
Semalam suntuk Diana mondar-mandir di kamarnya. Ia bingung memikirkan harus bagaimana. Di satu sisi ia tak percaya Jino bisa membahagiakan putrinya. Di sisi lain, terlanjur ada benih tertanam dalam perut Nisa. Wanita itu tampak menepuk dada beberapa kali. Berusaha menetralisir ketegangannya.
"Mamah ngapain kayak gitu? Kalau memang si Nisa udah terlanjur cinta sama anak itu, biarin aja mereka menikah. Yang menjalani kan mereka, bukan Mamah," kata suaminya berusaha menenangkan.
"Ah, Papah nih nggak mengerti gimana pikiran seorang ibu. Memangnya Papah mau nanti anak kita menderita habis nikah?!"
"Loh, kan ada kita. Apa salahnya membantu?"
"Nggak bisa, Pah. Nisa harus mandiri dan belajar jadi anak yang lebih baik."
"Terus Mamah maunya gimana? Wong udah kejadian kan?"
"Ih Mamah kok kesel banget ya, Pah! Jengkel! Kok bisa sih anak itu begitu?! Pusing Mamah mikirin dia!"
"Wis toh Mah, direstui saja. Kasihan cucu kita nanti, kalau lahir tanpa ayah," Cokro Adinoto Utama semakin menyiram air, agar istrinya segera memadamkan hasrat punya mantu kaya raya.
Sebenarnya, Nevan sudah menghubungi ayahnya lebih dulu. Ia tak ingin ayahnya sampai masuk rumah sakit lagi bila tahu kebohongan Nisa. Makanya ia ambil inisiatif sekaligus untuk antisipasi. Nevan menyusun rencana dengan dukungan penuh dari sang ayah. Dengan catatan mereka semua harus bisa menjaga rahasia dari Diana.
Menimbang apa yang dikatakan Cokro, akhirnya dengan berat hati Diana mengambil keputusan sulit. Ia meraih ponsel di atas nakas. Mencari kontak Nisa dan mengirim pesan singkat, agar besok Nisa dan Jino datang ke rumah. Sebentar kemudian telepon berdering.
"Halo!" teriak Diana emosi.
"Mah pelan-pelan dong. Kuping Nisa bukan stadion GBK tahu," sahut suara di seberang sana.
"Kamu ini memang ya, bikin Mamah naik darah terus! "
"Makanya, Mamah tuh jangan gampang sensian. Mending naik haji kan, daripada naik pitam? Berpahala," oceh Nisa makin memupuk ketegangan urat nadi Diana. Ingin sekali ibu dua anak itu melempar combro sebaskom ke muka anaknya satu ini.
"Kalau dibilangin malah ngelawan. Malah gantian ceramahin Mamah!"
"Lagian Mamah sih aneh. Kak Nevan aja boleh nilah sama Kak Lena. Masa Nisa nggak boleh nikah sama bebeb Jino."
Diana mengelus dada, menyabarkan diri menghadapi putrinya. "Besok ke rumah! Mamah mau bicara sama kalian!"
"Gimana ya, Mah? Besok malam kita harus balik ke Bali. Jadwal padat. Mamah manggil kita mau ngapain dulu nih? Kalau mau merestui ya kita akan datang. Kalau nggak, ya Nisa malas."
Astaghfirullah. Lirihnya dalam hati. Batin Diana benar-benar tengah diuji. "Pokoknya besok pagi kalian ke sini! Kalau masih mau nikah!"
"Mau dong, Mah. Harusnya Mamah tuh bersyukur punya cucu duluan. Nisa kan anak baik. Dulu Mamah sering nasehatin Nisa, jadi anak baik dan rajin menabung. Ini Nisa udah ikutin kata Mamah. Nisa nabung dulu kan."
Kepala Diana mendadak pening. Badannya hampir limbung bila ia tak segera ambil posisi duduk. Bisa pingsan lagi dia kalau berlama-lama ngobrol dengan anaknya. Bukan masalah selesai malah sakit jantung makin parah nantinya. Diana menekan tombol merah untuk mengakhiri telepon. Ia menyerah.
\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Paginya, Nisa dan Jino pun memenuhi undangan paksaan dari Diana. Mereka duduk berempat di ruang tamu. Cokro hanya mesem sembari geleng kepala, kala melihat Nisa kedip-kedip memberi kode.
"Kalian boleh menikah. Tapi kalian harus tinggal di sini. Jino bisa kerja di tempat papah."
"Nggak mau! Nisa udah terlanjur betah di Bali. Kerjaan Nisa juga nggak bisa ditinggalin. Mamah jangan semena-mena dong sama bumil," protes Nisa.
"Kamu ini bisa nggak sih sekali-sekali dengerin Mamah?!"
"Pokoknya Nisa sama Jino mau nikah di sana dan tinggal di sana. Titik nggak pake spasi."
Tak ada lagi perdebatan panjang seperti biasa. Diana memilih diam dan membiarkan Nisa melakukan hal yang dia inginkan. Daripada dia harus pusing tujuh keliling karena bertengkar terus dengan Nisa.
"Kalau butuh apa-apa, jangan sungkan bilang ke Papah ya, Nak Jino?" Cokro memang sangat baik. Mungkin karena ia pernah merasakan hidup susah juga, jadi dia pun memahami kondisi yang dihadapi Jino sekarang.
"Terimakasih, Om," jawab Jino sungkan.
"Nggak usah merasa nggak enak. Sama calon mertua harus baik-baik."
"Baik, Om." Jino tersenyum manis.
Diana hanya mencibir sambil buang muka. "Halah, lihat aja nanti, berapa lama anak kamu bisa tahan hidup pas-pasan. Iya mending kalau pas-pasan, kalau kurang-kurang entah gimana nanti?!" dumelnya sinis.
"Saya nggak akan biarkan Nisa menderita, Tante. Saya akan berusaha yang terbaik." Jino membalas mantap.
Nisa mengunyah wafer santai. Bukan hal menegangkan banginya, kalau ibunya punya mulut lamis atau setajam pisau bedah operasi. Ia juga sudah sering memberitahu Jino agar mulai kebal dengan kata-kata calon mertuanya itu.
"Bahagia itu bukan diukur dari uang aja, Mah. Banyak kok di luaran sana pasutri cuma makan pakai nasi dan tempe goreng di warung lesehan, tapi mereka bahagia dan baik-baik aja," celoteh Nisa cuek. Ia hobi menyerang Diana dengan telak.
"Tapi-"
"Aduh Mah, udah deh. Bahkan si Milea aja seneng cuma dikasih kerupuk sama Dilan. Woles aja kenapa sih. Kata Mamah Dedek, rezeki udah ada yang mengatur. Menikah itu membuka pintu rezeki."
Diana semakin kicep diberondong oleh Nisa dengan berbagai frasa yang memang benar adanya. Tapi wanita berambut gelombang sebahu itu tampak berpikir lama. "Tunggu, siapa Milea? Siapa Dilan?" tanyanya bingung.
Jino menahan tawa dalam hati. Tak kuat melihat ekspresi Diana seperti benar-benar berpikir keras. Padahal jelas-jelas yang disebutkan tadi hanyalah nama tokoh dalam sebuah film saja.
"Mamah nggak pernah denger temenmu atau temen Nevan namanya Milea sama Dilan."
"Ih Mamah sosialita kurang gaul, nggak up to date. Masa sama anaknya mentri nggak tahu." Nisa makin ngawur. Sengaja mengerjai Diana.
"Ah masa sih? Mentri siapa?"
"Mentri perizinan nikah."
__ADS_1
"Ada kayak gitu?"
"Ada. Di bioskop."
Seketika gelak tawa Cokro membahana, menertawai kebodohan istrinya yang mudah ditipu oleh anaknya.
"Nisa!" teriak Diana.
"Apa, Mah?"
"Kamu pikir lucu?!"
"Nggak tuh. Kan yang ketawa Papah." Nisa tak acuh.
Jino hanya menutup bibir menahan diri untuk tidak tertawa. Dalam hati ia sangat terhibur sekali. Nisa memang bukan lawan yang tepat buat Diana.
"Kalau Mamah masih penasaran sama Milea dan Dilan. Mamah kenalan aja di Youtube," kata Nisa.
\=\=\=\=\=\=\=🌹🌹\=\=\=\=\=\=\=
Di dalam pesawat malam itu, Nisa dan Jino bertos ria. Ternyata akal bulus Nevan berhasil juga menaklukan ratu singa di rumahnya.
"Terus nanti gimana kita?"
"Gimana apanya?"
"Kalau mamamu nanyain soal bayi?"
"Gampang, tinggal bikin."
"Kalau belum jadi?"
"Bilang aja keguguran. Ribet amat."
"Makin banyak bohong dong?"
"Sekali-sekali gak apa, namamya juga lagi kepepet kan."
"Aku jadi merasa bersalah, Yank." Jino agak menyesali perbuatanya.
Nisa menepuk-nepuk tangan Jino, berusaha memberinya semangat. "Demi status halal kita. Semangat," bisiknya di telinga kanan Jino. Kemudiam mengecup pipi Jino sepintas.
\=\=\=\=\=\=\=🌹🌹\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1