FIRST NIGHT (Season 1, 2, Dan 3)

FIRST NIGHT (Season 1, 2, Dan 3)
[Season 2] Bab.3 - Firasat


__ADS_3

Jino terpekur tak berdaya di dalam mobilnya. Satu tangan bertopang dagu menatap kosong jalanan yang dipenuhi pelancong seksi dengan suara-suara khas mereka. Ia masih bingung bagaimana harus mempertahankan hubungan dengan Nisa yang baru seumur jagung. Gadis itu sulit sekali dipahami apalagi dikendalikan. Bila ia ingat pertemuan pertama mereka, ia pasti akan merutuk sembari terkekeh tak jelas. Gara-gara borgol itulah mereka dekat.


Beberapa saat kemudian ia pun terngiang kembali detik-detik mereka jadian.


"**Jino, kamu udah punya pacar belum?"


"Belum. Kenapa? Mau nyalon?"


"Kebetulan aku habis potong poni dan krimbat sih."


Jino melengos. Dasar Nisa, selain kurang peka juga kurang waras. Mungkin begitu pikir Jino.


"Pacarmu yang orang Semarang gimana kabarnya?" seloroh Jino setengah malas.


Nisa mengangkat bahu tak acuh. "Tenggelam kali di Marina."


"Heh? Kok bisa? Nggak bisa berenang?"


"Iya, dia nggak jago berenang di hatiku. Jadinya kutendang jauh-jauh. Tukang PHD ngapain dipertahanin."


"PHD? Pizza Hut Delivery? Kan yang penting halal." Jino menasehati.

__ADS_1


"Bukan. PHD itu Pemberi Harapan Dilematis."


Tampang Jino semakin linglung. Susah payah ia mencerna kalimat absurd Nisa, masih tiada jawab di dalam kepala Jino. "Maksudnya?" tanyanya penasaran.


"Habisnya dia cuma janji-janji doang. Masa minta cium minta peluk terus. Buat percobaan pra nikah.


katanya. Ih ogah. Memangnya aku bodoh apa bisa dikibulin begitu." Nisa mendengkus penuh emosi.


"Eh iya ya, kan kamu ratunya ngibulin kakak, mami, sama papimu," cibir Jino.


Nisa mendelik bagai harimau betina siap menerkam. Ditinjunya lengan Jino tanpa ampun sampai cowok manis itu mengaduh ngilu. Ditangkupnya lengan Nisa kuat-kuat. Pandangan Jino berubah serius dalam sekejap.


Ulasan balik tersebut selalu berhasil menggentarkan perasaan Jino. Ia yang awalnya tak tertarik pada gadis cerewet super ngeselin itu, ujungnya malah jadi jatuh hati tanpa henti. Semenjak Nisa sering curhat dan mengganggu waktu sibuk maupun luang Jino, perlahan karakter unik Nisa malah jadi candu yang memabukkan baginya. Jika dipikir kembali, Jino sendiri heran, gadis itu mau menerima cintanya.


Namun, sekarang Jino ragu. Apakah saat itu, Nisa tulus menerimanya? Atau hanya menjadikan Jino sebagai pengisi kekosongan sementara saja? Berulang kali Jino berusaha menepis praduga buruknya, tetap saja ia semakin sulit menemukan kepastian jelas.


Memikirkan Nisa, jantung Jino kembang kempis tak menentu. Sesuatu terjatuh dari dasbor mobilnya. Gantungan kunci dengan foto Nisa dan Jino terkapar di bawah sana. Mendadak Jino punya firasat tak enak.


***


Sementara itu, Nisa baru saja tiba di kamar hotel bingang tiga fasilitas dari perusahaan. Satu ruangan dengan dua kamar tidur terpisah. Sejujurnya Nisa agak ngeri membayangkan hal aneh yang tak diinginkan. Bagaimanapun juga ia perempuan yang menjaga harkat serta martabatnya sebagai kaum hawa. Pantang baginya bersenggama sebelum ada ikatan resmi agama dan negara.

__ADS_1


"Ras, ini seriusan harus satu ruangan gini?" selidiknya waspada.


"Kenapa? Takut ya?"


"Jangan macam-macam ya?!" ancan Nisa melotot sadis.


"Palingan cuma satu macam," goda Rasya, kesenangan mendapati ada semburat panik di wajah cantik gadis di depannya.


"Aku mau pindah kamar aja! Pesan pakai uang sendiri nggak apa deh!" seru Nisa hendak ke luar kamar. Ia baru saja menarik kopernya menuju pintu. Tapi tiba-tiba sesuatu membekapnya dari belakang.


Aroma kloroform kuat menyengat, hingga membius indra pencium sang penghirup. Gadis itu merasa pening seketika. Tubuh sintalnya melunglai hampir ambruk. Seseorang menangkap badan lemas Nisa, lalu membopongnya menuju kamar.


\=\=\=\=\=\=\=🌹🌹\=\=\=\=\=\=\=


Hayooooo, pada mikir apaan? Kira-kira Nisa kenapa ya? Coba komen prediksi kalian apa yang terjadi sebenarnya?


Gambar visual sebagai Nisa dan Jino 🌹🌹



__ADS_1


__ADS_2