FIRST NIGHT (Season 1, 2, Dan 3)

FIRST NIGHT (Season 1, 2, Dan 3)
S2. Bab. 23 - Surat


__ADS_3

Pagi itu Nisa bangun lebih awal, si kecil menangis terus dari subuh. Sepertinya karena kehausan, ia butuh asi untuk nutrisinya. Tapi Nisa bahkan belum pernah melahirkan sebelumnya. Tidak mungkin kan bayi berumur lima hari itu harus diberi minum susu formula? Satu-satunya jalan adalah meminta bantuan. Kalau bukan pada Alena, pada siapa lagi? Tapi saat menghubungi nomor kakaknya, Nevan memberitahu bahwa Alena tengah demam sejak semalam. Pupus sudah harapan Nisa. Ia pun menghubungi Rendra, untuk minta bantuan pada istrinya, Azizah.


"Halo, Kak Rendra yang baik hati dan tidak sombong, tapi malas menabung, ehem. Nisa mau minta tolong. Boleh ya? Boleh dong? Ih makasih loh," seloroh Nisa bicara sendiri. Padahal Rendra belum menjawab satu pertanyaan pun.


"Kenapa, Nis? Pagi-pagi udah nggak jelas. Gimana si Jino? Udah baikan?"


"Nanyain aku dulu kenapa, Kak?"


"Nggak perlu. Dari cara bicaramu udah kelihatan. Kamu baik-baik aja."


"Dalamnya hati manusia siapa yang tahu, Kak."


Lalu terdengar tangisan si kecil lagi, Jino masih berusaha menenangkan sang bayi. Ia memberi kode kepada Nisa agar cepat mengatakan permintan tolongnya.


"Ohya Kak, Kak Azizah mana? Nisa butuh bantuan nih."


"Ada di dapur lagi masak. Bantuan apa?"


"Ini si kecil nangis terus kayaknya kelaparan. Tapi kan Nisa belum bisa produksi asi, Kak."


Terdengar suara terbatuk dari seberang panggilan. Rendra tidak sedang flu, ia hanya agak geli mendengarnya. Sepertinya Rendra baru sadar kalau Nisa sekarang sudah jadi istri orang, alias bukan remaja abege lagi yang pernah mengejar-ngejar cintanya dulu.


"Ntar ku bilangin."


"Sekarang, Kak. Ini udah nangis kayak gini kasihan tahu."


"Iya bentar."


Rendra langsung menghampiri Azizah dan mengatakan maksud Nisa. Setelah mendengar jawabannya, Rendra kembali bicara pada Nisa di telepon. "Halo, Nis? Kamu ke sini aja katanya, sebelum dia berangkat ke rumah sakit ya? Bawa si kecil sekalian."


"Yaiyalah dibawa, Kak. Kan bukan aku yang mah nyusu. Gimana sih."


"Kirain kamu belum puas pas masih bayi."


"Enak aja, Kak Rendra kali belum puas tiap malem."


"Hush, ngawur kamu. Aku selalu dipuasin ya." Rendra keceplosan.


"Ih Kak Rendra pagi-pagi ngajakin Nisa ngobrol aneh-aneh. Udah ah, bye." Panggilan ditutup.


"Kita ke rumah Kak Zizah aja, Yank sekarang. Kamu buruan mandi gih? Aku bikinin roti aja ya biar cepet dan hemat waktu?"


Jino langsung melesat ke kamar mandi. Untungnya si kecil tampak mengantuk dan mulai tertidur. Sepertinya karena sangat lapar dan haus tapi juga lelah menangis. Nisa bergegas ke dapur untuk membuatkan sarapan. Namun ia malah menemukan secarik kertas di atas meja. Kertas tersebut tidak dibungkus amplop. Hanya diganjal sebuah gelas kosong terbalik di atasnya.


*Assalam'mualaikum...


Jino, Nisa, saya minta maaf sebelumnya. Saya harus pergi ke luar pulau untuk cari pekerjaan lain. Sebenarnya sehari sebelum Hesti meninggal, saya baru saja kena PHK di bengkel tempat kerja. Karena pemiliknya bangkrut dan terpaksa memberhentikan semua pegawainya. Saya juga nggak sanggup tinggal di rumah ini lagi. Banyak kenangan sama Hesti yang belum mampu saya ikhlaskan. Untuk itu, saya titip si kecil sementara waktu. Tolong kalian jaga dan beri nama yang baik. Saya janji, saya akan kembali setelah berhasil mengumpulkan uang dan juga keikhlasan saya. Maaf karena harus merepotkan kalian. Kalian bisa tinggal di rumah ini, karena sudah saya lunasi dari hasil jual mobil. Sekali lagi saya minta maaf dan terimakasih banyak.


Salam dari Jaka*.

__ADS_1


Usai membaca surat tersebut, Nisa terbengong dengan pandangan kosong. Untuk beberapa saat Nisa terduduk di kursi sambil melamun tak jelas. Tapi bukan Nisa namanya bila tak bisa menguasi medan kesedihannya. Ia membangun kekuatan agar bisa menenangkan Jino nantinya.


"Yank?" Jino datang menggendong si kecil yang masih pulas.


"Iya, aku di sini."


"Kenapa mukamu kayak gitu?" Jino penasaran melihay raut muka Nisa yang berubah tegang. Nisa mengambil alih gendongan si kecil, kemudian menunjukkan surat yang ditinggalkan oleh Jaka. Jino membacanya dengan kening berkerut. Wajahnya penuh kekecewaan mendalam.


Nisa menepuk bahu Jino. "Kita pasti bisa, Yank!" semangat Nisa. "Kita bisa sambil belajar ngerawat dedek bayi sebelum dikasih sendiri kan?" tukas Nisa menjawil hidung Jino. Jino tersenyum.


"Kita kasih nama siapa ya?" Nisa menimbang.


"Joko Pranoto?" usul Jino.


"Apaan, kurang modern ah," protes Nisa.


"Aku lagi nggak ada ide, Yank. Masih sumpek pikiranku," keluh Jino memijat tengkuk pegalnya.


"David Beckham? Biar jadi pesepak bola?" Nisa mulai semrawut.


"Apaan, itu namanya plagiat," komen Jino asal.


"Ish, Shahrukkhan?"


"Galileo?"


"Aderai?"


Nisa menjitak pundak Jino. "Ehm, kasih nama Airon aja gimana? Biar cakep dan superhero kayak Iron Man?" Nisa membayangkan wajah Iron Man dalam film Avenger.


"Bagus juga, Yank. Airon Adijoyo?" imbuh Jino.


Nisa memicing bingung. Tapi ia pun mengangguk setuju. Memberi nama belakang Jino pada Airon.


\=\=\=\=\=\=\=


"Jadi si Jaka pergi ninggalin Airon?" Rendra tak habis pikir. Ia baru saja selesai mendengarkan cerita Jino dan Nisa. Selagi Azizah memberikan asi pada Airon di kamarnya.


"Iya, Kak. Jadi sekarang kita harus gimana? Apa nggak butuh ngurus akta lahir dan lain-lain?" Jino berpikir jauh.


"Itu gampang, nanti gue bantu kalian buat ngurus surat-suratnya. Cuma heran aja, kok ada orang tua setega itu sama anak?!" Rendra geram mengepal tangan.


"Kalau menurut Nisa, Kak Jaka cuma butuh waktu buat sendiri sih Kak. Gimana pun juga beliau baru aja kehilangan orang yang disayang."


"Iya tapi masa tega mau nyusahin kalian?! Kalian aja baru nikah belum genep seminggu!" Rendra makin marah.


"Nggak apa, Kak. Mungkin udah jalan kami begini." Jino pasrah.


"Trus kerjaan lo gimana?"

__ADS_1


"Sementara saya mau kerja di resto temen dulu, Kak. Tapi jam kerjanya malam."


"Nisa juga masih kerja kok, Kak. InsyAllah kita berdua akan saling membantu sama lain."


"Iya sih, kalian bisa gantian jagain Airon, tapi kalian bakal minus waktu buat berduaan. Yakin tahan?"


Jino dan Nisa saling lirik sekilas. Tak mampu berkata-kata.


"Hadeh, ada-ada aja sih masalah pengantin baru ini. Belum nikah kalian udah susah minta restu. Trus bohong kan? Nah sekarang kena batunya akibat bohongin ortu," kata Rendra mengingatkan.


"Kak Rendra kok gitu sih, kan kita cuma pengen halal."


"Ya, tapi berbohong sama ortu juga salah, Nis."


"Terus gimana? Udah kejadian?"


Rendra menarik napas panjang. "Yaudah kalian jalanin aja, ini pilihan kalian sendiri."


Azizah ke luar kamar. "Nis, Jino, kalian tunggu sebentar ya? Biar aku siapin baju-baju bayi anakku dulu. Kan lumayan bisa dipakai sama Airon."


"Makasih, Kak Zizah." Jino senang.


"Btw, gue kepo nih." Rendra menatap Jino dengan serius. Lalu membisikkan sesuatu yang membuat muka Jino memerah.


Bisa melihat mereka sangat mencurigakan. "Kalian bisik-bisik apa?"


"Urusan cowok," sahut Rendra tersenyum penuh arti. "Gue cabut duluan ya? Ada meeting pagi ini," lanjutnya berdiri. Rendra berlalu menuju kamar untuk menyusul Azizah dan berpamitan pada istrinya itu.


"Yank, tadi kak Rendra nanya apaan?" Nisa mencubit lengan Jino penasaran.


"Itu, Yank ... soal malam pertama." Jino garuk kepala. Tepat saat Rendra ke luar kamar.


"Bro, yang sabar ya?" sindir Rendra setengah bercanda.


"Kak Rendra!" pekik Nisa.


"Apa Nis? Belum ya?" Rendra gencar menggoda pasangan suami istri yang terkendala malam pertama.


Nisa manyun sembari mendengkus sebal. Jino hanya terdiam menahan malu.


"Nggak apa, nanti ada saatnya," kata Rendra dan berlalu meninggalkan mereka.


"Ish kesel!" Nisa emosi.


"Kenapa, Yank?"


"Ya kesel aja, udah kepengen belum juga keturutan!"


Jino mesem. Ia menggenggam tangan Nisa penuh sayang. Lalu mengecup pipi Nisa cepat-cepat.

__ADS_1


"Kamu tahan sakit apa, Yank?" bisik Jino menggoda. Giliran pipi Nisa yang memerah mirip udang rebus.


\=\=\=\=\=\=\=🌹🌹\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2