
Di rumah Nevan baru saja menutup panggilan telepon. Ia memijat kepala meski tak benar-benar pusing. Hanya agak mumet dan sedikit pening. Istrinya datang membawa secangkir teh manis hangat untuk Nevan.
"Kenapa? Mukamu kayak shock gitu?"
"Mamah pingsan gara-gara Nisa udah bilang soal rencana dadakan itu."
"Hah? Terus gimana keadaan mamah sekarang?"
Nevan menggeleng. Ia menyeruput teh dengan perlahan. Lidahnya mengecap manisnya gula rendah kolestrol yang sering ada di iklan televisi. "Belum tahu, tadi si Mbok udah kusuruh buat panggil dokter ke rumah sih. Nanti paling dikabarin lagi. Kayaknya mamah nggak akan kenapa-kenapa. Cuma kaget aja palingan," katanya seraya meletakkan cangkir ke meja.
"Aku jadi khawatir. Gimana kalau mamah malah kenapa-kenapa? Apalagi papah juga baru mendingan kan? Kamu yakin semua akan baik-baik aja?" Alena meragu.
"Iya tenang aja. Mamah itu keliatannya aja gitu tapi beliau strong woman. Dulu juga udah sering dibikin semaput, gara-gara pas zaman SMA Nisa sering kena skorsing sama guru BP.
"Aduh, Nisa ada-ada aja."
"Wajar sih. Tuh anak kelebihan kasih sayang kayaknya. Makanya sembarangan dan sembrono. Hampir mau dimasukin ke Pesantren dulu kalau sampai di DO dari sekolah." Nevan bernostalgia tentang adiknya yang bandel dan pembuat onar.
"Terus?" Alena makin penasaran.
"Nggak jadi. Soalnya si Nisa langsung tobat menjelang ujian sekolah. Heran aja nilainya bisa bagus-bagus. Pas ditanya, katanya hasil iuran sama teman-teman buat beli kunci jawaban."
Alena tak sanggup menahan tawanya. Ia tak habis pikir kalau Nisa separah itu. "Nggak ketahuan sama guru?" tanyanya sambil ikut duduk di sebelah Nevan.
Nevan angkat bahu sekilas. "Yang paling parah, dia tuh sering ikut geng cowok-cowok buat tawuran antar sekolah. Tapi dia juga yang jadi juri penengah."
"Tawuran kok pakai juri?" Alena membayangkan bingung.
"Iya dia bilang tawurannya harus sehat. Nggak boleh pakai fisik tapi pakai otak. Jadi semua malah diajakin main Kuis Family 100."
Tawa renyah Alena kembali membahana. Ia merasa polah tingkah dan cara pikir adik iparnya memang bisa menandingi kecerdikan Albert Einstein mungkin. "Kok kamu tau sih?"
"Ya tahu lah. Mamah suruh aku memantau Nisa dari jauh. Jadi kusuruh salah satu teman dekatnya buat jadi James Bond, alias mata-mata Nisa."
__ADS_1
"Siapa itu? Nisa nggak tahu?"
"Ada dulu temen deketnya, rumahnya sebelah rumahku. Namanya Dodit Mulyanto, anaknya culun banget tapi pinter. Cara bayarnya gampang, beliin buku komik dewasa tiap bulan udah kesenengan."
"Ih kamu nih, malah ngajarin anak SMA yang nggak-nggak. Dasar." Alena memukul pelan paha suaminya. Ia menyandarkan punggung di lengan Nevan sembari khidmat mendengarkan cerita Nevan.
"Pernah nih ya, si Nisa mukulin anak orang sampai masuk RS. Itu yang hampir dikeluarin dari sekolah. Ternyata si Dodit ini yang belain. Anak itu datang bak pahlawan kepagian ke ruang BK. Terus nunjukin video sebagai bukti kalau bukan cuma Nisa yang salah."
"Lhah? Terus?"
"Anak yang dipukulin itu cowok. Nisa marah karena si cowok itu ngata-ngatain wali kelasnya dan jelek-jelekin gitu. Si Nisa nggak suka. Langsung di tendang pantatnya sama Nisa. Cowok itu marah, nampar Nisa dan mau ninju Nisa. Tapi ditangkis sama Nisa malah dihantam pakai jurus karatenya."
Alena bertepuk tangan. Selalu ada alasan di balik sebuah tindakan. Ternyata Nisa punya sisi seperti itu juga. Sisi lain yang mungkin tak akan dipahami oleh orang lain, sedalam dirinya sendiri. Nisa yang tukang rusuh adalah Nisa sang gadis biasa dengan pemikiran luar biasa. Meski tindakannya tak bisa sepenuhnya dibenarkan, tapi juga tidak sepatutnya disalahkan mentah-mentah.
"Nisa itu smart ya walaupun gaje," tukas Alena setengah memuji.
"Dulu dari zama SD aja dia udah jadi langganan Abah Kohar. Sebelum pindah rumah ke komplek kan sempat tinggal di perkampungan. Nah si Abah Kohar ini punya pohon mangga sama rambutan. Tiap panen, si Nisa yang duluan manjat. Jadi kejar-kejaran dan musuh bebuyutan."
"Si Abah nyerah. Katanya Nisa boleh ambil sepuasnya tapi harus bantuin Abah panen. Pas pindahan si Abah malah mewek di bawah pohon. Katanya, dia bakal kehilangan kancil cilik."
Alena memegangi perutnya yang linu akibat menahan kekehan tawa. Mendengar cerita Nevan ia makin penasaran dengan semua kisah masa lalu sang adik ipar. Bila dijadikan drama komedi mungkin bisa dapat rating bagus setiap tayang.
"Nisa nggak ada yang ditakutin ya?"
"Ada sih. pakde sama bude di Semarang. Makanya kuliah ditaruh Semarang sama mamah. Sengaja dititipkan di sana."
"Kenapa nggak berani?"
"Nisa pernah ditolong sama anak almarhum pakde sama bude. Waktu kecil dulu pas liburan di Semarang Nisa hampir ditabrak mobil. Diselamatkan sama anaknya pakde bude. Tapi anaknya pakde bude meninggal. Sejak itu Nisa janji bakal nurut apa kata mereka sebagai rasa terimakasih dan penyesalan mungkin."
Alena trenyuh mendengarnya. "Nisa bandel tapi hatinya baik juga ya."
"Ya gitulah."
__ADS_1
"Kalau kamu gimana?"
"Gimana apanya? Aku mah anak baik dari lahir," seloroh Nevan percaya diri.
"Huuuuu. Hoax!"
"Hehe." Nevan mesem. Ia gemas dengan bibir manyun istrinya.
"Sayang, lihat sini deh?" pintanya memutar bahu Alena. Hingga sebuah kecupan mendarat di bibir Alena. Nevan menggigit pelan bibir indah istrinya.
"Ish, nanti Yasmin lihat," protes Alena bersemu.
"Kan lagi tidur dia. Sekarang giliran daddynya yang tidurin mominya," goda Nevan mengerling nakal. Cubitan Alena di pinggang Nevan menjadi jawaban ucapan Nevan.
"Mau lanjut nggak nih?"
"Lanjut apa?"
"Lanjut cerita Nisa atau mau lanjut yang lain?" Nevan membelai paha mulus Alena. Membuat istrinya merinding tak karuan.
"Apa sih kamu nih."
"Mau yang mana?"
"Yang mana aja, yang enak ... " bisik Alena sengaja menggoda Nevan.
Berhasil dapat lampu hijau. Nevan pun membopong tubuh istrinya menuju ke kamar utama.
"Daddy! Yasmin mau digendong juga!" suara Yasmin membuyarkan angan mereka. Gadis kecil itu baru ke luar kamar sambil mengucek mata.
"Aduh! Kenapa malah bangun?!" Nevan merutuk. Ia harus menunda hasratnya sampai waktu yang tidak bisa ditentukan kapan pastinya.
\=\=\=\=\=\=\=🌹🌹\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1