FIRST NIGHT (Season 1, 2, Dan 3)

FIRST NIGHT (Season 1, 2, Dan 3)
Bab.24 - Kecelakaan


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian...


Suara sirene ambulans salah satu rumah sakit umum di Depansar, terdengar nyaring menggema di antara lenguhan angin dingin. Di dalam sana seorang gadis tergolek tak berdaya. Terdapat lecetan luka pada lengan, kaki, bahkan pelipis kepala. Bibirnya pun mulai pucat pasi. Setengah jam lalu terjadi kecelakaan di Jalan Pemogan Raya. Pengemudi teledor yang berhasil menabrak tubuh seorang calon ibu muda itu, tidak lain dan tidak bukan adalah Nevan Satya Utama.


Sampai di rumah sakit, pasien langsung dibawa masuk ke UGD. Sementara Nevan duduk cemas di salah satu kursi tunggu, ditemani Rendra yang baru datang menyusul.


Pria tersebut tampak panik, menggenggam dua tangan waswas. Rendra ikut cemas, tak mengira bahwa segelas anggur, rupanya sanggup melumpuhkan konsentrasi temannya. Mungkin efek bercampur rasa kantuk dan lelah yang menumpuk. Bila saja bukan karena bisnis dengan klien. Nevan tak akan sudi lagi meneguk minuman itu. Ia terpaksa ikut minum akibat paksaan dari klien, yang bekerjasama dengan perusahaannya.


Dalam hati Nevan terus merutuk diri. Membayangkan bagaimana nasib perempuan yang terkapar meregang nyawa di dalam sana. Sekejap Nevan justru menahan ilusi lain. Ia mengumpat kebodohannya, hingga halusinasi menampilkan sosok istrinya terbaring di dalam ruang UGD sekarang. Seketika pria itu memukul kepala sendiri. Mengusir pikiran buruk yang mengganggu.


"Argh! Sial! Gimana nih, Ren! Mampus gue kalau sampai ni orang kenapa-kenapa! Gue nggak mau di penjara! Alena butuh gue!" Nevan memaki dirinya sendiri.


Rendra menepuk-nepuk bahu kawannya, berusaha tetap meredam kekhawatiran Nevan. "Tenangin diri lo dulu, bro. Kita berdoa aja, moga ibu dan bayinya itu selamat," tukas Rendra menguatkan Nevan.


Nevan menarik napas berat berkali-kali. Sulit mengatur pertukaran oksigen dalam rongga pernapasannya.


***


Di rumah, Alena seperti dapat firasat tak baik. Dalam sehari sudah tiga piring dan gelas tanpa sengaja dipecahkan. Nisa memintanya untuk istirahat saja di kamar, tapi Alena malah mondar-mandir tak karuan di ruang tamu.


Suaminya tak mengangkat telepon. Geram berbaur cemas Alena membanting ponsel tak bersalah ke sofa. Adik ipar yang menemani hanya bisa geleng-geleng kepala bingung.


"Kak Lena mending rehat deh. Siapa tahu Kak Nevan lagi sibuk dan banyak kerjaan," kata Nisa. Ia sedang libur kuliah, dan sengaja kembali ke Bali untuk refreshing. Tante dan omnya tak melarang, karena alasannya Nisa ingin menemani Alena yang sudah mau lahiran.


"Ya, tapi aku khawatir Nis! Perasaanku nggak nyaman banget! Jangan sampai mereka main ke tempat karaoke lagi, sama klien-klien brengseknya itu! Awas aja kalau beneran dugaanku! Bakal kucincang habis-habisan mereka! Terus kutenggelamin di Karibia! Bikin jengkel!"

__ADS_1


Alena mengepalkan tangan, seakan memukul udara yang tak kasat mata. Sedangkan Nisa merinding membayangkan kesadisan kata-kata kakak iparnya.


"Astaga, Kak Lena. Kalau lagi hamidun, pamali tahu ngomong jelek gitu. Bahaya, gimana kalau sampe si baby di perut, nanti pas gede jadi psikopat? Gara-gara denger mamihnya ngumpat nggak karuan. Aduh, Nisa merinding," seloroh Nisa bergidik ngeri.


Mendengar perkataan Nisa, Alena jadi merasa bersalah. Ia terlihat mendengkuskan napas putus asa. Mengurut kening dan mengelus perut, seraya mengucap istighfar berulang kali. "Maaf Nak, mama tak akan bicara buruk lagi," tukasnya seakan tengah bicara pada bayi di kandungannya.


Ponsel Alena mendadak berdering nyaring. Ia meraih dan lekas mengangkat tanpa menengok nama yang tertera di layar. Ia pikir suaminya memberi kabar. Padahal Azizah yang menelepon.


"Halo! Kamu di mana, Van?!" cecar Alena penuh amarah. Intonasinya meninggi, khas ibu hamil dilanda sensitifitas. Sebentar kemudian ia teringat bayi di perutnya. Alena berusaha melunak dan menekan emosi pribadi. Jangan sampai karena luapan kekesalan, jadi berdampak buruk bagi sang calon anak.


"Halo, assalam'mualaikum? Ini Alena, kan?" seru suara Azizah di seberang panggilan.


Alena menjauhkan ponsel, ditelitinya nama yang tertera di layar. Buru-buru ia minta maaf pada Azizah, karena telah salah paham.


"Gini Len, aku-"


"Mbak Zizah nggak lagi mau pinjam uang, kan? Aku lagi krisis moneter, Mbak," celetuk Alena. Ia teringat kemarin Azizah curhat sedang butuh tambahan uang, untuk melunasi sisa angsuran rumahnya.


"Aduh, Len, kamu ada-ada saja. Gajiku masih cukup buat bayar pelunasan. Cuma kurang dikit tapi bisa ditambel bulan depan." Azizah setengah cekikikan mendengar ucapan Alena tadi.


"Oh, oke, Mbak. Kalau gitu, Mbak Zizah aja yang pinjamin aku uang. Lumayan buat tambahan biaya persalinan nanti."


Terdengar gelak tawa Azizah menggema di speaker ponsel Alena. Ia tak habis pikir, Alena sekarang jadi suka bercanda begini.


"Eh, ada apa, Mbak?"

__ADS_1


"Oh iya, aku cuma mau kabarin. Barusan Nevan dan Rendra ke rumah sakit. Mereka datang menemani seorang wanita hamil-"


"Apa, Mbak?! Wanita hamil?!"


Belum usai Azizah menjelaskan, Alena lebih dulu diliputi praduga macam-macam. Pikirannya mulai menuding aneh-aneh tentang suaminya. Ia langsung mematikan panggilan, dan beranjak ke luar dengan terburu-buru.


"Kak Len, mau ke mana?" Nisa bingung.


"Jangan banyak tanya! Ikut aja, ayo!"


Melihat mimik seram di wajah Alena, Nisa tak berani menimpali lagi. Ia pun mengikuti langkah Alena. Setelah mengunci pintu, mereka langsung memesan GrubCar.


"Kak, kita belum bawa-"


"Udah jangan ribut, Nis. Ini emergency!" omel Alena tak mengindahkan kata-kata sang adik ipar.


Aku kan, nggak bawa dompet. Kak Lena bawa dompet nggak ya? Dasternya nggak punya kantong, kayaknya nggak bawa uang juga. Terus, bayarnya gimana ini nanti? Nisa membatin pilu, sembari garuk kepala, frustrasi.


"Kak Len, ada saldo Ovi?" Nisa harap-harap cemas. Ia tak mau dijadikan gadaian bila ketahuan mereka tak bisa membayar ongkosnya.


"Ovi apaan? Nggak punya aplikasinya!" seru Alena makin hilang fokus.


Nah, jadi gimana nanti bayarnya?! rutuk Nisa dalam hati.


\=\=🌹🌹\=\=

__ADS_1


__ADS_2