FIRST NIGHT (Season 1, 2, Dan 3)

FIRST NIGHT (Season 1, 2, Dan 3)
[Season 2] Bab.15 - Rencana Dadakan


__ADS_3

Jino menatap Nisa dengan tatapan serius. Keningnya berkerut dalam dan mimiknya terlihat tegang. Lelaki itu kemudian mengangguk dua kali pada wanita pujaannya. Nisa menggigit bibir bawahnya gelisah. Di tangan perempuan itu sudah ada benda persegi panjang super canggih yang menampilkan gambar mesin pencari.


“Kamu yakin mau nipu mamahmu kayak gini?” Jino masih khawatir dan agak bimbang.


Nisa mendesah pasrah. “Aku sih nggak masalah. Cuma mamah bakal kaget nggak ya?" Nisa menimbang.


“ Semoga Enggak apa-apa, Yank.” Jino berucap pelan. “Sementara ini kita ikutin saran Kak Nevan dulu aja. Yang penting kita jadi nikah," lanjutnya setengah frustrasi. Walaupun sebenarnya Jino masih ragu dengan rencana mereka.


“Kak Nevan juga udah yakin sih sama rencana ini. Katanya cuma ini satu-satunya jurus pamungkas buat naklukin restu mamah saat ini.” Nisa mencoba meyakinkan diri sendiri.


"Aku ngikut gimana baiknya, Yank. Aku tahu sekarang kita di posisi sulit. Salahku juga sih belom sukses." Jino berucap lirih. Dia sangat mencintai Nisa, mungkin ini satu-satunya cara walau agak kotor. Tapi, bukankah berani kotor itu baik? Rasanya iklan itu berguna juga buat modal nekat.


Mereka saling menatap. Nisa ingin segera melancarkan rencananya agar bisa cepat-cepat melangkah bersama Jino ke pelaminan, minimal ke KUA. Namun, Nisa masih tampak tak yakin. Pasalnya Diana itu tipe ibu-ibu super galak, sekali tidak tetap tidak. Mungkinkah cara ini akan berhasil, atau Jino harus benar-benar membuahi Nisa baru mereka bisa ijab qabul? Gadis itu mulai melantur kejauhan. Kepalanya menggeleng, geli sendiri memikirkan hal-hal dua puluh satu plus.


“Yank, kamu udah nggak mau nikah sama aku, ya?” Jino akhirnya melontarkan pertanyaan bodoh itu. Pertanyaan yang sudah pasti akan dijawab Nisa, “Mau lah, Yank! Kok nanya gitu, sih?”


Jino garuk-garuk kepala, padahal baru keramas tadi pagi. “Habis kamu kayak nggak yakin gitu berjuang sama aku. Tapi, sebetulnya aku sendiri waswas sih.”


“Lho, ini kan aku lagi berjuang, Yank.” Nisa protes.


“Tapi kamu belum setuju.” Jino tak mau kalah dan membalas. “Rencana Kak Nevan nggak sepenuhnya buruk, Nis. Bayangin, kalau berhasil kita bisa nikah.”


“Yank, jangan lupa, bayangin juga kalau mamah ngamuk dan melempar kamh pakai talenan kalau ketahuan bohong.” Nisa makin kejauhan berkhayal. “Kamu belum lupa ‘kan, kalau aku pernah diikat di tiang bendera depan pos RW waktu bocah?”


Jino bergidik ngeri membayangkannya. "Terus gimana dong?"


Nisa cuma nyengir kuda. “Ya udah, coba dulu. Kalau berhasil nikah, kalau gagal … ya tetep nikah.”


“Lho?”


“Kawin lari, Yank!” Nisa tertawa nyaring.


“Apa nggak capek?!” cowek itu memberengut absurd. “Capek lho, ijab qabul sambil lari-lari, apalagi kalau kamu pakai kebaya.”


“Jadi kamu mau jalanin rencana Kak Nevan, atau nnggak?” Nisa memastikan sekali lagi. “Cukup telepon mamah dan bilang satu kalimat ke beliau.” Nisa makin menggebu. Seru juga bila ia berhasil mengerjai sang ibu yang super otoriter itu.


“Mah … Nisa … ha--hamil.” Nisa malah mempraktekkan kalimatnya. “Tapi, ba-baru dua minggu, kok.”


Jino menahan senyum. Ia ingin tertawa melihat ekspresi aneh Nisa. “Terus-terus?”


“Restui aku dan Jino nikah, ya, mah?” Nisa lanjut berakting. Tampangnya ikut merengek mirip artis papan penggilesan baru naik pohon.


Jino tak mampu membendung kekehannya. Gaya pacarnya sangat lucu dan aneh sekali menurutnya.

__ADS_1


Meski demikian Jino menghela napas, dia sungguh tak mengerti dengan jalan pikiran Nisa dan rencana jahat Nevan. Mereka sih enak cuma cuap-cuap di belakang orangnya. Nah, Nisa? Ya Jelas, dia lah tumbalnya. Orang yang akan menghubungi Ibu secara langsung adalah dirinya seorang. Sisanya cuma figuran, meramaikan tapi tak berguna. Dasar Mereka! Belum lagi Jino yang suci dan putih, harus menerima kenyataan terlibat dengan kebohongan seberat itu. Sejak kecil ia anti berbohong, sampai dibilang manusia paling jujur sekandang ayam. Soalnya hobinya miara ayam jago dan ayam horn.


“Gimana? Kutelepon aja ya sekarang?! Lagian mamah pasti nggak akan tega marah sama anaknya yang lagi ‘hamil’, ‘kan?” Nisa memperdaya diri sendiri. Ia lekas ambil ponsel dan menarik napas panjang.


Sebelum memulai aksi. Nisa tampak berpikir sebentar. Telepon memang tokcer, dia pasti bisa langsung tahu bagaimana respon mamahnya. Namun, telepon juga rentan ketahuan. Apa lagi Nisa memang lihai dan pandai dalam urusan berbohong.


Sementara bila Jino yang menelepon, suaranya pasti gemetar. Bisa repot juga kalau nanti cowok itu malah keceplosan. Ambyar rencana pernikahan suci mereka. Bukannya restu, bisa-bisa malah nestapa gagal kawin yang dipanen Jino dan Nisa nanti.


“Chat aja gimana, Yank?” Jino tiba-tiba mengusulkan ide. Ia kurang yakin bila menelepon langsung diangkat.


Bola mata Nisa langsung berbinar-binar begitu mendengar ide itu. Dia memapas jarak dengan Jino, lalu menggenggam tangan cowok itu dengan lembut. Nisa kemudian menyusuri jemari gadisnya, kemudian mengambil ponsel pintar yang sedari tadi berada pada genggaman tangan cowok itu.


Jino melirik tanpa minat, sementara Nisa mengutak-atik sesuatu dengan semangat. Tak berapa lama kemudian gadis itu melempar ponsel sembarangan ke dalam tas. Mata Jino sontak melotot. Bagaimana tidak, baru saja di aplikasi pesan singkatnya Nisa mengirimkan chat kepada calon mertuanya. Isinya cuma 3 kata: Mah, Nisa hamil. Lantas jantungnya langsung berdebar-debar, seperti maling habis mengutil sandal di mushola.


“Bentar deh, Yank!” Nisa menatap pemuda itu lekat-lekat.


“Iya, kenapa Yank?”


“Kayaknya kita lupa kirim gambar, ya?” Nisa cepat-cepat mengambil kembali ponsel dan membuka browser ponselnya, dan menuju mesin pencari. “Mamah pasti nggak percaya kalau tanpa gambar.” Gadis itu melanjutkan, “No pict \= hoax!”


Jino menggeleng-geleng pasrah, dasar emak-emak zaman now!


Setelah selesai mengirim gambar, mereka berdua meletakan ponselnya di atas meja. Menunggu jawaban dari Diana, Ibu yang tukang atur sekaligus calon mertua super menakutkan.


Sementara itu di lain tempat, di lain posisi, dan di lain kondisi … Diana baru saja selesai menggelar acara arisan bersama ibu-ibu komplek. Wanita berpakaian modis terbalut blazer merah jambu itu turun dari taksi online, dan hendak masuk ke rumah. Nahas, ponselnya tiba-tiba berbunyi singkat. Sebuah notifikasi baru saja masuk. Wanita paruh baya yang tadinya bermaksud memberikan bintang lima untuk supir taksi online, tanpa sengaja membaca kutipan pesan yang muncul di layar.


Sial, kutipan teks itu hilang, tertutup notifikasi grup arisan yang membahas sop kaki kambing Betawi Bu Sumanti yang enak tiada tara tadi. Diana masuk ke dalam rumah, dan kebetulan ada pembantunya yang sedang nonton TV duduk lesehan di bawah karpet.


“Lho, lho!” Nevan heboh sendiri, “Nyonya, kenapa?”


“Nisa ini, lho, tadi kirim WA.”


Mbok Irah membantu Diana duduk di sofa.


Wanita itu memegangi ponsel beberapa saat, kemudian mukanya tiba-tiba pucat pasi. Mbok Irah menoleh dan majikannya sudah melongo seperti orang kerasukan.


“Nyah!” Mbok Irah mengguncang pelan tubuh Diana, “Nyonya kenapa? Nyonya?” Mbok Irah makin panik.


Diana tercengang, syok setengah mati. Tubuhnya lemas tiba-tiba, untung saja dia sedang duduk di sofa. Seluruh tenaganya tersedot entah kemana. Pikirannya kosong, dan sepertinya ini semua terjadi karena ia tak becus menjaga Nisa.


“Nyonya?” Mbok Irah menatap khawatir, tapi Diana malah melotot marah bagai orang kesetanan.


Asisten rumah tangga itu terkejut, kemudian mengerjap bingung dan mimik Diana kembali kosong terbengong-bengong. Ia pun berpikir, mungkin majikannya kesurupan. “Mbah, tolong keluar dari tubuh nyonya, Mbah. Beliau bukan macan, Mbah!” racau Mbok Irah mengira Diana kesurupan nenek moyangnya.

__ADS_1


“Durhaka kamu Nisa!” Diana tiba-tiba berteriak. “Mamah syok tahu nggak?!”


Mbok Irah mengalah mundur sedikit, setidaknya dia bersyukur majikannya tidak kerasukan arwah macan papandayan. “Syok kenapa, Nyah?”


“Nisa … Nisa ….” Diana tergagap, membaca chat dari Nisa yang cuma tiga kata. “Nisa hamil!”


Mbok Irah menganga.


Notifikasi ponsel Diana berbunyi lagi. Dari Nisa. Kali ini bukan tiga kalimat ajaib, akan tetapi sebuah foto berlatar kamar mandi dengan tespek dua garis biru. Retina Diana melebar, entah sudah yang keberapa kali. Napasnya tiba-tiba sesak, dan pandangannya gelap seketika. Ibu dua anak itu langsung tak sadarkan diri.


Giliran Mbok Irah yang spot jantung saat Diana jatuh pingsan.


“Nyonya! Bangun, Nyonya!" Mbok Irah kelabakan.


\=\=\=\=\=\=\=


Dering telepon rumah berbunyi nyaring, Mbok Irah bingung harus mengurus yang mana dulu. Tapi akhirnya ia memutuskan mengangkat telepon, lalu akan menelepon dokter Irawan -dokter keluarga Utama-.


"Halo? Kediaman Utama di sini."


"Halo, Mbok ya? Ini Nevan, Mbok. Mamah ada?"


"Aduh Den Nevan, itu Den, Nyonya pingsan!" suara Mbok Irah panik.


"Pingsan?! Kok bisa?! Ada apa, Mbok?!"


"Nggak tahu, Den jelasnya. Tapi tadi beliau sempat bilang, katanya Non Nisa hamil."


Nevan terdengar menghela napas berat. "Yaudah Mbok buruan telepon dokter Irawan ya? Nanti kabarin Nevan lagi gimana kondisi mamah."


"Baik, Den."


Panggilan segera diakhiri. Mbok Irah gemetaran mencari buku telepon dan memencet salah satu kontak nomor yang tertera atas nama dokter Irawan.


"Nisa .... "


"Hamil .... "


Mbok Irah bicara dengan dokter sambil memandang iba pada Diana yang mengigau. Terlihat sekali betapa dilanda depresi seorang Diana Kartika Utama. Sosialita yang gemar mengatur anaknya tapi jarang digubris itu terlihat sangat tertekan.


\=\=\=\=\=\=\=🌹🌹\=\=\=\=\=\=\=


By : Depa & Bluessberry

__ADS_1


Uwoow halow para pembaca tercintahku. Semoga masih setia menunggu cerita FN yang season-2 ini kemungkinan akan lebih panjang dari season 1. Oh ya, untuk beberapa bab. ke depan saya akan dibantu partner saya loh. Jadi jangan heran ya. Hehe.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2