FIRST NIGHT (Season 1, 2, Dan 3)

FIRST NIGHT (Season 1, 2, Dan 3)
S2. Bab. 29 - Kesempurnaan Cinta


__ADS_3

*Berada dipelukanmu


Mengajarkanku apa artinya kenyamanan


Kesempurnaan cinta


Berdua bersamamu


Mengajarkanku apa artinya kenyamanan


Kesempurnaan cinta


-Rizky Fabian-Kesempurnaan Cinta*-


Lagu itu masih terdengar mengalun di ponsel Nisa. Gadis itu sejak tadi riweh memasukkan bumbu-bumbu ke dalam masakan sembari bersenandung ria. Tubuhnya meliuk seirama musik berderai. Akhirnya setelah dua minggu belajar masak bersama Alena, Nisa mulai sedikit banyak bisa mengolah makanan dengan benar. Setidaknya walau kadang masih keasinan atau kemanisan atau malah hambar, minimal masih bisa dimakan dengan tenang oleh Jino. Ia bahkan telaten mencatat apa saja yang kurang dari masakannya. Apalagi kalau bukan untuk menyenangkan lidah sang suami.


Sepulang kerja Nisa selalu mampir ke supermarket untuk belanja sayur mayur. Jadi ia bisa langsung mengolah setiba di rumah. Ia juga baru tahu, kalau ternyata selama ini Jino sangat suka sambal goreng pete dicampur hati ampela. Padahal ia pikir cogan macam Jino akan antipati pada makanan berbau menyekat tapi bercitarasa khas tersebut.


"Assalam'mualaikum?"


Suara salam seseorang yang dinanti telah tiba. Jino baru pulang bekerja. Lumayan ia dapat job menjadi supir pribadi bos Nevan yang baru. Tadinya Nevan ingin memasukkan Jino ke resto dekat tempat kerjanya, tetapi kebetulan sekali bosnya sedang butuh supir pribadi. Jadi lumayan juga gaji dan jam kerjanya. Hanya saja, terkadang Jino harus siap sedia bila sang atasan tiba-tiba ada urusan urgent persoalan kantor. Mau tak mau ia harus cepat kilat menjemput meski malam sekali pun. Untungnya bosanya sangat pengertian. Jam kerja Jino hanya dibatasi sampai pulang kantor. Kecuali emergency dadakan. Bosnya itu sudah lumayan berumur, istrinya tidak mengizinkan mengendarai mobil sendiri. Makanya ia mencari supir pribadi.


"Wa'alaikumsalam my husband gantengku." Nisa berhamburan memeluk Jino.


"Masak apa nih? Wnaginya kayak kenal?" Jino menebak Nisa masak makanan kesukaannya.


"Aku baru minta resep rahasia dari Kak Lena. Semoga aja rasanya nggak mengecewakan lidahmu ya?" Nisa mengecup pipi Jino kilat.


"Makasih ya, Sayangku." Jino mengacak rambut Nisa yang tergulung dengan cepolan khasnya.


"Ish, berantakan loh. Kamu mandi dulu ya, udah kusiapin air hangat kok."


"Siap, Permaisuri hatiku."


"Halah, gombal!"


"Jadi maunya apa?"


"Permaisuri kan kebanyakan punya saingan selir, nggak mau ah. Aku mau jadi the one and only aja. Titik."


"Iya the one and only-ku." Jino mencubit gemas hidung istrinya


Selagi Nisa sibuk menyelesaikan aktifitasnya, Jino pun membasuh diri. Tapi mendadak perut Nisa kram dan agak perih. Ia juga mual seperti ingin muntah. Untung masakannya sudah terhidang semua di meja. Nisa ke kamar untuk ambil obat maaghnya. Biasanya ia sering kena maagh bila terlambat makan. Diingat-ingat Nisa memang belum sempat makan siang karena harus mengusaikan kerjaan di kantor. Maklum saja, sejak gagal menikahi Nisa, Rasya jadi berubah lebih arogan dan semena-mena. Bahkan sering menindas Nisa dengan berbagai tekanan soal kinerja. Bukan Nisa namanya jika tak tahan banting. Mental Nisa sejak kecil sudah lebih berat dari baja atau besi sekali pun. Ia bertahan untuk menunjukkan eksistensi dan profesionalitas kerjanya. Membuktikan bahwa ia tidak akan baper hanya karena sikap dendam Rasya padanya. Padahal, cowok itu hanya masih belum rela saja melihat Nisa bersama pria lain. Bahkan levelnya di bawah dirinya. Harga diri Rasya seakan terasa dibanting begitu saja. Ia hanya belum tahu, kehebatan dan perjuangan Jino selama ini. Tidak sebanding dengan Rasya yang pakai cara kotor dan curang seperti tempo lalu.


Jino baru selesai mandi dan ganti baju. Ia mendapati istrinya memegangi perut dengan tampang pucat.


"Kamu kenapa, Yank?! Sakit?!" Jino panik menghampiri Nisa. Ia mengecek suhu bandan Nisa, agak anyep.


"Kita ke rumah sakit aja ya? Atau mau ke klinik Kak Zizah lebih deket?"


Nisa menggeleng ragu. Tapi perutnya memang terasa kesakitan. Keringat dingin mulai bermunculan dari pori-porinya.


Jino membantu Nisa berbaring di atas kasur. Kemudian ia menghubungi Azizah, memintanya datang memeriksa Nisa. Namun, Azizah menyarankan agar Jino membawa Nisa langsung ke kliniknya saja. Supaya bisa diperiksa lebih jeli. Mendengar keluhan yang diutarakan Jino, Azizah agak curiga. Meski Jino pikir Nisa hamil.


"Jangan-jangan kamu hamil, Yank?" Jino berharap serius. Tapi Nisa tak yakin. Ia sering kesakitan tiap terlambat makan. Ia pikir ini hanya maagh biasa.


Akhirnya Jino membawa Nisa ke klinik Azizah. Setelah dilakukan USG, Azizah memberitahu Jino perihal keadaan Nisa sebenarnya.

__ADS_1


"Gimana, Kak? Betulan hamil?" Angan-angan Jino agaknya sudah setinggi Piramida Mesir.


Azizah menggeleng. "Nisa kena usus buntu. Tapi belum pecah dan mumpung belum parah, sebaiknya langsung dirujuk ke rumah sakit untuk tindakan operasi."


Seketika jiwa Jino bagai terhempas jatuh ke pedalaman hutan tanpa manusia lain, hanya ada satwa liar dan dirinya yang kebingungan.


"Maksudnya operasi, Kak? Nisa nggak apa-apa kan Kak?" Jino merinding sendiri. Di dalam pikirannya, operasi adalah hal berbahaya yang dilakukan bila penyakit benar-benar telah mengancam nyawa. Jino khawatir, ia tak mau kehilangan Nisa.


Azizah tersenyum simpul. "Tenang dulu. Nisa ini kan kalau makan suka sembarangan dan telat-telat juga. Dampaknya nggak bagus buat organ pencernaanya. Udah sering kubilangin kan tempo hari pas kena maagh sama asam lambung naik."


"Jadi gimana Kak?" Jino makin panik.


"Udah nggak usah cemas. Ini langsung kubuatin surat rujukan. Nanti kita langsung ke rumah sakit aja. Kalau usus buntunya belum pecah, operasi kecil masih bisa dilakukan."


"Tolong selamatkan Nisa ya Kak?!" Jino menahan tangis. Azizah hanya geleng kepala melihatnya. Bisa terlihat jelas betapa Jino menyayangi Nisa sampai seperti ini.


\=\=\=\=\=\=\=


Seminggu kemudian...


Nisa sudah beraktifitas seperti biasa. Walau Jino jadi sering mengomel tak jelas. Bahkan terakhir kali Jino meminta secara tegas agar Nisa resign dari kantornya. Ia juga membuat jadwal khusus jam-jam makan Nisa dan menempelkannya di depan pintu lemari es. Tak ketinggalan di ponsel Nisa juga diberi alarm. Menu apa saja yang boleh dan tak boleh dimakan oleh Nisa semua tercantum dengan jelas. Jino menjadi sangat over protektif.


"Aku nggak mau tahu, kamu harus berhenti kerja! Fokus sama kesehatan dan juga kita!"


"Kamu kenapa sih jadi semena-mena gini?"


"Ya ini karena aku nggak mau kamu kenapa-kenapa lagi! Kamu mau dengerin aku apa nggak?!"


"Aku nggak mau berhenti kerja. Aku gampang bosan, Yank kalau nganggur terus-terusan!"


"Berhenti kerja atau berhenti mencintaiku?"


"Ih kamu apaan sih, lebay!" protes Nisa di sela tawa.


"Yank, kamu sekali-sekali nggak bisa ya turutin permintaanku? Selama ini aku kayaknya nggak pernah minta aneh-aneh ke kamu. Masa aku minta kamu peduli sama diri sendiri aja kamu nggak mau dengerin?"


Jino agak putus asa. Nisa menimbang perkataan Jino ada benarnya. Selama ini lebih banyak Nisa menerima dan meminta daripada memberi.


"Yaudah gini aja deh, aku resign tunggu habis lebaran sekalian gimana? Kan lumayan THR ku, Yank?" Nisa mulai mengalah. Tapi Jino masih bersungut lesu.


"Please? Aku kan lagi diskusi sama Kak Lena, kita ada rencana mau bikin usaha kuliner online, Yank. Jadi lumayan buat tambahan. So, pas keluar dari kantor, aku nggak akan mager karena nganggur."


Sebentar Jino berpikir. Mempertimbangkan tawaran Nisa barusan. Ia tahu Nisa ingin cari kesibukan bukan karena uang semata. Tapi memang gadis itu tak hobi duduk diam saja.


"Gimana?" Nisa berusaha merayu Jino. Ia membelai pundak suaminya manja.


"Tapi janji ya? Cuma sampai habis lebaran ini?"


"Siap, boskuh!" Nisa pasang tampang hormat dengan satu tangan bertengger di kening.


"Tapi beneran perutnya udah nggak sakit yang habis operasi?"


"Nggak kok. Kan cuma disayat dua senti doang. Zaman udah modern, Yank."


"Kok temenku sampai dua bulan ya masih diperban dan susah jalan, habis operasi usus buntu beberapa bulan lalu?"


"Owalah, itu mungkin karena udah parah. Makanya operasi besar di tengah. Jadi pemulihannya lama. Tergantung masing-masing, Yank. Kasian sih kalau kayak gitu. Temenku juga ada yang kena parah. Habjs operasi dia jadi harus nunda kehamilan sampai setahun dua tahun."

__ADS_1


"Hah? Serius?" Jino shock. Ia sudah ngebet ingin punya anak. "Terus kita gimana dong kalau pengen punya anak?"


"Ya gampang, tinggal buat aja."


Jino menjitak kepala Nisa. Nisa meringis.


"Sementara ini kita belajar jagain Yasmin dulu aja ya, Yank, sambil puas-puasin pacaran. Soal anak mah nanti kan dikasih juga ya kalau udah waktunya." Jino mengelus pucuk kepala Nisa penuh pengertian.


"Anything for you."


Keduanya pun berciuman mesra di pinggir sofa. Saling berpelukan dan berbagi cinta.


"I love you ... " bisik Nisa.


"I love you more ... " balas Jino sembari kembali menyerang bibir ranum penuh pesona milik istrinya.


Dan malam berlalu indah dalam dekapan kasih sayang. Waktu yang pernah terjadi, segala kendala dan masalah yang ada mereka lewati bersama. Mungkin dalam rumah tangga, tidak selamanya harmonis dan manis. Pasti akan ada selisih dan persoalan macam-macam. Karena bahagia itu relatit. Tergantung bagaimana cara kita menciptakannya.


Nevan dan Alena menikah sebelum jatuh cinta. Tapi keduanya berakhir dengan cinta.


Rendra dan Azizah menikah setelah menemui berbagai hambatan, menunggu dalam waktu tak tentu namun beruntungnya mereka dipersatukan.


Jino dan Nisa bermula dari benci. Lalu keadaan merubah perasaan keduanya menjadi saling menyayangi.


Pernikahan dan cinta punya bermacam rasa. Sedih, susah, senang, bahagia semua ada porsinya. Karena masalah datang nggak akan sendirian. Pasti ada penyelesaian terbaik mengiringinya. Asalkan ego terhadap pasangan bisa kita tekan dan kesampingkan. Sebab, adanya kita berawal dari aku dan kamu...


Sekian... First Night season 2 Selesai...


\=\=\=\=\=\=\=🌹 The End 🌹\=\=\=\=\=\=\=


*Alhamdulillah...


Akhirnya bisa menyelesaikan First Night season 2. Walau akan ada pro dan kontra karena mungkin terkesan tiba-tiba dan dipaksakan sekali. Sebenarnya niat saya mau bikin lebih panjang. Tapi khawatir pembaca bosan, terlebih kondisi saya sedang tidak memungkinkan. Saya masih menjalani masa pemulihan usai operasi besar dua minggu lalu. Jadi sementara waktu mau hiatus dulu sejenak.


Tapi, kalau misalkan ada 100 orang komen minta lanjut season 3, mungkin akan saya pertimbangkan lagi setelah sembuh. (Tapi kayaknya gak bakal sebanyak itu si ya, hehe).


Ohya, btw soal giveaway pulsa, karena gak ada yang tertarik ikutan (ini seriusan sih, mybe udah pada banyak pulsa kali ya #mewekdipojokkan) jadi terpaksa ku cancel saja.


Terimakasih semuanya*. ^^


Salam hangat,


Depa cbs 🌹


\=\=\=\=\=\=\=


Note : Kalau boleh, minta tolong komen kesan-kesan kalian dong setelah baca cerita absurd First Night yg gaje kebangetan ini. Kapan2 mau kupost di IG buat testimoni. 😊😊


Yg mau berteman atau sekadar kenalan sama aku bisa follow akun2ku juga:


IG : dsyema007


******* : Dee14007


****** : Depa CBS


Kalau mau difollback cukup DM saja ya.

__ADS_1


Terimakasih. ^^


\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2