FIRST NIGHT (Season 1, 2, Dan 3)

FIRST NIGHT (Season 1, 2, Dan 3)
[Season 2] Bab. 17 - Sekilas Tentang Jino


__ADS_3

Jino adalah seorang cowok yang besar di Bali tapi lahir Jogjakarta. Wajahnya mirip idol kpop yang ganteng dan glowing abis. Dari sejak masa sekolah dia sudah banyak digandrungi para gadis. Dari tingkat rendah sampai atas gedung. Maksudnya dari level biasa sampai level luar binasa. Sayangnya, Jino ini bukam tipikal cogan playboy yang memanfaatkan tampang untuk modal merayu kaum hawa. Ia lebih suka duduk di pojok perpustakaan. Sebenarnya hanya pura-pura pegang buku. Padahal tidur pulas.


Semasa sekolah menengah atas dia punya kawan karib. Sepupu sekaligus sahabat. Namanya Angel. Anaknya mungil, tingginya cuma sedada Jino. Paling demen panen kecebong di kolam kodok buat diajak ngobrol. Tapi terus dibalikin lagi.


Jino punya seorang kakak perempuan. Namanya Hesti. Hesti menikah setelah Jino lulus sekolah. Ia yang membiayai semua kebutuhan Jino. Karena orang tua mereka sudah lama tiada. Semenjak berhenti kerja, Hesti memilih untuk menjadi agen Tuperrware dan Oriflame di rumah. Ia pernah sekali kegugugar dan memutuskan untuk fokus saja pada kesehatan dan rumah tangganya.


Kakak ipar Jino namanya Jaka. Bukan Jaka Tarub yang hobi nyolong selendang bidadari ya. Ini Jaka Sasmito. Orang Jawa Timur, Nganjuk yang merantau di Bali dan akhirnya bertemu dengan Hesti. Ia adalah marketing freelance penjualan rumah di beberapa cabang properti. Kerjaan tetapnya adalah sebagai seorang tukang servis motor di salah satu bengkel ternama dekat tempat tinggalnya.


Untuk membantu Jino. Dari hasil tabungan Jaka, ia pun memberanikan diri ambil kredit mobil walau bekas. Supaya bisa digunakan Jino mencari rezeki dengan menjadi driver online.


Jino tak suka merepotkan kakak dan iparnya terus-menerus. Ia pun memutuskan untuk hijrah dari rumah sang kakak dan menyewa sebuah kamar kos sederhana.


Terhitung hingga kini, jumlah pacar Jino baru satu. Artinya, Nisa adalah cinta sekaligus pacar pertamanya.


Kenapa Jino bisa jatuh cinta pada Nisa?


Karena cinta datang tanpa terduga. Hati Jino sudah berdebar setelah mengenal dekat sosok Nisa yang ceplas-ceplos dan apa adanya. Sekalinya jatuh hati, Jino pun menjadi bucin sejati.


\=\=\=\=\=\=\=


Nisa tiduran dengan kepala berada di pangkuan Jino. Ia sibuk mainan ponsel sambil sesekali mengecek sosial medianya.


"Yank?" panggil Nisa.


"Hem?"


"Kamu kok mau sih sama aku?"


"Kenapa memangnya?"


"Ditanya kok balik nanya."

__ADS_1


"Terus kenapa kamu mau sama aku?"


"Karena aku mau aja."


"Mau aja gimana?"


"Emh, apa ya. Nggak tahu deh. Bingung jelasin alasannya. Yang jelas, aku nggak suka kamu deket cewek lain."


"Kamu pikir aku suka kamu deket cowok lain?"


Nisa mesem. "Yank?" panggilnya lagi.


"Hem?" Jino membelai pucuk kepala Nisa.


"Kalau mamah masih nggak setuju gimana?"


"Maumu gimana?"


"Gimana kalau kita bikin anak beneran aja?!"


"Ngawur!" Jino protes.


"Kamu tuh normal nggak sih, Yank?"


"Maksudnya?"


"Kok tahan? Padahal kita sering berduaan. Nggak ada rasa kepengen gitu?"


"Memangnya kalau kepengen harus selalu ditunjukkin? Terus dilakuin? Terus dosa? Mau kena azab nantinya?"


"Naudzhubillah."

__ADS_1


"Makanya harus sabar."


"Iya ya. Biar pas udah nikah langsung puas-puasin." Nisa makin melantur.


Jino gemas sendiri. Ia sudah sangat menahan gejolaknya mati-matian. Tapi gadis itu berpikir Jino tak normal. Sungguh terlalu.


"Yank?"


"Apa?"


"Haus."


Jino pun berdiri untuk mengambilkan botol mineral di atas nakas dekat televisi. Ia kembali dan menyodorkan pada Nisa. Gadis itu meneguk sebagian isinya sampai menetes ke leher dan baju. Jino menelan ludah melihat pemandangan seksi di hadapannya. Rambut Nisa yang berantakan, bibir ranum yang menggoda, air yang mengalir di leher jenjangnya. Benar-benar godaan yang terlalu sering menghampiri Jino tanpa permisi.


"Mau minum juga?" tanya Nisa, melihat Jino terbengong. Jino menggeleng singkat.


Tanpa disangka, Nisa justru duduk di atas pangkuan Jino. Dua tangannya memeluk erat leher Jino. Tatapannya sangat menggairahkan sekali. Jino tertegun, retinanya tak mampu berkedip. Ujian ini sungguh di luar batas kemampuannya. Batinnya terus menghalau sekuat mungkin.


"Kenapa?" Nisa tersenyum melihat ekspresi shock kekasihnya. Nisa yang pemberani. Ralat, berani menggoda hanya terhadap Jino.


"Yank, jangan gini. Bahaya!" Jino berusaha meminta Nisa pindah tempat. Tapi ia tak berani banyak bergerak. Maju salah, mundur tak bisa.


"Ih kamu mah baru gini aja udah tegang banget!" Nisa menjawil hidung Jino.


"Bukan gitu, ini-"


Belum usai Jino menyelesaikan kalimat, bibir Nisa lebih dulu mengecup bibir Jino. Kecupan itu perlahan menjadi lebih intens.


"Yank! Udah! Aku nyerah! Nggak kuat lagi!" Jino ngos-ngosan. Ia mendorong tubuh Nisa sampai tergeletak di sofa. Jino berdiri dan berlarian menuju kamar mandi.


"Ish! Mau ke mana?!"

__ADS_1


"Bentar!" teriaknya, lalu menutup dan mengunci pintu kamar mandi dengan tergesa. "Sabun mana sabun?!"


\=\=\=\=\=\=\=🌹🌹\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2