FIRST NIGHT (Season 1, 2, Dan 3)

FIRST NIGHT (Season 1, 2, Dan 3)
[Season 2] Bab. 10 - Penyelesaian


__ADS_3

"Aku mau pernikahan dibatalkan. Titik."


Rasya bangkit dari duduk. Pindah ke samping Nisa. Tapi gadis itu menjauh pindah ke kursi lain. Ia cukup trauma telah ditipu mentah-mentah oleh Rasya. Untung saja mereka tidak benar-benar melakukan suatu perbuatan terlarang malam itu. Kalau tidak, bisa-bisa Nisa masuk rumah sakit jiwa sangking depresinya.


"Maksudnya apa, Sayang? Kan undangan udah dipesan, gaun juga udah disiapin, tanggal udah dipastiin, WO semua udah diurus. Kok tiba-tiba jadi begini?"


"Aku nggak cinta sama kamu."


"Tapi-"


"Bodo amat ya kamu mau bilang apa. Mau kamu udah merasa menodai ku kek apa kek. Aku tetap akan batalkan pernikahan. Kamu bisa cari calon lain. Si Imelda mungkin, atau Laras, ah atau Miranda. Kalian mungkin cocok. "


"Nisa cukup! Kamy udah bener-bener kelewatan. Aku udah sabar selama ini nahan diri. Kamu tetap seenaknya sendiri."


"Kamu yang cukup! Awalnya kukira kamu orang baik, bisa dipercaya. Nggak tahunya pintar memeperdaya! Maksain kehendakmu sendiri. Aku udah cari tahu soal mantanmu. Kamu bukan ditiggalin karena dia selingkuh kan, tapi karena kamu yang otoriter dan sering mau menang sendiri."


Kalimat Nisa sangat menusuk perasaan Rasya. Gadis itu tidak salah, semua yang dikatakannya benar. Memang Rasyalah yang selalu berlebihan ketika menjalin hubungan dengan perempuan. Ia akan terkesan terburu-buru, kemudian mengatur ini itu sesuai inginnya. Bila tidak, ia bisa saja melakukan hal-hal di luar nalar. Bagusnya, Rasya bukan cowok yang akan tega melakukan hubungan intim pada gadisnya tanpa ikatan pernikahan. Ia menjunjung tinggi kesucian kaum hawa dengan prinsipnya. Hanya saja ia kurang lihai mengendalikan emosi jiwa.


Perdebatan tak berlanjut. Nisa pergi setelah merasa urusannya selesai. Ia meninggalkan Rasya dengan tampang lesu bercampur stres. Bila diperhatikan, bukan cinta dan kasih sayang yang ada di mata Rasya, melainkan sebuah ketidaberdayaan yang dibumbui oleh ambisi sesaat.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sementara itu di kantor Ranni. Jino baru saja dipersilakan duduk. Ia sengaja meminta bertemu Ranni untuk mengakhiri kontrak kerjanya.


"Ada apa lo tiba-tiba nyariin gue?"


Jino menyerahkan kembali amplop cokelat berisi lembaran uang di dalamnya pada Ranni.


"Maksudnya apa ini?"

__ADS_1


"Begini Kak, saya minta maaf sebelumnya. Tapi saya benar-benat nggak bisa melanjutkan pekerjaan ini lagi."


"Oh .... "


Diluar perkiraan Jino, ternyata sikap Ranni biasa saja dan justru tetap tenang. Padahal semalaman ia sulit tidur hanya memikirkan bagaimana cara bicara yang baik dan benar tanpa menimbulkan polemik berarti. Ia tak tahu bahwa Ranni adalah wanita dewasa yang tidak mudah terpancing emosi.


"Jadi, Kak Ranni nggak marah?" Jino takjub.


"Buat apa gue marah?"


"Lalu gimana sama kontrak?"


"Mau lo gimana?"


"Apa ada dendanya, Kak?" Jino was-was.


Melihat raut polos Jini, mendatangkan kekehan tawa diwajah innocent Ranni. "Lo polos banget ya."


Jino tak yakin mampu mencarikan penggantinya. Bukan apa-apa, ia tak punya cukup banyak waktu sekadar membujuk teman-temannya untuk melakukan hal semacam itu. Tapi ia tak punya pilihan lain.


"Kenapa Kak Ranni nggak terus terang aja sama ortu? Menurut saya, sesuatu yang dimulai dengan kebohonhan ujungnya nggak akan pernah baik."


"Lo pikir gue nggak tahu itu?"


"Bukan gitu, Kak. Tapi, saya yakin di luar sana banyak cowok sebenarnya menaruh hati sama Kakak. Tapi mereka takut melihat Kakak sedingin es batu."


"Es batu juga bisa leleh kan?"


Jino mengangguk. "Tapi nggak akan leleh kalau terus ditaruh di kulkas nyala, Kak," timpalnya.

__ADS_1


"Maksudnya?"


"Sikap Kak Ranni yang menutup diri dan nyaman di zona dingin, bisa jadi bikin semua orang mawas diri."


Ranni terhenyak mendengar penuturan Jino barusan. Ada sekelebat kagum terpancar dari matanya. Baru kali ini ada seseorang bisa memberi sedikit penerangan dalam hidupnya yang sepi dan suram.


"Lo baikan sama pacar?"


Jino mengangguk penuh keyakinan.


"Terus kenapa mau terima job dari gue kemarin? Cewek lo nggak marah?"


"Marah banget. Makanya saya mau batalin kontraknya."


"Oke. Yaudah kalo gitu."


"Cuma itu?"


"Mau apa lagi?"


"Soal cari pengganti gimana?"


"Lupain aja. Lo bener, gue harus jujur sama keluarga. Gue juga harus lebih membuka diri. Thanks udah ngingetin gue. Btw, titip salam buat si beruntung yang jadi cewek lo." Ranni tersenyum ramah, image juteknya seketika luntur tanpa sisa.


"Terimakasih atas pengertiannya, Kak. Semoga beruntung," balas Jino, kemudian undur diri.


"Hmm ... lumayan ... menarik ... " gumam Ranni menatap punggung Jino yang hilang di balik pintu.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=🌹🌹\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Entah diriku bingung mau ngomong apalagi. Cuma bida say thanks buat yg selalu like and komen. Kalian memberiku tambahan semangat. ^^


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2