itu bergidik ngeri. Nevan tahu benar, bagaimana sifat istrinya ketika marah. Bahkan serigala kelaparan pun kalah saing dengannya.
"I'm so sorry, Baby. Aku akan lebih memperhatikanmu lagi .... " tulus Nevan meminta maaf.
Tanpa terduga sebelumnya. Dengan cepat Alena mengambil bantalnya. Ia segera memukul-mukul suaminya dengan bantal bertubi-tubi.
"Len! Apa yang kamu lakukan! Aku sudah minta maaf!" protes Nevan, berusaha menghindari amukan istrinya. Perempuan hamil memang lebih sensitif dan mudah emosi.
"Kamu bilang apa barusan?! Tidak memberitahumu?! Apa kamu amnesia?! Kemarin lusa aku memberimu sebuah amplop, tapi kamu malah membuangnya ke tempat sampah! Apa kamu beneran nggak senang aku hamil?!" semua racun di hati Alena ia tumpahkan begitu saja.
"Tempat sampah? Nggak mungkin! Jangan bercanda, Len. Mana mungkin aku-"
Dua hari lalu...
*Malam itu Nevan disibukkan dengan berkas-berkas kantornya. Ia bahkan mengabaikan secangkir kopi hangat buatan Alena, yang kini sudah dingin.
"Van. I have something special for you." Alena tersenyum sumringah.
"Tadda!"
Alena menunjukkan sebuah amplop putih. Nevan meraihnya. Ia sempat curiga, melihat ekspresi sumringah istrinya. Tapi tak dapat menerka-nerka isinya.
"Baiklah. Aku tunggu kamu di kamar ya? Beritahu aku bagaimana pendapatmu tentang itu?!" Alena berbalik, kembali menuju kamar mereka di sebelah ruang kerja suaminya.
__ADS_1
Rasa penasaran Nevan memuncak, entah apa yang membuat istrinya mendadak bersikap semanis itu padanya. Ia membuka amplop. Sayangnya, ponselnya lebih dulu berdering. Ia lupa di mana menaruh ponselnya, hanya suaranya yang terdengar nyaring. Sampai-sampai tangannya yang mengobrak-abrik meja, tak sengaja menyenggol cangkir kopinya. Sebagian isinya tumpan membasahi meja. Karena panik semua dokumen pentingnya basah kuyub, ia pun refleks mengelap meja yang basah dengan amplop di tangannya.
Keesokan paginya. Seperti biasa, Alena membersihkan setiap sisi rumah. Termasuk ruang kerja Nevan. Bola matanya melebar kilat, melihat sebuah amplop di dalam tempat sampah. Alena mengambilnya. Wajahnya berubah geram.
"NEVAN BRENGSEK!" teriaknya hampir-hampir mengalahkan bunyi pukulan drum, di acara konser musik*.
***
Alena melotot, menyadari suaminya seperti sudah ingat kejadian tersebut.
"Gimana? Udah inget sekarang? Nggak mau punya anak, ya nggak usah tiap malem ngajakin bikin! Nggak pakai pengaman pula! Dasar egois!" emosi Alena makin meluap. Ia melotot tajam, bak belati siap menikam manusia di depannya.
Nevan menggaruk tengkuk seraya meringis. Sedangkan Rendra dan Camila yang berdiri menonton sejak tadi, hanya geleng kepala sambil menahan tawa. Antara kasihan dan mengejek Nevan yang tak peka.
\=\=\=\=\=\=\=&&&\=\=\=\=\=\=\=
Hai hai apa kabar? masih sehat kan? Alhamdulillah.
Kalau ada yg lagi sakit, semoga lekas sembuh. ^^
Yuk, dukung terus FIRST NIGHT, biar saya makin semangat buat updatenya.
Btw, mampir ke lapakku di sebelah yuk? Ada cerita baper yg gak kalah seru loh.
Cus kepoin bagi yg demen cerita romance manis2 manjah gitu. ^
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=♤♤♤\=\=\=\=\=\=\=