
Esoknya, sesuai kesepakatan Jino dan Rani, keduanya bertemu di sebuah salon dan butik. Setelah membenahi penampilan sederhana Jino menjadi sosok berkelas nan tampan bak Romeo, mereka meluncur menuju kediaman Raharja.
"Oh sudah datang rupanya? Wah, pacarmu masih muda sekali, Nak?" sapa ibunda Ranni yang sudah tergopoh menghampiri dan memeluk putrinya.
Jino mencium tangan wanita paruh baya tersebut penuh kesopanan. "Selamat malam, Tante. Maaf baru bisa memperkenalkan diri," ucap Jino sesuai hafalan instruksi yang diberikan oleh Ranni. Lumayan juga akting Jino kali ini. Tidak kalah dengan Tom Cruise atau Brad Pit. Mungkin bisa jadi versi kw supernya.
"Sopan sekali. Ranni sudah pernah cerita tentang kamu. Tapi selama ini selalu disembunyikan. Cuma bilang punya pacar, tapi nggak pernah dikenalin. Tante pikir anak ini cuma bohong saja loh."
"Mah, udah deh. Mana calon pengantinnya?" Ranni mencari sosok adik dan calon adik iparnya, belum juga terlihat batang hidungnya.
"Masih otw katanya. Bentar lagi juga sampai. Untung kamu beneran ada pacar. Kalau nggak, adekmu nggak bakal Mamah izinkan menikah duluan."
Jino melirik sekilas pada Ranni. Gadis itu hanya pura-pura mesem. Padahal dalam hati ia merutuk kesal. Gara-gara keinginan sang orang tua agar ia menikah lebih dulu semua jadi ribet. Untung saja Nyonya Meli memberi keringanan, minimal bila Ranni punya calon, ia tak akan lagi mempersulit keadaan dengan melarang adiknya menikah lebih dulu.
"As'salam'mualaikum?" suara seseorang baru saja masuk ke dalam ruang tamu. Cowok berpakaian rapi dengan kemeja putih hitam kotak-kotak itu berjalan menggandeng seorang gadis.
"Wa'alaikumsalam," balas semua orang bersamaan.
Sungguh tak disangka, ketika memutar sedikit bahu untuk menengok siapa yang datang. Jino justru terperanjat melihat dua orang yang ia kenal. Nisa dan Rasya juga balik memandang Jino. Bedanya, bila Rasya menatap Jino dengan biasa maka Nisa menatap Jino dengan pandangan menikam. Wajar saja Rasya tak cemburu, sebab ia belum tahu bahwa Jino sebenarnya adalah kekasih Nisa.
"Lo temennya Nisa yang kapan itu dirumah Kak Alena kan? Driver taxi online juga?" Rasya menunjuk Jino sembari melempar sedikit kata-kata bernada meremehkan.
"Apa?! Driver taxi online?! Kamu serius, Ranni, ini pacarmu?!" pekik Nyonya Meli terkejut. Tak menyangka selera anaknya yang biasanya di atas langit tiba-tiba jadi membumi. Sungguh termasuk keajaiban dunia kesekian. "Nggak salah, Nak?" lanjut Nyonya Meli masih penasaran.
"Kenapa Mah? Ya, pacarku memang orang sederhana, tapi karena itulah aku suka. Nggak neko-neko kayak cowok di luaran sana," alibi Ranni. Ia bahkan menggenggam jemari Jino kuat-kuat.
Pemandangan ini sangan dibenci oleh Nisa. Tidak bisa dipungkiri, kali ini hati Nisa yang hancur berkeping, lebur bersama penyesalan dan amarah. Ia jadi sadar, mungkin selama ini Jino merasakan hal demikian saat Nisa bersama cowok lain. Apakah ini hukum alam atas perubahan Nisa yang sempat semena-mena pada Jino?
"Yaudahlah, yang penting masih ada yang mau sama kamu. Dan kamu juga mau sama dia," canda Nyonya Meli.
Melihat ekspresi melamun Jino, Ranni menyenggol lengannya. "Saya akan berusaha membahagiakan Ranni sebaik mungkin, Tante," ucapnya spontan, tentu saja ini juga hafalan.
Mendengar kalimat tersebut terlontar dari bibir Jino untuk wanita lain, empedu Nisa bagai meradang karena infeksi kecemburuan. Ingin sekali ia teriak sekencang-kencangnya, "Woi, dia cowok gue! Punya gue!" namun hanya batin yang sanggup bersuara.
\=\=\=\=\=\=\=
Usai acara selesai, dan Rasya mengantar Nisa pulang. Gadis itu langsung mencegat taxi untuk mendatangi tempat kos Jino. Ia tak akan membiarkan cowok itu bersama wanita lain. Ia perlu menjelaskan kesalahpahaman yang sedang berlangsung.
"Jino! Buka pintunya!"
Suara gedoran pintu terdengar keras hampir mengganggu penghuni lain. Untung suasana agak senyap, karena sebagian besar sedang malam mingguan atau ke club buat ajib-ajib sampai pagi. Kos Jino memang tergolong bebas dimasuki siapa saja, asal tidak menginap.
Begitu pintu terbuka, Nisa langsung mendorong pintu dan masuk dengan tampang penuh kobaran api. Benar-benar menakutkan. Benar kata Nevan, adiknya punya wajah Dewi Shinta tapi hati bagai Srikandi. Senjatanya adalah panah emosinya sendiri.
"Kamu di sini?" Jino kebingungan.
"Menurutmu?! Jadi itu pacar barumu, hah? Udah nggak mau sama aku?! Kamu cari yang tajir dan bohay kayak gitu? Sejak kapan seleramu jadi embak-embak tuir nggak jelas?!" Nisa kalap.
__ADS_1
Entah kenapa Jino malah tersenyum kesenangan. Untuk pertama kalinya ia bisa melihat Nisa cemburu buta padanya. Padahal biasanya dia yang menelan hal tersebut pahit-pahit.
"Kamu cemburu? Bukannya kamu udah mau nikah sama Rasya?" balas Jino santai. Ia duduk di pinggiran kasur sambil meneguk sebotol air mineral.
Nisa berkacak pinggang tak terima. "Memangnya kamu nggak bisa baca pesanku?! Kan udah kukodein di situ!"
"Cowok mana paham dikode-kodein. Kamu membingungkan, Nis. Nyuruh aku cari uang buat kita nikah. Sendirinya malah asik persiapan nikah sama cowok lain. Apa kamu pikir hatiku ini kertas yang bisa kamu coret atau robek semaumu?" Jino bicara panjang lebar. Sudah lama ia memendam luka yang membelenggu. Sekaranglah saatnya menuntaskan semua.
Nisa duduk di sebelah Jino. Raut mukanya mendadak jadi tenang. Ia merebut botol ditangan Jino, meminum sisa airnya sampai habis. "Aku tuh maunya sama kamu. Cuma kamu," lirihnya mengiba.
"Terus kenapa kuajak nikah nggak mau? Katamu mau sama Rasya karena kalian udah itu. Memangnya aku mempermasalahkannya?"
"Aku dendam sama dia! Aku tahu kok aku masih virgin."
Jino memicing heran. Saat ia mendengar percakapan Rasya dan Alena, seingatnya Nisa masih ada di kamar. Bagimana bisa gadis ini tahu?
"Setelah si nggak jelas itu datang, besoknya aku nemuin Kak Azizah. Aku minta bantu buat cek kondisiku sebenarnya. Kebetulan kan Kak Zizah ada teman dokter spesialis. Pas hasilnya udah keluar, katanya aku memang belum di apa-apain. Terus aku searching rasanya kalau udah diapa-apain itu gimana. Dan kuingat lagi pas di Surabaya aku biasa aja. Nggak ada pegel atau linu atau nyeri atau apalah."
"Terus?" Jino menyimak serius.
"Terus aku jadi punya rencana."
Nisa membisikkan sesuatu pada Jino. Dari hasil bisikan, mata Jino langsung membola kaget.
"Kamu serius?! Tapi-"
"Jadi, kamu kok bisa pacaran sama Kak Ranni? Secepat ini? Kalian udah lama kenal? Apa dia baik? Kamu suka sama dia sejak kapan? Kamu udah nggak say-"
Sebuah kecupan membungkam pertanyaan beruntun Nisa. Satu sama.
"Sstt. Aku lagi cari uang buat modal masa depan kita. Aku nggak mau habis nikah trus kamu kuajakin ngekos atau ngontrak. Aku nggak mau ngajak kamu nikah cuma buat hidup susah sama aku. Seenggaknya bisa sambil nyicil rumah dulu lah. Biar tenang gitu."
"Apa hubungannya sama Kak Ranni?" Nisa manyun.
Lalu Jino pun menjelaskan semua persoalan sebetulnya pada Nisa.
Gadis yang masih mengenakan gaun selutut berwarna jingga muda itu terharu dan langsung memeluk Jino. Tapi tangannya tak henti memukul-mukul dada bidang Jino. "Ngapain sampai kayak gitu?! Aku nggak mau kamu diambil orang! Mending aku ngontrak atau tidur di kolong rumah Kak Nevan daripada kamu beli rumah dari hasil kayak gitu! Nggak sudi aku bernaung pakai uang cewek lain! Apalagi berani pegang-pengan tanganmu segala!" protes Nisa.
Jino mengelus punggung Nisa penuh sayang. Rindunya benar-benar membuncah hebat. Keduanya saling memeluk dan menguatkan satu sama lain. Akhirnya bisa juga penjelasan mengusaikan keganjilan pada hubungan mereka.
"Aku udah terlanjur taken kontrak, Yank."
"Batalin!"
"Terus kamu gimana sama si borokokok?"
"Halah gampang itu mah."
__ADS_1
"Gampang gimana?"
"Lihat aja nanti. Bukan Nisa namanya kalau nggak bisa bikin cowok patah hati sepatah-patahnya."
"Termasuk aku dong? Aku kan cowok tulen."
"Yang bilang kamu jadi-jadian siapa?! Kalau kamu bukan dipatahin, tapi disatukan kembali." Nisa mengelus-elus dada Jino. Membuat Jino kegelian merasakan sesuatu ingin naik dalam dirinya.
"Yank, jangan gini."
"Kenapa?"
"Nanti khilaf."
"Mau?"
"Mau apa?"
"Mau nggak?"
"Mau sih. Sekarang?"
"Boleh. Yuk."
"Jangan deh, belum sah."
"Apasih?! Orang aku mau ajakin kamu makan nasi goreng di luar kok."
Jino nyengir sambil garuk kepala. "Hehe, kirain .... "
"Hu, dasar!"
"Cium pipi boleh?"
"Nggak."
Jino kecewa. Tapi sedetik kemudian Nisa lebih dulu mengecup pipi Jino. "Udah. Yuk?"
"Hayuk!"
Semangat Jino telah berkibar kembali.
\=\=\=\=\=\=\=🌹🌹\=\=\=\=\=\=\=
Gimana, masih mau ngedrama? Atau cukup? Aku ingin menistai mereka berdua saja #plakk Tapi kanen juga sama Nevan Alena dan Yasmin. Hmm, nanti kubikin khusus di beberapa bab berikutnya ya.
Kuy, komeng di bawah, kira-kira apa rencana balas dendam Nisa sama si borokokok ya? #mikirsyantik
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=